
"Ke rumah Lo aja deh Ma, gue belom siap pulang ke rumah," celetuk Gita saat mobil Salma sudah meninggalkan area parkir cafe.
"Enggak ke rumah Alya aja?" kini Salma yang bertanya, pasalnya biasanya mereka berkumpul di rumah Alya.
"Sekali-kali ke rumah Lo juga lah Sal, gue pengen ketemu tuh sama Bang Salman yang kata Lo gantengnya melebihi Bang Ichang gue," ujar Alya yang memang belum pernah bertemu dengan Salman.
"Jam segini dia mah di rumah sakit, kalo mau ketemu dia pas hari libur tuh, main aja ke rumah gue," timpal Salma tanpa menatap Alya sebab fokus ke arah jalanan.
"Beneran ke rumah gue ini?" tanya Salma.
"Iya," jawab kedua sahabatnya serempak.
"Em, tadi Kak Ryan minta nomor Lo Git, tapi enggak gue kasih sih," ujar Salma disela perdebatan Alya dan Gita yang entah membahas apa, karena dirinya sedang fokus menyetir.
"Bagus, jangan pernah kasih nomor gue ke dia ya. Dia salah satu orang yang enggak gue harapin kehadirannya, setelah ini dan selamanya," timpal Gita.
Salma mengangguk, "Gue enggak akan pernah kasih info apa pun ke dia, selama Lo enggak ngijini," sambung Salma.
Gita pun tersenyum lalu mengangguk, berterimakasih pada Salma yang begitu baik padanya meski mereka belum lama saling mengenal.
Perjalanan mereka tak terlalu lama karena memang rumah Salma tak begitu jauh. Setibanya di rumah, mereka disambut oleh Bundanya Salma dengan ramah.
Gita dan Alya pulang setelah menjelang senja dengan menggunakan taksi online yang mereka pesan sebelumnya.
🥀🥀🥀
Sampai di rumah Gita langsung masuk ke dalam kamarnya, tak ingin berlama-lama di luar kamar sebab tak mau bertemu dengan Indra. Lebih baik menghindar dari pada dadanya kembali sesak.
__ADS_1
Gita keluar dari kamar hanya saat makan malam, dia bernafas lega saat tak ada Indra di meja makan. Mungkin pemuda itu sedang lembur, pikirnya.
Selesai makan malam, dia langsung kembali ke kamar ingin melanjutkan mengerjakan skripsinya. Sebab dia ingin segera menyelesaikan skripsi tersebut dan tak sabar untuk meninggalkan rumah yang selalu membuat jantungnya tak aman itu.
Entah jam berapa Gita tertidur, dia tak menyadarinya. Bahkan dirinya tertidur saat mengerjakan skripsi, sebab laptopnya pun masih tergeletak indah dihadapannya, untung tidak jatuh.
Melihat jam dinding ternyata sudah pukul dua dini hari, merasa kerongkongannya kering, Gita segera turun ke bawah untuk mengambil air minum. Berharap tak bertemu dengan Indra, ah tidak mungkin pemuda itu belum tidur di jam kunti seperti ini. Akan seperti apa jadinya pekerjaan Indra jika begadang hingga tengah malam?
Benar saja rumah begitu sepi bahkan sebagian lampu pun padam, tapi tak menyurutkan gadis itu untuk menuju ke dapur. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Gita pun segera kembali ke kamar dengan membawa sebotol air putih untuk esok pagi.
Tapi saat akan masuk ke dalam kamar, dia dikejutkan dengan Indra yang akan keluar kamar dengan sempoyongan sambil memegang dan memijit kepalanya, sepertinya ada yang tidak beres. Dengan terpaksa Gita mendekat ke arah Indra, takut terjadi sesuatu dengan pemuda itu.
"Abang sakit?" tanya Gita, dan tapa aba-aba dia langsung menyentuh kening Indra.
"Ya Allah! Panas banget Bang, ayo masuk kamar lagi, biar aku cari obat dulu. Abang enggak usah kemana-mana." Gita mendorong pelan tubuh Indra supaya masuk ke dalam kamarnya lagi, dan Indra pun menurut, sebab dirinya merasa lemas dan tak berdaya seakan tak kuasa melanjutkan langkahnya untuk mencari obat sendiri.
"Minum obatnya dulu Bang, sini aku bantu." Gita membantu Indra untuk duduk lalu menyerahkan obat yang ada di tangannya.
"Makasih ya Git," ucap Indra setelah menelan obatnya.
"Iya Bang. Bang Indra tidur lagi ya, aku kembali ke kamar, semoga besok pagi udah sembuh," ucap Gita tulus, dirinya mengabaikan perasaannya. Sebab menurutnya manusiawi jika dia membantu orang yang sedang sakit, apalagi orang itu adalah orang terdekatnya.
"Di sini aja sebentar ya." Indra menarik pergelangan tangan Gita, dan gadis itu pasrah, tapi kali ini tak bisa mengabaikan perasaannya begitu saja. Sebab perlakuan Indra kembali membuat jantungnya berlarian tak tentu arah.
Gita duduk diam di sisi ranjang, sambil memperhatikan Indra yang sudah memejamkan mata, tapi sepertinya belum tertidur, sebab tangannya masih menggenggam erat tangan gadis itu. Entah apa alasan Indra tak memberikan Gita pergi begitu saja, ingin bertanya tapi tentu saja Gita tak setega itu, apalagi keadaan Indra yang begitu lemah menurutnya.
🥀🥀🥀
__ADS_1
Pagi hari Indra terbangun, kaki ya terasa begitu kebas dan kesemutan, seperti ada yang menindihnya selama dia tidur. Saat membuka mata, benar saja ada seseorang yang tertidur di kakinya, siapa lagi jika bukan Gita? Sedikit terkejut memang, tapi saat mengingat semalam dia jadi merasa bersalah dengan gadis itu, karena tidak tidur dengan posisi nyaman.
"Maaf, dan terimakasih karena telah merepotkan mu," gumam Indra lalu mengusap puncak kepala Gita pelan, tak ingin membangunkan gadis itu.
Cukup lama Indra memandangi wajah Gita yang tertidur nyaman dengan bantalan kakinya, sambil sesekali mengelus puncak kepala gadis itu. Saat Gita membuka mata, hal yang pertama dia lihat adalah senyum manis seorang Indra.
"Abang, kenapa ada di kamar ku?" tanya Gita saat melihat Indra ada di kamarnya. Jantungnya sudah berdegup tak menentu, apalagi saat melihat posisi tidurnya yang ternyata berantakan kaki Indra. Dia pun langsung bangkit dari tidurnya.
Bukannya menjawab, Indra justru tersenyum dan mengucapkan terimakasih. "Terimakasih untuk semalam, dan maaf merepotkan mu. Aku kalau sakit emang gitu, harus ada yang nemenin sampai tertidur, kalau enggak. Semalaman enggak akan bisa tidur," ucap Indra panjang lebar, membuat Gita teringat tentang semalam.
Gita mengangguk, rasanya sulit sekali ingin mengucapkan sesuatu. Sebab dia begitu gugup, mengingat dimana saat ini dia berada.
"Aku keluar Bang," pamitnya sedikit gugup.
Sekali lagi Indra mengucapkan terimakasih sebelum Gita meninggalkan kamarnya.
Setelah sampai di luar kamar, Gita menghela nafas berulang kali untuk menetralkan degub jantungnya yang semakin menggila itu. Kenapa bisa semalam dia tidur di kamar Indra? Entahlah mungkin dia sangat mengantuk dan tak terasa tertidur di sana. Gita merutuki kecerobohannya ini, gimana kalau kedua orang tuanya mengetahui hal itu, sudah pasti Mama akan marah besar. Berbeda jika dia tidur bersama Hafidz mestinya. Sebab Indra hanya Abang tiri yang tak memiliki ikatan darah dengannya.
"Lo ngapain dari kamar Bang Indra?" tanya Riky membuat Gita terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"Jangan bilang kalian--"
"Apa sih Ky, jangan mikir yang enggak-enggak deh. Bang Indra sakit, makanya gue liat dia sebentar," ujar Gita berbohong, tak ingin ada yang mengetahui jika dirinya semalam tidur di kamar Indra tanpa sengaja.
"Jangan bohong," Riky sepertinya tak percaya dengan ucapan Gita, tapi gadis itu tak peduli dan memilih masuk ke dalam kamarnya. Masih terlalu pagi untuk berdebat dengan Riky. Lebih baik menghindar dari pada moodnya jadi hancur setelah perdebatan dengan pemuda itu.
Bersambung....
__ADS_1
🥀🥀🥀🥀