
Sudah hampir seminggu sejak mereka jalan berdua, Gita jarang sekali bertemu dengan Indra. Mereka hanya sesekali bertemu saat sarapan pagi, selebihnya sama sekali tak melihat Indra ada di rumah. Mungkin pemuda itu sedang sibuk di kantor, atau memiliki alasan lain, entahlah. Yang terpenting Gita bisa sedikit bernafas lega.
Dirinya memang jarang bertemu Indra, tapi dia justru dibuat kesal oleh Riky berulang kali. Setelah insiden penggembosan ban mobil yang ternyata pelakunya me.ang pemuda itu, Riky tak tinggal diam. Sering kali mengganggu Gita dengan terus memberi pesan saat dia berada di kampus, bahkan menelpon dirinya saat berada di kelas juga pernah, membuat Gita akhirnya memblokir nomor adik tirinya itu.
Tidak sampai di situ, Riky juga menyembunyikan sepatunya yang akan di pakai untuk kuliah, hal itu berulangkali terjadi. Entah apa maksud Riky mengerjai dirinya habis-habisan, membuatnya makin kesal dengan Riky. Keduanya kini bagaikan kucing dan tikus yang tak pernah akur, selalu saja ada yang mereka permasalahkan.
Kreek
Pintu kamar Gita terbuka tanpa ada yang mengetuk terlebih dahulu, gadis itu bersungut-sungut kesal saat mendapati siapa yang masuk tanpa permisi itu.
"Bisa enggak sih kalau mau masuk ketuk pintu dulu? Enggak sopan tau," ujarnya saat melihat Riky berjalan ke arahnya sambil tersenyum.
"Ngapain Lo ke sini?" tanya Gita sewot saat Riky tak menggubris ucapannya.
"Kasih duit dong Kak." Pemuda itu sudah duduk di sofa bersebelahan dengan Gita yang sedang fokus mengetik.
"CK, emang Papi enggak ngasih duit?" tanya Gita tanpa mengalihkan pandangannya.
"Habis, mana sekarang Papi kagak ada di rumah. Penting banget Kak, kasih dong, masak sama adik sendiri pelit sih?" Riky terus memohon berharap Gita memberi apa yang dia mau.
"Makanya jadi anak itu jangan bandel. Kapok Lo kan sekarang?" kali ini Gita menatap Riky dengan senyum mengejek.
"CK, gue cuman ngerokok doang padahal, tapi Papi tega nyita kartu gue." Riky kesal ketika mengingat Papinya yang semena-mena menyita semua kartu ajaib miliknya, setelah sang Papi dipanggil pihak sekolah.
"Itu mah yang ketahuan. Jahilin gue juga termasuk, itu Papi enggak tahu, kalo Papi tahu bukan hanya kartu yang di sita, tapi motor kesayangan Lo juga tuh." Gita terlihat sewot saat mengatakan hal itu, sebab dirinya masih kesal dengan Riky yang terus mengerjainya.
"Please Kak Gita yang cantik, kasih adik Lo ini duit dong. Butuh banget gue Kak, atau kalo enggak Lo top up in gue aja deh Kak, gabut nich." Riky masih terus memohon.
"Kagak kalau untuk main game, Lo itu harusnya belajar, sebentar lagi ujian Ky. Jangan kecewakan Papi," Gita menolak, padahal tadi gadis itu ingin memberi uang pada Riky sebelum mengetahui uang itu untuk apa.
"Untung gue dulu kagak tertarik sama Lo, kalau sampe iya kasihan banget nasib gue punya pacar berondong bokek pula. Ditambah pengangguran lagi. Udah jatoh tertimpa tangga, sakitnya dua kali lipat," Gita mendramatisir ucapannya membuat Riky berdecak sebal.
"Untung juga buat gue, kagak jadi pacar Lo Kak, ternyata Lo pelit." Riky beranjak dari duduknya. Perasaan kesal hinggap di dadanya, saat permintaannya tak dipenuhi oleh Gita.
__ADS_1
Muncul ide jahil, dia pun berbalik badan kembali mendekat ke arah Gita. Dengan gerakan cepat, meraih laptop yang Gita gunakan dan membawanya ke luar kamar.
"Riky!" Seru Gita sambil mengejar pemuda itu.
"Ky buka pintunya! Tugas gue belom selesai, woy! Awas kalo Lo hapus, gue laporin Papi!" terima Gita dari luar kamar Riky, sebab pemuda itu mengunci kamarnya, dan cekikikan di dalam kamar.
"Mama! Ma! Riky Ma!" Gita memanggil sang Mama berulang kali, tapi Mamanya itu tak menjawab, dan dia baru ingat jika sang Mama ikut ke luar kota.
"CK, Riky awas Lo ya! Kali ini Lo keterlaluan tau enggak! Kalo sampe tugas gue kagak jadi, besok gue harus ngerjain tugas tiga kali lipat. Enggak, gue enggak sanggup. Ky, buka dong!" Gita masih terus menggedor-gedor pintu kamar Riky.
Sedangkan Riky sedang asik melihat isi laptop Gita, entah apa yang dia cari. Tak peduli dengan teriakan Gita.
"Bang Indra, gue kali ini butuh Lo bang! Ish, kenapa sih kalo dibutuhin kagak ada? Kalo pas gue menghindar malah datang Mulu, capek gue!" Gita melampiaskan kekesalannya kepada Indra yang tentu saja tidak tahu apa-apa.
"Kenapa teriak-teriak Non?" Bik Astri dan Mbak Yuni datang dengan tergopoh-gopoh, khawatir terjadi sesuatu dengan anak majikannya itu.
"Riky Bik, jahilin aku lagi," adunya.
Gita berfikir sejenak, "Kunci cadangan kamar Riky Bik, ada enggak?" tanyanya.
Bik Astri dan Mbak Yuni saling pandang satu SMA lain, "Ada Non, tapi di kamar Bapak. Saya enggak berani masuk tanpa seijin beliau," ucap Bik Astri.
"Yaudah enggak apa-apa Bik, Bibik bisa kembali ke kamar," ujarnya, dan kedua art itu pun berlalu.
Gita menghela nafas kasar, kali ini dia tidak bisa berbuat lebih. Mencoba sekali lagi mengetuk pintu kamar Riky.
"Buka Ky, jangan hapus tugas gue. Oke gue kasih Lo duit, asal tugas gue masih utuh!" Gita mencoba peruntungan dengan menukar laptopnya sama uang yang Riky minta tadi.
"Udah basi Kak, gue udah kagak minat uang lagi!" seru Riky dari dalam kamar.
Gita menghentakkan kaki di lantai berulang kali, kesal sekali dengan Riky.
"Ada apa?" suara itu membuat Gita tersenyum, kali ini kehadiran si pemilik suara tersebut membuatnya bahagia.
__ADS_1
"Bang, ambilin laptop aku yang diambil paksa sama Riky. Aku mau buat tugas Bang, udah hampir selesai tapi malah di bawa kabur sama Riky." Adunya pada Indra dengan cemberut dan terkesan manja.
Indra mengetuk kamar Riky, "Buka Ky, atau gua laporin ke Papi!" ancam Indra.
Ternyata ancaman pemuda itu sangat mempan, karena Riky langsung membuka pintu kamarnya. Wajahnya tampak kesal dan menatap Indra dengan tatapan jengah.
"Nich, kagak asik Lo Kak. Main lapor sama Bang Indra!" protes Riky setelah menyerahkan laptop milik Gita.
Setelah mengucapkan hal tersebut, Riky langsung menutup pintunya dan mengunci pintu kamar tersebut.
"Riky!" seru Gita saat melihat tugas yang baru saja dia buat berubah jadi tulisan tidak jelas.
"Ada yang salah?" tanya Indra penasaran.
"Tugas ku di hapus sama dia Bang! Padahal aku buat tugas itu sejak tiga hari yang lalu, dan besok harus udah selesai. Tapi ini ilang gitu aja. Kesel kan Bang?" Gita sebenarnya ingin menangis, tapi tentu saja dia tahan sebab malu dengan Indra.
"Kamu tunggu di sana, biar aku bantu buat lagi." Indra meninggalkan Gita dan langsung masuk ke dalam kamar.
Gita menatap punggung pemuda itu, rasanya tak tega jika Indra harus ikut andil dalam mengerjakan tugasnya. Apalagi pemuda itu terlihat sangat lelah. Tapi jika Indra tidak membantunya, sudah dipastikan dia besok akan mendapat hukuman, dan dia tak mau itu terjadi.
Akhirnya sambil menunggu Indra selesai bebersih, Gita membuat dua cangkir coklat panas dan membawanya ke ruang santai yang letaknya di lantai dua itu.
"Minum dulu Bang, katanya cokelat bisa bikin mood jadi baik," ucap Gita setelah meletakkan dua cangkir coklat itu.
"Makasih, harusnya kamu yang minum cokelat itu, biar moodnya jadi baik setelah adu mulut sama Riky," ujar Indra sambil tersenyum.
Senyuman yang membuat Gita mabok berulang kali. Bahkan kali ini dia belum berpaling dari wajah Indra, padahal pemuda itu sudah tak lagi tersenyum. Apalagi sudah beberapa hari dia tak melihat senyum Indra, membalutnya sedikit merindukan senyuman itu.
"Gimana tugasnya? Bacain, nanti aku bantu, atau aku yang ngetik kamu yang ngomong, biar ceper selesai," ucapan Indra menyadarkan Gita dari haluan yang memabukkan.
"Eh iya Bang," ucap Gita gugup.
🥀🥀🥀
__ADS_1