
Beberapa bulan berlalu, pengantin baru itu selalu terlihat mesra di setiap saat. Mereka pun sudah pindah ke rumah baru satu bulan lalu. Gita sudah kembali kuliah di fakultas yang sama dengan sang suami. Ya, Indra pun memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya. Meskipun dia harus membagi waktu dengan bekerja, tak masalah baginya sebab dia selalu di dampingi sang istri dalam setiap langkahnya.
Pagi ini berbeda dengan pagi-pagi biasanya. Yang biasanya Gita sudah berkutat di dapur dengan peralatan dapur canggih masa kini, wanita itu kini masih bergulung dalam selimut.
"Abang berangkat kerja saja, aku enggak mau Papa marah-marah lagi seperti kemarin karena Abang bolos kerja, nganterin aku ke Bandung," ujar wanita itu saat melihat sang suami masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan di tangannya.
"Waktu itu kan beda sayang, sekarang kamu sakit, tidak mungkin Papa marah lagi. Sekarang sarapan dulu ya, setelah itu minum obat, atau mau periksa ke rumah sakit?" Indra duduk di sisi ranjang dengan membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih.
Wanita itu mengangguk, "Aku sarapan, setelah ini Abang berangkat ke kantor, tidak boleh menolak atau aku mogok makan," ancamnya.
Indra menghela nafas lalu mengangguk, "Baiklah, biar Abang suapi." Meraih sendok tapi sang istri segera merebutnya dengan pelan sambil menggeleng.
"Abang mandilah, aku bisa makan sendiri. Dibawakan makanan ke sini aja sudah cukup Bang." Wanita itu menatap lembut sang suami dengan senyum manis andalannya.
Indra pun pasrah dan mengikuti kemauan sang istri, daripada istrinya itu marah lebih baik dia mengalah. Ya, meskipun sedang sakit, istrinya itu tetep saja bisa mengancamnya seperti saat ini, tapi tentu mengancam dalam hal kebaikan.
Indra saat ini memang bekerja di salah satu perusahaan milik sang mertua, dia sengaja meninggalkan perusahaan sang Opa, berharap Riky mau menggantikannya, dan terbukti pemuda yang masih berstatus mahasiswa itu kini mulai ikut andil dalam mengembangkan perusahaan Opanya. Dia sudah berdamai dengan keadaan dan semua orang disekitarnya.
Selesai mandi dan bersiap, Indra pun berpamitan pada sang istri.
"Istirahatlah, kalau ada apa-apa langsung telfon Abang ya. Nanti kalau mau makan siang, panggil Bibik aja jangan turun sendiri, kamu masih lemas begini." Indra memeluk tubuh sang istri yang begitu lemas, tapi wanita itu tidak mau diajak ke dokter, dia merasa baik-baik saja.
"Siap Bang, bekerjalah dengan baik, jangan pikirkan aku di rumah. Aku akan baik-baik saja," ucap Gita dalam pelukan sang suami.
Setelah itu, Indra pun benar-benar meninggalkan sang istri di rumah dengan art dan pegawai lainnya. Mekipun tak tega tapi dia tetap harus berangkat ke kantor supaya sang istri tidak merajuk.
__ADS_1
🥀🥀🥀
Sepeninggal Indra, wanita itu melihat ponselnya tepat di aplikasi kalender, dia tersenyum saat melihat kalender tersebut.
"Aku sudah telat seminggu, apa itu artinya?" kedua bola mata perempuan cantik itu melebar sebab dia begitu bahagia dengan apa yang ada dalam pikirannya.
"Ah aku tidak sabar, harus langsung di buktikan nih." Rasa lemasnya tiba-tiba sirna, dia bahagia saat ini. Padahal belum tentu perkiraannya itu tepat.
Gita pun langsung masuk ke dalam kamar mandi, membawa beberapa alat tes kehamilan yang dia beli beberapa bulan lalu. Wajahnya begit berbinar saat masuk ke dalam kamar mandi, tapi wajah itu kembali redup saat kenyataan yang diterimanya tak sesuai harapan.
Menyimpan salah benda kecil itu ke dalam laci, bersama beberapa benda sama lainnya yang menunjukkan garis sama, hanya satu.
"Aku merasa tidak berguna menjadi seorang istri, hampir satu tahun pernikahan ku tapi semua hasilnya tetap sama." Wanita itu menangis sejadi-jadinya, merasa tak berguna sama sekali.
Dia menangis diiringi kepedihannya, dia sudah tak sanggup mendengar pertanyaan dari beberapa saudara dan temannya tentang kehamilan yang tak kunjung hadir. Lelah, sangat lelah mendengar pertanyaan seperti itu.
"Gita, sayang kenapa?" Mama yang entah sejak kapan berada di kota ini terkejut melihat putri satu-satunya itu menangis sambil terduduk di lantai.
Memeluk putrinya itu erat, meski belum mengetahui apa masalahnya dia ikut sedih melihat putrinya seperti ini. Tadi pagi dia menghubungi menantunya jika sedang berada di Jakarta, dan sang menantu memberitahu jika putrinya itu sedang sakit. Mendengar hal tersebut, dia pun bergegas menuju rumah putrinya.
"Mama, aku perempuan tidak berguna Ma! Aku terus mengecewakan Abang, aku sungguh tak berguna Ma." lirihnya dalam pelukan sang Mama.
Mama menggeleng, masih tak mengerti dengan apa yang terjadi pada putrinya, "Jangan bilang seperti itu Nak, bersabarlah sayang, Allah sedang menguji mu, apakah kamu kuat melewati semua ini, atau kamu akan menyerah di tengah jalan," tutur sang Mama.
Gita terus menggeleng, otaknya saat ini tidak bisa menerima nasehat apapun, sebab masih dalam kekalutan dan kekecewaan yang mendalam. Dia terus menangis dan menangis, hingga tertidur dalam tangisnya.
__ADS_1
Tak lama setelah mendapatkan telepon dari sang mertua, memberitahu jika istrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja, Indra pun segera kembali ke rumah, bukan hanya Indra tetapi sang Papa mertua yang kebetulan berada di kantor itu pun ikut serta, khawatir dengan putrinya.
"Apa yang terjadi Ma?" tanya Indra saat masuk ke dalam kamar, mendapati sang Mama mertua duduk di sisi ranjang sambil mengusap surai hitam istrinya.
"Mama juga tidak tahu, saat Mama tiba tadi istrimu sedang menangis di lantai, saat Mama tanya dia sama sekali tidak menjawab apa yang terjadi," jelas Mama terlihat panik.
"Sudah panggil dokter?" Papa Renaldy tiba-tiba masuk ke dalam kamar itu.
"Sudah Mas, dokter sebentar lagi pasti datang," jawab Mama.
Indra mendekati sang istri yang terlihat menyedihkan itu, lalu matanya tanpa sengaja melihat sebuah benda yang selalu membuat Gita seperti ini, dia pun menghampiri benda tersebut dan meraihnya lalu membuang benda itu ke dalam tempat sampah.
"Kenapa Ndra?" tanya Mama yang mengerti perubahan raut wajah sang menantu.
Indra menghampiri sang Mama mertua, duduk di sisi wanita itu. "Gita pasti menangis gara-gara alat tes kehamilan Ma, sudah berulang kali dia seperti ini, tapi ini yang terparah. Padahal aku selalu mengatakan tidak masalah jika sekarang kita belum diberi kepercayaan, tapi Gita selalu bersedih akan hal ini, apalagi setelah dia pulang dari berkumpul dengan teman-temannya atau keluarga besar, pasti dia akan menyalahkan dirinya sendiri. Aku sebenarnya tidak tega melihatnya Ma, makanya aku sering melarang dia berkumpul dengan teman-temannya, bahkan aku sering menghindar dari acara keluarga," jelas Indra.
"Astaghfirullah, kenapa bisa seperti ini? Kasihan sekali putriku." Menatap wajah sang putri dengan air mata yang mengalir di pipinya, tak pernah menyangka jika hal seperti ini akan terjadi pada putrinya itu.
"Sebaiknya setelah Gita sembuh, kalian tenangkan diri. Mungkin dengan kalian pergi menjauh dari hal yang membuat Gita seperti ini akan lebih baik, tinggallah di luar negeri, Papa akan mengurus semuanya." Tutur Renaldy tanpa meminta persetujuan dari anak dan menantunya.
"Tapi Mas, apakah harus dengan menghindar sejauh itu?" tanya Mama yang seakan tak terima dengan keputusan mantan suaminya itu.
"Sebaiknya kita tanyakan dulu pada Gita ya Pa, kalau Gita mau aku akan ikut apa maunya saja," putus Indra tak ingin mengambil keputusan sendiri.
🥀🥀🥀
__ADS_1