Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Salah Sangka


__ADS_3

Diluar masih sedikit gelap saat Gita membuka mata dan tak mendapati Hafidz di sisinya, sepertinya sang Abang sedang melakukan sholat subuh, dia pun ikut beranjak dari tempat tidur untuk melakukan hal yang sama. Setelah selesai, dia pun bergegas untuk mandi, sebab pagi ini akan pergi ke Bandung, rindu dengan wanita yang telah melahirkannya, juga ingin menceritakan banyak hal pada sang Mama.


Ceklek


Pintu terbuka menampakkan sosok yang tidak diharapkan, siapa lagi jika bukan sang Papa. Memilih abai dan terus membereskan beberapa baju ke dalam koper, berniat untuk tinggal di rumah lama sang Mama untuk waktu yang tidak ditentukan. Rasanya tak ingin berlama-lama tinggal di rumah yang selalu memberikan luka untuknya. Pertama luka karena pengkhianatan Papa pada sang Mama, lalu luka karena keegoisan sang Papa padanya.


"Mau mendengarkan cerita Papa sebentar tidak?" tanya sang Papa yang tentu saja tak dijawab oleh Gita, dia masih kesal dengan Papanya itu.


Meski Gita diam, Papa tetap berbicara dia tahu putrinya itu pasti mendengar meski terlihat cuek.


"Hal terberat seorang ayah itu saat melepaskan putrinya untuk orang lain. Mengalihkan tanggungjawab putrinya pada orang baru itu rasanya sangat berat sekali, sebab setelah tanggungjawab itu pindah tangan, seorang ayah tidak bisa berbuat apapun tanpa ijin, padahal dari pertama kali kamu melihat dunia, Papa selalu bersama mu, menimang saat mau tidur, mengganti p*pok saat kamu bu*ng air, lalu mengajari jalan, mengajari berbicara setelah itu memantau saat kamu sudah sekolah hingga tumbuh menjadi gadis cantik seperti sekarang, tapi secara tiba-tiba semua itu seakan dirampas oleh orang lain yang bahkan baru kamu kenal. Berat sekali, sungguh." Papa menyeka sudut matanya yang berair.


"Bukan Papa tidak sayang sama kamu, hanya saja Papa rasanya belum siap kehilangan kamu, Nak. Apalagi kamu yang sejak dulu menjadi penyemangat hidup Papa, kini secepat kilat akan menjadi milik orang lain, rasanya Papa belum ikhlas." Papa mengingat bagaiman dia berjuang untuk kehidupannya dengan sang putri di masa depan.


Gita menghentikan aktifitasnya saat mendengar cerita dari sang Papa, hatinya bergetar kala mendengar semua penuturan Papa itu. Memang benar sekali apa yang dikatakan oleh Papa, saat dia sudah menikah maka dia menjadi tanggungjawab suami bukan lagi Papa yang selalu memanjakannya, bahkan ketika sang suami tak mengijinkan bertemu dengan sang Papa, dia pun tak boleh menemui Papa secara diam-diam. Padahal Papa adalah orang terpenting dalam hidupnya, lelaki pertama yang dia cintai dan mencintainya secara tulus.


Gadis itu beranjak, lalu menubruk tubuh sang Papa yang kini duduk di sofa. Memeluk erat tubuh tegap itu, menumpahkan air mata yang sejak semalam terus mengalir, tapi kali ini bukan air mata kesedihan melainkan air mata haru.


"Maafin Gita Pa, harusnya Gita juga mikirin bagaimana perasaan Papa, tapi Gita terlalu egois. Gita minta maaf ya Pa." Gadis itu terisak dalam pelukan sang Papa, dia sadar perjuangan Papa selama ini tidak mudah untuknya, apalagi saat dia masih kecil tanpa adanya Mama disisinya.


"Sudah, Papa sudah memaafkan kamu. Papa juga minta maaf sama kamu karena terlalu keras. Papa sudah memikirkan semuanya semalam, dan Papa merestui kalian untuk segera meresmikan hubungan. Semalam Papa hanya belum ikhlas saja jika kamu akan menikah secepat ini." Papa mengusap puncak kepala gadis itu.


Gita mengangguk, bahagia bercampur haru menjadi satu. Dia sempat menyangka jika sang Papa akan menjodohkan dengan orang pilihannya, karena dalam dunia bisnis hal seperti itu sangatlah wajar, pernikahan untuk mengembangkan sebuah bisnis. Sangatlah egois menurutnya, tapi ternyata dia salah sangka sebab alasan Papa bukanlah hal tersebut, melainkan belum rela dirinya menjadi milik orang lain.

__ADS_1


"Untuk saat ini tetaplah di rumah, Papa sudah memberitahu calon suami mu untuk datang besok siang bersama orang tuanya, Mama mu juga akan ke sini nanti." Mendengar ucapan sang Papa gadis itu pun langsung mengangguk, ternyata Papa tak seburuk yang dia pikirkan.


"Yaudah sekarang sarapan, semuanya sudah menunggu di bawah." Papa melepas pelukan tersebut, mengusap sisa air mata di pipi putrinya, lalu mengecup kening Gita sekilas.


"Makasih Pa," hanya itu yang mampu Gita ucapkan saat ini.


Setelah sekian lama akhirnya mereka makan bersama dalam satu meja, Papa tentu merasa sangat bahagia melihat semua anak-anaknya rukun dan saling mendukung satu sama lain. Semalam, bukan hanya Hafidz yang mengutarakan ketidaksetujuan dengan keputusan sang Papa, melainkan Revan si bungsu juga melakukan hal yang sama, dan ini untuk pertama kalinya Revan berani mengungkapkan ketidaksetujuan secara langsung pada sang Papa, hanya demi kakak tercintanya. Sebab itu Papa memikirkan semua ucapan kedua anaknya dengan baik-baik.


Papa menatap Gita dan Revan yang sedang berebut lauk dengan senyum mengembang, secepat itu putrinya kembali ceria, padahal semalam dia tahu jika Gita terus menangis dan mengalami demam.


"Revan ikan Kakak kamu c*long ya!" tuduh Gita saat melihat ikan di piringnya lenyap, padahal baru ditinggal mengisi air.


"Kucing kali yang nyolong," ujar Revan mengkambinghitamkan kucing yang tidak ada di rumah itu.


"Enggak mungkin! Disini enggak ada kucing. Ish, itu ikan kesukaanku, mana tinggal satu doang! Pasti kamu yang ny*long, mana lihat piringnya?" Gita merebut piring pemuda itu, dan benar saja ikan yang dia maksud ada di sana.


"Tuh, kan bener! Ih nyebelin." Gerutu Gita, mengambil kembali ikan miliknya.


Papa yang biasanya akan sewot saat terjadi kegaduhan, kini hanya menatap dan membiarkan saja, sebab hal seperti ini jarang sekali terjadi. Sedangkan Mama Sita dan Hafidz hanya menatap mereka dengan gelengan di kepala.


Revan tersenyum lega ketika melihat sang Kakak sudah kembali ceria, tadi dia sengaja menggoda Gita, apakah gadis itu merespon atau tidak? Jika merespon berarti dia sudah kembali seperti semula dan sebaliknya.


Berbeda tempat tapi masih di bumi yang sama, seorang pemuda baru saja turun dari lantai dua dengan senyum mengembang, rasa bahagia kini menyelimuti di setiap langkahnya. Tujuannya kali ini menuju ruang makan, sudah pasti kedua orang tua dan adiknya sudah menunggu.

__ADS_1


Selesai makan, pemuda itu meminta waktu pada sang Papi untuk berbicara sebentar, karena menurutnya ini sangatlah penting.


"Pi, besok Indra mau melamar Gita. Papi mau kan menemani?" tanya Indra tanpa ragu, dia yakin lelaki paruh baya itu pasti siap menemaninya.


Papi tersenyum lalu mengangguk, dia sudah tahu akan hal ini, tapi tetap merasa bahagia saat Indra yang mengucapkannya secara langsung.


"Papi pasti akan mengantar ke sana, jangan lupa bilang ke Oma dan Opa mu, beliau pasti sangat bahagia mendengarnya," ucap Papi menatap penuh kebahagiaan putra sulungnya itu.


"Selamat ya Nak, akhirnya Papanya Gita merestui, maaf Mama kali ini enggak ada di pihak mu, tapi berada di pihak Gita. Sebenarnya Mama bingung, kalian berdua anak Mama semua, tapi Mama tidak tega jika harus membiarkan Gita tanpa adanya Mama," wanita paruh baya itu pun merasakan kebahagiaan yang sama, apalagi dia orang pertama yang menyetujui hubungan dua sejoli itu.


"Selamat ya Bang, besok gue juga boleh ikut, kan?" tanya Riky, dia juga merasakan hal yang sama, bahagia melihat sang Kakak bahagia bersama orang yang dicintainya.


"Tentu dong! Lo harus lihat gue tunangan sama Gita, biar Lo enggak ngejar Gita lagi kaya dulu," ucap Indra berbisik diakhir kalimatnya supaya tak terdengar kedua orang tuanya.


"Ck, gue bukan tipe cowok yang sukanya merebut milik sodara, enggak kreatif banget," sungutnya.


"Bus dong!" sahut Indra asal.


Hari ini benar-benar hari yang penuh kebahagiaan, semoga hari seperti ini akan selalu bertahan, supaya tak ada lagi air mata yang terbuang sia-sia.


.


.

__ADS_1


🥀🥀🥀


Udah nulis dari semalam, tapi enggak tahu kenapa belum lolos?


__ADS_2