
"Papa bahagia bisa makan bersama kalian berdua seperti ini, ya meskipun keadaan tidak terlalu mendukung kebahagiaan ini," Papa menatap kedua anak kembarnya secara bergantian.
"Sudah Pa enggak usah pikirkan itu semua, aku baik-baik aja." Gita menatap sang Papa meyakinkan lelaki itu supaya tak mengkhawatirkan keadaanya.
"Hem, bagus kalau begitu. Sekarang kita nikmati makanan lezat ini, lupakan semua masalah yang ada, rasanya makanan enak ini akan jadi hambar kalau memikirkan semua masalah yang terjadi." Papa menerima piring berisi nasi dari tangan Gita dan mengisi beberapa lauk yang dia suka.
"Kamu belajar masak dari mana Nak?" pertanyaan itu tentu di tujukan pada pemuda yang duduk dengan tenang di tempatnya, siapa lagi jika bukan Hafidz, sebab semua yang terhidang di atas meja makan adalah kreasi masakannya.
"Jaman sekarang mah gampang Pa, ada media sosial. Dulu waktu masih SMA juga sering masak di rumah, bantu ibu kalau beliau sedang di ladang," jawab Hafidz melakukan hal yang sama memilih beberapa lauk yang dia suka.
Hafidz sengaja memasak semua ini untuk menyambut kedatangan Papa dan adiknya untuk makan malam, sebab tadi siang mereka berdua makan di kafe sambil sambil mengobrol panjang lebar. Sang Papa baru saja tiba sore tadi, setelah pertemuannya dengan klien tadi siang.
"Iya juga ya, tapi tetep kalo enggak punya skil enggak bakalan bisa masak seenak ini," benar sekali apa yang dikatakan sang Papa semuanya butuh skil yang memadai untuk sebuah hasil pekerjaan yang memuaskan.
Selesai makan malam, Papa berpamitan untuk ke kamar lebih dahulu, sebab sejak tadi belum istirahat sama sekali, sedangkan kedua anak kembar itu memilih membereskan bekas makan mereka.
Selepas itu mereka mengobrol di balkon kamar, sambil menikmati indahnya langit yang dipenuhi bintang, terasa damai saat menatap langit malam ini.
"Papa gimana setelah mengetahui semuanya?" tanya Hafidz, sebab tadi siang dia belum sempat menanyakan hal apa pun, karena wajah Gita sudah di penuhi oleh air mata, membuatnya tak tega untuk menanyakan semua hal yang ada di benaknya.
"Awalnya Papa marah, bahkan mau menggunakan kekuasaannya, tapi aku melarang dengan berbagai permohonan, dan akhirnya Papa setuju, apalagi saat aku mengatakan mau kuliah di sini," Gita mengingat saat menceritakan semuanya pada sang Papa pagi itu.
"Itu baru adik Abang, buat apa coba kita balas sakit hati dengan rasa sakit yang sama, enggak ada untungnya juga, kan? Malah membawa kita dalam masalah baru. Ya, meskipun Abang juga marah sebenarnya, tapi kita harus bagaimana jika tidak menerima semua itu? Karena itu sudah digariskan," tutur Hafidz, meski ada rasa marah dalam harinya, dia tak mau membalas kemurkaan itu dengan hal yang menyakitkan juga.
"Mama pasti syok, kan? Jadi rindu sama Mama." Hafidz menatap Gita yang masih setia menatap langit malah yang begitu indah, sebab taburan bintang berserakan.
Gita menoleh, "Aku tidak mengatakan yang sebenarnya pada Mama. Aku takut Mama syok Bang, apalagi semua ini bersangkutan dengan hal yang hampir sama dengan kejadian yang Mama alami," jawabnya.
__ADS_1
Hafidz menghela nafas, sesuatu yang sangat tak ingin dia lihat saat wanita yang melahirkannya itu bersedih, apalagi mengingat masa lalu yang menyakitkan.
"Aku mohon Abang tak mengatakan yang sebenarnya, aku juga sudah bilang sama Bang Indra dan Papa tentang masalah ini," pinta Gita. Tentu saja Hafidz menyetujuinya.
🥀🥀🥀🥀
Di belahan benua berbeda, seorang wanita paruh baya dan anak gadisnya sedang duduk di atas tempat tidur, sang suami duduk di sofa dengan berbagai dokumen di hadapannya.
"Mami malu sama keluarga Mbak Sinta Pi. Mami juga malu sama saudara kita, Mami sudah pamer mau punya mantu anak orang kaya, eh malah kejadiannya gini." Wanita itu menyusut air matanya, dia terlihat sangat putus as.
"Udahlah Mi, enggak usah dipirkan apa yang mereka katakan. Menurutku sekarang kita harus minta maaf sama keluarga Gita, Mi," putri yang sejak tadi mendengarkan keluh kesahnya, karena sudah pamer dengan saudara saat acara kemarin. Sebab Salman dan Gita pernah mengatakan akan menikah setelah gadis itu wisuda, tapi kenyataanya hubungan mereka justru berakhir.
"Betul itu kata Salma, Mi. Mami sekarang telpon Bu Sinta, bilang kalau kita akan datang ke rumahnya malam ini." Papi menatap kedua wanita yang sangat dicintainya itu, mengabaikan sejenak dokumen dihadapannya.
Mami menyusut air matanya, kemudian meraih ponsel yang ada di atas nakas dan menghubungi seseorang.
"Mereka justru yang mau ke sini Pi, jadi Mami memilih jalan tengah, kita makan malam di luar."
"Tidak masalah, tapi anak mu juga harus di ajak, dia yang harus bertanggungjawab," timpal Papi.
"Kasih tahu Abang mu ya Dek," pinta Mami.
"Iya Mi, meskipun sebenarnya malas." Salma bangkit dari duduknya meninggalkan kamar kedua orang tuanya menuju kamar sebelah, yaitu kamar sang Abang.
"Abang sudah datang ke rumah Gita, sudah bertemu juga dengan Papanya," ucap Salman ketika adiknya memberitahu tentang perjanjian makan malam.
"Terserah Abang saja lah, aku hanya menyampaikan perintah." Gadis itu keluar kamar dengan bersungut-sungut, dan
__ADS_1
Blam!
Suara pintu kamar yang ditutup dengan gerakan kilat dan penuh tenaga, untung pintu itu tidak terlepas.
Di sinilah saat ini kedua keluarga itu berkumpul, mereka memilih menikmati makan malam terlebih dahulu sebelum membicarakan hal yang akan mereka bicarakan.
Salma merasa heran sebab Gita tak ikut serta dalam acara pertemuan ini, padahal tujuannya ikut hanya untuk meminta maaf dan memeluk sahabatnya itu. Dia juga akan melakukan apa pun sesuai permintaan Gita, tapi sekarang gadis itu tak ada, dan dia harus menghapus semua niatnya tersebut. Raut wajahnya menjadi sendu saat berfikir jika Gita juga marah dengannya.
"Saya atas nama orang tua Salman minta maaf karena sudah membuat kekacauan ini. Saya telah gagal mendidik anak saya," Papi membuka suara lebih dahulu setelah menghabiskan makan malam itu.
"Harusnya saya yang minta maaf Pak, Gita itu meski sudah dewasa tapi pikirannya masih seperti anak kecil, dia belum siap untuk menikah, tapi kenapa mau bertunangan, saya jadi heran. Malah sekarang memutuskan pertunangan dengan alasan mau lanjut kuliah," Mama Sinta sebenarnya merasa aneh dengan alasan Gita, tapi dia tak bisa berbuat lebih karena gadis itu mengatakan jika dirinya dan Salman belum berjodoh.
Kedua orang tua Salman saling berpandangan satu sama lain, bahkan Salman yang sejak tadi menunduk juga terlihat terkejut. Kemarin saat datang ke rumah Gita, dia hanya meminta maaf karena putusnya hubungan pertunangan mereka tanpa mengatakan penyebabnya.
"Gita bilang mau kuliah menyusul Abangnya, dan menolak nak Salman yang ingin mempercepat pernikahan, dan akhirnya dia tetap egois dengan pilihannya itu, padahal bisa juga kan kuliah kalau udah nikah," Mama Sinta merasa bersalah akan kelakuan Gita yang sebenarnya tidak Gita lakukan itu.
Akhirnya kedua orang tua Salman tak mengatakan yang sebenarnya, mereka mengerti jika Gita ternyata justru melindungi nama baik putranya. Sungguh luar biasa gadis itu, tapi kenapa putra mereka justru meninggalkan gadis sebaik itu.
"Abang harus berterimakasih sama Gita, karena dia sudah menutupi aib Abang, kurang baik apa coba sahabatku itu, tapi dengan teganya kamu malah menyakitinya," Salma geram dengan semua yang dilakukan abangnya itu. Meskipun sebenarnya Gita melajukan itu semua demi sang Mama, tapi tentu mereka tak mengetahuinya.
Salman hanya menghela nafas, dia menyetujui ucapan adiknya. Gita memang gadis luar biasa, pertama dia melarang Papanya melukai dirinya, atau bahkan melarang abangnya yang positif itu juga? Dan sekarang Gita justru menjelekkan dirinya sendiri demi menjaga nama baik Salman, sungguh Salman sangat merasa bersalah dengan gadis itu.
"Abang mu itu terlalu bodoh! Dia membuang mutiara dan memungut batu krikil!" sela Mama yang duduk di kursi belakang bersama suaminya.
"Lihat aja Mi, dia bakalan nyesel!" Salma menatap sinis sang Abang yang sedang fokus menyetir. Dia tahu betul jika abangnya itu dulu sangat mencintai Claudia, tapi dia tak menyangka jika sekarang dibuat bodoh oleh wanita itu, wanita yang telah menyakiti di masa lalu. Dan kemungkinan juga akan menyakiti lagi di masa depan, sebab tahu seperti apa wanita satu anak itu.
Meskipun aku marah dan kesal, tapi aku enggak berharap Abang tersakiti lagi oleh wanita itu. Batin Salma.
__ADS_1
🥀🥀🥀🥀