Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Buku Biru Muda


__ADS_3

Seperti malam sebelumnya jika sedang merindukan seseorang dia akan masuk ke kamar orang yang dirindukan itu, duduk berlama-lama di kamar tersebut, tak jarang dia juga tidur di kamar itu berharap bisa memimpikan gadis manis yang selalu mengusik pikirannya.


Di saat dirinya sedang memikirkan banyak masalah, tempat yang paling bisa membuatnya melupakan sejenak masalah tersebut adalah kamar ini, apalagi saat dia menatap foto gadis tercintanya itu, semua pikirannya kini hanya fokus pada satu nama, Sagita, dan itu sangat ampuh melupakan sejenak permasalahannya.


"Kamu sudah hampir dua tahun kabur dari Oma, itu artinya kamu harus segera kembali. Cukup sampai di sini kelana mu, Oma yakin kamu sudah mampu menggantikan Opa mu yang sudah renta itu," ucapan Oma dua hari yang lalu masih terus terngiang dalam ingatannya.


"Aku enggak bisa Oma, Riky lebih berhak di sana, atau Erika saja." Penolakan itu dia sampaikan tidak satu dua kali tapi berulang kali, tapi Oma bersikeras tak mau menerima penolakannya.


"Kamu itu, Oma tidak mau tahu kamu harus secepatnya kembali ke sini," selalu saja Oma tak mau mengalah sedikit pun dia hanya bisa menghela nafas.


"Baik Oma, tapi nanti kalau aku udah punya istri," setelah itu dia pun menutup telpon tanpa menunggu jawab dari Oma, yang pasti saat ini wanita itu sedang menggerutu.


Indra menghela nafas saat mengingat percakapannya di telpon dengan sang Oma, sebenarnya dia tak tega melihat wanita yang rambutnya sudah dipenuhi dengan uban itu uring-uringan seperti itu. Wanita itu hanya memiliki dua anak lelaki, tapi keduanya mengambil langkah berbeda dari Oma dan Opa yang seroang pebisnis, memiliki beberapa garmen di berbagai daerah di pulau Jawa.


Papanya memilih menjadi seorang lawyer, sedangkan adik Papanya Om Lukas menekuni hobinya di bidang otomotif, hingga kini memiliki beberapa showroom mobil dan motor. Dan dirinya menjadi sasaran empuk sang Oma untuk meneruskan estafet kepemimpinan Opa nya yang sudah semakin menua.


Indra beranjak dari sofa yang baru saja dia duduki, menuju meja rias, dimana bingkai dengan gambar gadis tercintanya berada di tepat itu. Saat akan meraih bingkai tersebut, matanya tak sengaja melihat sebuah buku berwarna biru muda, dia penasaran sebab sebelumnya buku itu tidak ada di sana. Itu artinya bukan hanya dirinya yang sering masuk ke dalam kamar ini.


Dia pun meraih buku tersebut, terkejut saat mendapati sebuah foto jatuh dari buku itu. Selembar foto yang sudah di potong menjadi dua bagian dengan dua orang berbeda. Dimana salah satu potongan kertas foto itu adalah gambar dirinya, sedangkan yang satu lagi gambar seseorang sahabat yang kini menjelma menjadi saudaranya.


"Ini kan foto waktu pertama kali masuk kampus," Indra mengingat betul foto itu diambil, saat itu hari dimana mereka pertama kali menginjakkan kaki di kampus, dia mengenal seseorang yang terlihat kebingungan sebab belum memiliki seorang teman, dan Indra berinisiatif mendekat. Hari itu mereka mengenal satu sama lain, dan si temannya yang tak lain adalah Hafidz meminta foto yang baru saja mereka ambil untuk dicetak, sebab saat itu teman barunya tersebut tidak memiliki ponsel berkamera seperti dirinya. Dan dengan senang hati dia pun mencetak foto tersebut.


Merasa penasaran dengan si pemilik buku tersebut yang pastinya sudah bisa ditebak, dan benar saja tebakannya, jika buku itu milik gadis manis yang sangat dia cintai. Membaca lembar pertama, dia mengernyit saat isinya curahan hati gadis itu saat dia membawa pergi dari hadapan seorang Ryantaka.

__ADS_1


Hanya satu lembar yang dia baca, lalu meninggalkan kamar tersebut menuju kamarnya. Ingin membaca buku itu dengan tenang di kamarnya.


Seseorang di balik pintu sebuah kamar tersenyum saat melihat Indra masuk ke dalam kamar dengan membawa buku tersebut, dia pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar.


🥀🥀🥀


"Lucy tolong jaga adik manja ku ini, kamu boleh tidur di unit ku untuk menemaninya. Terus terang sama Dady kamu," pinta Hafidz pada gadis berambut pirang sebahu itu.


"Siap Kakak tampan. Jangan lupa transfer beberapa dolar saja, supaya aku bisa mengerjakan tugas dengan sangat baik," sahut gadis itu dengan tawanya yang renyah.


Decakan terdengar dari mulut seseorang, tentu saja bukan Hafidz tapi Gita yang saat ini sedang bermanja ria di pangkuan abangnya.


"Lo itu udah kaya, ngapain minta transfer Abang gue yang cuma karyawan biasa," ucap Gita.


"Paling lama dua Minggu, kalau tugasku sudah selesai enggak sampai dia minggu aku pasti kembali, tolong ya," sebenarnya Hafidz tak begitu rela meninggalkan adiknya bersama Lucy, sebab gadis berambut pirang itu sering kali pergi bersama kekasihnya, bahkan menginap di tempat kekasihnya itu.


"Siap!" seloroh Lucy penuh semangat.


"Tapi ingat...." Hafidz menggantung ucapannya sebab gadis berambut pirang itu lebih dulu menyela.


"Selalu ingat Fidz, jangan bawa Gita ke club', jangan bawa masuk cowok ke unit ini dan jangan biarkan Gita pergi sama cowok tidak jelas salah usulnya," Lucy sudah hafal semua peringatan yang tidak boleh dilakukan, sebab Hafid sering kali mengucapkan hal tersebut, bahkan bukan hanya Hafidz tapi sang Mommy juga yang masih menjunjung tinggi adat istiadat tanah kelahirannya.


Benar saja seperti yang di khawatirkan Hafidz, baru beberapa jam pemuda itu meninggalkan negara ini, Gita sudah kesepian sebab Lucy memilih berkencan dengan kekasihnya. Membuat Gita hanya bisa menghela nafas kasar.

__ADS_1


"Lucy, menyebalkan sekali gadis itu. Dia enak-enakan pacaran, awas saja kalau sampai nginep di rumah pacarnya itu," gerutu Gita saat merasakan sepi yang mendera seluruh raganya.


Akhirnya Gita memutuskan untuk tidur dari pada memikirkan Lucy yang belum tentu kembali ke unitnya malam ini. Dan benar saja, jam tujuh pagi Lucy baru saja masuk ke unitnya dengan wajah masih mengantuk, tapi bibirnya menyunggingkan senyum.


"Ish, ingkar janji," ketus Gita menyambut kedatangan Lucy.


"Maaf, tapi aku tidak bisa menunda kalau masalah kekasih ku itu, apalagi sudah hampir satu minggu aku tidak menghangatkan kamarnya, bagiamana kalau ada gadis lain yang mengajarkannya? Aku enggak akan rela itu terjadi, jadi mengertilah," Lucy sebenarnya juga merasa bersalah sebab meninggalkan sahabatnya itu sendiri, tapi dia juga tak bisa meninggalkan sang kekasih begitu saja.


"Hoam! Aku ngantuk dan lelah sekali, Nathan tidak membiarkan ku tidur semalam, bahkan pagi ini juga dia menyerangku lagi." Lucy merebahkan tubuhnya di ranjang milik Gita.


Sedangkan Gita memilih untuk pergi tak ingin mendengar ucapan yang membuatnya bergidik ngeri dari mulut gadis itu. Hal itu terlalu memalukan, tapi lihatlah Lucy mengatakannya dengan sangat enteng sekali, seperti tak memiliki beban apa pun, padahal dia dan kekasihnya belum resmi menikah, tapi sudah melakukan hubungan seperti itu sejak pertama kali mereka berpacaran, seperti itu yang dikatakan oleh Lucy padanya.


Pantas saja Abangnya selalu melarang dia berteman dekat dengan pria negeri ini, ah tidak hanya pria tapi juga para gadis yang tidak jelas. Untung saja dia memiliki Abang yang begitu pengertian padanya, menjaganya dengan sepenuh hati.


Tak lama terdengar suara bel rumahnya berbunyi, sebelum membuka pintu dia memastikan siapa yang datang ke unitnya, dia terkejut saat melihat seseorang yang tak diinginkan yang datang, tentu saja dia tak mau membuka pintu tersebut.


"Apa dokter itu tahu kalau Abang pulang? Huhf, menyebalkan sekali, aku jadi takut." Gita menggidikan bahu takut.


.


.


🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2