Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Duo D


__ADS_3

"Gimana rasanya? Lo nyesel sekarang?" Deril mencibir sahabatnya yang kini sedang patah hati.


Indra hanya mendengus mendengar cibiran sahabatnya itu. Dia kembali menyalakan tembakau yang dikemas sedemikian rupa hingga menarik perhatian peminatnya. Entah sudah berapa banyak pemuda itu menghabiskan gulungan kecil yang menghasilkan asap berbahaya itu saat dinyalakan.


"Menurut gue Lo itu sangat sangat bodoh sampai enggak menyadari perasaan sendiri," cibir Deril kembali.


"CK, Lo bisa bilang gitu karena enggak pernah ngerasain sendiri. Gue sumpahin Lo ngerasain apa yang gue rasakan sekarang!" Indra kesal dengan sahabatnya itu, dia datang jauh-jauh dari Bandung ke Jakarta untuk mencari ketenangan tapi yang dia dapatkan justru cibiran.


Deril terkekeh geli mendengar ucapan Indra, menurutnya pemuda itu terlalu baper menanggapi ucapannya yang hanya becandaan.


"Woy orang Bandung! Tumben jam segini di sini? Ada apa Ngab!?" Tiba-tiba seseorang masuk tanpa permisi, seakan apartemen itu miliknya sendiri.


"Patah hati dia Vin, Lo hibur sono! Gue dari tadi kena semprot mulu!" Indra menatap Deril dengan kesal setelah mendengar ucapan pemuda itu.


"Woy, pantesan. Biasanya Lo jarang banget ngerokok." Devin duduk di sofa depan Indra yang masih asik mengepulkan asap dari mulutnya.


"Gilaaa! Lo yang ngabisin semua ini?" Devin memeriksa lima bungkus yang ternyata sudah tak ada isinya sama sekali. Menggelengkan kepala, tak percaya dengan kelakuan Indra yang menurutnya tidak wajar.


"Lo kira gue doyan benda berasap itu?" ujar Deril saat mata Devin menatapnya lekat. Memang pemuda berdarah Tionghoa itu tak menyukai batangan tembakau tersebut.


"Baiklah, baiklah. Tunggu gue ada sesuatu buat ngilangin patah hati Lo." Devin meninggalkan apartemen tersebut, entah pergi kemana pemuda itu.


Indra tidak peduli, bahkan obrolan dua sahabatnya tadi tak begitu dia dengarkan. Pasalnya dia masih terngiang-ngiang ucapan Mama Sinta setelah makan malam tadi, saat menyerahkan seragam keluarga.


"Ini untuk Indra sama Riky, ada juga buat Hafidz, tapi dia enggak bisa pulang, jadi biar Mama simpan," ucap Mama setelah menyerahkan paper bag pada mereka berdua.


"Ini apa Ma?" tanya Indra.


"Ini baju buat acara tunangan Gita, tiga hari lagi," jawab Mama begitu santai. Tentu dia terkejut dan sepertinya Mama menyadari hal itu.

__ADS_1


"Bang Indra belum tahu? Mama kira Gita udah ngasih tahu, jadi Mama enggak ngasih tahu," ujar Mama seakan menyesal putra sambungnya itu belum mengetahui hal sepenting itu.


"Enggak apa-apa Ma, yaudah makasih ya Ma. Biar ku simpan." Indra tak bisa berlama-lama berada di ruangan itu, sebab hatinya begitu hancur mengingat apa yang Mama sampaikan tadi. Kenapa juga Gita tidak memberitahunya, tidak mungkin kan jika belum sempat. Ah, iya sudah beberapa hari mereka tak saling menyapa, bahkan mereka tidak bertemu, karena dirinya yang memang jarang pulang ke rumah.


Mengetahui hal itu, Indra pun langsung meninggalkan rumah untuk mendengarkan dirinya sendiri. Tepat saat dia membuka pintu, Gita juga sepertinya akan mendorong pintu utama itu. Gadis itu tersenyum, tapi dia tak membalas senyuman itu sama sekali, apalagi saat mendapati Gita tak sendiri, dengan siapa lagi jika bukan dokter berkacamata itu.


"Mau kemana Bang?" tanya Gita saat Indra melewatinya begitu saja.


"Pergi," jawabnya sambil berlalu.


"Kenapa Bang Indra Ky?" tanya Gita pada adiknya yang ternyata sudah berada di ambang pintu entah sejak kapan.


"Patah hati pasti, denger Lo mau tunangan," jawab Riky asal, tentu Indra masih bisa mendengarnya.


"Ngaco Lo!" seru Gita dan dia masih bisa mendengar ucapan Gita itu, setelah itu dia berlalu. Sebelumnya dia menatap kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu dengan tatapan sendu.


Semua itu terbayang dalam pikirannya sejak tadi, bahkan saat dia berkendara pun masih terus terbayang akan hal itu. Untung saja dia sampai di apartemen Deril dengan selamat, meskipun penghuni apartemen tersebut sedikit mendengus karena dia datang tengah malam.


"Lo apaan Vin! Jangan kasih dia kaya gitu!" Entah darimana datangnya Deril tiba-tiba saja sudah berada disampingnya dan merebut minuman beralkohol itu dari tangannya.


"Masukin semuanya! Lo minum sendiri sono! Jangan coba-coba kasih ke dia," titah Deril tak terbantahkan.


"CK, masalahnya apa Ril? Bukannya kita kalo lagi banyak masalah biasa melakukan ini?" Devin heran dengan kelakuan sahabatnya itu. Kenapa juga melarang dirinya memberi minuman beralkohol tersebut pada Indra.


"Itu masalahnya, sekali dia coba bakalan lagi dan lagi. Meskipun gue sering ngonsumsi minuman itu, tapi gue kagak mau nyeret sahabat gue untuk melakukan hal yang sama. Apalagi dalam agama dia minuman itu diharamkan!" Deril menekan kata terakhirnya.


"CK, Lo nyindir gue? Yaudah gue tarik lagi." Devin memasukkan lima botol minuman itu ke dalam keresek kembali.


"Lo mau kagak Ngab?" tanyanya saat memasukkan botol terakhir, sebab Indra sejak tadi hanya menjadi patung.

__ADS_1


Tanpa menjawab sepatah kata pun, Indra langsung merebut botol itu dari tangan Devin. Tapi secepat kilat Deril merebutnya kembali.


"Kagak usah macem-macem, gue yakin kalo Lo sampai minum ini, Hafidz kagak bakalan nerima Lo jadi adik ipar! Gita juga bakalan ilfil sama Lo! Ingat, saingan Lo itu dokter, udah pasti kehidupannya tanpa ada barang seperti ini." Celetuk Deril dan Indra membenarkan ucapan sahabatnya itu.


Dia bersyukur memiliki sahabat seperti Deril, meski pemuda itu memiliki kehidupan bebas tanpa batas, tapi sekalipun tak pernah mengajak temannya untuk hidup sama seperti dirinya. Hanya saja Devin memilih mengikuti jalan pemuda itu, setelah putus dengan kekasihnya beberapa bulan lalu.


"Waow! Jadi, Lo patah hati karena Gita? Ini gilaa sih, serius! Gue kira Lo kagak bakalan cinta sama tu anak, karena Lo selalu nganggep dia adik, adik dan adik. Sekarang Lo pasti kena karmanya!" Devin yang baru saja mengetahui penyebab patah hati nya seorang Indra, dia tertawa terbahak-bahak mendengar kisah sahabatnya itu.


"Kamprettt kalian berdua memang! Gue bakalan bales!" Indra membuang bekas hisapannya itu ke tong sampah dan berlalu meninggalkan kedua sahabat luknatnya.


"Gita mau nikah atau gimana emang?" Devin kepo.


"Doi mau tunangan, sama dokter gitu katanya. Makanya dia patah hati, bego sih, tau cinta malah dibiarin sama cowok lain. Rasain sekarang," jawab Deril dan Devin kembali tertawa, meski sebenarnya dia juga prihatin melihat wajah kusut Indra.


"Ril Lo kagak punya makanan?!" seru Indra dari arah dapur.


"Gue lapar!" serunya lagi.


Kedua pemuda itu pun berjalan ke arah dapur, melihat Indra yang sedang mencari makanan di dalam kulkasnya.


"Kagak ada, gue jarang makan di sini. Kalo Lo mau biar dicariin sama Devin," jawab Deril.


"Kok gue? Lo lah yang tuan rumah!" protes Devin.


"Udahlah kagak usah, gue minum aja." Indra berlalu meninggalkan mereka berdua menuju ruang tamu kembali.


Entah kenapa dia begitu lapar, padahal sebelum sampai sini dia sudah makan. Benar-benar definisi patah hati juga butuh tenaga. Buktinya dia merasa kelaparan padahal tak melakukan apa pun, hanya hatinya yang patah.


Indra menghirup udara dalam-dalam, dadanya rasanya begitu sesak, mengingat jika cinta pertamanya harus kandas sebel dia mengungkapkan isi hatinya. Ya, dia belum pernah jatuh cinta pada seorang gadis, hanya pada Gita dia merasakan rasa itu, tapi langsung dipatahkan bahkan sebelum dia mengungkapkan perasaanya pada gadis tersebut dan sepertinya tak akan pernah bisa terungkapkan, karena itu memalukan sekali, sebab selama ini dia menganggap Gita hanya adik dan adik, bahkan sering mengatakan hal tersebut pada Gita. Mau ditaruh dimana mukanya jika sekarang justru mengatakan jatuh cinta? Dan akhirnya dia hanya bisa pasrah dengan keadaan saat ini.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2