
Makan malam kali ini terasa berbeda semua itu karena si cantik yang kini tengah menuangkan air minum untuknya. Hasil masakan gadis itu memang tak selezat masakan resto yang selalu dia makan, tapi itu semua tertutupi dengan rasa bahagia yang menyelimutinya.
Dia sangat tahu, gadis dihadapannya ini tidak begitu pandai memasak, tapi berusaha untuk membuat masakan yang lezat untuknya. Usahanya memang harus di apresiasi.
"Gimana masakan ku enak enggak, Bang?" tanya gadis itu menatapnya penuh keingintahuan.
Tentu dia tak ingin memudarkan binar mata cerah penuh harap itu, "Enak, coba aja kalau enggak percaya." Dia menyodorkan sesuap nasi beserta lauk dihadapan gadis itu.
"Aku bisa sendiri Bang, lagian makanan kita juga sama," dia menolak sebenarnya karena malu jika harus menerima suapan itu.
"Kalau aku suapin rasanya pasti lebih enak, coba aja." Indra berusaha merayu, dia tersenyum saat gadis itu menerima suapannya, apalagi kedua pipi gadis itu nampak memerah, mungkin karena malu. Tapi semua itu justru membuatnya makin gemas.
"Gimana?" tanyanya.
"Em, lumayan sih, tapi menurutku masih kurang enak. Ya meskipun masih bisa dimakan," Gita sedikit kecewa setelah merasakan masakan yang dia masak tadi, rasanya kenapa kemanisan, tadi seingatnya dia hanya menambah gula sedikit saja.
"Ini enak kok serius," Indra tak ingin membuat gadis dihadapannya ini cemberut, dia dengan lahap menyantap makanan dalam piringnya, bahkan dia menambah lauk, berharap Gita tidak putus asa.
"Maaf ya Bang, lain kali aku akan masak yang lebih enak lagi," tapi Gita tidak begitu saja percaya, dia tahu Indra hanya ingin membuatnya tidak bersedih.
Indra hanya mengangguk, dia bingung harus berkata apa. Lebih baik mengisi perutnya yang sejak siang tadi keroncongan minta di isi.
Nyatanya semua masakan Gita habis tak tersisa, meskipun tadi gadis itu sempat cemberut, tapi kini dia sudah bisa tersenyum bahagia, karena Indra menghargai semua usahanya.
"Udah enggak usah di cuci, besok pagi ada art Oma yang membersihkan apartemen ini." Indra meraih tangan Gita, menuntunnya menuju ruang tamu.
"Aku kira bersih karena Abang yang bersihin sendiri," cibir Gita, menarik kekagumannya saat pertama kali melihat apartemen itu.
Indra hanya tersenyum, sama sekali tak ingin melontarkan pembelaan. Dia tak ingin berdebat tentunya.
"Kamu belum menjelaskan kenapa bisa masuk ke sini? Dan kamu tahu enggak? Aku seharian mengkhawatirkan mu yang tak ada kabar sedikit pun." Keduanya saat ini sudah duduk di sofa, Indra sengaja duduk menghadap gadis itu.
"Kan kejutan Bang, sengaja juga buat Abang khawatir." Gita menyengir, dia sama sekali tidak merasa bersalah, sebab itu memang tujuannya.
Indra menarik hidung gadis itu gemas, "Kamu itu ya, lain kali kalau mau pulang kasih kabar. Biar aku jemput di bandara. Kaya di film-film itu," ujarnya.
"Ish sakit Bang." Gita mengusap hidungnya, padahal tidak begitu kuat Indra menariknya, tapi kenapa gadis itu kesakitan?
__ADS_1
"Oke lain kali, tapi aku enggak janji ya," timpal Gita.
Mereka menghabiskan waktu untuk bercerita, sesekali mereka selingi dengan canda tawa.
"Udah bilang sama Papa sama Mama kalau kamu pulang?" tanya Indra.
Gita menggeleng, "Belum, aku belum ngabarin siapa pun." Jawabnya membuat Indra menghela nafas.
"Harusnya yang pertama kamu kabari Mama, terus Papa kamu. Biar mereka enggak khawatir. Apa kamu enggak kangen sama Mama?" tanya Indra lagi, kali ini sedikit memaksa gadis itu untuk menatapnya yang sedang berbaring menggunakan paha Gita sebagai bantal.
"Iya nanti aku kabari Mama, kalau Papa kan di luar kota." Gita sebenarnya rindu dengan sang Mama, tapi jika dia langsung ke Bandung, kapan akan bertemu dengan pemuda yang kini menatapnya itu? Makanya dia memilih untuk menginap di apartemen sang Abang terlebih dahulu.
"Nah gitu dong." Indra kembali menarik hidung gadis itu membuat Gita kesal. Entah kenapa hobi sekali Indra menarik hidungnya.
"Ish Abang!"
Indra terkekeh melihat gadis itu kesal, "Salahnya gemesin, aku kan jadi pengen nyium," ujarnya.
"Enggak!" Gita menjauhkan wajahnya yang kini bersemu merah dari Indra, tapi pemuda itu semakin gencar menggoda, dengan menarik tengkuk leher Gita, agar bisa lebih dekat memandang wajah ayu itu.
Ting Tong
Indra membuka pintu dan berdecak kesal saat melihat siapa tamu yang telah mengganggu. Hal yang sama pun dilakukan oleh Gita, dia menghela nafas kesal saat melihat sang Abang menatapnya penuh selidik.
"Kenapa sih Bang? Udah kaya ngeliat maling aja?" tanya Gita balas menatap sang Kakak.
"Kalian itu enggak boleh dibiarin berduaan aja, bahaya." Cetus Hafidz dan memilih duduk dihadapan dua sejoli itu.
"Berlebihan banget sih Bang, kami pernah tinggal bersama sebelumnya, kan? Dan Abang tahu sendiri enggak terjadi apa-apa diantara kami, tidak seperti yang Abang pikirkan," Gita masih tidak terima jika dituduh akan melakukan hal di luar batas, bahkan sejak tadi mereka tidak melakukan apa pun di luar aturan Hafidz.
"Itu kan dulu, kalian masih malu-malu karena baru tahu perasaan masing-masing. Kalau sekarang, perlu di waspadai." Hafidz tetap keukeh dengan pendiriannya, dia hanya tidak ingin mereka berbuat di luar batas.
Indra sejak tadi hanya diam menyimak kedua saudara kembar itu berdebat, tapi dia juga tidak menyalahkan Hafidz, mungkin saja apa yang ada dalam pikiran Hafidz akan menjadi nyata jika pemuda itu tidak datang saat ini. Sungguh dia sejak tadi sebenarnya menahan agar tidak terlalu berlebihan menyentuh gadis itu, padahal sangat ingin sekali melakukan apa yang dia pikirkan. Tapi dia tak mau itu terjadi, rasa cintanya yang begitu besar membuatnya ingin menjaga gadis itu.
"Kalian kalau mau pacaran silahkan, aku akan di sini jadi satpam." Putus pemuda itu, dia mulai merebahkan diri di sofa sambil mengotak-atik ponsel miliknya, entah apa yang sedang dia lakukan.
Gita mendengus mendengar ucapan sang Kakak. Biasanya jika orang lain tidak mau menjadi bygon, tapi lihatlah Kakak kembarnya itu bahkan dengan senang hati menjadi bygon.
__ADS_1
Indra mengusap punggung gadis itu mencoba menenangkannya. "Udah enggak usah di buat pusing, kamu tahu sendiri kan kalau Abang kamu itu jomblo makanya dia iri dengan kita," celetuk Indra sambil melirik Hafidz.
Gita terkikik geli mendengar ucapan Indra, apalagi saat Kakak kembarnya itu menoleh sekilas ke arah mereka berdua dengan bola mata yang melebar.
"Gue denger ya!" celetuk Hafidz.
"Abang bisa hadap sana enggak?" Gita tak peduli dengan ucapan kekesalan Kakaknya itu.
"Enggak! Ngapain sih? Udah kalian kalau mau kangen-kangenan enggak usah pedulikan abang." Jawab pemuda itu tanpa menatap keduanya.
"Ish justru itu, nanti kalau Abang lihat malah iri lagi." Gita berusaha membujuk abangnya. "Kita mau ciuman lhoh Bang," tambah gadis itu, menggoda sang Kakak. Ya, Gita hanya menggoda tidak lebih.
Hafidz langsung bangkit dan menatap keduanya penuh selidik.
"Eh, Lo jangan melotot gitu Fidz, Lo percaya aja sama ucapan dia." Indra melirik sekilas ke arah Gita yang sedang cekikikan.
"Jangan bilang kalian sejak tadi udah...." Hafidz terpaksa tak melanjutkan ucapannya sebab Gita langsung menyela.
"Kalau iya kenapa Bang?" Gita menarik turunkan sebelah alisnya menantang sang Kakak.
Hafidz menghela nafas berat, "Kalian memang enggak bisa dibiarin hanya berdua saja. Ayo sekarang pulang." Hafidz bangkit dari duduknya, dia mengajak Gita pulang juga karena malam makin larut.
"Ish Abang! Aku sumpahin Abang juga bakal melakukan hal yang sama kalau punya kekasih. Dan di situ aku yang akan gantian gangguin." Celetuk Gita dan ikut bangkit menyusul sang Abang.
"Itu enggak akan terjadi,"
"Aku pulang ya Bang, padahal masih kangen, gara-gara si jomblo itu sih," pamit Gita.
"Udah, enggak apa-apa. Besok aku antar ke rumah Papa kamu," Indra membiarkan gadis itu meninggalkan apartemennya.
"Sekalian minta restu untuk menikah, kayaknya kalian enggak bisa dibiarkan lama-lama pacaran." Hafidz menimpali, padahal pemuda itu sudah keluar dari unit apartemen Indra.
Tapi kedua sejoli itu diam tak menimpali ucapan Hafidz.
Setelah kedua saudara kembar itu masuk ke unit mereka, Indra kembali duduk di sofa yang tadi sempat dia duduki. Memikirkan ucapan Hafidz yang memang ada benarnya, tapi apakah Om Renaldy menyetujui jika mereka menikah diwaktu dekat ini? Kalau dia sih tidak masalah menikah saat ini juga, tapi apakah Gita mau?
Indra menghela nafas, mungkin dia harus benar-benar meminta restu pada Om Renaldy. Bukannya kita harus mencoba dulu sebelum menduga, tentang hasilnya seperti apa tidak masalah, yang penting sudah di coba, bukan?
__ADS_1
.
🥀🥀🥀