Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Sebuah Foto


__ADS_3

Gita sudah diijinkan untuk pulang, gadis itu terlihat bahagia dan sumringah tentunya, apalagi saat di rumah sakit semua sahabatnya datang menjenguk, bahkan Karin pun turut hadir, sahabat yang sia rindukan karena Karin baru datang tadi pagi, dengan alasan sibuk sekolah, padahal Hafidz baru menemukan sahabat Gita itu, sebab gadis itu sudah pindah rumah, bahkan Tante Sita yang dulu akrab dengan Mama Karin pun tak tahu kemana mereka pindah.


"Pa, bukannya ini rumah lama kita ya? Kenapa kita pulang ke sini?" tanya Gita saat mobil yang dia tumpangi memasuki halaman sebuah rumah mewah.


"Papa mau ganti suasana baru aja Nak, kamu enggak keberatan, kan kita tinggal disini lagi?" alasan yang memang sengaja dibuatnya sebab tak mungkin menceritakan semuanya untuk saat ini.


"Enggak Pa, aku sih seneng aja bisa kembali ke rumah masa kecil. Tapi kayaknya ini lebih bagus deh, kapan Papa renovasi rumah, aku kok enggak tahu?" Gita melihat sekeliling, meski dia tahu itu rumahnya dulu tapi kenapa sekarang rumah itu lebih bagus dan lebih sekarang.


"Mana pernah kamu mau tahu urusan seperti ini kan? Jadi Papa renov rumah juga tanpa siapa pun yang tahu," jawab Papa, membantu Gita ke luar dari dalam mobil.


Mereka berjalan masuk ke rumah dengan obrolan santai, sang Papa sungguh merindukan saat seperti ini, dekat dengan anak gadisnya seperti dulu. Sebab setelah kejadian ditemukannya Sinta, Papa dan anak itu tak lagi sedekat dulu seakan ada jarak yang membentang indah. Ternyata dibalik musibah ada sebuah kebahagiaan yang tersimpan seperti saat ini tentunya.


"Kamu istirahat ya, nanti biar Mbok Tun yang bawa makanan kamu ke kamar." Papa mengelus puncak kepala Gita saat gadis itu sudah duduk di sisi ranjang, melihat sekeliling yang terasa asing baginya.


Gita mengangguk, "Iya Pa," ucapnya. Setelah itu sang Papa keluar kamar meninggalkan Gita sendiri di sana.


Bukannya istirahat gadis itu justru melihat sekeliling kamar, memperhatikan satu persatu benda yang ada di tempat itu. Membuka laci meja yang biasanya dia gunakan untuk belajar, mata menyipit kala menemukan sebuah buku bersampul biru. Penasaran, tentu saja dia sangat penasaran, sebab seingatnya tak memiliki buku seperti itu. Membuka perlahan buku tersebut, saat dihalaman pertama sebuah benda jatuh ke lantai, gadis itu pun meraihnya. Matanya kembali menyipit saat melihat benda itu, sebuah foto di dalamnya ada dua pemuda yang mengapit dirinya di tengah.


"Mereka berdua sebenarnya siapa sih? Sering datang ke rumah sakit, tapi kenapa enggak pernah nyapa? Terus ini kapan aku foto kaya gini sama mereka?" gumamnya.


Diingat-ingat sepertinya mereka tidak pernah foto bersama, apa mungkin ini editan? Ah rasanya tidak, foto tersebut terlihat natural.

__ADS_1


"Duh, kenapa kepalaku jadi pusing gini?" Gadis itu memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing saat memikirkan tentang foto tersebut. Dia pun segera mengembalikan foto itu ke dalam buku, sudah tidak tertarik lagi untuk membaca isi buku tersebut. Lebih baik saat ini dia tidur saja, mungkin kepalanya akan segera membaik saat tidur nanti.


.


.


🥀🥀🥀


Seorang pemuda sedang duduk di balkon kamar, memandang foto yang tersimpan dalam ponselnya, foto candid seorang gadis. Gadis yang telah mencuri hatinya sejak lama, dan gadis itupun kini menjadi tujuan hidupnya. Tapi takdir seakan mempermainkan kisah kasih mereka berdua.


"Rasanya lebih sesak dari pada saat kita LDR dulu. Inikah yang dinamakan LDR sesungguhnya?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.


Jika LDR mereka masih bisa berkirim pesan atau menelepon, bahkan bisa memandang wajah cantik itu sepuasnya meski hanya lewat video, tapi kini bertutur sapa pun tidak, mereka bahkan seperti orang asing.


"Ndra, Lo jangan gini terus dong. Gue malah khawatir sama Lo kalo Lo kaya gini terus. Yakinlah semuanya akan baik-baik saja." Hafidz menghampiri sahabatnya itu, dia prihatin melihat Indra yang kegiatan sehari-hari nya hanya merenung sejak kejadian kecelakaan Gita waktu itu.


Indra diam, entah apa yang sedang dia pikirkan. Kembali memandang wallpaper ponselnya, dimana fotonya bersama gadis yang sedang dia pikirkan ada di sana. Foto mereka berdua saat berada di London.


"Gue kangen sama dia," ujarnya tiba-tiba.


Hafidz menghela nafas, dia pun merindukan saudara kembarnya itu, tapi dia bisa apa sekarang selain mendoakan untuk kesembuhan Gita.

__ADS_1


"Kita ke sana sekarang gimana?" usul Hafidz, tapi jawaban Indra tak sesuai harapannya.


"Gue bakalan tambah kangen sama dia kalo cuma lihat tanpa bisa bicara berdua, enggak sanggup gue Fidz." Indra menatap pemandangan yang bisa dilihat dari balkon kamar ini.


Hafidz mengangguk, mengerti maksud sahabatnya ini. Dia pun sebenarnya hampir sama seperti Indra, tapi dia lebih bisa mengontrol diri untuk tidak larut dalam kesedihan seperti pemuda di sampingnya ini.


Keduanya terdiam cukup lama, hingga ponsel milik Hafidz bergetar, pemuda itu pun langsung menerima panggilan tersebut.


"Ndra gue pulang, harus gantiin Papa ketemu klien." Hafidz meninggalkan kamar Indra setelah mendapatkan telepon dari sang Papa.


Indra menghela nafas melihat kepergian Hafidz, pemuda itu seperti tak kenal lelah, baru saja pulang kerja kini dia harus bekerja lagi seperti permintaan sang Papa. Pasti sangat berat menjadi seorang Hafidz, untung saja pemuda itu cerdas, jika tidak sudah dipastikan akan menyerah dengan kehidupannya saat ini. Melihat Hafidz yang bersemangat tanpa lelah, membuatnya berfikir untuk menyerahkan semua takdir ini pada yang memiliki nyawa.


"Gue enggak boleh selemah ini. Sudah cukup kejadian beberapa waktu silam membuat gue terpuruk." Indra ingat betul kejadian beberapa tahun silam saat dia mulai masuk SMA, dimana sang bunda dan adik tercinta pergi meninggalkannya.


Setahun lebih, pemuda itu menjadi remaja yang tak tersentuh, kegiatannya hanya melamun sambil menatap foto sang Bunda, tak ada air mata tapi kesedihan terus melekat dalam benaknya. Bahkan dia merasa bunda masih ada di setiap sudut rumahnya, bayangan itu selalu hadir. Hingga membuat sang Oma membawanya ke Jakarta, dan dia kembali masuk sekolah meski masih menjadi remaja yang pendiam. Hingga pertemuannya dengan Devin dan kawan-kawannya, membatunya kembali hidup seperti sedia kala, meski pergaulan mereka sedikit nakal, tapi bisa membuatnya melupakan kepergian sang bunda yang begitu mendadak.


"Sayang, aku yakin tidak lama lagi kita akan bersama. Dan saat itu tiba, aku tak akan membiarkan mu pergi dari hidupku, apa pun itu alasannya." Tekadnya begitu besar, bahkan dia tak akan lagi mengijinkan Gita kembali ke London jika gadis itu sudah mengingatnya, apa pun akan dia lakukan untuk membuat Gita tetap di sini.


Dia pun bangkit meninggalkan balkon yang menjadi teman kesedihannya. Lebih baik membersihkan diri, dia yakin beberapa menit ke depan sang Oma akan masuk ke kamarnya untuk mengajaknya makan malam bersama.


.

__ADS_1


.


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2