Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Maafkan, Aku


__ADS_3

Lembayung senja telah menampakkan dirinya, tapi dua insan yang kini duduk bersebelahan di sebuah kursi taman masih betah membisu, entah apa yang mereka pikirkan, padahal hampir lima menit keduanya duduk di tempat itu. Hingga akhirnya gadis berkucir kuda itu lebih dahulu membuka suara.


"Bicaralah Kak, aku tidak apa-apa. Sepertinya aku bisa menebak apa yang akan Kakak bicarakan," begitu baik gadis berhati malaikat ini, bukan? Bahkan hatinya sudah koyak saja dia masih bisa bertutur lembut, tidak kah menyesal pemuda yang ada di sampingnya itu jika menyakiti gadis ini?


"Atau aku yang akan bicara terlebih dahulu," tawarnya sebab Salman hanya mengangguk saja tanpa membuka suara.


Salman menoleh, dia penasaran dengan apa yang akan dikatakan gadis di sampingnya ini. "Bicaralah, aku mendengarkan," ucapnya.


"Baiklah, jika Kakak merasa ragu atau bahkan takut menyakiti ku, maka biarkan aku yang lebih dulu mengatakan melakukannya," Gita menatap lurus dimana beberapa lampu nampak sudah menyala.


Meraih sesuatu yang tersimpan di dalam tas miliknya, sebuah benda berbentuk persegi empat berwarna merah dia serahkan pada pemuda yang kini menatap nanar benda itu. Entah kenapa gadis ini seolah mengerti semua yang akan dia katakan.


"Maaf aku kembalikan ini, sepertinya Kakak belum siap dengan segala hal dan konsekuesinya, jadi lebih baik kita memperbaiki diri dulu," ucap Gita dengan yakin.


Salman menatap Gita penuh penyesalan, tapi keputusannya memang sudah bulat, setelah beberapa hari dia merenunginya.


"Maafkan aku, sungguh semuanya diluar batas kemampuanku. Aku yang salah mengartikan semua ini dengan kata cinta, padahal aku sadar semua kebahagiaan itu karena aku bersama orang yang sangat ku kagumi. Ya, aku sadar selama ini hanya mengangumi mu, maafkan aku sekali lagi,"


Entah kenapa dadanya terasa sesak saat mengatakan hal itu, sungguh dia tak tega melihat gadis di sampingnya ini hanya menunduk pasrah.


"Pertma aku memang terobsesi dengan mu, maaf aku harus mengatakan ini,"


"Katakan saja Kak, aku siap mendengarnya, mungkin akan jadi pelajaran dalam kehidupanku dimasa mendatang." Gita mencoba tersenyum meski sebenarnya perih di rasa.


"Aku menyadari itu setelah beberapa hari bersama dia, kamu pasti tahu siapa yang ku maksud," Gita mengangguk, dia paham betul orang yang dimaksud 'dia' oleh Salman.


"Kami saling mengenal sejak dia masuk SMA, dia adik kelas dan anak baru yang ku kagumi, sampai akhirnya kita menjalin hubungan. Kami pacaran cukup lama hampir sepuluh tahun. Aku memang berjanji menikahinya setelah lulus, tapi waktu itu Papa belum mengijinkan kalau aku belum lulus spesialis, dan kami mengerti akan hal itu, dia pun memahaminya,"

__ADS_1


"Setahun setelah lulus, aku harus mengabdi di daerah dan saat itu orang tua dia menjodohkannya dengan seseorang, bahkan saat aku meminta pada Ayahnya untuk membatalkan perjodohan dan aku akan menikahi dia, Ayahnya menolak, sebab mereka menikahkan anaknya karena perjanjian bisnis, apalagi saat itu ayahnya sedang sakit dan dia memilih mengikuti permintaan ayahnya itu,"


Gita terus mendengar apa yang dikatakan oleh Salman, tak sedikit pun menyela pembicaraan pemuda itu.


"Setelah itu aku tidak lagi bertemu dengannya, ternyata dia menikah tidak sampai satu tahun, suaminya selingkuh karena mereka memang tidak saling mencintai, bahkan dia berderai saat sedang mengandung. Selama hampir dua tahun dia banting tulang untuk menghidupi anak, adik dan ibunya yang sakit-sakitan, hingga tanpa sengaja kita bertemu,"


"Aku bahagia bertemu dengan dia, tapi aku masih menjaga perasaanmu. Entah kenapa kebahagiaan itu rasanya berbeda saat aku dengan dia dan saat aku dengan mu. Saat bersama dia rasanya aku menemukan kembali cinta yang telah lama hilang dan disitu aku baru menyadari satu hal, jika aku mendekatimu karena terobsesi dan juga rasa kagum ku padamu,"


Sekuat tenaga Gita mengendalikan dirinya supaya air mata sialan itu tak jatuh. Merasa direndahkan tentu saja, merasa dipermainkan dan sebagainya. Sakit itu sungguh luar biasa, tapi dia bisa apa selain pasrah?


"Maaf kan aku Gita, aku harus mengatakan semuanya ini," sesak Salman.


"Tidak masalah Kak, jika masih ada yang ingin kamu katakan lanjutkan, aku akan mendengarnya," timpal gadis itu dengan senyum paksa.


"Kamu ingat saat pertama kita bertemu?" Gita mengangguk, sangat ingat betul waktu itu.


"Itu pertama kalinya aku tertantang mendekati kamu, apalagi saat melihat posesif nya Abang kamu itu, aku tahu dia sebenarnya menyukaimu,"


Salman mengangguk, meski dia ragu akan hal itu. "Dan sikapnya yang selalu menatapku datar dan cuek itu makin membuatku tertantang dekat denganmu, apalagi setelah mengetahui cerita dari Mama, kalau kamu anak seorang raja bisnis, tapi kamu tak memperlihatkan hal tersebut, membuatku makin kagum dan berusaha mendapatkan mu,"


"Satu hal lagi yang membuatku makin tertantang, seorang dokter koas, Ryan, aku tahu dia menyukaimu, aku sengaja mengundangnya saat itu, ingin membuktikan sama dia kalau aku berhasil mendapatkan mu. Jika dipikir, apa ada orang yang mau bertunangan tapi gadis yang menjadi tunangannya mencintai orang lain? Mungkin tidak ada, dan kenapa aku melakukan itu, tentu karena respon dari Papamu yang menyuruh kita untuk bertunangan,"


"Aku baru menyadari semua itu setelah bertemu dengan Claudia, kalau aku hanya mengagumi mu dan terobsesi denganmu, maafkan aku. Kamu boleh memukulku atau melakukan hal apa pun, asal kamu mau memaafkan ku,"


Gita sudah tak bisa lagi menahan laju air matanya, sakit begitu sakit yang dirasa. Sungguh tega sekali lelaki di sampingnya ini menyakiti dengan begitu bengis, baru saja membawanya terbang kini justru langsung dijatuhkan tanpa perasaan.


Salman berusaha menghapus air mata Gita, dia menyesal sungguh menyesal dengan semua yang terjadi. Tapi Gita menepis tangannya dengan kasar, dia pantas mendapatkan itu.

__ADS_1


"Aku akan menemui Papa dan Mama mu, aku akan menjelaskan semuanya, aku yang salah. Aku akan terima apa yang akan mereka lakukan nanti," ujar Salman.


Gita mengangguk, "Temui Papa malam ini di hotel ABC, kamar nomor 407," ujarnya memberitahu.


"Terimakasih untuk dua bulan lebih yang kita lalui bersama," celetuk Gita.


"Aku minta maaf, sungguh. Tunggu, apa kamu sudah mencintaiku?" Salman ingin mengetahui seperti apa perasaan Gita yang sesungguhnya. Bodohnya dia, padahal dia sudah tahu jika Gita sudah mulai mencintainya, terlihat dari sikap manis gadis itu.


Gita menggeleng, "Belum, dan menurutku ini memang terbaik buat kita," bohongnya. Padahal Gita sudah mulai mencintai pemuda di sampingnya ini.


Jawaban yang Gita berikan membuatnya makin merasa bersalah, menyesal telah menyakiti gadis ini. Tapi apa yang harus dia lakukan selain ini?


"Kalau sudah tidak ada yang ingin Kakak bicarakan, aku pamit, sudah sore." Sungguh dia tak kuasa berada di samping pemuda itu, ingin marah, mencaci dan memukulnya, tapi dia memilih untuk diam, beberapa hari tak bertemu dengan pemuda itu, membuatnya memiliki keputusan seperti saat ini, apalagi dia sempat melihat kedekatan Salman dan mantannya itu saat dia datang ke rumah sakit, dan urung saat melihat mereka begitu bahagia.


"Aku antar pulang." Salman ikut beranjak dari duduknya


"Enggak usah, Gita pulang sama gue!" entah dari mana datangnya Indra, tiba-tiba pemuda itu sudah berada di dekat mereka, bahkan langsung merangkul bahu Gita meninggalkan Salman seorang diri.


Gita menghentikan langkah tapi tak menoleh kebelakang di mana Salman masih berdiri mematung. "Nikahilah dia secepatnya, sebelum diambil orang lagi, kalau sampai itu terjadi aku yakin sakitnya kali ini akan lebih parah dibandingkan waktu itu," ujarnya dan melanjutkan langkah meninggalkan Salman.


Tubuh Salman luruh, dia tak kuasa melihat semua ini, dia begitu bodoh hingga menyakiti gadis sebagian dan sepolos Gita. Menyesali semua yang telah terjadi. Tak mungkin jika harus melanjutkan hubungan ini, sebab mereka berdua terkait dengan hati lain, tak mungkin bersatu.


.


.


.

__ADS_1


Terkadang kita harus merelakan seseorang yang sangat kita cintai, entah apa pun itu alasannya. Meski sakit melanda, tapi jika bersama akan lebih sakit, kita harus bagaimana selain berpisah?


🥀🥀🥀


__ADS_2