
Happy Reading...⚘⚘⚘
Mobil Pick Up yang membawa Afifa dan Nadia melaju menyusuri jalanan kota Bandung, Keduanya terpaksa duduk disamping Mang ujang, meski sempit tapi cukuplah untuk tubuh mereka berdua yang memang kecil, di jam-jam sibuk seperti pagi ini, jalanan sangat ramai, penuh sesak dengan kendaraan yang siap mengantar anak-anak sekolah atau berangkat kerja, suara mesin kendaraan dan klason yang sengaja dibunyikan serta hiruk pikuk obrolan pejalan kaki menambah kebisingan ditepian jalan, maka tak heran jika untuk sampai kerumah mertuanya membutuhkan waktu selama 2 jam.
Afifa sempat berhenti untuk membeli sarapan didekat pasar, sarapan bubur ayam hangat, cukup mengisi perut dirinya Nadia, juga Mang Ujang, karena dia tau setelah sampai dirumah mertuanya, mungkin Nadia tidak bisa memasukan makanan apapun kedalam perutnya.
Pukul 8 pagi Afifa sampai dirumah mertuanya, Mang ujang memarkirkan mobil dihalaman rumah Pak H. Ramadhan (Ayah Fauzi) yang memang luas itu, rupanya disana sudah bersiap menyambut kedatangan jenazah Kak Dewi, orang-orang berkerumun di teras rumah sambil berbincang,
Nadia yang belum tau dengan kejadian yang sebenarnya merasa heran dengan situasi rumah neneknya, Dia menatap sekeliling, mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk sebelum akhirnya bertanya kepada Afifa.
"Ada apa ini An?" tangan Nadia menggenggam erat tangan Afifa yang hendak turun dari pintu depan mobil.
Afifa menggenggam balik tangan keponakannya, "Turun dulu yuk!" Ajaknya.
Keduanya turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah itu, seluruh ruangan sudah dipenuhi hamparan karpet, terdapat pula beberapa camilan dan minuman khas akan kedatangan banyak tamu, mertuanya yang melihat kedatangan cucu dan menantunya segera menghampiri keduanya, lalu memeluk Nadia dengan erat.
"Nadia sayang", Ucap Mama dalam pelukan cucunya, airmatanya berlinang tertahan diatas kelopak matanya yang mulai keriput, tangannya membelai kepala Nadia yang tertutup hijab.
"Ma Eyang ada apa?" tanya Nadia masih dengan keheranannya.
"Ibumu..."
"Ngiung...ngiung...ngiung" Suara ambulans memotong ucapan Mama, Ambulans itu masuk ke halaman rumah diikuti mobil hitam milik Fauzi.
"Deg..." Jantung Nadia berhenti sejenak saat mendengar suara serine dan melihat mobil jenazah yang masuk ke halaman rumah neneknya, diapun melihat mobil Pamannya muncul dari belakang mengikuti mobil jenazah, fikiran Nadia langsung tertuju pada ibunda tercintanya.
Sekuat tenaga dia berlari menghampiri mobil jenazah, dengan tidak sabaran menerobos kerumunan orang dan para perawat yang sedang mengeluarkan jangkar dari dalam mobil.
Saat matanya menemukan sosok jenazah terbujur kaku yang tak lain adalah ibunya sendiri, dia menghambur masuk kedalam mobil, tubuhnya ambruk tersungkur ke atas jenazah ibunya.
"Bunda...! Bunda...! apa yang terjadi bunda...!" Teriak Nadia histeris.
Perawat yang sudah memegang jangkar melepaskan kembali pegangannya, lalu berusaha menenangkan Nadia.
Fauzi yang barusaja menutup pintu mobilnya, langsung loncat dan berlari menghampiri Nadia. "Nadia...!, Nadia..!, sabar, jangan seperti itu, kasian ibumu, ayo biarkan mereka melakukan tugasnya", berusaha menarik tubuh Nadia dari dalam mobil.
Nadia terus menangis histeris, "Lepaskaaaan...! aku mau Bunda, lepaaaaas...!" teriaknya, tangannya mengepal, kakinya memberontak, keringat dingin dan airmata bercucuran dari wajahnya yang memerah, tiba-tiba pandangannya menguning lalu perlahan menghitam dan akhirnya gelap, fikirannya kosong masuk ke alam bawah sadarnya, diapun terkulai lemas dan tak ingat apapun lagi.
__ADS_1
Semua orang panik menyaksikan kejadian mengharukan dihadapan mereka, tak terasa tetesan air mata sudah mengalir diwajah mereka masing-masing, termasuk Mama dan Afifa yang berpelukan saling menguatkan.
Fauzi segera menggendong keponakannya dibantu Papa, dia membaringkan tubuh Nadia didalam kamar, para perawat dibantu warga menurunkan jenazah Dewi dan membawanya ke ruang tengah yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Afifa mengikuti suaminya kedalam kamar, sedangkan Papa kembali keluar, Nadia sudah terbaring lemah disana, "Kak...," panggil Afifa lembut, dipegangnya pundak suaminya dari belakang.
Fauzi berbalik dan langsung memeluk istrinya, isakan kecil terdengar dari bibirnya, Afifa membiarkan suaminya menangis dipundaknya, setelah cukup lama, merekapun duduk dipinggir tempat tidur, keduanya menatap wajah Nadia yang lemah tak sadarkan diri.
Fauzi mengusap pucuk kepala Nadia dan menepuk-nepuknya pelan.
"Fifa minta obat gosok dulu sama Bibi ya Kak", Ucap Afifa.
Fauzi mengangguk sambil menatap istrinya dengan mata sayunya yang basah .
Afifa segera bangkit keluar kamar, dan tak lama dia kembali lagi dengan minyak kayu putih ditangannya, diapun menggosokan minyak itu ke kening dan leher Nadia, lalu kedepan hidungnya agar Nadia menghirupnya.
Nadia menggeliat, menggeleng-gelengkan kepalanya kekanan dan ke kiri.
"Nad..." Panggil Afifa.
"Nad..." Panggil Afifa lagi.
tidak ada jawaban juga darinya, malah semakin mempererat pelukannya pada bantal guling itu.
"Nad...ibumu akan segera dimandikan, apa kamu ingin ikut memandikannya?" ucapan Fauzi ternyata mampu membuat Nadia membalikan badannya, namun masih tak bicara, bahkan kini tak ada setitikpun air mata keluar dari empunya.
Nadia bangkit dan berjalan keluar kamar tanpa menghiraukan kehadiran Fauzi dan Afifa yang sejak tadi menunggunya, Afifa dan Fauzi hanya saling pandang lalu mengikuti Nadia keluar kamar.
saat Afifa bangkit dari duduknya, tiba-tiba rasa nyeri di bagian bawah perutnya terasa lagi, Afifa meringis menahan sakit.
Fauzi yang sudah berada dipintu kamar kembali membalikan badannya, "kenapa sayang?" tanyanya.
Afifa berusaha tersenyum, "Tidak apa-apa, hanya keram sedikit saja", Afifa sedikit berbohong dengan rasa sakitnya, dia fikir saat ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu suaminya tentang kejadian jatuhnya tadi pagi, Ayolah sayang...kuat ya, bunda mohon jangan sekarang, kasian Ayah sedang sangat berduka, Bunda yakin kamu pasti kuat, bantu Bunda ya, gumam Afifa sambil terus mengelus perutnya, dia kembali menarik nafas dalam.
Jenazah Dewi segera dimandikan, selain petugas pemandian jenazah yang terdiri dari 4 orang perempuan, Mama, Fauzi dan Nadia pun ikut membantu memandikannya.
Ritual pemulasaraan jenazah berlangsung lancar, setelah jenazah selesai dikuburkan, para tamu berangsur pulang. Nadia masih tak bicara, mulutnya seolah terkunci enggan mengeluarkan satu patah katapun, air matanya mungkin sudah mengering sehingga tak ada lagi sisa air mata diwajahnya, hanya mata sembab dan memerah dengan tatapan kosong yang nampak diwajahnya.
__ADS_1
Setelah semuanya beres, seluruh keluarga membahas kehidupan Nadia selanjutnya, akhirnya diputuskan bahwa Nadia akan tinggal di Bandung, Fauzi akan mengurus pemindahan kuliah Nadia, juga urusan Mulyana yang kini masih dalam tahanan.
Fauzi memutuskan untuk kembali ke Jakarta besok pagi.
Malam ini Afifa dan Fauzi menginap dirumah Mama, Kak Hanita beserta keluarga datang pukul 9 malam karena memang perjalanannya yang cukup jauh dari Semarang.
Malam ini Fauzi nampak lelah setelah serangkaian kejadian dalam sehari semalam ini, belum lagi besok dia harus berangkat lagi ke Jakarta, diapun memutuskan untuk langsung tidur dikamar yang sempat ia tempati sebelum ia menikah.
Afifa mengikuti suaminya kedalam kamar, ingin sekali ia mengatakan kejadian tadi pagi, tapi niatnya ia urungkan kembali saat melihat wajah lelah suaminya, akhirnya diapun tertidur bersama suaminya.
*****
Pagi hari Fauzi kembali berangkat ke Jakarta, rupanya polisi sudah menghubunginya untuk segera mengurus laporan Kak Dewi terhadap suaminya.
"Sayang, Maaf ya, aku sibuk terus ngurusin keluargaku, kamu jadi kurang diperhatikan", Ucap Fauzi saat Afifa bersiap memasukan beberapa pakaian suaminya kedalam tas.
"Gak papa Kak, mereka kan keluargaku juga, kalau bukan kita yang bantu mereka, siapa lagi?, apalagi Kak Aji kan anak laki-laki Mama satu-satunya", menutup sleting tas dan berdiri menghampiri suaminya, senyuman manis tersungging dari bibirnya, tangannya merapikan kerah kemeja yang dikenakan suaminya.
"Makasih ya sayang", kecupan mendarat dikening Afifa, lalu memeluk istrinya dengan erat, "Jaga anak kita ya", tangannya mengusap perut Afifa, lalu berlutut untuk mencium perut istrinya, "Kamu baik-baik didalam sini ya sayang, jangan bikin Bundamu repot", Ucapnya lalu tersenyum.
Fauzi kembali berdiri, mengambil tas dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, tapi dia berbalik dan menatap istrinya yang masih berdiri memegang perutnya, dia kembali berjalan kehadapan Afifa, menjatuhkan kembali tasnya dan memegang dagu istrinya, lalu mendaratkan ciuman panjang dibibir Afifa, "Aku mencintaimu", Bisiknya tepat ditelinga Afifa.
Senyuman merekah dari bibir Afifa yang tampak memerah karena perbuatan suaminya.
***********
Bersambung...❤❤❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terimakasih dukungannya, Like, vote dan komentarnya tetap ku tunggu ya 😊
jangan lupa kasih bintang lima 😊
LOVE YOU ALL...❤❤❤
By :@Rahma Husnul
__ADS_1