
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Pukul 9 pagi, mereka tiba dirumahnya. Senyuman senan tiasa terukir dari bibir keduanya. Sungguh! rasa bahagia yang kini hadir dalam hati Afifa jauh dari rasa bahagia dirinya saat mendapatkan anugrah buah hati pertamanya yang kini sudah berada dalam dekapan Tuhannya. Benar kata orang, sesuatu yang diperoleh setelah melewati begitu banyak rintangan, buahnya akan jauh terasa lebih manis dibanding kebahagiaan yang diperoleh dengan cara cuma-cuma. Dan kali ini, itu pula yang dirasakan Afifa. Meski dia tau, tidak semua masalah akan hilang begitu saja di dalam rumah tangganya setelah dia mendapatkan kembali anugrah terindah ini.
"Alhamdulillah sampai...," Ucap Fauzi tepat dengan berhentinya mobil yang dikendarainya didepan gerbang rumah miliknya. Dia segera turun dan membuka pintu gerbang, lalu naik kembali ke dalam mobil untuk memasukannya ke halaman rumah.
Setelah mobilnya masuk, dia bersandar ke kursi kemudi sambil menghirup udara segar di pagi hari dengan penuh kebahagiaan dan kelegaan. Senyuman terus mengembang dari bibirnya, Kini... dia mendapatkan dua kebahagiaan yang tak terhingga, selain dia berhasil membawa kembali pujaan hatinya, dia juga telah membawa serta calon buah hati yang kini sudah tertanam dalam rahim istrinya.
Fauzi menoleh ke arah Afifa yang masih duduk disampingnya dengan tenang. "Selamat datang kembali di rumah kita Sayang...," Ucap Fauzi sambil tersenyum dan melebarkan kedua tangannya.
Afifa menolehnya, lalu seketika wajahnya berubah, senyumnya tiba-tiba hilang.
"Kenapa, Dek?" tanya Fauzi heran melihat perubahan ekspresi wajah istrinya.
"Apa kejadian itu tidak akan terulang lagi, Kak?" tanya Afifa yang terdengar agak sedih.
"Kejadian apa, Dek?" tanya Fauzi.
"Kejadian seminggu yang lalu, dimana kau sudah mengusirku dari rumah ini," ucap Afifa sambil tertunduk.
"Ya Ampun Sayang..., jadi kau masih mengingat hal itu?" Fauzi membalikan tubuhnya menghadap istrinya, lalu membuka sabuk pengaman di perut Afifa dan menggenggam tangannya. "Dek..., lihat aku!, aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan itu lagi, itu...itu adalah kesalahan konyol yang akan aku sesali seumur hidupku." Fauzi beringsut mendekati Afifa, lalu menangkup kedua pipi istrinya. "Sayang..., Kau adalah anugrah terindah yang Alloh berikan untukku, dalam setiap sujudku aku selalu bersyukur karena menjadikan dirimu sebagai pasangan halalku dan penyejuk hatiku, menjadi perhiasan untukku dalam hari-hariku, dan menjadi pelindungku dari kejahatan syahwatku," Fauzi tersenyum, kedua mata mereka terus saling menatap dan berbinar menampakan lautan cinta tulus keduanya, wajah Fauzi mendekat, matanya tertuju pada bibir istrinya yang merah muda sedikit pucat, hendak mengecupnya. Tapi...
"Huwek...!" tangan kanan Afifa membungkam mulut Fauzi, dan tangan kirinya menutup hidung dan mulutnya sendiri, membuat Fauzi yang sudah memejamkan matanya hendak menikmati manisnya bibir Afifa terbelalak.
"Dek???" tanyanya heran sambil menarik tubuhnya, "Kenapa lagi?"
"Mmmm...," Afifa menggeleng dan mengibaskan tangannya agar Fauzi mundur dari hadapannya.
Fauzi menghela nafas dan kembali bersandar dikursinya. "Tadi di rumah Dokter, kamu tidak apa-apa", ucapnya kesal, "Kenapa sekarang jadi kembali lagi mualnya?" gerutu Fauzi.
__ADS_1
Afifa menoleh ke arah Fauzi dan mulai membuka tangan yang menutupi hidung dan mulutnya, "Itu karena rasa bahagiaku menutupi rasa mualku," ucapnya asal.
"Hmmm??? kok bisa?" Fauzi menatap heran.
"Bisa aja dong, orang Fifa sendiri yang ngerasain," mata Afifa mendelik.
"Oooooo....," Fauzi hanya ber oh ria sambil mengangguk-angguk, "Ayo turun, Dek!" ajak Fauzi. Dia langsung membuka pintu dan keluar dari mobil, lalu berputar ke sisi lain dan membukakan pintu untuk Afifa.
Afifa turun dan tertegun sebentar memperhatikan sekeliling halaman rumah ini yang tak berubah setelah ia tinggalkan. Fauzi mengeluarkan barang-barang Afifa dari kursi belakang, lalu menjinjingnya dan menyimpannya diatas meja yang terdapat di teras rumahnya.
Afifa menutup pintu mobil dan berjalan mengikuti suaminya. Fauzi merogoh saku celananya dan mengambil kunci rumah, memasukannya pada lubang kunci dan membukanya. Tangan Fauzi mendorong pintu yang berdaun dua itu lebar-lebar, lalu mempersilahkan Afifa masuk ke dalam rumahnya.
"Selamat datang kembali di istana kita Tuan Putri...," ucap Fauzi bergaya bak pangeran yang menyambut kedatangan Tuan Putrinya, dengan senyum lebar yang terus terpancar dari wajahnya.
"Terimakasih Pangeranku," jawab Afifa, sontak membuat keduanya tertawa. Afifa melangkah masuk melewati Fauzi yang masih berdiri tepat di bawah pintu, setelah dua langkah, tiba-tiba Afifa mundur kembali sambil menutup hidungnya. "Mmm... bau apa ini?" tanyanya.
"Ha? bau? bau apa sayang? ini wangi", Fauzi memajukan wajahnya, menghirup udara dan memejamkan mata menikmati aroma bunga di dalam rumahnya.
"Ya ampun sayang, kemarin aku sudah membersihkan rumah sebersih-bersihnya dan menyimpan bunga-bunga di setiap sudut rumah kita, ini wangi banget, bukannya kamu suka aroma ini?" tanya Fauzi.
"Enggak! singkirkan semua bunga itu kalau Kak Aji mau Fifa masuk!" perintah Afifa membuat Fauzi prustasi, bagai mana tidak, dia sudah dengan susah payah penuh peluh membersihkan rumah dan membeli bunga untuk disimpan di setiap sudut ruangan rumahnya dengan maksud membuat surprise untuk istrinya, eh...bukannya jadi kejutan malah disuruh membuangnya sia-sia.
Fauzi hanya menarik nafas dalam, dengan langkah gontai diapun masuk ke dalam rumahnya, mengambil kantong plastik hitam dari dapur dan memunguti satu persatu bunga yang bertebaran disetiap sudut rumahnya dan memasukannya kedalam kantong plastik itu, "Hadeuuuh... orang ngidam kok aneh-aneh ya, padahal ngidam yang pertama baik-baik saja, kenapa yang ini aneh?" gerutunya sambil terus berjalan memunguti bunga, setelah semuanya tidak tersisa dia segera mengikat kantong plastik besar itu dan menyimpannya kedalam tong sampah. Dia kembali berjalan kedepan rumah menghampiri Afifa. "Sudah selesai Tuan Putri..., silahkan masuk!" ucap Fauzi.
Afifa menoleh tanpa menjawabnya, lalu berdiri dan melongok ke dalam rumah untuk memastikannya, "Hmmm... lumayan", ucapnya asal, lalu berjalan ke ruang tengah, dapur, halaman belakang dan terakhir masuk ke dalam kamarnya, membuka gorden agar sinar matahari masuk ke dalam kamarnya.
Fauzi menjinjing tas besar milik Afifa dan ikut masuk ke dalam kamar bersama Afifa. Dia menyimpan tas itu di lantai lalu menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur, "Ah... akhirnya," ucap Fauzi sambil menarik nafas lega dengan tubuh terlentang diatasnya.
Afifa yang masih berdiri dipinggir jendela menoleh ke arah suaminya, lalu bicara, "Kak Aji mandi gih!" ucapnya.
__ADS_1
Fauzi langsung berbalik menatap Afifa, "Lo? kok disuruh mandi lagi? tadi kan sudah dirumah Umi," jawabnya.
"Ya gak papa...mandi lagi aja, itupun kalau mau deket-deket sama Fifa ya..., kalo gak mau ya udah," jawab Afifa cuek.
"Eh..., kok gitu? ya udah aku mandi lagi deh, tapi...kamu juga kan belum mandi? dari kemarin malah, ayo kamu juga mandi!"
"Enggak ah, aku males," jawab Afifa sambil menatap ke luar jendela.
"Hmmm?" Fauzi bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela mendekati Afifa, "Apa mau aku mandiin?" tanyanya dengan nada menggoda.
Afifa menoleh, "Ih...apaan si?" mata Afifa mendelik.
"Ayo mandi dulu! biar seger, kalau enggak aku langgar perjanjiannya nanti," Fauzi menyeringai.
"Eh...? kok gitu?" Afifa mundur selangkah saat sadar suaminya sudah berada dihadapannya sambil memojokan tubuhnya ke jendela. "Kak Aji mau ngapain?".
Fauzi membungkukan badannya dan secepat kilat menggendong Afifa menuju kamar mandi, "Kita mandi bareng", ucapnya tepat ditelinga Afifa.
***********
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
✌✌✌✌✌✌😄😄😄
Sok ah, bebas berkomentar...😂
Tetep like, vote nya ditunggu...🤗
__ADS_1
I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul