
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Rumah Afifa tampak sepi, hanya ada Wulan dan Ayahnya, serta Nadia juga Thalita yang masih saja terisak dipelukan ibunya.
Deru mobil terdengar berhenti tepat diluar pintu gerbang rumah Afifa, keempatnya menoleh, tampak mobil merah disana. Mang Ujang turun dari mobil dan setengah berlari menuju pintu rumah. "Assalamualaikum...!", ucapnya.
"Waalaikum salam", jawab semua orang serempak dari dalam rumah.
Berbagai pertanyaan tentang kondisi Fauzi pun terlontar pada Mang Ujang, tapi Mang Ujang tidak bisa menjawab apa-apa karena saat dia pulang tadi, majikannya belum keluar dari ruang tindakan. Mang Ujang memberikan kunci mobil Wulan, lalu berpamitan untuk kembali ke Toko.
"Ayo kita pulang!", ajak Ayah Wulan dengan suara datarnya.
Wulan mengangguk dan perpamitan kepada Nadia, meski hati kecilnya ingin sekali datang ke Rumahsakit untuk mengetahui kondisi terakhir Fauzi, namun mengingat dia sekarang bersama Ayahnya yang hanya akan menambah kekacauan saja, akhirnya dia memutuskan untuk pulang.
"Mbak pulang dulu ya, Nad!", pamitnya.
Nadia tak banyak bicara, dia hanya mengangguk sambil berdiri.
"Ayo sayang, kita pulang!", Ajak Wulan pada putrinya yang masih duduk disampingnya.
Tapi Thalita malah berlari kebelakang tubuh Nadia dan memeluk pinggangnya. "Thalita gak mau pulang!, Thalita mau disini saja!" ucapnya sedikit berteriak.
"Lho...kok gak mau? ayo pulang sama Bunda dan Kakek!", ucap wulan lagi.
"Gak mau!, Thalita mau sama Bunda Fifa dan Ayah saja!".
"Tapi Bunda Fifa gak ada dirumah, sayang!"
"Thalita gak mau pulang...!" teriaknya lagi semakin mempererat pelukannya, membuat Nadia salah tingkah.
"Sayang..., Bunda mohon, ayo pulanglah sama Bunda..., Bunda sayang sama Thalita".
"Thalita mau sama Bunda Fifa aja!"
"Tapi, ibu kamu itu Bunda, bukan Bunda Fifa!", jawab Wulan agak keras dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena tak juga berhasil membujuk putrinya, membuat Thalita justru semakin enggan ikut bersamanya.
__ADS_1
"Ayo pulang Thalita!", tiba-tiba Ayah Wulan angkat bicara dengan suara tegas dan datarnya.
"Kakek Jahat!, Kakek bikin Ayah sakit!, Thalita benci sama Kakek! hik hik hik...", Ucap Thalita sambil menangis.
Nadia segera membukukan badannya dan memeluk anak itu, berusaha menenangkannya. "Mbak..., Mungkin dia masih syok dengan apa yang dia lihat hari ini, sebaiknya Thalita disini dulu, untuk sementara saya akan menjaganya sebelum Anti dan Paman pulang ke rumah". Ucap Nadia kepada Wulan yang kini hanya memandang lemas putrinya sambil menitikan air mata.
Ayah Wulan hanya menatap tajam ke arah anak itu, membuat Thalita semakin takut dan mempererat pelukannya.
"Kriiiing...kriiiing...Kriiiing..." Suara ponsel Wulan berdering dari dalam tasnya, membuyarkan kesedihan Wulan tentang putrinya. Dia merogoh tasnya dan mengambil benda pipih yang dimaksud, lalu menggeser tombol hijau dan meletakannya didepan telinganya, tangan kirinya mengusap air mata yang sempat terjatuh dari kelopak matanya dan cairan yang tiba-tiba keluar dari hidungnya.
"Hallo...Assalamualaikum", sapa Wulan pada orang yang menelphonnya.
...............
"Oh, jadi kamu sudah di lokasi?"
...............
"Baiklah, saya segera pulang, para pekerja sudah mulai bekerja dua minggu yang lalu, pembangunannya baru 40% saja, menunggu desain kamu selanjutnya".
.................
Wulan menutup telphonnya, lalu kembali menghadap ke arah Nadia dan putrinya.
"Baiklah, Nadia!, saya harus segera pulang karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan", Wulan membungkukan badannya untuk bicara pada Thalita, "Sayang..., jadi kamu yakin tidak mau pulang bareng Bunda?" tanyanya pelan dan hati-hati.
Thalita tidak menjawab, dia nenutup rapat mulutnya sambil mengusap air mata dipipinya dengan kedua tangannya.
Wulan ikut terdiam sejenak, lalu menarik nafas panjang, dan kembali berdiri, terpancar kesedihan dari wajahnya. "Maaf, saya jadi merepotkanmu, Nad!", tertunduk.
"Gak papa, Mbak!, jangan khawatir!, saya akan menjaga Thalita", jawab Nadia meyakinkan.
Wulan melangkah keluar diikuti ayahnya, dia berjalan gontai menuju mobil, Nadia dan Thalita masih berdiri memperhatikan Wulan yang pergi dengan mobilnya sampai tak terlihat lagi dari hadapan mereka.
******
__ADS_1
Adzan dzuhur berkumandang, Afifa berpamitan kepada suaminya untuk melakukan kewajibannya di mushola, bergantian dengan Ibu Mertuanya.
Setelah Afifa selesai sholat, dia kembali menuju kamar suaminya, namun langkahnya terhenti ketika melihat Umi dan Abi datang dengan tergesa-gesa menghampirinya. "Afifa...!", panggil Umi.
Afifa mengulas senyum melihat orang-orang yang dicintainya datang. "Umi...!Abi...!", ucapnya sambil menghambur ke pelukan orang tuanya, "Bagaimana Umi tahu, kami ada disini?" tanya Afifa, karena dia merasa tidak memberitahu mereka.
"Ibu mertuamu yang telphon Umi, sekarang dimana suamimu?" tanya Umi.
"Masih di UGD, Umi! Kamar rawatnya sedang disiapkan", Jawab Afifa sambil membimbing orang tuanya untuk menemui suaminya.
Tak lama mereka berada didalam kamar tindakan, karena memang tidak boleh terlalu banyak orang didalam. Orang tua Afifa kembali keluar bersama Ayah dan Ibu mertuanya, dan kembali duduk diruang tunggu. Afifa hanya sendirian didalam kamar, membantu suaminya melakukan sholat dalam keadaan darurat dengan pengetahuan rukhsoh sholat yang diterimanya selama dipesantren dulu. Afifa merawat suaminya dengan baik, senyuman selalu ia sunggingkan untuk membuat suaminya bahagia, terkadang rayuan dan candaan kecil ia lontarkan yang membuat suaminya maupun dirinya kembali tertawa melupakan sesaat semua sesak didada.
Terjadi perbincangan serius dan cukup lama diantara orang tua Afifa dan orang tua Fauzi. Tak terasa satu jam sudah berlalu, Orang tua Afifa berpamitan hendak pulang kembali kerumahnya. Ibu mertuanya memanggil Afifa, dan menggantikan posisinya menunggui putranya.
Afifa keluar mengikuti orangtuanya menuju tempat parkiran motor. Saat melewati taman yang berada didepan rumah sakit, Umi menghentikan langkahnya dan mengajak Afifa duduk disebuah kursi panjang yang tetbuat dari bambu dibawah pohon besar yang rindang. merekapun duduk berdampingan dengan pisisi Afifa berada diantara kedua orang tuanya.
"Nak...", Umi memulai pembicaraannya, Afifa memandang mata Umi yang mulai keriput karena usia, "apa kamu yakin akan kuat menghadapi semua ini?" tanya Umi, membuat Afifa yang tadinya mengulas senyum langsung berubah diam dan tertunduk. "Kamu tidak perlu khawatir, kamu tidak sendiri, masih ada Umi dan Abi yang akan selalu mendukung semua keputusanmu".
Afifa mengangkat wajahnya, kembali menatap mata ibundanya yang begitu sejuk bagi dirinya, dia tidak menjawab, hanya membenamkan kepalanya kepelukan orang yang sangat ia sayangi dan hormati itu, air matanya mengalir meski tanpa suara. Umi mengusap pucuk kepala Afifa dan menciumnya.
"Nak...", Panggil Abi. "Apapun keputusanmu nanti, tentukanlah pilihanmu dengan dasar pemikiran jernih, bukan berdasarkan hawa nafsu semata". Afifa mengangkat kepalanya dan menegakan posisi duduknya, mendengarkan setiap tutur kata yang diucapkan Abi tercintanya. "Hanya saja kamu harus ingat, meski perceraian itu sesuatu yang halal, tapi itu adalah satu hal yang sangat dibenci Alloh, namun jika perceraian itu adalah hal terbaik, dimana jika kamu terus bertahan didalamnya hanya akan menimbulkan dosa baru untukmu, dan sudah tidak ada jalan lain, jangan Khawatir... datanglah kembali kerumah orang tuamu!, pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu".
Afifa menatap netra hitam Abinya yang lembut dan bijaksana, diapun menghambur kepelukan Abi tercintanya. "Terimakasih Abi...Fifa akan selalu mengingat semua ucapan Abi", airmatanya kembali keluar, namun ada satu kelegaan didalam hatinya, dia bersyukur memiliki orang tua seperti mereka yang akan selalu hadir untuknya dalam suka maupun duka. Sungguh! tidak ada satupun cinta yang paling tulus dan tak berharap balas selain dari cinta orang tua untuk anak-anaknya.
***************************************
Bersambung...⚘⚘⚘❤❤❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
SubhanAlloh... 🙏 Terimakasih Readers...atas antusias kalian dengan cerita ini.
Sungguh...semua komentar kalian di part sebelumnya telah memberikan beberapa pencerahan untuk tulisan saya.
seperti janji saya untuk memberikan point untuk kalian, silahkan stay di GC saya. Terimakasih...🙏🙏🙏😘😘😘
__ADS_1
I LOVE YOU ALL...❤❤❤😙😙😙⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul