Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Teman Fauzi...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Nadia menoleh ke arah sumber suara, sekejap matanya terkunci menatap Pria gagah dihadapannya yang sedang tersenyum mengenakan topi hitam yang pernah dibelinya.


"Eh...Wa...alaikum salam," Jawab Nadia langsung tertunduk saat menyadari tatapan terpesona dirinya kepada pria dihadapannya. "Siang juga, Mas!" ucapnya sambil tertunduk.


"Mau kemana panas-panas gini pake motor?" tanya Farid.


"Anu...,mau...mau menjemput Thalita, Eh..., mau nengok Mbak Wulan, Eh..., maksudnya dua-duanya, ya...dua-duanya, hehe...." Nadia tersenyum garing sambil mengutuki dirinya sendiri yang tak bisa bicara dengan lancar dihadapan Pria pujaannya.


Farid nampak tersenyum lebar, dan itu dapat Nadia lihat dari ujung matanya yang berusaha mencuri pandang. Ya Ampuuuun Nadia, dia kan jadi menertawakanmu batin Nadia. Ayolah bersiksp biasa saja kenapa si?.


"Kamu mau berdiri saja disana, Muth? ini panas lo," ucap Farid membuat hati Nadia melambung merasa mendapat perhatian dari pria pujaannya. Padahal itu adalah hal wajar yang akan dilakukan setiap orang pada situasi yang sama tentunya.


"Oh... iya, Mas, Saya...saya akan masuk kedalam," Nadia mengangguk, lantas melangkah menuju teras Butik yang lumayan teduh, rupanya Farid mengikutinya dari belakang hendak menuju rumah Wulan.


Nadia menghentikan langkahnya setelah menyadari sesuatu yang tertinggal di motornya. Dia pun berbalik dan ternyata Farid tepat berada dihadapannya, jarak mereka begitu dekat, Kini posisi wajah Nadia berada didepan dada bidangnya, membuat jantung Nadia semakin bertalu-talu tak karuan. Nadia mundur beberapa langkah untuk mengontrol detak jantungnya, lalu perlahan mengangkat kepalanya menatap wajah Farid yang juga sedang menatapnya dengan pandangan datar saja. Dia pun kembali menundukan pandangannya.


Nadia menggeser badannya kesebelah kanan hendak melangkah, namun Farid ikut menggeser ke kanan, Nadia kembali menggeser tubuhnya ke sebelah kiri, ternyata Farid pun memiliki pemikiran yang sama. Akhirnya keduanya hanya berdiri mematung, Nadia mengangkat wajahnya menatap pria dihadapannya, lalu keduanya tertawa, menertawakan kekonyolannya sendiri.


"Maaf...," Ucap Farid akhirnya, yang belum lepas dari tawanya.


Nadia membalas tersenyum dan mengangguk, "ada yang ketinggalan di motorku," ucap Nadia dengan mengarahkan jari jempolnya ke arah motor.


"Oh...iya, silahkan!" Farid menggeser tubuhnya kesamping untuk memberi jalan kepada Nadia.


Nadia mengangguk dan segera mengambil kantong kresek putih yang tergantung di bagasi motor depannya, itu adalah buah tangan yang sengaja Afifa titipkan untuk Wulan.


Nadia kembali melangkahkan kakinya menuju pintu butik yang terbuka, dan saat dia menoleh, ternyata Farid masih berada disana sedang menunggunya. Kerja jantung Nadia kembali menambah ritmenya, dia tertunduk, saat sekilas matanya menangkap tatapan aneh dari pria dihadapannya.


"Sudah?" tanya Farid basa-basi, meski sebenarnya tanpa bertanya pun dia sudah tau jawabannya.


Nadia mengangguk, dan entah mengapa, kini wajahnya terasa panas mendapat perhatian dan tatapan seperti itu dari Farid, tatapan Nadia beralih pada topi yang dikenakan Farid, dan diapun berkata, "Mas! Terimakasih karena sudah menerima dan mau memakai hadiah dariku," ucap Nadia sambil berjalan menuju pintu butik.


"Tunggu...!" ucap Farid, dan seketika menghentikan langkah Nadia, "jadi...ini hadiah darimu?" tanya Farid setelah mensejajari langkah Nadia, dia membuka topinya, nampak bekas topi di rambutnya sedikit basah karena keringat, menampilkan kegagahan tersendiri baginya.


Nadia menoleh dan mengangguk, "Maaf...hadiahnya mungkin kurang berharga," ucapnya sambil tertunduk, tak berani menatap kembali wajah Farid yang kini semakin dekat, dia takut tidak bisa mengontrol detak jantungnya.


"Aku suka," jawab Farid singkat, sambil mengenakan kembali topinya, Nadia tersenyum dalam tunduknya, dia mencuri pandang ke arah Farid yang ternyata masih tersenyum menatapnya, "terimakasih," ucap Farid kemudian. dan hanya dijawab dengan anggukan Nadia.


Tak ingin berlama-lama dengan situasi salah tingkah dirinya, Nadia pun berpamitan kepada Farid untuk menemui Wulan, dia melangkah menuju rumah Wulan yang berada di lantai dua setelah dipersilahkan oleh pegawai Wulan tentunya.


Kondisi Wulan sudah membaik, giftnya sudah di buka, dan sudah bisa melakukan aktivitas ringan didalam rumahnya. Nadia memberikan buah tangan titipan dari Afifa sekaligus permintaan maaf Afifa karena belum bisa menjenguk Wulan kembali, Nadia juga memberi tahu tentang kehamilan Afifa kepadanya.


Wulan menyambut kabar gembira itu dengan senang, dia pun berdo'a agar kehamilan Afifa akan terus membaik dan lancar sampai saatnya melahirkan nanti.


Setelah cukup lama berbincang, Nadia mengutarakan maksud kedatangannya untuk menjemput Thalita di sekolah, dia pun pamit setelah Wulan memberi tahu alamat sekolah Thalita padanya. Nadia kembali turun dari lantai dua rumah Wulan melewati butik dan ternyata dia melihat Farid sedang serius berbicara dengan seseorang, Nadia pun tak menyapanya, dia langsung keluar dan menuju motornya, lantas berangkat ke sekolah Thalita.


*********


Afifa masih terduduk malas diatas sofa di depan Televisi, Ibu Mertuanya datang dari arah dapur menghampirinya. "Masih lemas, Fa?" tanyanya.


"Iya, Ma..., maaf ya Fifa tidak bisa menyambut Mama di rumah ini," ucap Afifa.


"Gak papa, Sayang... Mama ngerti kok, tapi kamu paksakan untuk makan lah, biar kamu punya tenaga," ucap Mama.


"Fifa juga sudah berusaha, Ma. Tapi malah keluar lagi setelahnya."


"Gak papa, dari pada kamu muntah terus gak ada yang masuk pula, kan lebih bahaya itu," nasihat Mama, Afifa hanya terdiam menatap kosong ke arah pangkuannya.


"Ya udah, nanti malam kamu ajak Fauzi makan malam di luar saja, siapa tahu selera makan kamu muncul saat diluar sana."


"Tapi, Ma..."


"Gak usah tapi-tapi, coba aja dulu ya! nanti Mama bicara sama Fauzi." Mama tersenyum ke arah menantunya, dibelainya kepala Afifa dibalik hijab instannya.


Tak selang waktu lama, Nadia datang membawa Thalita. anak itu sangat senang saat diberitahu kalau Bunda Afifanya akan segera memberi seorang adik untuknya, dia banyak bertanya tentang adik bayi yang akan segera hadir di tengah-tengah mereka, sepertinya anak itu sudah tidak sabar menantikan kehadirannya.


Waktu terus berjalan, setelah Sholat Maghrib Fauzi mengajak Afifa makan diluar sesuai dengan permintaan Ibunya, Thalita dan Nadia ikut serta bersamanya, sedangkan Mama memilih untuk dirumah saja.


Fauzi bertanya kepada Afifa tentang menu dan tempat yang diinginkan Afifa untuk makan malam kali ini, Fauzi menyebutkan beberapa nama restoran di kota Bandung, namun Afifa hanya menggeleng membuat Fauzi bingung harus makan dimana, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti di satu restoran cukup besar dekat dengan pusat perbelanjaan di jantung kota Bandung.


"Ayo, Dek!" ajak Fauzi saat melihat istrinya hanya diam saja dikursi mobil.

__ADS_1


"Ah...Fifa males, Kak...," rengeknya, Fauzi hanya menghela nafas.


"Terus kita mau makan dimana dong Sayang? kita sudah berkeliling ke setiap restoran disini, tapi kamu tetep gak mau, kasian Thalita sama Nadia, mereka pasti sudah lapar," bujuk Fauzi sambil menoleh ke kursi belakang dimana Nadia dan piutrinya duduk disana.


"Ayo, Bunda! kita makan disini saja, Thalita mau main juga di sana!" ajak Thalita kepada Afifa.


Afifa menoleh, "Ya sudah, kalau Thalita mau disini,kita makan disini saja," ucapnya berusaha menyunggingkan senyum dibalik wajah lemasnya.


Fauzi tersenyum senang, merekapun turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju meja pelanggan yang masih kosong.


"Bunda, Thalita mau main dulu disana ya!" ucap Thalita sambil menunjuk ke arah playground yang terletak tepat disamping restourant.


"Nanti sesudah makan baru boleh main ya!" jawab Afifa.


"Oke Bunda," jawab Thalita sambil tersenyum senang.


Fauzi memanggil pelayan dan memesan makanan sesuai keinginan masing-masing, dan dalam hal ini Afifa lah yang sangat sulit menentulan pilihan makanannya, sampai pilihannya jatuh pada menu rujak cingur yang tertera di daftar menu. "Kenapa gak pesan nasi, Dek?" tanya Fauzi.


"Males ah," jawab Afifa singkat, lagi-lagi Fauzi hanya menghela nafas.


Tak lama pesanan mereka datang, dan keempatnya menikmati hidangan dihadapannya kecuali Afifa yang hanya mengaduk-ngaduk makanan dengan sendok ditangannya.


"Ayolah makan, Dek!" bujuk Fauzi kepada Afifa yang duduk disampingnya.


"Iya," Afifa memasukan setengah sendok rujak kedalam mulutnya, lantas mengunyahnya dengan malas, Fauzi terus berusaha membujuknya, membuat kegiatan makannya pun membutuhkan waktu yang lama.


Nadia dan Thalita sudah selesai makan, diapun meminta izin kepada Ayah dan Bundanya untuk bermain, Nadia mengikuti Thalita seolah dia mengerti dan ingin memberikan kesempatan kepada Paman dan Antinya untuk berduaan saja disana.


"Dek...," panggil Fauzi setelah Nadia dan putrinya tidak ada dihadapannya, "Coba deh makan ini, ini enak banget lo," bujuk Fauzi lagi.


"Enggak ah," jawab Afifa.


"Ayo cobain dulu, coba buka mulutnya, Aaaa...," Fauzi mengangkat satu sendok nasi kehadapan Afifa sambil membuka mulutnya sendiri untuk membujuk Afifa.


Ragu-ragu Afifa membuka mulutnya, Fauzi segera menyuapinya, matanya tak berkedip menunggu reakasi Afifa, perlahan Afifa mengunyah makanan itu, dan ternyata suapan pertama berhasil ditelannya, Fauzi tersenyum.


"Gimana? enak kan sayang? Ayo lagi!" ucap Fauzi semangat, dan mengambil satu sendok makanan lagi dari piringnya, dan kembali menyuapi Afifa. "Nah...gitu dong Sayang, aku kan senang melihatnya," ucap Fauzi.


Dengan langkah terburu-buru Afifa berjalan menuju toilet, sampai dia tidak sadar tubuhnya telah menabrak punggung seseorang, "Eh..., maaf," ucap Afifa kepada orang itu yang ternyata seorang pria seumuran dengan suaminya.


"Oh..., tidak apa-apa, santai saja cantik," ucap pria itu dengan tatapan yang terus mengarah kepada Afifa sambil tersenyum, entah apa arti dari senyumannya, yang pasti Afifa merasa tidak nyaman dibuatnya, dia segara melangkah ke tempat tujuannya, toilet perempuan, namun mata itu terus mengikutinya sampai tubuh Afifa hilang dibalik pintu.


Pria itu berjalan menuju meja pelanggan, dan tiba-tiba saja matanya tertuju pada seseorang yang duduk sendiri di meja pelanggan, merasa pernah mengenalnya, pria itupun mendekat. "Hei, Bro!" Ucapnya mengagetkan Fauzi yang tengah fokus dengan ponselnya.


Fauzi menoleh dan mengingat-ingat sosok pria dihadapannya. lalu bibirnya terbuka lebar sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah pria yang menyapanya saat mengingat bahwa pria ini adalah teman gesrek di masa SMU nya. "Johan???" ucapnya, dan dijawab dengan anggukan mantaf dari pria dihadapannya, "Apa kabar lo sekarang Bro?" tanya Fauzi sambil memeluk tubuh kerempeng temannya itu.


"Baik, Zi! Elo sendiri apa kabar? hampir sepuluh tahun ya kita gak ketemu ha ha ha...," ucap teman Fauzi yang bernama Johan Pratama itu, "Eh...ngapain lo disini duduk sendirian?"


"Ya makan lah, ngapain lagi kalau duduk di restoran," jawab Fauzi, sontak membuat keduanya tertawa. "Aku tidak sendiri kok, aku bersama istriku, keponakan dan juga putriku."


"Waaaaah... kamu sudah menikah, Zi? udah punya anak lagi, selamat ya," ucap Johan sambil mengulurkan tangannya ke arah Fauzi. "Aku malah masih jones ampe sekarang Zi! ha ha ha..."


Fauzi mengambutnya sambil tersenyum, "Terimakasih, Jo! nanti juga ada saatnya jodohmu datang," ucap Fauzi.


"Yaaaa... semoga saja dia datang hari ini, Zi!" ucap Johan sambil tersenyum dan menoleh ke arah toilet, entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini, "O ya..., sudah lama kamu menikah, Zi?" tanyanya lagi.


"Sudah dua tahun lebih, Jo," jawab Fauzi.


"Wah...masih hangat-hangatnya dong," ucap Johan menggoda Fauzi, Fauzi hanya tersenyum, "Eh kamu menikah dengan siapa? dengan Wulan?" tanya Johan kepo.


"Bukan, Istriku sedang ke toilet," jawab Fauzi.


"Terus gimana kabar Wulan sekarang? jangan kira aku tidak tahu ya hubungan kalian ha ha ha...," ucap Johan sambil tertawa membuat Fauzi tersentak kaget dibuatnya, namun Fauzi segera mengontrol dirinya.


"Dia baik-baik saja," jawab Fauzi berusaha sesantai mungkin.


"Jadi...sekarang, kamu tahu dia ada dimana?" tanya Johan lagi, dan hanya dijawab dengan anggukan kepala Fauzi. "Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak menikah dengan Wulan? padahal dia begitu tergila-gila padamu, dia kan begitu cantik, uhh... kalau saja dia tidak memilihmu, sudah ku gebet dia sejak dulu," ucapnya sambil fikirannya menerawang ke masa lalu, Fauzi hanya terdiam.


"Eh..., Zi! kamu masih ingat si Jenius Adithama?" tanya Johan lagi.


"Iya, kenapa?" tanya Fauzi.


"Dia jadi pendiam setelah tahu kalau Si Wulan lebih memilih Lo, Zi! padahal dia kurang apa coba? sudah ganteng, kaya pinter, eh... tetep aja si Wulan tergila-gilanya sama Lo doang ha ha ha..."

__ADS_1


"Hmmm... ada-ada aja Lu, Jo!" Fauzi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Bagai mana kabarnya Adithama sekarang?" tanya Fauzi.


"Wah...dia mah sudah sukses sekarang, jadi seorang dokter di tempat rehabilitasi kejiwaan, lebih tepatnya seorang Psikiater gitu, tapi dia belum menikah juga sampai sekarang, mungkin masih berharap sama Si Wulan kali ha ha ha..."


Pebincangan terus berlangsung diantara kedua teman lama itu. Sampai Afifa kembali dari toilet.


Afifa menghampiri keduanya, sempat terdengar perbincangan hangat keduanya yang membicarakan tentang Wulan, entah mengapa, Afifa tidak senamg mendengarnya.


"Dek... Sudah?" tanya Fauzi saat menyadari istrinya sudah kembali, "Gimana barusan muntah lagi?"


"Sedikit," jawab Afifa.


Johan nampak kaget saat Afifa datang dan berbicara dengan Fauzi. "Jadi...Neng cantik ini Istrimu, Zi?" tanyanya sedikit tidak percaya, namun pandangannya tetap tak beralih dari wajah Afifa.


Afifa beringsut, menggeser kursinya mendekati Fauzi, dia benar-benar tidak nyaman dengan tatapan orang ini.


"Hei...Jangan terus melihat istriku! dasar playboy," Fauzi mengibaskan tangannya kehadapan Johan.


"Ck ck ck...luar biasa, kufikir tadi di toilet, dia yang akan jadi jodohku kelak, ternyata kalah cepat lagi langkahku darimu, hahaha..." Johan tertawa yang sebenarnya menertawakan fikirannya sendiri.


Afifa hanya bengong melihat orang dihadapannya yang banyak bicara itu. Lalu menatap suaminya meminta penjelasan.


Fauzi tersenyum, "Dek..., kenalkan ini Johan, temanku waktu SMU," Fauzi memperkenalkan Johan yang masih tak lepas dari tawanya kepada Afifa.


"Panggil Bang Jo aja, Neng!" ucapnya sambil tersenyum lebar sedikit menggoda, membuat Afifa langsung tertunduk dan kembali beringsut mendekatkan wajahnya ke lengan suaminya, "Eh...siapa namanya, Zi?" tanya Johan yang memang belum tau nama istri dari temannya itu.


"Afifa, Jo!"


"Oh..., Dek Afifa, saya Johan teman gesrek Fauzi waktu di SMU ha ha ha..., iya kan Zi?" Johan mengalihkan pandangannya ke arah Fauzi dan dibalas dengan tatapan melotot Fauzi ke arahnya. Tapi Johan hanya tertawa menanggapinya.


Afifa mengatupkan kedua telapak tangannya didepan dada, lalu mengangguk pelan.


"Wah...beruntung sekali kamu, Zi! bisa mendapat istri secantik ini, taat beragama pula, padahal..., ha ha ha...dulu kamu..."


"Sudah, Jo! jangan dibahas, istriku sudah tau semuanya kok," sergah Fauzi.


"Iyyya kah?" tanya Johan seolah tak percaya dengan ucapan Fauzi. dan hanya dijawab dengan anggukan Fauzi.


"Bunda...!" Panggil Thalita yang tiba-tiba datang menghampirinya diikitu oleh Nadia.


"Hai sayang, sudah mainnya?" tanya Afifa sambil mendudukan Thalita dipangkuannya, karena kursinya kini di isi oleh teman Fauzi.


"Thalita sini sama Ayah Aja, kasian Bunda, nanti Dedek Bayinya kepencet sama badan Thalita," Fauzi mengambil alih Thalita dari pangkuan Afifa. Thalita mengikuti ucapan Ayahnya. Nadia duduk di kursi kosong di samping Afifa.


"Ayah?" tanya Johan, jiwa keponya keluar lagi, "Ini putrimu, Zi?"


"Iya," jawab Fauzi.


"Maksudku putri kandungmu?" tanya Johan lagi.


"Iya, ini Thalita putri kandungku," jawab Fauzi.


Johan nampak berfikir, "Tadi kamu bilang...baru menikah sekitar dua tahun? terus putrimu sudah sebesar ini? Jangan-jangan..., Eh tunggu, Kok wajah putrimu seperti tidak asing bagiku?" ucapnya lagi, sambil terus berfikir.


Hadeueueuh.... ternyata bukan hanya Bu Tejo yang kepo, pria sok akrab ini pun sibuk memikirkan urusan pribadi orang. Kok ada ya, cowok kaya gitu?


*******


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Salam hangat buat kalian, terimakasih untuk semua pembaca SCA.


Alhamdulillah pembaca terus bertambah 🤗.


Ayo bantu Author untuk mempromosikan karya ini dengan mengshare sebanyak2nya ke sosial media kalian.


jangan lupa like, vote dan komentarnya 🤗


I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul.

__ADS_1


__ADS_2