Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Cemburu...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Johan nampak berfikir, "Tadi kamu bilang...baru menikah sekitar dua tahun? terus putrimu sudah sebesar ini? Jangan-jangan..., Eh tunggu, Kok wajah putrimu seperti tidak asing bagiku?" ucapnya lagi, sambil terus berfikir.


"Sudah Jo, jangan bahas itu!" sergah Fauzi, "dan sepertinya hari sudah malam, kami harus pulang," Fauzi berdiri dan mengangkat Thalita dari pangkuannya, "Kamu juga pasti ngantuk ya Sayang?" tanya Fauzi kepada putrinya. dan dijawab dengan anggukan Thalita, Fauzi melambaikan tangannya pada pelayan untuk meminta tagihan.


"Tapi tunggu, Zi!" Johan yang masih saja penasaran ikut berdiri berusaha menghentikan Fauzi. "Wajah putrimu mirip sama... sama Si Wulan, iya bener..., mirip Si Wulan," ucap Johan, tatapannya terus memperhatikan wajah Thalita. Dia tersenyum lebar seolah menemukan jawaban dari apa yang ada dalam fikirannya.


Fauzi tidak memperdulikan ucapan Johan, dia hanya menerima tagihan dari pelayan yang menghampirinya, lalu mengeluarkan dompet dari saku celananya dan menyerahkan sejumlah uang kepada pelayan itu.


"Zi!" panggil johan lagi sambil mendekati Fauzi lantas membisikan sesuatu tepat ditelinganya, "Kamu juga mencicipi tubuhnya ya?"


Sontak membuat Fauzi kaget dan marah, dia mengepalkan kedua tangannya, ingin rasanya mendaratkan kepalan tangannya tepat di batang hidung pria songong ini, seandainya saja dia tidak sedang menuntun Thalita, mungkin apa yang difikirkannya sudah terjadi, Fauzi menahan amarahnya dan memilih untuk melangkah pergi meninggalkan temannya itu.


Fauzi menarik tangan Afifa yang masih diam mematung ditempatnya berdiri. Dengan posisinya yang begitu dekat dengan Fauzi, tentu saja Afifa dapat mendengar ucapan Johan meskipun dengan berbisik, hatinya langsung panas dan ada sesuatu yang terasa mengiris-iris hatinya saat itu.


"Ayo, Dek!" ajak Fauzi kepada Afifa, tanpa menoleh kembali ke arah Johan. Afifa pun berjalan mengikuti langkah Fauzi tanpa berkata apapun.


Johan yang merasa tidak puas dengan reaksi Fauzi segera berdiri dan secepatnya mengikuti Fauzi, namun..., saat langkahnya melewati kursi seorang gadis, tiba-tiba...


"Bruk...!" tubuh Johan ambruk ke lantai, dia merasa kakinya tersandung sesuatu seperti kaki seseorang.


Nadia tersenyum didalam hatinya, dia mengalihkan pandangannya ke sisi lain agar pria itu tidak mencurigainya. Dia pun berdiri dan melangkah menghampiri Paman dan Antinya.

__ADS_1


"Eh..., tunggu...!" teriak Johan sambil bangkit dan tertatih berusaha mengejar Fauzi dan yang lainnya. Namun mereka sama sekali tidak menghiraukannya, dan langsung menuju parkiran lantas masuk kedalam mobilnya. Mobil itupun perlahan keluar dari area parkir restoran. Sepeninggal mereka Johan mengingat-ingat penyebab dari jatuhnya tadi.


Selama diperjalanan kekesalan Fauzi masih tersisa, sehingga dia tak banyak bicara. Begitu pun dengan Afifa, dia hanya terdiam dengan pandangan keluar jendela mobil menyaksikan lampu-lampu malam yang nampak berkejaran. Pukul 9 malam mereka tiba dirumah, Thalita sudah tertidur di kursi penumpang dengan kepala dipangkuan Nadia. Fauzi menggendong putrinya dan segera menidurkannya dikamar bersama Mama dan Nadia. Lalu seperti biasa Fauzi akan mandi saat hendak tidur bersama istrinya. Afifa hanya mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.


Setelah sholat Isya berjamaah di kamarnya, Fauzi merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, namun Afifa tak juga bicara membuat Fauzi bertanya.


"Dek..., kenapa? sejak dari restaurant tadi kamu hanya diem aja?" tanya Fauzi sambil menoleh ke arah Afifa.


Afifa yang baru saja melipat mukena dan menyimpannya diatas meja malah mendudukan dirinya di atas sofa, bibirnya masih saja tidak mau bergerak. Entah kenapa, suara bisikan teman Suaminya di restourant tadi terus saja terngiang di telinganya, membuat dia sebal dan jijik melihat suaminya, apalagi saat mendengar nama Wulan disebut.


Fauzi memperhatikan wajah Afifa, dia yang sudah membaringkan tubuhnya, kembali bangkit dan menghampiri Afifa, lantas duduk disampingnya. "Hei Sayang..., kenapa? ada yang sakit?" Fauzi memperhatikan wajah Afifa yang sudah tak berhijab namun rambutnya masih terikat dengan jepitan rambut berwarna hitam dibelakang lehernya.


"Enggak!" jawab Afifa.


"Siapa yang cemberut?"


"Ya kamu lah," Fauzi mencubit pelan hidung istrinya. Afifa menepis tangan Fauzi dan semakin manyun saja. "Hei...jangan cemberut aja! jelek ah," ucap Fauzi lagi.


"Fifa emang jelek, pergi saja sana sama Mbak Wulan yang cantik itu!" suara Afifa meninggi dan nampak kesal.


"Lo lo lo? kok toba-tiba bawa Wulan? kamu kenapa, Dek?"


"Iya, primadona sekolah yang pernah Kak Aji cicipi tubuhnya itu!" ucap Afifa ketus sambil berbalik memunggungi Fauzi.

__ADS_1


Fauzi terdiam, dia bisa menebak kalau istrinya mendengar bisikan Si Johan brengsek itu di restaurant tadi. rasa kesalnya kembali muncul pada temannya itu, tapi kali ini ada yang lebih penting, yaitu meredakan kemarahan istrinya.


Fauzi beringsut mendekati Afifa, tangannya meraih jepit dibelakang leher istrinya, membuat rambut Afifa tergerai panjang dipunggungnya. Lantas tangannya meraih rambut Afifa dan menyelipkannya dibelakang telinga Afifa, "Sayang..., bukankah kamu sudah tahu kebenarannya? kenapa masih meragukanku?" bisik Fauzi tepat ditelinga Afifa, membuat Afifa merinding dengan hembusan nafas suaminya yang hangat menyentuh daun telinganya yang putih. Perlahan Fauzi memegang pundak istrinya dan membalikan tubuhnya sehingga menghadap ke arahnya. "Apa kamu cemburu?" tanya Fauzi setelah wajahnya berhadapan dengan Afifa sambil menyunggingkan senyum dibibirnya.


Afifa hanya terdiam, Fauzi membelai pipi mulus Afifa dan memainkan jarinya menyusuri anak rambut yang berjejer rapi diujung kening Afifa. Satu kecupan mendarat di keningnya. "Aku senang kalau kamu cemburu, itu artinya, kamu sangat mencintaiku," Senyum Fauzi semakin mengembang lalu bibirnya pun turun dan mendarat di bibir Afifa. Afifa membiarkan suaminya melakukan keinginannya, hingga tubuhnya tersungkur diatas sofa tepat dibawah tubuh suaminya. "Aku sudah mandi dan gosok gigi lo Sayang," bisik Fauzi, "boleh kah malam ini aku melanggar perjanjian kita?"


"Memangnya Fifa bisa menghentikannya kalau sudah begini?" tanya Afifa.


"Aaaaaaa ... Sayaaaang...," Senyum Fauzi semakin mengembang, diapun tak menyia-nyiakan kesempatannya, dengan sigap dia mengangkat tubuh istrinya menuju tempat ternyamannya untuk melakukan ibadah teridah didunia ini. Dan malam ini, perjanjian konyol itupun dilanggarnya.


************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘✌✌✌


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bebas berkomentar 😊


Tetap berusaha Up meskipun hanya sedikit 🙏.


Jangan lupa, like, vote, untuk menambah semangat Author dalam menulis 🤗


I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘

__ADS_1


By : Rahma Husnul


__ADS_2