Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Aqad dan Resepsi...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Satu minggu telah berlalu, tibalah saatnya hari yang di nanti semua orang, yakni hari di mana Farid akan menghalalkan wanita yang selama ini terus bersemayam di hatinya.


Pagi-pagi sekali semua orang sudah sibuk mempersiapkan segalanya, Halaman luas rumah Pak H. Ramadhan sudah di sulap menjadi gedung buatan, ditutup dengan kain perpaduan warna moka dan coklat tua, seluruh alasnya di lapisi karpet berwarna coklat tua pula, begitupun dengan atapnya.


Pelaminan nampak mewah, dengan warna senada dengan kain disekelilingnya, bunga-bunga cantik menghiasi setiap sudut tenda dan pelaminan tentunya. Hiasan gemericik air serta daun-daun hijau yang merambat terlihat di belakang pelaminan menampakan kesan alami namun elegant bagi siapapun yang memandangnya. Kursi pengantin bak singgasana kerajaan sudah bertengger di atas pelaminan, begitupun dengan dua pasang kursi pendamping yang mengapitnya.


Dengan hati yang berdebar, Nadia duduk di depan meja rias di dalam kamarnya yang kini sudah dihias dengan background kain berwarna moca dihiasi bunga-bunga melati asli yang membuat harum khas pengantin memenuhi seisi kamar.


Satu persatu peralatan make up di usapkan sedetail mungkin ke wajah Nadia oleh tangan cekatan Teh Yuyun, Nadia tak banyak bicara, dia hanya terdiam merasakan debaran jantungnya yang semakin lama terasa semakin kencang seiring bertambahnya detik demi detik waktu menuju saat Pria pujaannya mengucapkan Akad. Namun, tiba-tiba Nadia merasakan sakit di dalam hatinya, manakala ia teringat dengan sosok kedua orang tuanya yang kini sudah tak lagi berada di sampingnya untuk ikut merasakan kebahagiaan yang kini dia rasakan. Tak terasa air mata pun tak bisa ia bendung di kedua kelopak matanya.


"Lo? Nad? kenapa nangis? tuh lihat! make up nya rusak lagi," ucap Teh Yuyun sambil memberikan tissue ke arahnya.


Nadia segera mengambil tissue dan mengusap perlahan pipinya yang basah. "Maaf teh," ucapnya pelan.


"Kenapa, Nad? bukankan seharusnya kamu gembira hari ini? ini kan hari bahagiamu." Teh Yuyun menghentikan tangannya dan fokus menatap wajah Nadia yang tertunduk.


"Gak papa, Teh! Nadia hanya teringat Ayah dan Bunda," Jawab Nadia masih dengan tunduknya.


"Oh, orang tuanya Nadia sudah meninggal ya? Maaf Teh Yun baru tahu," Teh Yuyun mengusap punggung Nadia. Nadia hanya mengangguk pelan.


"Ceklek," pintu di buka seseorang dari luar. "Lo? Nadia kenapa?" tanya Afifa sambil menghampiri Nadia.


"Nadia teringat orang tuanya Fa," Jawab Teh Yuyun.


Afifa tersenyum dan duduk dihadapan Nadia. "Kita Do'akan saja semoga mereka juga bahagia di sisiNya ya, Nad! Pasti mereka pun ikut bahagia melihatmu bahagia hari ini." Afifa memegang dagu mencos Nadia yang masih saja tertunduk bahkan sangat berusaha menahan tangis yang kini serasa semakin kuat ingin dia luapkan. Afifa yang melihat hal itu, segera merangkul tubuh Nadia, dan tangis Nadia pun pecah dalam pelukan Afifa.


Afifa membiarkan keponakannya itu mengeluarkan tangisnya untuk beberapa saat sambil terus memeluknya dan mengusap-usap kepalanya agar Nadia mengeluarkan semua kesedihannya terlebih dahulu dan dia merasa tak sendiri tentunya.


"Sudah ya, Nadia sayang! Ayah dan Bundamu sudah tenang di sana, sekarang coba kamu pikirkan, apa yang akan terjadi nanti kalau Mas Ari mu sudah datang sedangkan kamu belum siap disini? Ayo, hapus air matamu! ingat saja wajah Mas Ari mu yang akan sangat terpesona melihat calon istrinya yang cantik ini," Ucap Afifa sambil tersenyum dan kembali memegang dagu Nadia. Nadia mengangguk. "Ayo, Teh! di lanjut make up nya," Afifa menoleh ke arah Teh Yuyun dan menggeser duduknya.


"Afifa juga sekalian make up saja sama asisten saya, biar cepet ya!" ucap Teh Yuyun.


"Gak usah, Teh! saya make up sendiri aja," jawab Afifa.


"Ih, jangan, Anti! Biar di makeupin aja," ucap Nadia.


"Hmmm..., nanti Anti jadi pengantin dong, haha..., mana bajunya udah bagus begini lagi," canda Afifa sambil menunduk memperlihatkan pakaian yang di pakainya, buatan tangan Ibu Sri.


"Ya gak papa, biar Paman tambah klepek-klepek sama Anti," guyon Nadia muncul lagi.


"Oke deh, kalau ini kemauannya pengantin kita," jawab Afifa sambil tersenyum.


Teh Yuyun memanggil asistennya, mereka berdua pun langsung mendandani Nadia dan Afifa.


*************


"Tholaal Badru 'Alaina...


Min Tsaniyyatil Wada'...


Wajabasysyukru 'Alaina...


Ma Da'allillahida'..."

__ADS_1


Ucapan Sholawat Thola'al badru menggema dari depan rumah Pak H. Ramadhan saat iring-iringan pengantin yang berjumlah 8 mobil itu datang dan berhenti di jarak 10 meter dari rumah itu. Semua orang berdiri untuk menyambut kedatangan mereka. Kedua Mertua Afifa, serta Kakak Iparnya yang dari Semarang sudah siap menunggu di depan gapura selamat datang.


Afifa yang mendengar lantunan Sholawat itu segera berdiri menghampiri Nadia yang masih belum selesai makeup. "Pangeranmu sudah datang, Anti ke depan dulu ya!" ucap Afifa. Nadia hanya mengangguk sambil *******-***** jemarinya karena gugup. Afifa menggenggam tangan Nadia yang dingin, lalu berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu, dia pun keluar dan menutup kembali pintu itu.


"Subhanalloh..., istriku cantik sekali," Ucap Fauzi tiba-tiba datang dari belakang tubuh Afifa, sudah siap memakai jas warna Abu muda pula seperti warna baju Afifa.


Afifa menoleh lalu tersenyum, "Keponakanmu tuh yang mau Fifa di dandanin," ucap Afifa sambil tersipu.


"Hmmm..., bagai mana... kalau nanti orang-orang mengira kamu pengantinnya ya?" goda Fauzi sambil memegang tangan Afifa.


"Ih..., apaan si, masa pengantin lagi hamil?" Afifa tersenyum.


"Tapi kan lagi hamil juga ****," Fauzi hendak mencium pipi Afifa.


"Eh! tahan dulu! malu disini banyak orang!" Ucap Afifa sambil menahan mulut Fauzi dengan tangannya.


"Hmmm...," Fauzi menegakkan tubuhnya. "Gak boleh ya?"


"Ya kan malu, Kak! lihat tuh diliatin orang-orang nanti, hayuk ah! kita ke depan! tamunya sudah datang?" Afifa menarik tangan Fauzi ke arah pintu agar tindakan suaminya tidak semakin jauh lagi. "Eh, Thalita mana?" tanya Afifa sambil berbalik menengok ke belakang.


"Udah ke depan tadi sama Nisa dan Cici," Jawab Fauzi.


"Oh, ya sudah," Afifa pun kembali melangkahkan kakinya bergabung dengan keluarganya yang sedang bersiap melakukan penyambutan.



Ritual penyambutan iring iringan pengantin Pria yang sudah berbaris menggunakan seragam batik kombinasi hitam dan kuning itu di sambut dengan upacara adat sunda, lengkap dengan guyonan Si Mamang Lengser dan Si Ambu yang terus bernyanyi dan menari tanpa alas kaki serta menggunakan kain pangsi hitam dan kebaya tradisional Sunda.


Kehadiran Mang lengser dan Si Ambu yang sangat lucu, membuat orang-orang yang menyaksikan upacara adat itu tertawa terpingkal-pingkal begitupun dengan rombongan pengantin Pria, meski mereka sedikit kesulitan untuk mengartikan setiap ucapan dari keduanya karena bahasanya di campur dengan bahasa Sunda, namun tingkah mereka sungguh telah membuat semua orang tertawa tak terkecuali Afifa yang tertawa sampai mengeluarkan air mata.


Guyonan Si lengser dan Si Ambu berakhir, tibalah saatnya pada pengalungan rangkaian bunga melati oleh Ibu H. Ramadhan ke leher Farid.


Acara pertama dibuka oleh MC. MC memberikan sambutan kepada pihak keluarga calon pengantin pria. Kemudian acara sambutan balasan dari pihak keluarga calon pengantin wanita, kepada calon pengantin pria. Dilanjutnya dengan acara seserahan, yakni melakukan serah terima secara simbolis, oleh Umi Wafa kepada Neneknya Nadia, yang menunjukan bahwa kedua keluarga besar telah saling menerima calon pengantin pria maupun wanita.


MC lantas mempersilakan Teh Santi yang sudah di tugaskan untuk membaca ayat Suci Al Qur'an naik ke atas podium. Lantunan ayat suci dari mulut Teh Santi pun membuat semua orang terdiam menikmati merdunya suara Beliau.


Nadia didampingi Afifa duduk di atas karpet tebal yang sudah di persiapkan dalam satu ruangan, bersiap mendengarkan Pria pujaannya mengucapkan Aqad nikah untuk menghalalkannya.


Suasana hening sesaat, ketika Pak Penghulu mempersilahkan Farid duduk di hadapan Pak H. Ramadhan. Tangannya membolak balikan map di hadapannya, mengecek semua surat-surat yang di perlukan untuk memastikan semua syarat dan rukun nikah sudah terpenuhi, sampai Pak penghulu kembali buka suara lewat mixrophone yang di pegangnya. " Baiklah, apakah semua pihak sudah siap?" tanya Pak penghulu sambil memutar pandangannya di balik kaca mata yang sedikit turun dari tempatnya.


Semua orang mengangguk, begitupun dengan Farid yang nampak tampan penuh wibawa dengan peci putih bertengger di kepalanya.


Acara khotbah nikah dan ijab kabul dipimpin oleh penghulu. Dan sampai lah pada saat yang di tunggu, yakni ucapan Akad dari Farid, sebagai janji suci yang Ia ucapkan di hadapan penghulu, keluarga, saksi, dan Alloh SWT tentunya. Farid mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Kakeknya Nadia.


Nadia semakin gelisah, tak henti-hentinya ia meremas jemarinya yang dingin dalam genggaman tangan Afifa, bibirnya nampak bergerak melafalkan beberapa do'a untuk kelancaran acara inti yang selama ini di tunggunya. Nadia terdiam, nafasnya berhenti sejenak saat mendengar suara Farid dengan lantang mengucapkan sebuah kalimat dalam satu tarikan nafas saja.


"SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINNYA MUTHYA NADIA PUTRI BINTI ALMARHUM SYARIF HIDAYATULLOH DENGAN MASKAWINNYA YANG TERSEBUT DIBAYAR TUNAI!"


"Syaaaaaah....!" Ucap semua orang sambil bertepuk tangan ikut bahagia dengan syahnya pernikahan dari kedua mempelai.


Farid melepaskan genggaman tangannya, lalu mengusap wajah dengan kedua tangan seraya mengucapkan hamdalah.


Nadia langsung memeluk Afifa sambil sesenggukan mengungkapkan rasa bahagianya. Kini dengan diucapkannya kalimat Akad itu oleh Farid maka berubah lah statusnya, dirinya telah Syah menjadi istri dari Mas Arinya, yang selama tiga tahun ini tidak pernah hilang dalam hatinya. Afifa hanya penepuk-nepuk pelan punggung Nadia sambil tersenyum, dia sangat mengerti dengan apa yang Nadia rasakan saat ini.


Terdengar suara MC yang mempersilahkan mempelai wanita untuk keluar menuju kursi kosong di samping mempelai pria. Teh Yuyun segera membereskan kembali riasan Nadia yang sedikit terhapus karena air matanya.

__ADS_1


"Ayo, Nad! kamu sudah di panggil," ajak Afifa. Nadia hanya mengangguk, keduanya berdiri dan berjalan perlahan menuju tempat akad. Seketika semua orang berdiri dan menoleh ke arah kedatangan mereka, terdengar suara riuh dari orang-orang karena mengagumi kecantikan keduanya. Tak terkecuali dengan Fauzi, dia pun melangkah mendekati Afifa dan ikut membimbing tangan Nadia menuju ke arah Farid.


Farid tersenyum memperhatikan wajah wanita yang kini sudah syah menjadi istrinya, seketika tangannya terulur saat Nadia hampir sampai di hadapannya. Nadia yang berjalan sambil tertunduk terdiam melihat tangan seorang pria dihadapannya, "Deg...deg...deg...!" Dengan hati yang berdebar, Nadia mengangkat kepalanya perlahan, pandangannya menyusuri setiap inci tangan yang terulur dihadapannya, hingga sampailah pada wajah tampan dan segar sang pemilik tangan yang sedang tersenyum ke arahnya. Sesaat kedua matanya terkunci saling menatap sampai Farid mengucapkan satu kata.


"Mari...," Ucap Farid.


Nadia tersentak dan kembali tertunduk, dengan tangan yang gemetar diapun meletakan tangan kanannya ti atas tangan Farid, Farid segera menggenggamnya dan membantu Nadia untuk melangkah ke arahnya.


Semua orang bertepuk tangan ikut merasakan kebahagiaan yang kini dirasakan keduanya. Acara pun dilanjut dengan penyerahan mahar dan pemasangan cincin di jari Nadia oleh Farid dan begitupun sebaliknya. Beberapa bidikan kamera mengarah ke arah keduanya. Nadia tersenyum melihat tanda kepemilikan yang melingkar di jari manisnya. Tak lama Pak Penghulu menyerahkan buku nikah kepada mereka, petugas dokumentasi pun segera mengabadikan moment yang sangat berharga ini.



Keduanya kembali duduk untuk mendengarkan nasihat perkawinan, dan doa yang dipimpin oleh penghulu. Setelah selesai dengan tugasnya, Pak penghulu pamit undur diri dan menyerahkan kembali semua acara kepada MC.


Terdengar suara MC yang mengucapkan selamat atas pernikahan kedua mempelai. Sesuai tradisi sunda setelah kedua mempelai syah menjadi pasangan suami istri akan di adakan acara saweran, maka MC pun memanggil Neneng Mojang yang ditugaskan untuk menyanyikan tembang sawer.


Suasana semakin riuh di tambah dengan banyaknya tamu undangan yang terus berdatangan. Saat Neng mojang naik ke panggung tiba-tiba saja puluhan mobil datang dan berhenti di depan gapura selamat datang. Mereka semua turun dan masuk ke gedung buatan di halaman luas rumah Pak Haji Ramadhan.


Afifa yang sedang duduk santai bersama Fauzi tiba-tiba tersentak melihat puluhan ibu-ibu yang datang menghampiri mereka.


"Lo? kok ramai sekali, Kak?" tanya Afifa kepada Fauzi.


Fauzi tersenyum, "Iya, Aku sengaja mengundang mereka," jawabnya enteng.


"Memangnya siapa mereka?" Kening Afifa berkerut.


"Mereka adalah Readersnya Bunda Rahma sekaligus fansnya kamu, Dek! Mereka ingin ikut berbahagia pada acara pernikahan Nadia dan Farid," ucap Fauzi sambil mengedipkan sebelah matanya.


Afifa tersenyum senang mendapat kejutan dari suaminya, "Wah..., terimakasih, Kak!" Ucap Afifa.


"Tuh lihat banyak banget kan Readersnya Bunda Rahma, mereka mau ketemu sama kita."


"Alhamdulillah, mereka bisa datang ya, Kak!" ucap Afifa sambil menyenderkan kepalanya ke dada Fauzi.


"Assalamualaikum..." Ucap mereka kepada Fauzi dan Afifa dengan suara bersamaan seperti sedang koor saja.


"Waalaikum salam...," jawab Fauzi dan Afifa sambil tersenyum ramah. "Mari silahkan!" ucap Afifa kemudian sambil menyalami mereka satu persatu. Afifa tersenyum senang ternyata mereka datang dari berbagai daerah di seluruh indonesia, hatinya bersyukur, ternyata Pecinta SCA bukan hanya orang sekitar saja, tapi dari seluruh penjuru negeri bahkan dari luar negeri 😊😚😚😚.


Setelah mereka menyalami kedua mempelai acara sawer pun di lanjutkan. Tiba-tiba seorang wanita bernama Khaila Putri menghampiri petugas pelantun tembang sawer. "Momo...! Ayo kita kaul, kamu yang nyanyi aku yang nebar sawerannya,"


"Oke, siapa takut?" jawab Mojang yang ternyata mereka sudah saling mengenal.


Rombongan Readers Bunda Rahma pun semakin riuh ikut kaul dalam acara saweran pernikahan Farid dan Nadia ini.... 😄😄😄✌✌✌


***********************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘😉😉😉


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hei hei.... Bunda Rahmanya kemana? kok gak di sebut?


Ceuileeeh... masa gak tau? Bunda rahma kan yang nulis naskahnya 😄😄😄


*******

__ADS_1


Maaf ya Readers..., ini hanya sedikit guyonan saja, karena saya mencintai kalian semua 😘😘😘😘😘. Mau di sebut semuanya kok banyak banget ya... jadi cuman tukang sawer saja yang saya masukin 🙏😉. Siap mulung di GC saya ya 😄😄😉.... ⚘⚘⚘


I LOVE YOU ALL...😙😙😙❤❤❤⚘⚘⚘


__ADS_2