
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Fauzi dan Afifa berhenti tepat di depan pintu, saat keduanya melihat sudah banyak orang disana, Wulan, Ayahnya, Johan, serta keluarga dari Faqih yang baru kali ini mereka lihat, nampak suasana tegang di ruang tamu itu, membuat Fauzi ragu untuk melangkah.
"Mari silahkan!" ibunya Faqih mempersilahkan Fauzi dan Afifa duduk di kursi kosong yang sudah di siapkan oleh pembantunya.
Fauzi mengangguk dan kembali berjalan menuju kursi itu diikuti oleh Afifa dan Thalita.
Terjadi obrolan kecil diantara mereka, sekedar basa-basi untuk mencairkan suasana, beberapa minuman dan camilan disajikan oleh kakak perempuan Faqih dan Kakak Ipar Faqih. Sesekali tawa kecil terdengar dari mereka saat Thalita digoda karena terus saja menempel kepada Afifa, ibu keduanya.
Kakak iparnya Faqih yang bernama Rika menghampiri Thalita. "Adek cantik mau main sama Dek Zahra gak? itu Dek Zahra lagi main boneka sama Teh Dhera di belakang, Yuk!" ajaknya.
Thalita tersenyum, lalu menatap Afifa dan Fauzi bergantian meminta persetujuan. Afifa tersenyum dan mengangguk. Thalita pun mengikuti Kakak Ipar Faqih menuju kamar tempat bermain kedua putrinya. Thalita yang awalnya ragu untuk bergabung, segera disambut ramah oleh Dhera anak pertama Rika, setelah ibunya memperkenalkan Thalita kepada mereka berdua.
Rika pun meninggalkan anak-anak yang sudah mulai bermain dengan akrab. Dia segera kembali ke ruang tamu.
"Jadi ini Nak Fauzi, Ayah biologis dari Putrinya Nak Wulan?" tanya Ayahnya Faqih, memulai pembicaraan.
"Iya, betul, Paman!" Ucap Fauzi.
"Dan ini Istrimu?" tanyanya lagi sambil memandang Afifa. Afifa mengangguk dan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya lalu tersenyum.
"Hmmm..., jika Nak Aji sudah tau kalau Wulan mengandung darah dagingmu, kenapa Nak Aji tidak menikahi Nak Wulan?" tanyanya lagi.
Fauzi terdiam, sekilas menatap Afifa yang juga terdiam mendengar pertanyaan dari Ayahnya Faqih.
"Maaf, Pak! tadi kan saya bilang..." Johan menimpali.
"Saya bertanya kepada Nak Fauzi. Saya hanya ingin mendengar jawabannya," Ayah Faqih memotong ucapan Johan. Membuat Johan kembali terdiam.
Fauzi menarik nafas panjang, mengatur kata-kata yang ingin dikeluarkannya. "Saya tau, ini adalah tanggung jawab saya, juga kesalahan dari masa lalu saya, dulu saya sempat mencarinya, namun saya tidak juga menemukan Wulan, sampai akhirnya saya dipertemukan dengan istri saya ini," Fauzi menggenggam tangan Afifa yang dingin tertumpuk di pangkuannya.
Ayahnya Faqih nampak berfikir, "Lalu bagai mana kalian bisa bertemu kembali dan yakin kalau anak itu adalah darah dagingmu?"
"Rasa bersalah dalam diri Saya terus saja menghantui jiwa dan fikiran Saya, sampai berimbas pada ketentraman rumah tangga Saya, dan kebahagiaan Istri Saya. Akhirnya, Saya pun menceritakan semua masa lalu kelam saya kepada Istri saya. Dan kami berdua terus mencari keberadaan Wulan tanpa mengenal lelah. Dan mungkin sudah taqdir Alloh, tanpa sengaja, istri saya bertemu dengan Thalita 3 tahun yang lalu, dan anak itulah yang telah mempertemukan kami kembali. Dan dari semua kejadian yang Wulan ceritakan juga beberapa kebetulan yang terjadi, Saya yakin kalau Thalita adalah darah daging saya," Jelas Fauzi.
__ADS_1
"Apa sudah tes DNA?" Ibunya Faqih menimpali, membuat Fauzi, Afifa serta Wulan tersentak mendengarnya. Begitu pun dengan Pak Herman.
Wulan tertunduk semakin dalam, pertanyaan yang baru saja di lontarkan ibunya Faqih sungguh terdengar begitu sakit seolah mengiris-iris hatinya. Rasa terhina itu datang lagi, Wulan terdiam dalam keheningan, nampak kristal bening di kedua matanya.
"Eh..., maksud saya...," Ibunya Faqih kembali angkat bicara saat sadar dengan reaksi semua orang setelah mendengar ucapannya.
"Sudah cukup!" Ucap Pak Herman yang sejak tadi menahan emosinya, "Jika putriku memang tidak diterima di rumah ini, Kami tidak akan memaksakan diri. Kami cukup tau diri!" Berdiri dari duduknya dan meraih tangan Wulan agar segera mengikutinya.
"Sebentar, Pak! Bukan begitu maksud kami," Ayah Faqih ikut berdiri menghentikan langkah Pak Herman.
"Sudah cukup penderitaan dan penghinaan yang diterima putri saya selama 10 tahun ini, saya tidak mau, penghinaan itu terulang kembali kepada kami." Ucap Pak Herman dengan nada tegas.
"Kami tidak bermaksud untuk mengungkit kembali hal itu, kami..."
"Pertanyaan istri anda telah menuding putriku sebagai perempuan kotor, apa kalian fikir putriku bisa berhubungan dengan laki-laki manapun?" Emosi Pak Herman mulai tak terkendali.
Faqih segera berdiri dan menghampiri Pak Herman, sebagai seorang dokter dia tau persis bagaimana kondisi emosional dari mantan pasiennya itu. "Pak, Bapak tenang dulu ya, Bapak percaya sama saya kan?" ucap Faqih sambil menatap mata Pak Herman, "Ayo, Bapak tarik napas dulu! kendalikan emosi Bapak, lalu Bapak duduk kembali!" Ucap Faqih berbisik dengan tenang.
Pak Herman menurut, setelah melakukan semua yang di intruksikan Faqih, dia pun duduk kembali.
"Itu benar," Ucap Wulan, sambil mengangkat kepalanya, lalu menatap kosong ke arah meja dihadapannya, "Mas Kadar menikahi saya karena ingin menutupi aib saya yang sudah terlanjur mengandung, dan kami hanya menikah siri, statusnya sebagai seorang perwira polisi tidak memungkinkannya untuk berpolygami secara hukum negara, sampai akhirnya hubungan kami diketehui oleh istri pertamanya, Kami pun berpisah dan tidak pernah bertemu lagi sampai saat ini."
"Apa kalian sudah bercerai?" tanya Ibunya Faqih kembali.
"Sudah, sebelum kami berpisah Mas kadar sudah menjatuhkan talak meski dalam paksaan istri pertamanya, dan selama 5 tahun ini, kami tidak pernah berhubungan lagi, apalagi memberi nafkah, baik lahir maupun bathin," Jelas Wulan.
"Berarti suamimu memang sudah mentalakmu, karena membiarkanmu sudah lebih dari dua tahun lamanya," Ayah Faqih menimpali. Kepalanya nampak manggut-manggut tanda mengerti.
Wulan pun mengangguk pelan.
"Mohon maaf sebelumnya Nak Wulan dan Nak Fauzi," Ayahnya Faqih melanjutkan ucapannya. "Saya bertanya tentang masa lalu kalian, karena Saya tidak ingin terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, yang akan mengganggu hubungan rumah tangga Putraku nantinya," Ayah Faqih menarik nafas sejenak, lalu kembali bicara, "Meski saya sudah mendengar kebenarannya dari Nak Johan, tapi rasanya masih ada yang mengganjal dalam hati saya, makanya saya meminta Faqih untuk mempertemukan saya dengan Nak Fauzi."
"Tidak apa-apa, saya mengerti Paman," Jawab Fauzi. "Paman tidak perlu khawatir soal Thalita, Saya akan bertanggung jawab penuh terhadapnya, Saya tau benar apa kesalahan saya di masa lalu."
"Mungkin dalam hal ini, Nak Fauzi juga tidak bersalah, seperti apa yang di katakan Johan," Ucap Ayah Faqih.
__ADS_1
"Johan?" tanya Fauzi heran. "Apa hubungannya dengan Johan?"
Semua mata menatap ke arah Johan. Johan terdiam dan ragu-ragu untuk mulai bicara. "Ma...maafkan Aku, Zi! maafkan semua kebodohanku," ucap Johan terbata-bata.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Fauzi penasaran.
"Semua yang terjadi pada kalian berdua, adalah kesalahanku, Aku yang menjahili kalian dengan memasukan obat itu pada minuman kalian,"
"Apa maksudmu?" Fauzi mulai menatap tajam ke arah Johan.
"Iya, Aku benar-benar minta maaf, aku tidak menyangka akan seperti ini, itu...itu hanyalah kejahilanku," Johan mulai takut dengan tatapan Fauzi.
"Apa? kejahilan? kamu bilang kejahilan? teman macam apa kamu Johan? tega-teganya kamu menjebak temanmu sendiri!" Fauzi berdiri hendak menghampiri Johan yang duduk sekitar dua meter dari tempatnya berdiri, tangannya sudah mengepal, wajahnya memerah karena marah.
"Kak...!" Afifa segera menarik tangan Fauzi, "Kak..., tahan emosimu! kita sedang bertamu," ucap Afifa setengah berbisik sambil berdiri menahan tubuh suaminya.
"Tapi dia itu keterlaluan!" ucap Fauzi masih emosi.
"Fifa tau, Fifa Faham dengan perasaan Kak Aji," Afifa masih memegang tangan Fauzi, "Lihat Fifa, Kak!" Afifa membalikan badan suaminya, Fauzi menatap mata teduh Afifa yang sedang menatapnya. "Ayo kita ambil air Wudhu!" ucap Afifa sambil menarik tangan Fauzi keluar dari forum yang menegangkan itu.
********************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum Readers...🤗
Terimakasih banyak atas dukungan kalian, dan juga kesetiaan kalian menunggu karya2 saya. Sungguh, rasanya saya tidak tega kalau harus hiatus karena kesibukan dunia nyata saya. Akan selalu saya usahakan, meskipun setiap partnya tidak banyak.
Terimakasih, dan terus beri motovasi untuk saya agar selalu semangat menulis...😘😘😘
Tetap like, vote dan kemen...🤗
I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
__ADS_1
By : Rahma Husnul.