Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Rutinitas yang Mulai Terlupakan...


__ADS_3

"Ayah...!" Panggil Thalita membuat Fauzi kembali pada kesadarannya.


"Eh...Iya sayang?", tanyanya gelagapan dan mengalihkan pandangannya yang sejak tadi tak lepas dari wajah istrinya.


"Bunda Wulan boleh tinggal sama kita kan?" tanyanya lagi dengan wajah polosnya.


Fauzi tidak menjawab, dia kembali memandang Afifa, tapi Afifa hanya terdiam dan menatap balik dirinya.


"Sayang..." panggil Wulan, "ya gak bisa gitu dong...", dengan senyum yang dipaksakan, "Bunda kan punya rumah sendiri, masa rumahnya ditinggalin?".


"Ya gak papa Bunda, minta Teh Rina buat tempatin rumah kita aja, rumah Ayah juga besar kok", ucap anak itu.


"Tapi Bunda kan bukan istrinya Ayah sayang..., ya gak bisa tinggal serumah dong". jawab Wulan lagi.


"Kenapa dulu Ayah cerai sama Bunda?", tanya Thalita lagi tiba-tiba, membuat ketiganya semakin terpojok dengan pertanyaan Thalita yang menohok. Ketiganya menelan saliva masing-masing. Wulan yang tidak tahu menahu tentang asal muasal Thalita menanyakan hal itu hanya bengong dan menatap Fauzi dan Afifa bergantian meminta penjelasan. Sedangkan Fauzi menatap Afifa, seolah meminta Afifa untuk menjelaskan semua kebohongan yang pernah dia mulai.


Kini Afifa harus kembali mengatur kata-kata agar anak itu mengerti dan tidak berfikir kalau kelahirannya adalah suatu kesalahan akibat ulah kedua orang tuanya yang tidak pantas untuk ditiru.


"Thalita sayang..., Sini Bunda mau bicara", Afifa memberikan kode dengan tangannya agar Thalita turun dari tempat tidur pasien dan menghampirinya. Thalita mengikuti arahan Afifa, lalu mengikuti Afifa duduk diatas sofa. "Jadi begini sayang..., dulu itu, Ayah sama Bunda Wulan masih sangat muda, mereka belum tahu banyak tentang hal-hal yang baik ataupun buruk dalam satu pernikahan, mereka juga harus menghadapi banyak masalah yang terjadi sehingga membuat mereka harus berpisah", jelas Afifa.


Thalita mengerutkan keningnya, lalu kembali berkata. "Tapi sekarang kan, Ayah sama Bunda sudah dewasa, kenapa gak nikah lagi aja?" tanyanya.


Afifa terdiam, kali ini pertanyaannya benar-benar tidak bisa dijawabnya. Thalita memang anak yang cerdas, tapi Afifa tidak menyangka kalau fikiran anak itu akan sampai kesana, dari mana dia tahu soal pernikahan dan perceraian? sedangkan usianya baru sembilan tahun.


"Ya gak bisa gitu dong Sayang...", Wulan menimpali, "Ayah kan sekarang sudah punya Bunda Fifa", jawab Wulan sambil tersenyum, wajahnya sedikit memerah karena merasa malu dan tidak nyaman dengan semua pertanyaan dari putrinya.


"Temenku juga punya satu Ayah dan dua Bunda kok, dia bilang gak papa katanya". Ucap Thalita lagi, kali ini anak itu nampak serius dengan ucapannya, membuat Wulan semakin salah tingkah, begitupun dengan Afifa.


Fauzi berjalan mendekati sofa dan duduk disamping Thalita.


"Sayang..., meskipun Ayah tidak menikahi ibumu, Thalita tetep punya satu Ayah dan dua Bunda kok..., pokoknya Anak Ayah tidak akan kekurangan kasih sayang dari kita bertiga..., gimana?" Fauzi tersenyum kearah putrinya. "Sini..., peluk Ayah!" Merentangkan kedua tangannya.


Thalita tersenyum lebar, lalu menghambur kepelukan Fauzi.


Fauzi kembali memperhatikan wajah Afifa yang tertunduk, terlihat jelas ada begitu banyak beban dalam fikirannya, namun dia selalu saja menutupi semuanya dengan senyuman.


Dua jam berlalu, Fauzi dan Afifa berpamitan untuk pulang kembali bersama Thalita, lagi-lagi Wulan hanya menangis menitipkan Thalita kepada Afifa. Afifa hanya mengangguk dan meyakinkan kalau Thalita akan baik-baik saja.


************


Malam hari Afifa menemani Thalita untuk bersiap tidur, beberapa dongeng sebelum tidur sudah ia ceritakan, namun Thalita masih saja sulit terpejam, padahal waktu sudah menunjukan pukul 10.30 malam, membuat Afifa bertanya padanya. "Sayang..., kenapa belum tidur juga?"


"Thalita kepikiran Bunda Wulan, Bun", jawab nya.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kalau Bunda Wulan sudah pulang kerumah, Thalita gak bisa nginep disini lagi", ucapnya sedih.


"Lo? memangnya kenapa?"


"Kasian Bunda Wulan kalau Thalita tinggal sendiri dirumah, tangan Bunda kan sakit, bagai mana kalau Bunda mau makan? mau minum? mau kerja? pasti susah kan Bun?", anak itu nampak berfikir, "terus bagaimana kalau tiba-tiba Kakek datang dan mau bunuh Bunda lagi? Thalita takut, Bun!" ucapnya sedih.


Afifa menarik nafas panjang, lalu menepuk-nepuk pundak Thalita yang sudah terbaring. "Thalita jangan khawatir, Bunda Wulan akan baik-baik saja, nanti Bunda akan sering datang membantu Bunda Wulan kerumah Thalita ya..., sekarang Thalita tidur dulu, besok kan harus sekolah, abis itu kita jemput Bunda di Rumah sakit...Gimana?", Afifa menirukan bicara anak-anak yang sedang gembira menyambut jedatangan ibunya. Dia terus berusaha menenangkan hati anak itu sambil mengelus kepalanya.


"Bunda...," Panggil Thalita lagi sambil menggenggam tangan Afifa.


"Hmmmm?"


"Mata Thalita gak bisa merem", rengeknya.


"Mmm...ya udah, Bunda nyanyiin ya?"


"Enggak Ah, Thalita pengen dibacain Sholawat aja".


"Sholawat? sholawat yang mana?"


"Yang itu...mmmm...Man Ana Laulakum", ucapnya sambil memetikan jari jempol dan telunjuknya.


"Oh...ya sudah, Bunda senandungkan sholawatnya ya". Dan Afifa pun mulai menyenandungkan sholawat Man Ana Laulakum versi Sabyan.


🎵🎵🎵


Man ana man ana, man ana laulaakum


Man ana man ana, man ana laulaakum


Kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum


🎵🎵🎵


(Siapakah diriku, siapakah diriku kalau tiada bimbingan kalian (guru)


Bagaimana aku tidak cinta kepada kalian dan bagaimana aku tidak menginginkan bersama kalian).


Fauzi yang sedang berada dikamarnya ikut mendengar senandung sholawat yang dilantunkan Afifa, dia keluar dari kamar dan memperhatikan kebersamaan Afifa bersama putrinya dari celah pintu kamar Thalita yang sedikit terbuka. Ada desiran halus pada lubuk hati Fauzi, melihat dua orang yang paling dicintainya saat ini begitu dekat, nampak ketenangan dan senyuman bahagia dari keduanya membuat Fauzi berfikir berkali-kali untuk melepas salah satunya. Fauzi tertegun mendengarkan lirik dari sholawat itu, kata-demi kata, bait demi bait ia renungkan, tiba-tiba saja dia teringat dengan Gurunya yang selama ini telah berjasa besar padanya, yang telah membantunya di setiap kegundahan dalam rumah tangganya. "Apa Kiyai...", gumamnya, "Haruskah aku menemui beliau lagi untuk membantuku menghadapi kegundahan ini? Ah...benar sekali, mungkin beliau punya solusi untuk menghadapi kemelut rumah tanggaku ini ", fikirnya. Fauzi kembali ke kamarnya, cukup lama dia menunggu Afifa, namun Afifa tak juga muncul dikamarnya. Akhirnya diapun tertidur.


Malam sudah menunjukan pukul 11 malam, Afifa terus bersenandung, sampai Thalita benar-benar terlelap dan tak terasa dirinya pun tertidur disamping Thalita.


Adzan subuh berkumandang membuat Afifa terbangun, "Astaghfirullohal adziim", Ucapnya, saat sadar ternyata dirinya tertidur dikamar Thalita. dia pun bangun dan kembali kekamarnya, rupanya Fauzi sudah tidak ada dikamar, mungkin dia ke mesjid, fikir Afifa. "Ah...bagaimana aku bisa tidak ingat semalaman, sampai bangunpun kesiangan, tak ada waktu lagi untuk tahajud", gerutu Afifa pada dirinya sendiri sambil bergegas menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudlu, setelah selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya diapun menjalankan kewajiban Sholat Subuh di kamarnya.


Afifa baru saja melipat mukenanya saat terdengar bunyi panggilan telephon dari ponselnya, dia segera melihatnya dan ternyata nomor Umi yang memanggil. Afifa segera menerima panggilan. Dia tersentak saat suara Abi yang terdengar disana untuk memberitahukan, bahwa Umi barusaha terjatuh dikamar mandi saat bangun tidur tadi, dia sudah berada dipuskesmas setempat sekarang.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Afifa segera membangunkan Thalita untuk sholat subuh, lalu membuat nasi goreng untuk sarapan suaminya dan Thalita, semuanya sudah siap saat Fauzi kembali dari mesjid, begitu pun dengan Afifa yang sudah berpakaian gamis dan membawa tas yang tergantung dipundaknya, serta kunci motor ditangannya, hendak melangkah keluar dari kamarnya.


"Mau kemana, Dek?" tanya Fauzi saat masuk ke kamarnya dan melihat istrinya sudah rapi.


"Ke rumah Umi, Kak! barusan ada telphon, Umi jatuh dikamar mandi".


"Apa? Umi jatuh?" tanya Fauzi.


"Iya, Kak!, Fifa minta ijin untuk berangkat sekarang ya, Fifa khawatir dengan Umi" ucap Afifa lagi.


"Lalu Thalita?"


"Dia sudah bangun, dan Fifa sudah siapkan sarapan untuk kak Aji dan Thalita dimeja makan". ucap Afifa kemudian, "O ya, Nanti anterin Thalita ke sekolah, lalu pulangnya jemput lagi sekalian jemput Wulan di Rumah sakit!" Suara Afifa terdengar terburu-buru.


"Tapi..., kamu ikut jemput ke Rumah sakit juga kan?" tanya Fauzi.


"Fifa usahakan, tergantung bagaimana kondisi Umi nanti ya".


"Tidak kah sebaiknya kita berangkat sama-sama melihat Umi, Dek?"


"Tidak perlu, kasian Thalita kalau harus tidak sekolah, nanti saja Fifa telphon lagi kalau terjadi sesuatu dengan Umi". Afifa melangkah keluar kamar dengan terburu-buru. Saat kakinya tepat didepan pintu dia kembali menoleh ke arah suaminya. "Kak..." panggilnya kepada Fauzi yang masih berdiri memperhatikan gerak-geriknya yang terburu-buru. "Maaf, Fifa ketiduran semalam", Afifa tertunduk mengingat kesalahannya.


"Sudah, gak papa, pergilah!", ucap Fauzi.


Afifa pun kembali membalikan badannya dan melangkah keluar rumah tanpa mencium tangan Fauzi seperti biasanya saat hendak bepergian.


Fauzi hanya memperhatikan Afifa dari jauh, ada sedikit kekecewaan didalam hatinya, dia berharap istrinya akan kembali menolehnya untuk melakukan ritual yang sudah menjadi rutinitas kesehariannya, dimana bibir istrinya akan mencium lembut punggung tangannya sebagai rasa hormat seorang istri untuk tangan suami yang sudah bekerja dengan tangannya dalam menghidupi keluarga, dan bibir Fauzi akan mengecup kening istrinya, dimana disanalah tempat berfikir seorang istri agar terhindar dari prasangka buruk ketika suaminya berada diluar rumah. Tapi Fauzi hanya menarik nafas panjang, karena dia hanya melihat punggung Afifa yang terus berlalu dari hadapannya.


********


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Readers...


Masih menunggu keputusan Fauzi ya...


Apa kira-kira saran dari Apa Kiyai untuk Fauzi nantinya?


Tetap like, vote dan komentar...🙏


Tetimakasih...😊


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘

__ADS_1


By : Rahma Husnul


__ADS_2