
HAPPY READING...⚘⚘⚘
~ Rumah Wulan~
Selepas sholat maghrib berjamaah bersama putrinya di kamar, Wulan terdiam di atas sajadah, memperhatikan gerak-gerik putrinya yang sudah pandai melipat mukena yang baru saja di pakainya dengan rapi.
"Sayang," panggil Wulan, "Kemarilah!" ucapnya sambil mengulurkan kedua tangannya ke arah anak itu. Thalita menatap tangan ibunya, lalu berjalan perlahan menghampirinya.
Saat Thalita sudah mendekat, tiba-tiba Wulan merengkuhnya, dan memeluk anak itu dengan erat sambil mencium keningnya, kedua mata Wulan mulai panas, terisi dengan cairan bening yang lagi-lagi ingin di tumpahkannya. Namun, sekuat tenaga ia tahan agar tidak jatuh di depan anak itu.
"Sayang..., maafkan Bunda ya," ucap Wulan lirih, sedikit berbisik di telinga putrinya. Thalita masih terdiam. "Bunda tau, kesalahan Bunda tidak pantas untuk di maafkan, bahkan oleh putri bunda sendiri. Tapi Bunda mohon, jangan tinggalkan Bunda sendiri. Bunda tidak punya siapapun lagi selain Kakek dan Thalita sebagai penyemangat hidup Bunda saat ini. Thalita mau kan memaafkan Bunda dan tetap bersama Bunda?" air mata Wulan lolos, beberapa tetes jatuh di pipinya, Namun dia cepat menghapusnya dengan mukena yang di pakainya.
Thalita mengangkat kepalanya di dalam dekapan ibunya, menatap mata Wulan yang nampak basah, anak itu tidak bicara, hanya tangan kanannya terulur mengusap sisa air mata yang masih tersisa di ujung mata ibunya. "Bunda..., Jangan nangis! Bunda Fifa bilang, setiap orang itu pernah melakukan kesalahan, termasuk Bunda. Thalita juga tetep akan jadi anak Bunda," ucap anak itu polos.
Wulan semakin tak dapat menahan tangisnya mendengar ucapan polos putrinya, mulutnya tak mampu lagi untuk berkata, dia pun semakin mempererat pelukannya sambil menumpahkan semua air mata yang sudah penuh tertahan di kelopak matanya. Isakannya terdengar pilu, membuat Thalita pun ikut menangis dalam pelukan ibunya.
Cukup lama, ibu dan anak itu meluapkan rasa sesaknya, hingga suara panggilan ponsel Wulan yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidurnya berdering cukup keras. Wulan merenggangkan pelukannya, sambil mengusap sisa air matanya. Thalita kembali duduk lalu berkata, "Ambil ponselnya Bund?" tanya anak itu. Wulan mengangguk masih sibuk menghapus air matanya.
Thalita berdiri dan mengambil ponsel ibunya, lalu menyerahkannya ke hadapan Wulan. "Ini, Bund! dari Paman Faqih," ucapnya.
Wulan malah terdiam menatap ponselnya yang terus saja berdering.
"Bunda! Kenapa malah diliatin? Ini paman Faqih, dokternya Kakek kan?" tanya Thalita.
"Oh..., iya, Sayang," Jawab Wulan sedikit tersentak karena fikirannya sedang melayang pada kejadian kemarin sore. Wulan mengambil alih ponsel itu dan perlahan menggeser tombol hijau di atas layar ponselnya, lantas meletakannya di depan telinga tanpa bicara.
Halo...Halo..., Assalamualaikum, Ucap suara di sebrang sana, karena Wulan masih saja terdiam.
"Waalaikum salam warohmatulloh," Jawab Wulan datar.
Lan, kamu baik-baik saja kan? tanya Faqih khawatir, karena memang sejak kemari sore dia tidak bisa menghubungi Wulan. Wulan sengaja mematikan ponselnya sejak dari mesjid itu hingga sebelum maghrib tadi. hanya beberapa pesan dari Faqih yang terus menanyakan kondisi Wulan yang sama sekali tidak di jawabnya.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja," jawab Wulan masih datar.
Lan, aku ada di depan rumah kamu bersama Johan, bolehkah kami masuk?
Wulan terdiam, lalu menoleh ke arah putrinya yang sedang menggulung mukenanya dengan sajadah, dan hendak menyimpannya di kamarnya sendiri. "Baiklah, tunggu sebentar!" ucapnya kemudian. Wulan menutup panggilannya dan berdiri menghampiri putrinya yang sudah berada di depan pintu hendak keluar menuju kamarnya sendiri.
"Sayang, di bawah ada Paman dokter, Bunda turun dulu ya, kamu kerjakan PR mu duluan di kamar, nanti bunda lihat kalau sudah selesai," ucap Wulan sambil memegang pundak putrinya. Thalita mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya sendiri.
Wulan segera membuka kain mukenanya, dan menggantinya dengan kerudung instan berwarna hitam, lalu dia turun dari lantai dua lewat pintu butiknya, saat membuka pintu, nampaklah dua orang pemuda yang berdiri disana dengan wajah penuh kekhawatiran, namun wajah mereka tiba-tiba langsung berubah lega saat melihat Wulan baik-baik saja.
"Lan!" Ucap Faqih dan langsung memegang tangan Wulan. Namun Wulan segera melepaskan genggaman tangan Faqih dan menarik tangannya sendiri. Faqih nampak kecewa dan menatap Wulan dengan iba.
"Masuklah!" ucap Wulan singkat, dan berjalan menuju tangga, lalu naik lebih dulu ke lantai dua rumahnya. Kedua pemuda itu mengikutinya setelah menutup pintu terlebih dahulu.
Wulan mempersilahkan keduanya untuk duduk diruang tamu, lalu dia pergi ke belakang dan tak lama kembali dengan membawa minuman dan kudapan seadanya.
Faqih nampak gelisah melihat sikap Wulan yang dingin, dia pun mulai bicara. "Lan..., aku sengaja membawa Johan kemari, agar dia menjelaskan semua yang terjadi di masa lalumu, agar kamu tidak terus dihantui rasa bersalah," jelas Faqih.
"Hmmm...," Wulan tersenyum penuh arti. "Sudah lah, Tam! tak perlu menghiburku atau pun memberi harapan padaku, aku ini memang tidak pantas untuk dicintai, apalagi oleh laki-laki sempurna sepertimu."
"Lan..., jangan berkata seperti itu, aku tulus mencintaimu, aku ingin membahagiakanmu, aku..."
"Cukup lah, Tam! cukup satu kali aku merasa terhina oleh keluarga suamiku dulu, aku tidak mau semuanya terulang lagi," Wulan memotong ucapan Faqih.
__ADS_1
"Semuanya adalah salahku, Lan!" Johan angkat bicara. Wulan menoleh ke arah Johan penuh tanya. "Ya..., semua yang terjadi padamu adalah salahku. Aku yang memberikan obat itu padamu dan bahkan bukan hanya Fauzi, tanpa sepengetahuanmu, aku juga telah mencampurkan obat itu pada minumanmu."
"Apa maksudmu?" tanya Wulan sambil menatap tajam ke arah Johan.
Akhirnya Johan menceritakan semua kejadian sepuluh tahun yang lalu dengan rinci, bahwa semua itu hanya kejahilan dan kenakalannya, dia tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini.
Wulan tak berkata apapun, dia hanya menangis meratapi nasibnya sendiri, sambil mengutuki kepolosannya dulu, seandainya saja dia bisa mengulang kembali waktu ke sepuluh tahun yang lalu, pastinya dia tidak perlu mengalami semua pengalaman buruk yang susah dia lewati selama sepuluh tahun ini.
Terdengar derap langkah kaki seorang pria menghampiri mereka bertiga. Pria paruh baya itu berdiri masih dengan stelan koko, sarung dan kopiahnya karena baru saja pulang dari mesjid, Pria itu menatap tajam ke arah pemuda yang baru dilihatnya. "Apa ucapanmu benar?" tanya suara seraknya.
Ketiganya menoleh ke sumber suara, Wulan cukup kaget, ada rasa takut di dalam hatinya, kalau Ayahnya kembali seperti dulu, tak bisa mengontrol emosi karena kemarahannya.
Tapi Faqih segera berdiri menghampiri Pak Herman. "Eh..., Assalamualaikum Pak Herman," ucapnya sambil menyalami tangan Pak Herman dan menciumnya. "Mari Bapak duduk dulu! Saya dan Johan akan menjelaskan semuanya," ucapnus lagi, karena dia tau betul dengan kondisi kesetabilan fsikis dari Pak Herman.
Pak Herman mengangguk dan mengikuti ajakan Faqih. Akhirnya Faqih dan Johan menceritakan semua kebenaran yang terjadi sejak sepuluh tahun lalu, sampai hari kemarin, di mana Johan sudah berbicara dengan orang tuanya Faqih tentang Wulan, dan maksud mereka untuk bertemu terlebih dahulu dengan Ayah biologis dari Thalita. Pak Herman pun dapat mengerti, dia tak banyak bicara, yang penting bagi dirinya saat ini, adalah kebahagiaan untuk putri serta cucunya.
Faqih meminta nomor Fauzi kepada Wulan, setelah beberapa kali melakukan panggilan, tapi tak ada satu panggilan pun yang di jawab Fauzi, dia pun mengirim pesan ke nomor Fauzi, untuk janjian di suatu tempat karena Orang tuanya ingin bertemu dengannya.
***********
Jam yang melingkar di tangan Fauzi sudah menunjukan pukul 10 saat mobil hitamnya berhenti di depan gerbang rumahnya. Fauzi menarik nafas panjang saat melihat wajah tenang istrinya yang sudah terlelap bersandar di kursi mobil. Dia pun tersenyum, "Kamu capek ya, Dek?" gumamnya pelan.
Fauzi tak ingin membangunkan istrinya, dia segera membuka pintu mobil, turun dan menutup kembali pintu mobilnya dengan perlahan. Setelah membuka pintu gerbang, dia kembali masuk ke dalam mobil dan memasukan mobilnya ke garasi, lalu kembali turun untuk menutup pintu gerbang dan membuka pintu rumahnya lebar-lebar terlebih dahulu.
Perlahan Fauzi membuka pintu mobil yang berada tepat di samping Istrinya, Afifa masih terlelap, Fauzi pun segera mengulurkan tangannya untuk mengangkat tubuh mungil istrinya tanpa kesulitan.
Afifa terperanjat saat tubuhnya terasa melayang, diapun membuka matanya, namun saat sadar dirinya sedang berada dalam pangkuan suaminya, dia kembali menutup matanya, bibirnya nampak tersenyum, menikmati dekapan hangat suaminya, dalam setiap langkah lebar dari kaki suaminya. Afifa melingkarkan tangannya ke leher Fauzi, membuat Fauzi sadar kalau istrinya sudah bangun.
"Dek...? dah bangun ya?" tanya Fauzi.
"Terus yang jawab barusan siapa dong, kalo orangnya masih tidur?"
"Ruhnya," ucap Afifa masih terpejam sambil tersenyum.
"Hmmm..., cari kesempatan ya rupanya," ucap Fauzi tanpa menghentikan langkahnya menuju kamar.
"Biarin aja, suka-suka Fifa dong."
"Idih..., manjanya istriku."
"Manja juga sama suaminya ini."
"Hmmm..., oke deh, tapi ada hadiahnya ya setelah ini," jawab Fauzi mulai menggoda.
"Hadiah apa?"
"Lanjutin yang tadi sempat tertunda," bisik Fauzi di telinga Afifa, membuat Afifa langsung memukul bahu Fauzi.
Fauzi menidurkan Afifa perlahan di tempat tidur, "Aku tutup garasi dan pintu dulu ya, kamu siap-siap," ucapnya sambil mengedipkan mata.
"Ih..., gak capek apa?" tanya Afifa, namun tak di jawab oleh Fauzi yang sudah melangkah keluar kamar.
Tak lama Fauzi kembali, Afifa baru saja keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya, Fauzi memeriksa ponsel yang sejak maghrib tadi tidak di lihatnya. Terdapat 4 kali panggilan dari nomor yang tidak di kenalnya, lalu dia pun memeriksa beberapa pesan yang ternyata ada pesan dari nomor yang tadi melakukan panggilan namun tak sempat tetangkat olehnya.
Assalamualaikum, Zi! ini Aku Adhitama, maaf sebelumnya telah mengganggu waktumu, aku mau minta waktumu sebentar, bisakah besok kita bertemu di cafee A? ada hal yang sangat penting yang harus kita bicarakan, dan aku juga ingin mengajakmu untuk bertemu dengan orang tuaku, mereka ingin bertemu dengan Ayah biologis dari putri calon menantunya, Wulan.
__ADS_1
Terimakasih sebelumnya. Assalamualaikum.
Fauzi terdiam membaca pesan itu, terutama saat membaca kalimat orang tua Faqih ingin bertemu dengannya, dia mengira-ngira apa yang akan di bicarakan mereka padanya?.
"Kenapa, Kak?" tanya Afifa setelah selesai mengganti pakaiannya, dia menghampiri Fauzi.
Fauzi menyerahkan ponselnya ke arah Afifa yang masih menyala memperlihatkan pesan yang tertera disana.
"Adhitama, itu temennya Kak Aji yang berniat baik kepada Mbak Wulan kan?" tanya Afifa.
"Iya," jawab Fauzi, "Apa hubungan mereka ada kendala dari orang tuanya Tama ya?" Ucap Fauzi mengira-ngira. Dia pun duduk di tepian tempat tidur.
"Sepertinya begitu, Kak!" Afifa ikut duduk disamping Fauzi, "pantesan tadi siang saat Fifa ketemu dengan Mbak Wulan di sekolah Thalita, dia nampak murung dan sedih banget, mungkin ada hubungannya dengan itu,"
"Hmmm..., terus Orang Tuanya Tama juga mau bertemu dengan Kakak, ada apa ya?" Fauzi kembali berfikir.
"Kita tidak akan tau kalau tidak menemui mereka terlebih dahulu," Afifa menggenggam tangan Fauzi. "Lebih baik kita tidur sekarang, sudah malam, besok Kak Aji siap-siap untuk menemui orang tuanya Kak Tama, mudah-mudahan tidak ada hal yang tidak di inginkan."
Fauzi balik menggenggam tangan istrinya, "Iya sayang, Aku bersih-bersih dulu," ucapnya, lalu bangkit, menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.
*************
Pukul 11 malam, Nadia masih saja terjaga, meski tubuhnya terbaring, namun fikirannya terus melayang pada semua kejadian sejak sore tadi. Begitupun dengan Farid, Orang tua dan sodaranya sudah tertidur di kamar tamu, Farid masih duduk di ruang tamu, sesekali pandangannya tertuju pada pintu kamar Nadia yang tertutup rapat, sunyi tanpa suara, membuatnya ragu untuk melakukan panggilan terhadapnya.
Farid akhirnya keluar dari rumah menuju mushola yang biasa di pakai sholat, disana dia berpapasan dengan Ibu Siti yang baru saja melaksanakan Sholat Isya, karena pekerjaannya baru saja selesai.
"Eh..., Nak Farid? kok belum tidur?" tanya Ibu Siti.
"Oh..., Iya, Bu! Saya belum bisa tidur," jawab Farid.
"Hmmm..., sepertinya Nak Farid masih memikirkan kejadian tadi sore ya?" tanya Ibu Siti yang memang mengetahui kejadian itu saat beliau mengantarkan minuman ke depan.
Farid menoleh ke arah Ibu Siti, lalu tersenyum dengan agak di paksakan. "Ini hanya salah faham, Bu!" jelas Farid.
"Iya, Ibu mengerti, Ibu juga bisa merasakan bagai mana perasaan Nadia, sepertinya, Nak Farid harus lebih keras lagi meyakinkan hati Nadia, Nak Farid cobalah bicara sekarang dengan Nadia, atau telepon aja, Ibu yakin, Nadia juga belum tidur."
"Iya, terimakasih, Bu!" ucap Farid.
"Ya sudah, Ibu istirahat dulu ya," pamit Ibu Siti, dan di jawab dengan anggukan dan senyuman Farid.
Farid duduk di lantai mushola, dia mengambil ponselnya, membukanya lalu mencari kontak Nadia, cukup lama ia pandangi nomor kontak itu, sampai akhirnya dengan ragu dia mendial nomor tersebut.
Nadia yang sedang terbaring, terperanjat mendengar bunyi ponselnya, dia pun mengulurkan tangannya untuk melihat siapa yang memanggilnya malam-malam begini. Jantung Nadia berdetak lebih kencang saat melihat nama yang tertera di sana, "Mas Ariku". Dia kembali meletakan ponselnya, lalu menutup telinga dengan bantalnya sampai suara panggilan itu berhenti dengan sendirinya. Nadia bernafas lega, lalu membaringkan kembali tubuhnya. Tetapi tak lama, ponselnya kembali berbunyi, Nadia menolehnya. Lagi-lagi dari Mas Arinya, Nadia hanya menatapnya, hingga sampai pada panggilan ke tiga, Ragu-ragu Nadia ingin mengangkatnya, namun saat tangannya melihat cincin yang melingkar di jari manisnya, dia kembali mengingat kejadian sore tadi, dia pun mengurungkan niatnya dan hanya membiarkan ponselnya terus berdering.
Farid semakin gelisah, dia pun mengirimkan pesan panjang ke ponsel Nadia.
Assalamualaikum, Nad! maaf selarut ini Aku mengganggu tidurmu. Sejujurnya, malam ini aku tidak bisa tidur, hatiku terus terpaut padamu, aku takut, kejadian sore tadi terus mengganggu fikiranmu. Percayalah padaku, Nad! Janji yang aku ucapkan tadi benar-benar datang dari lubuk hatiku yang paling dalam, kita akan memulai semuanya dengan Bismillah, kita lupakan semua kejadian yang baru terjadi atau pun kejadian masa lalu kita yang pernah mengganjal di hatimu. Kali ini aku berharap, kamu memaafkan semua kesalahanku dan keteledoranku. Kamu mau kan memaafkanku dan memulai hubungan ini dengan saling percaya bersamaku?
Pesan terkirim, cukup lama Farid melihat pesan itu, sampai tanda centang duanya berubah menjadi warna biru, Farid tersenyum, karena Nadia telah membacanya.
Dengan gelisah Farid menunggu balasan dari pesannya, dia berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di depan mushola sambil memutar-mutar ponselnya berharap akan segera ada notif pesan masuk ke ponselnya. Namun sudah menunggu cukup lama, yang ditunggunya tak muncul juga. Hatinya semakin gelisah, dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, dan duduk di ruang tengah, sambil sesekali pandangannya tertuju ke arah kamar Nadia yang masih tertutup.
*************************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=