Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Kejutan...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Afifa mengusap pelan air mata di pipinya, dia pun tersentak saat suara klakson mobil berbunyi cukup kencang di depan gerbang rumahnya.


Setengah berlari dia keluar dari kamarnya menuju pintu gerbang dan langsung membukanya, Afifa terdiam, ada rasa kecewa dihatinya, karena ternyata bukan mobil suaminya yang datang melainkan sebuah taksi yang entah siapa yang berada di dalamnya.


"Anti...! Ayo masuk!" Ucap seorang gadis yang tiba-tiba menyembulkan kepalanya dari pintu penumpang yang terbuka.


Afifa tersentak, "Nadia?" tanyanya heran. "Kamu?"


"Iya, ayo cepat masuk!" pintanya lagi.


"Oh iya," ucap Afifa, dia pun menghampiri Nadia dan ikut masuk lewat pintu yang di buka Nadia. Mereka berdua duduk di kursi penumpang.


"Jalan, Pak!" Ucap Nadia kepada Pak Sopir, dan di balas dengan anggukan kepala olehnya.


"Apa yang terjadi dengan Pamanmu, Nad?" tanya Afifa setelah taksi itu melaju beberapa meter dari depan rumahnya. Tangan dinginnya memegang tangan Nadia.


"Anti tenang dulu, Anti ikut Nadia aja ya!" Jawab Nadia membalas genggaman tangan Afifa.


"Tapi, Nad! gimana Anti bisa tenang? sejak pagi Anti tidak mendapat kabar darinya, ponselnya gak Aktif, pesan Anti pun tidak juga di bacanya. Bahkan para pegawai toko juga tidak ada yang tau. Anti tidak bisa berfikir yang lain selain keselamatan Pamanmu, Apa mungkin Anti akan tenang dan diam saja?" Ucap Afifa dengan wajah yang semakin gelisah.


"Iya, An! Nadia tau, makanya Nadia ada di sini untuk mengajak Anti bertemu dengan Paman, Nadia juga gak tau apa yang terjadi dengan Paman. Antinya jangan panik ya! Nadia yakin, Paman baik-baik saja."


"Terus, dari mana kamu tau kalau Pamanmu ada di tempat yang akan kita tuju?" tanya Afifa penasaran.


"Tentu saja ada seseorang yang memberi tahu," Nadia membuka layar ponselnya, melihat Google Map lalu memperlihatkannya kepada Pak supir di depannya. "Nah! belok kanan sedikit lagi, Pak!" ucap Nadia mengarahkan tujuannya ke jalan sempit yang hanya cukup untuk satu badan mobil saja.


"Lo? kok ke tempat seperti ini, Nad?" tanya Afifa semakin heran saat melihat tempat ini terasa begitu asing baginya.


"Ini sudah benar sesuai petunjuk alamatnya, An!"


"Tapi, Siapa yang....,"


"Nah! kita sudah sampai, Ayo turun An!" Ajak Nadia setelah mobil itu berjalan hanya beberapa meter saja dari belokan tadi.


Afifa terdiam, menatap keluar kaca mobil taksi yang di tumpanginya, pandangannya berkeliling melihat sekitar tempat itu yang nampak sepi dan hanya di terangi satu lampu remang-remang yang menyala di bahu jalan. Ada satu bangunan kecil berukuran sekitar 4 kali 5 meter terbuat dari kayu jati yang berdiri kokoh di tengah kolam ikan yang cukup besar, bangunan itu di kelilingi pagar kayu di sekitarnya, terdapat pot-pot kecil berisi bunga anggrek yang tergantung di setiap tiang tepat di sudut bangunan yang berbentuk persegi empat itu. Sebuah jembatan kecil dengan panjang sekitar 7 meter yang di pagari kayu terbentang menghubungkan antara pelataran pinggir jalan dengan bangunan itu. Kening Afifa semakin berkerut. "Tempat apa ini, Nad?" tanya Afifa tanpa menoleh ke arah Nadia.


"Nadia juga tidak tau, Anti! tapi dari lokasi yang di share orang itu, ini benar tempatnya deh." Nadia membuka pintu mobil taksi di sisi kanannya, dan hendak melangkahkan kakinya.


"Tunggu, Nad!" Afifa memegang lengan Nadia, "Apa kamu yakin Pamanmu ada di sini? memangnya siapa yang mengirim pesan padamu? jangan gegabah, ini sudah malam, kita hanya dua orang perempuan."


"Kita tidak akan tau kalau belum melihatnya, Anti! Ayo!" ajak Nadia.

__ADS_1


"Tapi, Nad!" Afifa masih tidak melepaskan tangan Nadia.


"Begini saja, kita lihat dulu ada apa disana ya!" Nadia menepuk pundak Supir taksi di depannya, "Bapak jangan kemana-mana dulu! tunggu kami di sini! nanti kalau semuanya sudah aman, baru Bapak boleh pergi dari sini, nanti saya kasih uang tunggunya," ucap Nadia kepada Supir taksi.


"Baik, Neng!" ucap Supir taksi itu sambil mengangguk.


"Ayo, An!" Nadia mengangguk ke arah Afifa.


Afifa pun melepaskan pegangannnya, lalu dengan ragu membuka pintu mobil di sisi kirinya. Afifa berdiri di samping taksi menatap bangunan kecil di depannya yang nampak gelap. Ada rasa takut di dalam hatinya, tentu saja hanya satu hal yang ia fikirkan, yakni keselamatan suaminya.


"Ayo, An!" Nadia memegang lengan Afifa dan membimbingnya untuk melangkah menuju jembatan kecil itu sambil tersenyum.


Afifa menatap Nadia dengan heran, melihat senyuman Nadia yang tanpa beban ada sedikit kecurigaan di hatinya. "Tunggu! Apa kalian merencanakan sesuatu?" tanya Afifa.


"Tuh! Anti lihat saja di sana!" Nadia mengarahkan dagunya ke arah bangunan itu, bibirnya mulai tersenyum.


Ragu-ragu, Afifa memutar kepalanya ke arah bangunan kecil yang ada di tengah-tengah kolam itu, "klik...klik...klik..., lampu-lampu kecil berwarna-warni berjejer sepanjang pagar jembatan yang di injak Afifa langsung menyala, membuat Afifa sedikit menghalangi wajahnya dengan tangan karena silau.


Perlahan Afifa menyingkirkan tangan dari wajahnya, menatap lurus pada bangunan di hadapannya yang kini nampak seperti lorong lampu yang berkilauan di hadapannya. Afifa memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatannya, pandangannya tertuju pada sebuah tulisan yang terukir dari lampu-lampu berwarna merah berbentuk hati. Tak terasa bibir Afifa bergerak mengucapkan kata-kata yang tertulis indah dengan lampu-lampu yang menyala di hadapannya, "HAPPY ANNIVERSARY ISTRIKU".


Afifa tersentak, sambil menutup mulutnya, dia tertunduk dalam senyumnya, mengingat tanggal ini adalah tanggal 22 oktober, dimana 3 tahun yang lalu tepat di tanggal yang sama, Suaminya telah mengucapkan aqad dan janji suci di hadapan orang tuanya dengan di saksikan penghulu, keluarga dan tentunya Sang Maha Pencipta, untuk mengikatnya dalam satu ikatan suci pernikahan.


Perlahan Nadia memegang pundak Afifa yang masih tenggelam dalam ingatan tiga tahun yang lalu, Afifa mengangkat kepalanya menatap Nadia, dia tak mampu lagi berkata, hanya bias-bias cairan di matanya diiringi dengan senyum bahagianya.


Afifa mengalihkan pandangan ke arah yang di tunjukan Nadia. Matanya menangkap sesosok pria yang berdiri tegak di depan bangunan itu sambil memasukan kedua tangan pada saku celananya. Pria itu nampak tersenyum ke arahnya, semakin lama wajah itu semakin jelas. Seketika bibir Afifa merekah melihat sosok yang seharian ini terus di fikirkan keselamatannya kini berada dihadapannya dalam keadaan sehat dan bahkan melakukan sesuatu yang sangat manis untuknya.


Dalam sesaat Afifa tersipu merasakan perlakuan manis ini. Tapi, saat mengingat kekhawatiran dan kegelisahannya seharian ini, dia langsung menoleh ke arah Nadia denhan tatapan penuh tanya, "Kalian?"


"Yups..., tugas Nadia sudah selesai, Nadia pulang dulu ya, Selamat bersenang-senang Antiku yang cantik," Nadia menjawel dagu Afifa, lalu tersenyum dan melangkahkan kakinya kembali menuju pintu taksi.


"Eh, Nad...!" teriak Afifa.


"Sudah ya...! Nadia pulang dulu, dada papaaaaay....!" Nadia melambaikan tangannya, lalu dengan segera masuk ke dalam taksi.


Afifa hanya menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum melihat tingkah Nadia, taksi itu terus melaju sampai hilang dari pandangannya.


Suasana kembali hening, Afifa memutar tubuhnya menatap Pria yang masih tersenyum di depan bangunan itu, dan kini tangan Suaminya mulai terbentang menyambut kedatangannya.


Perlahan Afifa berjalan menapaki setiap inci dari jembatan kayu itu membuat jarak di antara mereka semakin terkikis. Kaki Afifa berhenti di jarak satu meter di hadapan suaminya.


"Kenapa berhenti?" tanya Fauzi sambil menatap lekat wajah Afifa yang tertunduk.


Afifa mengangkat wajahnya, "Kak Aji jahat! Apa Kak Aji tau? seharian Fifa memikirkan keselamatanmu, Fifa gak bisa tidur, gak bisa makan karena sudah berfikiran buruk tentangmu," ucap Afifa menatap tajam ke arah suaminya dengan matanya yang mulai basah.

__ADS_1


"Hei...Sayang..., Kok malah nangis?" Fauzi mendekatkan tubuhnya ke arah Afifa lalu merengkuhnya.


Tapi Afifa malah memukul-mukul bahu Fauzi, "Apa tidak ada candaan yang lebih buruk dari ini? kenapa Kak Aji tidak mengaktifkan ponsel atau membalas pesan Fifa? Bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu? Fifa gak mau kehilanganmu, Kak...!" Tangis Afifa pecah di pelukan suaminya.


"Sayang...Sayang, sudah jangan nangis lagi, Ayo kita masuk! Aku akan cerita semuanya," Fauzi merangkul bahu Afifa dan membimbingnya masuk ke dalam bangunan itu.


"Tunggu! tempat ini milik siapa?" tanya Afifa sambil menyeka air matanya.


"Tentu saja milik kita," jawab Fauzi.


"Kita? sejak kapan kita beli tempat ini?"


"Sejak aku tau kalau kamu punya impian untuk punya tempat kecil di tengah kolam yang di penuhi ikan seperti ini, aku terus mencarinya dan aku menemukan tempat ini satu bulan yang lalu, aku meminta Mang ujang untuk membangun tempat ini sebagai kejutan untukmu," Fauzi kembali melangkah membimbing Afifa masuk.


Pintu terbuka, Pandangan Afifa berkeliling menatap setiap sudut ruangan, ada sebuah tempat tidur dengan meja kecil disampingnya yang terdapat alat sholat di atasnya, satu sofa dengan meja besar berisi penuh makanan, dapur kecil lengkap dengan peralatan masaknya, serta kamar mandi di sudut sebelah kanan. Afifa menatap suaminya, "Jadi Kak Aji menyiapkan semua ini seharian tadi?"


Fauzi tersenyum dan mengangguk.


"Ih..., dasar ya! bikin orang khawatir aja!" Afifa menyikut lengan suaminya.


"Tapi suka kan?" tanya Fauzi.


"Hmmm...," Afifa berfikir sejenak lalu berbalik ke arah suaminya, bibirnya tersenyum menatap mata sayu Fauzi. "Tapi jangan lakukan lagi hal seperti siang tadi! Fifa gak suka, kalau Fifa jantungan gimana? mana lagi hamil lagi," Afifa sedikit cemberut.


"Oke sayang...," Fauzi memegang dagu Afifa, "malam ini kita nginap disini ya, kamu pasti belum makan, aku sudah siapkan makan malam spesial untuk kita berdua," Fauzi tersenyum sambil meraih pinggang Afifa dengan tangan kanannya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya untuk mengucapkan selamat malam ala dirinya. Keduanya tersenyum, mereka pun duduk di atas sofa panjang untuk menyantap makan malam romantisnya yang sengaja Fauzi persiapkan dengan sedetail mungkin.


Dan malam ini pun berlalu dengan cepatnya, karena mereka melewati malam indah ini dengan saling bicara, mengungkapkan semua rasa yang tertanam semakin bersemi di dalam jiwa mereka, sambil terus bersyukur atas semua karunia dan kebahagiaan yang seakan tertumpah pada diri mereka saat ini.


***************************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamualaikum Readers..., mohon maaf ya saya masih ingin exis di novel ini dengan memasukan tanggal pernikahan saya 🤗✌.


Sebenarnya saya ingin cepat menamatkan cerita ini karena ingin segera menggarap karya baru saya yang sudah saya persiapkan. Tapi kok sepertinya saya masih gak rela berpisah dengan kemesraan mereka. Jadi di part ini di buat Sweet dulu deh 😀😉.


Duh... jadi baper diri saya... Maaf ya hehe...🙏😊.


Tetap like, vote dan komentar ya 🤗.


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘

__ADS_1


By : Rahma Husnul


__ADS_2