
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Hari minggu pagi, Rumah Wulan sudah sibuk. Mobil cathering Dapur Mungil milik Mbak Tria sudah terparkir di depan rumah Wulan. Para Pegawainya satu-persatu membawa hidangan dari dalam mobil dan menatanya di meja prasmanan yang sudah di sediakan oleh team Yuyun Wedding Organizer.
Fauzi dan Afifah sudah datang sejak pukul 5 pagi tadi dengan mengenakan seragam keluarga karya dari SS Colection. Begitu datang, mereka langsung menuju kamar Thalita dan mempersiapkan anak itu secantik mungkin dengan pakaian yang sama dengan mereka.
Teh Yuyun terus berkutat dengan peralatan makeupnya di kamar pengantin, merias wajah Wulan dengan teliti dan detail pada setiap inci bagian wajahnya. Baju pengantin berwarna putih yang terjuntai hingga ke lantai menyelimuti tubuh Wulan yang tinggi semampai, menambah kesan anggun dan cantik dirinya yang memang sudah cantik.
Wulan duduk di depan cermin. matanya lurus menatap bayangan dirinya dengan balutan baju pengantin dan kerudung yang dihiasi aksesoris bunga melati asli yang terjuntai ke dadanya. Sungguh, dia tak percaya dengan penampilan dirinya kali ini. Pakaian ini, hiasan ini, yang selalu di impikan setiap gadis di usia matangnya, begitupun dengan dirinya. Fikiran Wulan kembali pada masa-masa pahitnya, dimana dia harus mengandung tanpa melewati proses seperti gadis-gadis pada umumnya. Dia juga mengingat pernikahan sirinya dulu yang jauh sekali dari harapan para gadis tentunya. Ungkapan akad dari Suaminya dulu hanya di saksikan oleh Ayahnya, seorang Ustad dan dua orang saksi dari tetangganya saja.
Tak terasa bulir bening lolos dari kedua matanya, membuat Teh Yuyun segera menghampirinya dengan membawa tisyu. "Hei, Lan! Calon suamimu aja belum datang, kok udah nangis aja si?" tanya Teh Yuyun sedikit menggodanya.
Wulan tidak menjawab, dia hanya tertunduk sambil mengusap pelan air mata di pipinya.
"Sudah! Aku ngerti kok perasaanmu, Lan! yang lalu biarlah berlalu, kini saatnya kamu bahagia, jangan terus melihat ke belakang. Lihatlah masa depanmu yang siap membahagiakanmu... Ya!" Ucap Teh Yuyun sambil tersenyum menyemangati sahabatnya itu. Mereka sudah bersahabat sejak 3 tahun yang lalu, setelah Wulan terjun pada dunia Fashion dan dipertemukan pada sebuah seminar. Sejak saat itu, tak jarang Teh Yuyun menggunakan baju rancangan Wulan sebagai sponsor dalam WO nya. Sampai mereka begitu dekat dan tak ada satupun yang disembunyikan dari keduanya.
Wulan mengangguk, "Terimakasih, Teh Yun!" ucapnya pelan.
Suara riuh terdengar dari luar rumah menandakan iring-iringan calon pengantin Pria sudah datang.
"Nah..., Pangeranmu sudah datang, ayo tersenyumlah!" Ucap teh Yuyun sambil menempelkan telapak tangannya di bawah dagu Wulan.
Wulan tersenyum dan mengangguk, nampak binar kebahagiaan dari kedua matanya, meskipun jujur, jantungnya terus berdegup kencang menantikan setiap detik waktu yang terus berjalan menuju saat itu.
Fauzi dan Afifa segera keluar dari kamar Thalita sambil menuntun tangan anak itu yang sudah ia dandani dengan cantik. Ketiganya berjalan menuju pintu depan, untuk ikut menyambut calon mempelai Pria.
Pak Herman sudah bersiap dengan setelan Jas berwarna abu tua didampingi sodara-sodaranya yang berseragam sama dengan Afifa.
Nampaklah calon mempelai Pria yang berdiri tegap menggunakan kemeja putih yang dibalut jas hitam dipadukan dengan celana kain warna hitam pula. Di dada kirinya terselip hiasan bunga kecil berwarna merah menampakan aura berbeda dari tubuh proporsionalnya.
Lantunan sholawat dari suara merdu Teh Santi guru ngaji Thalita terus berkumandang, menyambut kedatangan rombongan Mempelai Pria. Ritual penyambutan di lakukan mulai dari pengalungan bunga melati oleh keluarga mempelai wanita kepada calon pengantin sampai pengiringan menuju tempat aqad yang di gelar di depan pelaminan.
Pak herman sudah menunggu disana dengan tersenyum sambil mengulurkan tangan kepada calon menantunya.
Wulan dibimbing keluar dari kamar oleh Mbak Yuyun, lalu mendudukannya di atas karpet di ruang depan, Afifa yang melihat kehadiran Wulan di sana segera menghampirinya, "MasyaAlloh, Mbak Wulan cantik sekali," ucap Afifa sambil mendudukan dirinya disamping Wulan.
Wulan tersenyum sambil menggenggam tangan Afifa. "Makasih, Fa!"
Afifa tersenyum dan menggenggam balik tangan Wulan yang dingin dan sedikit gemetar. "Tenang ya, Mbak! saya mengerti perasaan Mbak Wulan sekarang," bisik Afifa.
"Thalita mana, Fa?" tanya Wulan lagi.
"Tenang aja, dia bersama Ayahnya, apa mau saya panggilkan, Mbak?" tanya Afifa.
Wulan mengangguk, Afifa segera berdiri dan menghampiri suaminya yang sedang menggandeng bahu Thalita di teras rumah.
"Sayang, Bunda Wulan mau bertemu sama kamu," bisik Afifa di telinga Thalita.
__ADS_1
Thalita menoleh, "Dimana, Bund? memangnya Bunda udah keluar dari kamar?" tanya anak itu.
"Itu di rumah, lagi nunggu kamu," Afifa tersenyum, lalu menoleh ke arah suaminya. "Fifa nemenin Mbak Wulan di dalam ya, Kak!"
"Iya, hati-hati! jangan terlalu capek!" ucap Fauzi.
"Iya, Ayah..." Afifa mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.
Fauzi membalas senyum Afifa, lalu mengangguk. Afifa menuntun Thalita masuk ke dalam rumah untuk menemui Ibunya.
"Sayang..., Peluk Bunda!" Ucap Wulan saat melihat Putrinya sudah muncul di hadapannya.
Thalita terdiam, lalu menoleh ke arah Afifa, dia pun menghampiri ibunya setelah mendapat anggukan dari Afifa.
Wulan tak bicara, dia hanya memeluk erat putrinya, lalu menciumi wajah anak itu bertubi-tubi. tak terasa air matanya kembali mengalir. "Bunda sayang Thalita," ucap Wulan di sela isakannya.
"Bunda jangan nangis, Thalita tau kok kalau Bunda sayang sama Thalita. Thalita juga mau Bunda bahagia. Iya kan Bunda Fifa?" Thalita menoleh ke arah Afifa.
Afifa mengangguk. Teh Yuyun segera mengambil tisyu dan menghapus pelan air mata dari wajah Wulan. "Udah dong, Lan! riasannya jadi luntur ni, aku yang capek nanti," gerutu teh Yuyun sambil tersenyum tentunya.
"Oh ho... iya, maaf ya, Teh! Teteh jadi repot gara-gara aku yang cengeng," ucap Wulan sambil tersenyum dengan mata yang masih basah.
"Hehe..., enggak, becanda kok, Lan!" ucap Teh Yuyun.
Keduanya tersenyum, begitupun dengan Afifa dan Thalita.
"Saya terima nikahnya Wulan Mulyani Binti Herman Maulana dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dibayar TUNAi!" Suara Faqih lantang tanpa jeda sedikitpun.
Wulan yang sejak tadi menunggu di dalam rumah dengan perasaan waswas langsung sujud Syukur. Suara Faqih saat mengucapkan Aqad terdengar menggelegar di telinga Wulan. Afifa merangkul tubuh Wulan yang tengah sujud, Wulan mengangkat kepalanya, lantas menangis sesenggukan dipelukan Afifa.
Semua orang riuh saat mengucapkan kata "SYAH" semuanya tertawa bahagia, Pak Herman tak mampu membendung air mata bahagianya, diapun memeluk Pria yang kini sudah resmi menjadi menantunya.
MC mempersilahkan Mempelai Wanita menuju pelaminan. Teh Yuyun kembali sibuk membetulkan riasan wajah Wulan, dia tau persis kalau hal ini akan terjadi, maka diapun sudah siap siaga dengan semua alat perangnya. Setelah dirasa cukup, Teh Yuyun segera bangkit untuk membimbing Wulan agar berdiri, Afifa dan Teh Yuyun memapah Wulan sampai ke pelaminan.
Faqih nampak tak sabar menunggu kedatangan Wanita yang kini sudah syah menjadi istrinya, berkali-kali matanya melirik ke arah pintu rumah, menampakan wajah gugupnya.
Seketika senyumnya mengembang, saat wanita yang ditunggunya keluar, matanya terus terarah pada wajah Wulan yang kini nampak begitu cantik dengan riasan sederhana namun elegant.
Suasana di luar rumah, langsung riuh memuji kecantikan mempelai wanita. Afifa dan Teh Yuyun melepaskan pegangannya saat tangan Faqih terulur menyambut kedatangan Wulan ke pelaminan. Wulan terdiam menatap tangan Faqih, lalu wajahnya terangkat menatap pria dihadapannya yang sedang tersenyum ke arahnya. Mata keduanya bertemu cukup lama, sampai senyum itupun terukir di bibir Wulan.
Ragu-ragu Wulan meletakan tangannya di atas tangan Faqih, dan berjalan menghampiri Pria yang kini sudah Syah menjadi Suaminya. Wulan kembali menundukan kepalanya, saat sadar pandangan semua orang tertuju padanya.
Acara resepsi pun berlangsung, satu persatu para tamu undangan menyalami mereka berdua, untuk mengucapkan selamat dan memberikan do'a untuk keduanya, Begitupun dengan Fauzi dan Afifa.
Para petugas cathering segera membuka hidangan untuk di santap oleh para tamu undangan.
Fauzi duduk dikursi berhadapan dengan Afifa dan Thalita sambil menikmati hidangan, "Sayang, kok Aku gak lihat Nadia? kemana dia?" tanya Fauzi.
__ADS_1
"O iya yah, kemana dia? tadi jam 7 Fifa telephon katanya mau berangkat bersama Mama dan Papa. Mama dan Papa sudah sampai, tapi dia kok gak ada?" jawab Afifa.
"Nanti kita tanya Mama aja, kalau beliau sudah selesai makan," ucap Fauzi.
Afifa mengangguk dan melanjutkan makannya.
Tak lama, pandangan Afifa tertuju pada sepasang anak muda yang berjalan beriringan memakai pakaian batik copelan dengan corak yang sama. Keduanya tersenyum ke arah Afifa. Afifa yang baru melihat jelas wajah keduanya langsung menyikut lengan Fauzi, "Kak! lihat itu!" ucap Afifa tanpa mengalihkan pandangannya dari pasangan muda itu.
"Siapa?" tanya Fauzi sambil menoleh ke arah yang di pandang Afifa. Mulut Fauzi menganga saat matanya tertuju pada keduanya. Dia pun menyimpan sendoknya dan berdiri hendak menghampirinya.
"Mau kemana? Udah duduk aja, biar mereka yang kemari," bisik Afifa sambil tertawa geli.
"Eh, Kak Nadia...!" teriak Thalita yang baru saja melihat Nadia.
"Hei Thalita...! jawab Nadia sambil mengembangkan senyumnya. Lalu segera mendahului langkah Farid menuju ke arah ketiganya.
"Wah wah..., ada kemajuan ni?" Goda Fauzi sambil menatap Farid.
"Hehe..., Iya, Zi!" Farid cengengesan. "Kita segera nyusul," ucapnya kemudian.
"Hmmm..., sepertinya aku ketinggalan berita ni? Kapan?" goda Fauzi lagi.
"Ha ha ha..., nanti kita bicara sesama laki-laki deh, Nadia dah siap kok, Iya kan, Nad?" Farid menoleh ke arah Nadia.
"Hmmm...gitu deh," Ucap Nadia tersipu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Afifa.
"Di lama-lamain juga gak baik kan, Kak!" Afifa menimpali.
"Nah itu dia, makanya aku pengen cepet-cepet," ucap Farid lagi, membuat semuanya tertawa. Obrolan mereka pun terus berlangsung sambil menyantap hidangan masing-masing.
Afifa tersenyum di dalam hatinya, bersyukur atas semua kebahagiaan yang kini dapat di rasakan oleh semua orang di sekelilingnya, dia pun berdo'a semoga kebahagiaan itu akan terus menyelimuti keluarganya, terlebih saat dia mendapatkan kembali anugrah terindahnya yang dulu sempat di ambil kembali oleh pemiliknya. Perlahan Afifa mengusap perutnya yang kini sudah menginjak usia hampir 4 bulan. "Kamu tetap sehat ya, Nak! Kamu adalah Amanah dari yang maha kuasa untuk Bunda, Bunda akan terus menjagamu, Bunda tak ingin lagi kehilanganmu, Semoga Alloh mengizinkan Bunda untuk merawatmu, mendidikmu, membimbingmu hingga kau menjadi manusia yang berguna dan akan terus menjaga kokohnya Agama." Batin Afifa.
********************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hmmm..., nantikan pernikahan selanjutnya ya 😉.
Jangan dulu beranjak dari Afifa! kebahagiaan Fauzi akan tergambar saat buah hati yang dikandung Wanita penyejuk hatinya lahir ke alam dunia 🤗🤗🤗
Tetap like, vote, komen...😉
I LOVE YOU READERS...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul
__ADS_1