
Happy Reading...⚘⚘⚘
******
Selesai sholat dzuha keduanya langsung sarapan, Afifa sengaja menunggu suaminya pulang untuk sarapan bersama, padahal semua anggota keluarga lain yang ada dirumah sudah sarapan sejak pagi tadi.
Mereka menyantap sarapan sambil sesekali saling menyuapi, entahlah... rasa makanan yang diberikan dari suapan tangan suaminya terasa begitu nikmat dilidahnya, padahal ini makanan yang sama seperti pagi tadi saat dia mencoba makan sendiri dan ternyata keluar lagi.
Mama dan Papa sedang bersama anak-anak di taman belakang, terdengar celoteh riang Cici dan Talita saling menimpali, sesekali mereka tertawa karena digoda Dika dan kakeknya.
Afifa dapat melihat jelas keberadaan Mereka dari balik jendela dapurnya, mereka tampak asyik menaburkan pakan dipinggir kolam kecil berisi ikan mas warna-warni, Tawa Talita dan Cici semakin lebar saat ikan itu menyembul menyantap makanannya.
3 bulan yang lalu Fauzi sengaja membuat kolam ikan kecil dibelakang rumah, dipinggirnya dibuat gazebo kecil tempat dia bersantai bersama istrinya, Afifa menambahkan pemanis dengan tanaman bunga dipingiran kolam, meski taman itu tidak besar, tapi tatanannya yang apik membuatnya terasa begitu nyaman dan akan betah berlama-lama duduk disana sambil memberi pakan ikan warna-warninya yang mulai membesar.
"Anti...,Anti...," Panggil Cici.
Afifa segera menghentikan tangan suaminya yang memegang sendok berisi makanan kedalam mulutnya.
"Iya sayang?" jawabnya celingukan karena ketahuan Cici.
Fauzi menarik kembali tangannya, lalu memasukannya kedalam mulutnya sendiri.
"Udah besar kok disuapin? Bunda bilang kalau sudah besar harus mandiri, makannya harus sendiri", celoteh Cici menggemaskan.
"Ups...iya, Anti lupa, hehe...", Afifa tersenyum, badannya sedikit membungkuk agar sejajar dengan anak berusia 5 tahun itu, "ada apa sayang?"
"Boleh pinjam ponsel Anti sebentar?" ucap bibir mungil Cici.
"Buat apa si Ci? Kok pinjam ponsel Anti?", tanya Fauzi disela makannya.
"Untuk ambil gambar ditaman belakang".
"Oh...sebentar!" Afifa mengambil ponsel disaku gamisnya lalu menyerahkannya kehadapan Cici, "ini sayang".
"Hati-hati pegangnya! jangan dipakai mainan!" Ucap Fauzi pada anak itu.
"Iya Paman", Ucapnya kegirangan, kaki kecilnya berlari kembali ketaman belakang.
"Pa eyang, ini ponselnya", Cici menyerahkan ponsel kepada kakeknya.
"O iya," Papa mengambil ponsel dari cucunya, dengan mudah Papa membuka layar, yang memang sengaja tidak dipakai kata kunci oleh Afifa, "Ayo kalian duduk disana, Dika juga ya! Pa eyang ambil gambar kalian", pintanya pada istrinya, cucunya serta Talita.
"Enggak ah...males foto-foto, kayak cewek aja", Jawab Dika sambil menjauh mengitari kolam.
"Ya udah kalo gak mau," jawab Mama pada Cucu laki-lakinya, Mama mengalihkan pandangannya pada dua gadis kecil disampingnya, "Sini sayang, Foto bareng Mak Eyang!" tangannya segera meraih tangan Cici dan Talita, lalu menggandeng keduanya sambil duduk dipinggiran gazebo.
"Cekrek, cekrek..." Beberapa pose mereka ambil, lalu mereka tertawa riang.
Entah mengapa Afifa melihat mertuanya begitu akrab dengan Talita, padahal ini adalah pertemuan mereka yang kedua kalinya setelah sebelumnya sempat bertemu dihari kedua setelah hari raya. Waktu itu Wulan datang bersilaturahmi ke rumah Afifa dan Mama sedang menginap juga disana.
Papa kembali bergabung bersama mereka, melihat hasil jepretannya.
"Wah bagus-bagus hasilnya", Papa memperjelas gambarnya, "Lihat deh, Mata Talita mirip sama matanya Mak eyang ya?"
"Deg..." Jantung Afifa berhenti sejenak, samar-samar ia mendengar ucapan mertuanya, Apa aku tidak salah dengar? gumam Afifa.
__ADS_1
Dia menatap suaminya yang masih asyik menikmati sarapannya.
"Kenapa Dek?" tanya Fauzi yang sadar akan tatapan istrinya.
"Ah...gapapa", Afifa mengulas senyum, mungkin dia yang salah dengar, buktinya Fauzi hanya diam saja seperti tidak mendengar apapun.
"Kangen ya?" Goda Fauzi sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kangen apanya?, Kita kan lagi bersama".
"Kirain, pengen mengqodho yang semalem", tatapannya mulai nakal sambil menggigit ujung sendok yang dipegangnya.
"Apaan si...ada Qodho segala, kayak puasa aja", Jawab Afifa tersipu sambil mencubit lengan suaminya.
"Ha ha ha...". Fauzi tertawa lepas.
Perbincangan masih berlangsung di taman belakang, ponsel Afifa berpindah tangan bergantian pada Mama dan anak-anak yang penasaran dengan hasil jepretan Papa.
Setelah sarapan Fauzi menceritakan keadaan Dewi di rumah sakit kepada orangtuanya, Mama langsung terdiam dan menitikan air mata, tak menyangka penyakit putrinya begitu berat, untungnya Papa selalu hadir untuk menenangkan hati istrinya.
*****
Hari ini Afifa masih libur sekolah, setelah sholat dzuhur, Fauzi menyempatkan diri untuk datang ke tokonya.
Afifa duduk bersabdar disofa sambil memainkan ponselnya, rasa penasarannya menuntun jarinya untuk membuka galeri ponselnya melihat hasil foto di taman belakang pagi tadi.
Jantun Afifa berdegup kencang saat matanya tertuju pada wajah mertua perempuannya saat bersama Talita.
Apa ini suatu kebetulan? gumamnya, Apa mungkin wulan berbohong? sepertinya itu tidak mungkin, Wulan sudah menceritakannya dengan jelas semua kisahnya, tapi kenapa tiba-tiba muncul keraguan dihatiku.
Afifa terus berfikir, sampai Talita dan Cici datang menghampirinya untuk mengajaknya bermain, sesaat iapun terlupa dengan fikirannya.
"Eh...kalian rupanya, Waduh...maaf, Talita jadi ngerepotin kalian ya", Ucap Wulan agak kaget saat melihat kedatangan Fauzi dan Afifa.
"Tidak kok Mbak, saya malah senang kalau Talita bisa lebih lama tinggal bersama kami", Ucap Afifa ramah.
Wulan tersenyum, "Talita gak nakal kan?" menunduk ke arah putrinya.
"Enggak kok Bun, Talita seneng, disana ada Cici, Pa eyang dan Mak Eyang", jawab Talita.
"O ya?"
"He'em", Talita tersenyum sambil mengangguk.
"Selamat ya, akhirnya kalian berdua akan punya anak sendiri", Ucap Wulan, kembali mengalihkan pandangannya ke arah Fauzi dan Afifa.
"Terimakasih Mbak", Jawab Afifa.
"Wulaaan...!" teriak seseorang dari lantai atas rumahnya, suaranya terdengar tegas namun agak serak, seperti suara seorang pria yang sudah berumur.
"Iyaaa...!" Jawab wulan agak kencang agar terdengar oleh orang yang memanggilnya.
"Siapaaa...?" Tanya orang itu lagi.
"Bukan siapa-siapa...!" Ucapnya lagi. Wulan kembali menatap Afifa.
__ADS_1
"Sekali lagi terimakasih ya, maaf jika Talita merepotkan", Wulan mengangguk penuh hormat kehadapan Fauzi dan Afifa, lalu meraih tangan Talita agar segera masuk kedalam rumahnya, "Assalamualaikum", ucapnya, lalu menutup pintu tanpa menunggu jawaban salam dari Fauzi maupun Afifa.
Afifa dan Fauzi hanya saling pandang, setelah menjawab salam, mengingat sikap aneh yang ditunjukan Wulan kali ini, entah apa yang terjadi dengannya, sikapnya sungguh lain dari biasanya.
Dewi dirawat selama 3 hari di Rumah sakit, dihari ketiga Fauzi menjemputnya dan mengantarnya ke rumah orang tuanya.
Dewi memulihkan kesehatannya selama satu minggu di Bandung, setelah itu mereka kembali ke Jakarta karena Nadia mulai masuk kuliah. Begitupun dengan keluarga Hanita, mereka harus segera kembali ke Semarang.
Kini dirumah Afifa hanya tinggal mereka berdua, semua kembali sepi seperti biasanya, namun kehangatan tetap hadir dihati mereka karena kemesraan yang tak pernah lepas dari keduanya.
*****
Hari-hari berlalu dengan cepat, Usia kandungan Afifa sudah menginjak 6 bulan, Afifa kembali mengajar seperti biasa.
Hari ini adalah hari pertama di tahun ajaran baru, Afifa mulai diberi tugas untuk menjadi wali kelas, tugas ini terasa berat bagi Afifa yang masih belum punya banyak pengalaman dibanding guru-guru yang lainnya disana, ditambah lagi saat ini kehamilan Afifa sudah mulai membesar, yang tentu saja akan sedikit menghambat gerak geriknya, namun Afifa menerima tugas itu sebagai salah satu bukti kepercayaan kepala sekolah terhadapnya, tentu saja setelah mengantongi izin dari suaminya.
Nisa adiknya Afifa sudah masuk SMP, dia sekolah ditempat Afifa mengajar, begitupun dengan Talita yang sudah masuk kelas 2 SD, Afifa masih sering bertemu dengan Talita di sekolah, namun Afifa tidak pernah menemukan Talita dirumahnya saat ingin mengajaknya menginap.
Kabar Kak Dewi saat ini sudah membaik, setidaknya itulah yang Dewi katakan saat Fauzi menelponnya untuk bertanya kabarnya.
*****
Suatu malam, Afifa terbangun karena suara pintu yang diketuk seseorang berkali-kali dengan keras, namun suaranya terdengar samar-samar karena derasnya hujan.
Afifa sempat terdiam, masih terbaring dengan mata terbuka mempertajam pendengarannya, namun suara ketukan itu semakin lama semakin jelas ditelinga Afifa.
Afifa menatap jam dinding yang tergantung didinding kamarnya menunjukan pukul 11 malam, dilihatnya suaminya masih terlelap disampingnya, "Kak..., bangun!" menepuk pelan bahu suaminya.
"Ada apa?" Suara Fauzi serak, tubuhnya menggeliat, ditatapnya wajah istrinya dibalik cahaya remang-remang lampu tidur, lalu menatap jam dinding, "Baru jam sebelas, kenapa terbangun?".
"Ada yang mengetuk pintu didepan rumah".
"Siapa?"
"Entahlah, tapi ketukannya terdengar buru-buru, lihatlah sebentar!" pinta Afifa.
"Tok tok tok...!" Suara pintu diketuk lagi.
Fauzi langsung loncat dari tempat tidur, keluar kamar dan menuju pintu depan.
Afifa mengekor dibelakang suaminya.
Fauzi memutar anak kunci dan membuka pintu rumah perlahan, seseorang tengah berdiri mematung disana, tubuhnya menggigil, rambut dan pakaiannya basah kuyup karena terguyur hujan, nafasnya naik turun tak beraturan, matanya merah menampakan amarah yang memuncah penuh kebencian yang telah lama tertahan.
"Kamu???" ucap Fauzi kaget bukan main.
****************
Bersambung...❤❤❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon maaf baru bisa Up lagi, karena ada beberapa hal yang harus author kerjakan.
Tetap, komentar kalian yang bikin author semangat...😊
__ADS_1
LOVE YOU ALL...❤❤❤😙😙😙
By : @Rahma Husnul#