
Happy Reading...⚘⚘⚘
Fauzi memutar anak kunci dan membuka pintu rumah perlahan, seseorang tengah berdiri mematung disana, tubuhnya menggigil, rambut dan pakaiannya basah kuyup karena terguyur hujan, nafasnya naik turun tak beraturan, matanya merah menampakan amarah yang memuncah penuh kebencian yang telah lama tertahan.
"Kamu???" ucap Fauzi kaget bukan main.
Afifa yang berdiri dibelakang suaminya setengah meloncat menghambur ke luar pintu saat melihat siapa orang yang datang, "Nadia...? Kamu kenapa?" tangan Afifa mencengkram erat kedua lengan basah gadis itu sambil mengguncang-guncang tubuhnya yang hanya mematung dihadapannya.
Tak sepatah katapun yang keluar dari bibirnya yang pucat dan menggigil itu, matanya yang semula merah berubah menjadi tatapan kosong, tubuhnya oleng dan tiba-tiba saja terkulai lemah dihadapan Afifa.
"Nadia...!" Teriak Afifa.
Fauzi meloncat berusaha menopang tubuh keponakannya yang hampir ambruk dipelukan istrinya, "Kamu mundur Dek, dan ambilkan handuk kering, Aku akan membaringkannya disofa", secepat kilat Fauzi menggendong tubuh Nadia yang sudah tak sadarkan diri.
Afifa bergegas ke kamarnya, tak lama dia sudah membawa handuk dan pakaian ganti untuk Nadia, lalu segera mengganti pakaiannya yang basah.
Fauzi membawa obat gosok dan meminta istrinya untuk menggosokannya ke seluruh tubuh Nadia.
"Bagaimana kamu bisa sampai disini dalam keadaan seperti ini Nad?" tanya Afifa khawatir disela menggosok tubuh Nadia yang belum juga sadar.
"Aku yakin, ada sesuatu yang terjadi padanya, Aku harus cari tau", Fauzi melangkah menuju kamarnya, lalu keluar lagi dengan ponsel ditangannya dan meletakannya didepan telinga, wajahnya gelisah menunggu panggilan itu tersambung.
"Ah...kenapa tidak diangkat juga si Kak Dewi?" Fauzi menutup ponselnya, lalu kembali melakukan panggilan, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari Kakaknya.
"Mungkin sudah tidur sayang", Ucap Afifa.
"Masa anak gadisnya tidak ada dirumah dia diam saja? heran jadinya".
Afifa masih memperhatikan gerak-gerik suaminya yang gelisah, dia kaget saat tangannya disentuh tangan dingin milik Nadia.
"Nadia...?, Alhamdulillah kamu sudah sadar", Afifa memandang Nadia dengan mata berbinar.
Fauzi segera menghampiri keponakannya yang masih terbaring lemah, "Kamu kenapa Nad?"
Nadia membuka matanya yang merah dan sembab, lalu bangkit dan menghambur ke pelukan Afifa sambil menangis histeris, suara tangisnya semakin lama semakin kencang, membuat Afifa dan Fauzi saling pandang karena keheranan.
"Nadia ada apa?" Tanya Afifa sedikit mengguncang tubuh Nadia dalam pelukannya.
Nadia malah semakin mempererat pelukannya ke tubuh Afifa, suara tangisnya semakin keras.
Afifa merasa iba dengan kondisi Nadia yang terus saja menangis, diapun membalas pelukan Nadia dan mengusap rambut basah Nadia dengan tangan kanannya.
"Nad...katakan sesuatu, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Fauzi semakin bingung dengan tingkah keponakannya.
"Dia jahat Paman, dia...dia benar-benar jahat!", Nadia menutup wajah dengan kedua tangannya, air matanya terus mengalir, menganak sungai dikedua pipinya.
"Oke... oke, Paman akan dengarkan semua ceritamu, sekarang kamu tenang dulu, kamu sudah ada dirumah Paman".
Afifa duduk disamping Nadia, merangkulnya dan membiarkannya menangis tersedu-sedu dipelukannya, Afifa menepuk-nepuk pelan bahu keponakannya.
Nadia mulai tenang dan melepaskan pelukannya, beberapa tarikan nafas panjang keluar dari mulutnya.
Fauzi berdiri dan melipatkan kedua lengannya sambil memperhatikan istri dan keponakannya.
__ADS_1
"Anti...Paman, maaf kalau selama ini Nadia gak pernah jujur", ucap Nadia kemudian, tangannya berusaha menghapus sisa air mata dipipinya.
"Maksudnya?" tanya Fauzi.
"Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin pergi dari rumah itu Paman",
"Kenapa?" tanya Fauzi lagi.
"Sejak Bunda menikah lagi aku selalu memberontak, bukan karena pria itu tidak punya pekerjaan dan hanya mengandalkan uang Bunda, tapi aku pernah melihatnya bersama wanita lain waktu pulang sekolah, aku sudah mengatakan kejadian itu kepada Bunda, tapi Bunda tidak pernah percaya bahkan terus saja membelanya, aku kesal sehingga melampiaskan semuanya dengan caraku sendiri, membuat ulah disekolah, aku tidak peduli dengan ucapan Bunda ataupun guru-guruku disekolah yang aku rasa hanya menginterogasiku dan menceramahiku karena semua kenakalanku saja, akhirnya aku menemukan suatu tempat dimana aku merasa didengarkan dan dihargai, mereka adalah anak-anak yang senasib denganku, anak yang kurang perhatian dari orangtuanya, akupun bergabung bersama mereka.
Saat jam sekolah Kami selalu berkumpul di bekas bangunan impres yang sudah lama ditinggalkan, sekedar ngobrol, bermain gitar ataupun menghisap rokok untuk menghilangkan kejenuhan kami, dan aku akan pulang saat menjelang malam"
Fauzi mengernyitkan dahinya, tanda belum mengerti dengan ucapan keponakannya.
Afifa masih setia mendengarkan Nadia disampingnya.
"Terus kenapa kamu tidak pulang sebelum malam?"
"Karena aku tidak sudi hanya berdua saja berada dirumah bersama pria itu saat bunda masih ditoko".
"Memangnya Mulyana tidak membantu ibumu?" tanya Fauzi
"Kadang-kadang, tapi dia lebih sering dirumah, bersantai bersama ponselnya," Nadia terdiam sejenak, lalu menghela nafas panjang, "Dan satu lagi yang membuatku tidak nyaman", ucap Nadia sambil tertunduk.
"Apa?"
"Dia selalu menatapku dengan tatapan tidak pantas".
Afifa terus menenangkan Nadia dengan menepuk-nepuk punggungnya, "Apa dia tidak berbuat sesuatu yang lebih jauh?" tanya Afifa.
Nadia terdiam, airmatanya mulai tergenang, "Waktu itu belum terjadi apa-apa karena aku selalu menghindarinya, aku senang saat Bunda mengantarku untuk kuliah di Semarang, tapi mendengar bunda sering sakit akupun kembali ke Jakarta, kufikir karena aku sudah dewasa dia tidak lagi berani menatapku seperti dulu dan akan lebih menghormatiku, tapi siang tadi..." Nadia kembali menangis tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Apa yang dia lakukan?" suara Fauzi tegas, geram mendengar cerita keponakannya, jari-jari tangannya sudah terkepal menahan kekesalan pada Kakak iparnya yang tidak tahu diri itu.
"Pria bejad itu mencoba mengambil kehormatanku Paman", Tangis Nadia pecah lagi, kedua tangannya menutup wajahnya yang terus menangis.
"MasyaAlloh..." Afifa terhentak, tangannya langsung merangkul Nadia, memeluknya dan membiarkannya menangis tersedu-sedu dipelukannya, tak terasa air mata Afifa pun keluar bersama tangisan Nadia.
"Laki-laki kurang ajar tak tau diri!, aku akan buat perhitungan dengannya malam ini juga!" Fauzi mengepalkan tangan dan memukulkannya ke dinding, lalu bergegas masuk kamar, mengganti pakaian tidurnya dan mengenakan jaket. Tak lama dia keluar lagi dengan kunci mobil sudah berada ditangannya.
"Tunggu! Kak Aji mau kemana?" tanya Afifa melepas pelukan Nadia, lalu berdiri menghampiri suaminya.
"Aku akan ke Jakarta bikin perhitungan dengan laki-laki kurang ajar itu", Fauzi menatap Afifa, sorot mata kemarahan terpancar darinya.
"Sabar dulu Kak, kita dengarkan dulu cerita Nadia,"
"Cerita apa lagi?" suara Fauzi meninggi terasa seperti bentakan ditelinga Afifa.
"Jangan emosi dulu, kita belum tau kondisi Kak dewi, ayo duduk dulu, kita tanya Nadia lagi dimana dan bagaimana kondisi Kak Dewi".
Fauzi mulai luluh, dia mengikuti langkah istrinya saat menarik tangannya untuk duduk disofa tepat disamping Nadia.
Afifa ikut duduk, kini posisi Nadia diapit oleh paman dan antinya.
__ADS_1
"Apa ibumu tau soal ini?" tanya Afifa kemudian.
Nadia menggeleng, "Bunda masih ditoko waktu aku pulang kuluah siang tadi, aku tidak menemuinya lagi dan langsung lari dari rumah itu, dengan berbekal uang saku kuliahku sebesar 50ribu yang tersimpan dikantong celanaku, tidak ada yang bisa aku ingat untuk mencari perlindungan selain Paman dan Anti, aku langsung pergi ke terminal naik bis jurusan Bandung, saat kondektur meminta ongkos ternyata uangku kurang, aku memohon untuk bisa diturunkan diterminal Cimahi, mungkin karena kasihan melihatku terisak, diapun menurunkanku di terminal yang kutuju, lalu aku berjalan sampai kerumah ini karena tak sepeserpun uang ditanganku ataupun ponsel yang bisa kugunakan untuk menghubungi kalian", Air mata Nadia kembali mengalir.
"MasyaAlloh...Nadia", Afifa tak sanggup berkata-kata lagi dia kembali memeluk Nadia dengan tetesan air mata yang ikut mengalir.
Fauzi menghela nafas panjang, "Bagaimana keadaan ibumu sekarang? pasti dia sangat khawatir, kita coba menelphonnya lagi", mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Dewi kembali, setelah beberapa kali melakukan panggilan, akhirnya dia mendengar jawaban.
"Halo..., Selamat malam", terdengar suara seorang pria disebrang sana.
"Ya, Halo...maaf ini nomor Kak Dewi kan?" tanya Fauzi heran karena suara orang lain yang menjawab.
"Iya, betul Pak, apa anda keluarganya?" Tanya pria itu lagi.
"Iya betul, saya adiknya".
"Kebetulan sekali saya dari kepolisian meminta anda untuk segera datang kerumah sakit saat ini juga, Ibu Dewi sedang kritis dan tidak ada satu orangpun keluarganya disini".
"Apa?" Fauzi setengah berteriak karena kaget.
"Iya Pak, sementara Kami dari pihak kepolisian yang menghandel urusan rumah sakit, karena suaminya baru saja kami tahan".
"Tunggu Pak! maksudnya bagaimana?" tanya Fauzi lagi, suaranya semakin gelisah terdengar tidak sabaran, wajahnya tampak memerah.
"Telah terjadi pertengkaran antara ibu Dewi dengan suaminya, tadi sore beliau pingsan di kantor polisi setelah sebelumnya melaporkan kejahatan yang dilakukan suaminya terhadap putrinya, jadi kami membawanya ke rumah sakit terdekat, kami sudah mencoba menghubungi ponsel putrinya tetapi tidak juga ada jawaban".
Fuzi terdiam, telapak tangan kanannya mengusap seluruh bagian wajahnya yang bercucuran keringat menahan semua emosi yang hampir tak terbendung didalam benaknya, telapak tangannya berhenti didepan mulutnya, menahan tangis yang hampir memuncah, jika saja dia tidak ingat dengan keadaan keponakannya yang kini masih terkulai lemas dipelukan istrinya.
"Terimakasih Pak, malam ini juga saya akan berangkat dari Bandung, tolong kirim alamat lengkap Rumah sakitnya Pak".
"Baik".
"Terimakasih"
"Sama-sama"
Fauzi mengakhiri panggilannya, setelah mendapat alamat Rumah sakit tempat Dewi di rawat dia segera bersiap menemui kakaknya.
"Lebih baik Nadia disini bersamamu Dek", Fauzi menatap istrinya, "Aku berangkat sekarang ya?".
"Iya", Afifa mengangguk, "Hati-hati Kak!" meraih tangan suaminya dan menciumnya, satu kecupan mendarat dikening Afifa.
"Nad, Paman akan melihat ibumu, kamu disini bersama Anti", menepuk kembali pundak keponakannya.
Nadia hanya tertunduk menahan tangis, karena dia tidak tau apa yang harus dia lakukan saat ini, antara rasa takutnya terhadap pria itu dan rasa khawatirnya terhadap ibunya.
**********
Bersambung...❤❤❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tetap kasih semangat ya...❤❤❤😙⚘
__ADS_1