
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Faqih tersenyum, "Dan aku juga siap menjadi Ayah untuk putrimu, Meski aku tahu, Kehadiran Thalita adalah satu kesalahan yang sudah kamu lakukan di masa lalu bersama Fauzi, tapi..., aku akan menerimanya seperti anak kandungku sendiri." ucap Faqih, tanpa disadari seorang anak tengah berdiri mendengarkan ucapan mereka didepan pintu masuk menuju ruang tengah.
"Prak...!!!" pas bunga yang berdiri di atas meja kecil disamping pintu masuk, terjatuh karena gerakan tangan Thalita yang berbalik dari sana dan hendak berlari menuju kamarnya.
Wulan tersentak kaget, begitupun dengan Dokter Faqih, "Sayang? sejak kapan kamu disini?" tanya Wulan saat sadar dengan kehadiran putrinya, anak itu tengah berdiri mematung menatap penuh tanya ke arahnya.
Thalita nampak tersentak mendengar pertanyaan ibunya. "Thalita..., mau ke kamar saja Bunda," ucapnya sambil berlari menuju kamar pribadinya.
"Eh, Sayang tunggu...!" Wulan bangkit dari duduknya dan ikut berlari mengikuti langkah putrinya, lantas dengan sigap memegang lengan anak itu agar berhenti berlari, "Kamu baik-baik saja kan, Sayang?" ucapnya sambil meraba-raba wajah putrinya, penuh kekhawatiran.
"Thalita gak papa, Bunda..., Thalita hanya ingin ke kamar saja," ucap anak itu pelan.
"Sayang...sayang..., tunggu!" Wulan kembali menahan langkah Thalita, dan membalikan badannya, lalu berjongkok mensejajari tubuh anak itu, "Apa kamu mendengar semua ucapan Dokter Faqih barusan?" tanya Wulan.
Thalita terdiam dan tertunduk, dengan sabar Wulan menunggu jawaban putrinya dengan tetap memegang lengannya, lalu perlahan anak itu mengangkat kepalanya, dan memandang mata ibunya, "Apakah..., kehadiran Thalita adalah satu kesalahan, Bunda?" tanyanya pelan, nampak mata anak itu sudah mulai berkaca-kaca.
"Oh..., tidak sayang, semuanya tidak seperti yang kamu Fikirkan, Bunda sangat menyayangimu, begitupun dengan Ayah," Ucap Wulan sambil memeluk tubuh kecil putrinya. "Ayo, sayang, kita bicara sebentar!" Ajak Wulan, tapi Thalita hanya terdiam. "Ayolah sayang..., Bunda tahu kamu sudah bisa mengerti dengan situasi ini, Bunda akan menjelaskan semuanya padamu, agar kamu tidak salah faham."
Faqih yang mengerti dengan situasi ini, jelas merasa bersalah dengan semua ucapannya, dia pun berdiri dan mendekat ke arah Wulan dan putrinya. "Thalita sayang, maafkan Paman..., Paman tidak bermaksud menyakiti hati kamu, Paman sayang kepada Thalita, dan soal ucapan Paman tadi, kamu tidak perlu memikirkannya, yang penting sekarang, semua orang sayang padamu. Dan kamu tahu? satu kelahiran seorang anak itu sudah di gariskan oleh yang maha kuasa, kapan dan bagaimana ia dilahirkan, termasuk kamu, Kamu mau kan memaafkan Paman?" tanya Faqih sambil meraih tangan anak itu. "Lihat mata Paman! apa ada kebohongan dari mata Paman, kalau Paman benar-benar menyayangimu juga ibumu?"
Thalita mulai mengangkat kepalanya, menatap lekat mata Pria di hadapannya. Perlahan dia mengangguk, Lantas Wulan membimbing Thalita menuju kursi tamu agar berbicara sebentar dengan dirinya juga Dokter Faqih tentunya.
Anak itu duduk berdampingan dengan Wulan. Nampak kecanggungan dari wajahnya, bagai manapun Thalita adalah anak yang cukup cerdas untuk memahami semua situasi yang terjadi saat ini. Meski dia merasa ada satu hal yang aneh, tapi dia juga tetap menginginkan kebahagiaan untuk ibunya.
"Sayang..., Kamu sudah dengar apa yang Dokter Faqih katakan barusan, bukan?" tanya Wulan hati-hati. Thalita mengangguk. "Dengar Bunda! Kamu adalah satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidup Bunda, hidup Bunda tidak akan ada artinya tanpa kehadiranmu," ucap Wulan. "Mungkin itu adalah kesalahan Bunda di masa lalu, tapi percayalah, Kehadiranmu, sangat berharga untuk Bunda." Wulan kembali memeluk Putrinya dari samping, dan mencium keningnya cukup lama, tak terasa, cairan panas keluar dari kelopak matanya.
"Thalita..., Thalita hanya teringat dengan semua yang pernah teman-teman katakan tentang Bunda juga Thalita, dan saat ini, Thalita baru tahu, kalau semua itu adalah benar," Ucap anak itu sambil tertunduk.
"Sayaaang..., Maafkan Bunda, Maafkan semua kesalahan Bunda," Wulan tak dapat lagi membendung air matanya, "dulu Bunda begitu bodoh, Bunda tidak berfikir panjang, dan kini, kamu juga mendapatkan dampak dari kesalahan Bunda, Maafkan Bunda, Sayang...," Wulan terus menangis dan terisak sambil memeluk anak itu. Sebagai seorang anak Thalita pun tak mampu membendung air matanya, cairan itupun mengalir menganak sungai di kedua pipi anak itu.
__ADS_1
Faqih menatap haru pasangan ibu dan anak dihadapannya, sampai tak terasa dia pun meneteskan air mata.
Suasana hening tercipta beberapa saat, sampai isakan dari Wulan dan Thalita sedikit reda, dan adzan maghrib pun berkumandang.
"Sebaiknya kita Sholat dulu!" Ucap seseorang dengan suara bas agak serak yang ternyata sudah berdiri memperhatikan mereka bertiga.
Ketiganya menoleh ke sumber suara, "Ayah?" ucap Wulan.
"Iya, Ayah sudah mendengar semuanya, sebaiknya kita Sholat dulu sekarang, agar semuanya tenang, Ayo! kamu juga Sayang," Ajak Pak Herman kepada Thalita, anak itu mengangguk dan turun dari kursi tempat dia duduk tadi. Ke-empatnya melaksanakan kewajiban Sholat Maghrib berjamaah di rumah Wulan.
Setelah selesai dengan ritual ibadahnya, semuanya tenggelam dalam do'a masing-masing, tak terkecuali Thalita, anak yang kini sedang dihinggapi perasaan gelisah itu ikut menekurkan diri bermunajat kepada sang maha pencipta, melafalkan do'a-do'a sesuai kemampuannya.
Malam ini Thalita terus terdiam, bahkan dia tidak mau beranjak dari kamarnya saat di tawari makan malam, akhirnya dengan susah payah Wulan membujuknya dan bertanya tentang keinginannya, Thalita hanya bilang, ingin pergi ke rumah Bunda Afifanya saja. Faqih masih ada disana saat makan malam, dan dengan senang hati, dia mau mengantar Thalita juga Wulan pergi ke rumah Fauzi. Dia juga ingin bertemu dengan Fauzi, sahabat lamanya yang sudah selama sepuluh tahun tidak berjumpa.
***********
Afifa baru saja selesai makan malam bersama suaminya. Sop ayam kampung segar dengan taburan seledri dan daun bawang, dipadukan dengan goreng kerupuk emping serta sambel merah tersaji disana. Semua itu adalah menu yang diminta Afifa, dan dengan susah payah sore ini Fauzi harus pergi ke pasar tradisional untuk mencari makanan yang Afifa mau dan Fauzi berusaha memasaknya. Namun seperti biasa, saat makanan sudah tersaji, Afifa hanya memandangnya dengan malas, berbagai derama bujukan maut pun dilakukan Fauzi agar istrinya mau makan.
"Mmmm...," Afifa menggeleng, "sudah engap Kak, mau muntah," jawab Afifa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Fauzi hanya menghembuskan nafas kasar, lalu menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya sendiri, lantas mengunyahnya. Dia mendengus kesal melihat istrinya yang hanya makan tidak lebih dari empat suapan saja, mengingat perjuangannya untuk menghadirkan makanan itu di meja makan ini. Bahkan tomat yang malam kemarin hasil perjuangannya sampai dikira maling pun belum disentuhnya.
Melihat kekesalan dalam wajah Fauzi, Afifa segera menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. "Kak Aji jangan marah...," rengek Afifa, "ini kan karena keinginanmu, iya kan sayang?" ucap Afifa sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Hmmm..., siapa yang marah? Ayah cuman gemes aja sama ibumu ini," jawab Fauzi sambil mengelus perut Afifa juga. "Sekarang, kamu harus minta ibumu untuk minum susu ya, Sayang..., agar kamu sehat dan kuat di dalam sini," ucap Fauzi lagi sambil mendekatkan segelas air putih kehadapan Afifa agar Afifa meminumnya.
Afifa mengangkat kepalanya yang masih bersender ke bahu Fauzi, lalu menengadah menatap wajah suaminya yang tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya. Dia pun menegakkan duduknya dan minum.
"Sebentar ya, Aku buatkan susunya dulu," ucap Fauzi, tangannya mengelus kepala istrinya. Afifa mengangguk.
Dengan cekatan Fauzi mengambil susu ibu hamil dari lemari, lantas menyeduhnya dengan air hangat, dan menyimpannya dihadapan Afifa. "Nah..., Ayah sudah buatkan susu untukmu sayang, biarkan ibumu meminumnya ya, dan jangan sampai membuat ibumu mengeluarkannya lagi, oke?" celoteh Fauzi, sambil berdiri disamping istrinya, tangannya kembali mengelus perut istrinya, seolah-olah sedang benar-benar bicara dengan calon buah hatinya di perut Afifa.
__ADS_1
Afifa tersenyum melihat tingkah suaminya, lantas mengambil segelas susu dihadapannya dan segera meminumnya sampai habis. Afifa meletakan kembali gelas susu yang telah kosong di atas meja makan.
"Anak yang baik," ucap Fauzi sambil mengecup pucuk kepala Afifa. Keduanya saling pandang dan tersenyum.
Saat ini Afifa benar-benar bersyukur, setelah selama dua tahun pernikahannya yang di penuhi dengan berbagai cobaan dan ujian, kini dia merasakan manisnya hidup berumah tangga bersama orang yang sangat dicintai juga mencintainya. Afifa berdiri menghadap suaminya, senyuman menghiasi bibirnya, dia mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, lalu menyandarkan kepalanya didada Fauzi. "Terimakasih, Sayang..., Aku mencintaimu," ucapnya dibalik dada suaminya.
Fauzi tersenyum dan membalas pelukan istrinya, lalu kembali mencium pucuk kepala Afifa sambil berkata, "Cintaku padamu jauh lebih besar," ucapnya pelan, lalu merenggangkan pelukannya, jarinya mengusap sisa susu yang membekas di bibir Afifa, tangannya kanannya menyusuri wajah istrinya, dan tangan kirinya melingkar di pinggang ramping Afifa, Fauzi mengangkat dagu Afifa, wajahnya medekat dan mendaratkan satu kecupan dibibir merah istrinya.
Suara deru mobil yang terdengar berhenti di depan rumahnya menghentikan aksi keduanya yang sedang meluapkan rasa cinta diruangan dapur itu. Keduanya saling melepaskan pelukannya, lalu saling memandang dengan penuh tanya, siapa yang datang malam-malam begini? Afifa segera mengambil kerudung instan dari dalam kamarnya, lalu memakainya, dia bejalan mengikuti suaminya menuju pintu depan, dan mengintip siapa yang datang dibalik tirai jendela rumahnya. Tak lama suara bel rumahnya berbunyi, Afifa segera membuka pintu saat melihat seorang anak yang dikenalnya turun dari mobil yang berwarna silver itu.
"Itu Thalita, Kak...!" ucap Afifa.
"Thalita? ada apa malam-malam kemari?" keduanya saling pandang, Fauzi segera berjalan menuju pintu gerbang dan membukanya. Tatapannya hanya tertuju pada putrinya, dia mengulurkan tangan, hendak memeluk putrinya, namun Thalita malah berlari masuk ke halaman rumah dan menghampiri Afifa yang sedang berdiri di depan pintu, anak itu menghambur ke pelukan Afifa dan dengan erat merangkul pinggang Afifa, cukup lama anak itu terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun, membuat Afifa bingung tak mengerti, begitupun dengan Fauzi serta dua orang yang mengantarnya kemari.
******************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum Readers... mohon maaf kemarin tidak bisa mengirimkan naskah, berhubung keterbatasan waktu saya di dunia nyata.
Mohon pengertian dan do'anya agar semuanya lancar dan sehat 🙏.
Terimakasih sudah setia menunggu Afifa.
Tetap like, vote dan komentar, agar saya terus semangat untuk menulis 😊.
I LOVE YOU READERS...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul.
__ADS_1