
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Nadia terdiam menatap Pamannya, lalu menoleh ke arah Afifa. Afifa mengangguk dan Nadia pun keluar dari kamarnya tanpa membuka mukenanya. Fauzi memperhatikan Nadia di depan pintu kamar, saat meyakinkan Nadia sudah duduk di depan Farid, dia pun kembali masuk ke kamar Nadia dan menutup pintu kamar, lalu menghampiri Afifa.
Cukup lama Fauzi berdiri tepat dihadapan Afifa yang tengah duduk di pinggiran tempat tidur sambil menatapnya intens.
Afifa mengangkat wajahnya, dan membalas tatapan suaminya dengan sedikit rasa takut. "Kak...," panggilnya pelan. "Apa sudah bicara dengan Kak Farid?" tanyanya lagi dengan hati-hati, tapi Fauzi tak menjawabnya, dia malah duduk disamping Afifa dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan terlentang.
"Memang ya, cinta pertama itu, benar-benar sulit untuk di lupakan," ucap Fauzi datar.
"Deg...!" Afifa tersentak, dia berbalik ke arah suaminya, menatapnya sekilas lalu tertunduk. Cukup lama Afifa terdiam, hingga terdapat genangan tertahan di kelopak matanya.
Fauzi yang sedang telentang mengalihkan pandangannya ke arah Afifa karena merasa ada yang aneh dengan tingkah istrinya yang masih saja terdiam dan tertunduk.
Tak lama, isakan kecil terdengar dari mulut Afifa, membuat Fauzi langsung bangun dan duduk bersila didepan Afifa. "Hei..., Dek! kenapa?" tanya Fauzi cukup kaget.
"Fifa gak nyangka, kalau sampai saat ini, Kak Aji masih saja meragukan Fifa, hik... hik..." ucap Afifa di sela isakannya.
"Ya ampun Sayaaaang..., Aku hanya bercanda, Maaf...! tadi Aku hanya..., hanya bergurau saja, Dek! jangan nangis!" Fauzi merentangkan tangannya hendak memeluk Afifa.
"Tapi bercandanya gak lucu! Fifa sebel! Fifa sakit hati! Kak Aji jahat! harusnya Kak Aji tau, orang hamil itu perasaannya sensitif, apalagi jika tidak di percaya oleh suaminya," ucap Afifa sambil memukul pelan lengan suaminya yang sudah melingkar di tubuhnya.
"Sayaaaang..., Maaf," Fauzi mencium kening Afifa di balik mukenanya, "Aku hanya ingin menggodamu saja, tidak lebih," ucapnya sambil mempererat pelukannya dengan posesif, "Mana mungkin aku tidak percaya padamu setelah sekian banyak rintangan yang kita lewati. Dan kalau Farid masih mencintaimu, itu bukan salahmu juga kan?" Fauzi merenggangkan pelukannya, lalu menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi istrinya, "emang istriku saja yang cantiq dan solehah," Fauzi tersenyum memandang istrinya yang nampak anggun dibalik balutan mukena putihnya.
Afifa mengangkat kepalanya, lalu menatap mata sayu suaminya, Jari-jari Fauzi mengusap perlahan mata basah Afifa, "Jangan ada air mata kesedihan lagi disini, air matamu terlalu berharga, hatiku tidak akan rela melihatnya jatuh, cukup senyuman kebahagiaanlah yang akan mengisi hari-hari kita, sekarang, nanti dan selamanya." Fauzi tersenyum, begitupun dengan Afifa, bibir pink alaminya merekah, membuat Fauzi yang sedang menatap lekat bola mata Afifa mengalihkan pandangannya ke arah bibir istrinya. Perlahan tangan kiri Fauzi memegang tengkuk Afifa, sedangkan tangan kanannya mengangkat dagu istrinya, cukup lama keduanya saling memandang hingga tak terasa wajah mereka semakin mendekat dan tak menyisakan jarak. Afifa mulai memejamkan matanya, dan...
"Ceklek!" suara handel pintu di buka seseorang dari luar kamar, Afifa segera melepaskan dekapan suaminya, dan sedikit mendorong tubuh Fauzi, lalu tertunduk sambil membetulkan mukena yang masih menempel di tubuhnya.
Nadia berdiri tepat di depan pintu. dia cukup kaget melihat pemandangan gratis di depan matanya. Tapi kekagetannya sepertinya harus di tunda dulu, karena kali ini, ada hal yang jauh lebih penting untuk hidup dan masa depannya, yaitu janji yang baru saja diucapkan Farid untuknya di ruang tengah tadi.
"Eh...anu...Nad!" panggil Afifa salah tingkah, seperti kucing yang sedang ketahuan nyolong. Lain halnya dengan Fauzi yang hanya tersenyum melihat kegugupan istrinya. Afifa berdiri dan menghampiri Nadia, lantas memegang lengannya dan membimbingnya untuk duduk di antara Fauzi dan dirinya. "Bagai mana? apa kata Mas Ari mu?" tanya Afifa setelah Nadia duduk.
__ADS_1
Nadia terdiam, lalu menatap Paman dan Antinya bergantian. "Entah lah Anti! saat ini, Nadia benar-benar tidak bisa berfikir jernih. Tapi, kali ini Nadia hanya memegang ucapan dan janjinya saja. Setelah acara khitbah ini, kami akan saling introspeksi diri. Mas Ari bilang, jika memang Nadia adalah jodoh yang sudah ditaqdirkan Alloh untuknya, maka Alloh akan memberikan mahabbah itu dalam hatinya untuk Nadia, dan akan cepat tumbuh seiring berjalannya waktu, Namun jika Alloh menghendaki hal lain, maka mahabbah itu pun tidak akan pernah tumbuh di sana." ucap Nadia sambil tertunduk lemah.
"Nad..., ucapan itu memang benar, dan apakah kamu sendiri akan menjalani ini semua dan tetap setia menunggu rasa cinta itu tumbuh di dalam dirinya?" tanya Afifa.
"Entahlah, Anti! Nadia bukanlah wanita yang mampu membalikan hati seseorang, Nadia tidak bisa memaksa orang lain untuk mencintai Nadia, namun sekarang ini, Nadia tidak bisa mundur, Nadia masih memikirkan perasaan Mak Eyang dan Pak Eyang, juga keluarganya Mas Ari yang sudah jauh-jauh datang kemari, meskipun Nadia tidak tahu, apakah mereka benar-benar menyukai Nadia atau tidak,"
"Nadia..., sayang, kamu sudah berikhtiyar, serahkanlah semuanya kepada sang pemilik hati, yang mampu membolak balikan hati manusia, kita tidak tau, rahasia apa yang ada di baliknya, yakinlah Alloh maha tau, apa yang terbaik untuk hambanya," Afifa memeluk kepala Nadia, dan menyandarkannya di bahunya agar membuat Nadia nyaman dan sedikit mengurangi kegelisahan hatinya.
"Ah...! cengeng kamu, Nad!" ucap Fauzi sambil mengucek kepala Nadia yang masih terbalut kain mukena.
"Paman! apaan si?" Mata Nadia mendelik.
"Kak Aji! berhentilah menggodanya saat ini!" Afifa memukul tangan suaminya.
"Abisnya, kalo nangis jelek banget, gak pantes!" ledek Fauzi lagi.
"Pamaaaaaan....," Rengek Nadia sambil menatap Pamannya dengan mata berkaca.
Fauzi tersenyum, lalu segera merentangkan tangannya, dan menarik tubuh keponakannya itu ke dalam dekapannya. "Paman tidak akan membiarkanmu tersakiti, Nad! Paman janji, Paman adalah orang pertama yang akan berurusan dengan orang yang berani menyakiti hati Keponakan kesayangan Paman ini." Fauzi mengelus kepala Nadia dalam dekapannya.
Afifa hanya tersenyum melihat keduanya, ya itulah Fauzi, meski kadang mereka nampak tak pernah akur, sesungguhnya Fauzi sangat menyayangi Nadia, terlebih setelah kedua orang tuanya tiada. Dia berjanji, akan memastikan masa depan keponakannya itu terus bahagia bersama pasangannya nanti.
Cukup lama mereka bertiga ngobrol di kamarnya sampai terdengar adzan Isya berkumandang, Fauzi kembali ke mushola, sedangkan Afifa dan Nadia segera mengambil air Wudhu kembali untuk melakukan sholat isya di kamar Nadia.
Selesai sholat, Afifa kembali mendandani Nadia, memberi sedikit polesan bedak dan beberapa makeup tipis di wajahnya serta membalut kepala Nadia dengan kerudung syar'i yang membuatnya tampak anggun kembali. "Selesai," ucapnya sambil tersenyum, lalu mengambil kerudungnya sendiri dan memakainya dengan cekatan.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar, dan tak lama pintu itu pun dibuka, Mama masuk dan menghampiri keduanya yang masih asyik di depan cermin. "sudah siap?" tanya Mama.
"Sudah, Ma! Nadia akan segera Fifa bawa keluar," jawab Afifa yang masih menyematkan bros kecil di dada kirinya.
"Iya, semuanya sudah menunggu, Pak Ustad juga sudah datang," ucap Mama kemudian. Lantas dia pun kembali melangkah keluar kamar.
__ADS_1
"Ayo, Nad!" ajak Afifa kepada Nadia yang hanya terdiam, duduk di pinggir tempat tidur. "Naaaad...," panggil Afifa lagi karena Nadia tak juga menjawab ajakannya. Afifa menatapnya, lalu mendudukan dirinya disamping Nadia. tangan Afifa meraih tangan dingin Nadia yang tertumpuk di pangkuannya. "Kenapa?" tanya Afifa kemudian.
"Apa Nadia tidak salah langkah untuk melanjutkan acara ini, An?" tanya Nadia dengan tatapan kosong ke arah pintu kamar yang tertutup. Kini tak ada lagi wajah tersipu Nadia yang selalu terpancar seperti sore tadi. Wajahnya berubah dingin dan tak bersemangat.
"Nadia sayang, denger Anti! seperti yang kamu bilang tadi, bahwa Alloh telah menentukan jodoh dari masing-masing makhluknya, Alloh maha mengetahui segalanya yang terbaik untukmu, berdo'alah, mahabbah itu hakikatnya datang dari Alloh, dan kita manusia hanya berikhtiar, dan ini adalah salah satu dari ikhtiar kita. Ayok!" Afifa menatap penuh keyakinan ke arah Nadia.
Nadia pun mengangguk, dan berdiri mengikuti ajakan Afifa, lalu keduanya keluar dari kamar, menuju ruang tamu. Kini Semua mata menatap ke arah Nadia, yang berjalan sambil tertunduk dengan balutan hijab Syar'i serta makeup tipis yang membuatnya nampak anggun dan berbeda.
Acara khitbah pun berlangsung dengan lancar, di akhiri dengan penyematan cincin di jari manis Nadia oleh Umi Wafa.
Nadia memandang benda kuning yang melingkar di jari manisnya, sebuah cincin sebagai tanda ikatan antara dirinya dengan Pria pujaannya. Seandainya saja kejadian sore tadi tidak pernah terjadi, mungkin hati Nadia akan sangat berbunga-bunga saat ini. Namun kali ini, entah mengapa, hati Nadia terasa ciut, rasa percaya dirinya hilang seiring berjalannya waktu yang tidak lebih dari dua jam saja terlewati sejak sore tadi.
Acara khitbah pun selesai, di tutup dengan do'a yang dipimpin oleh Pak Ustad, srmua orang nampak gembira, kecuali Nadia tentunya. Farid terus memandang lekat wajah Nadia yang masih saja tertunduk, tak sekalipun menatap ke arahnya. Ada rasa bersalah yang begitu besar di dalam hatinya, hingga saat ini dia berjanji akan kembali meneleponnya malam nanti.
Mama segera berdiri dan menuju dapur, meminta pembantunya juga Ibu Siti untuk segera membawa dan menyajikan makan malam ke ruang tamu, satu persatu, makanan Khas sunda itu pun tersaji di atas karpet di ruang tamu yang di kelilingi oleh semua tamu yang hadir. Mama sengaja mengatur acara makannya sambil lesehan agar suasananya terasa lebih akrab. Setelah Mama, Papa juga Fauzi mempersilahkan para tamu untuk makan, maka hidangan lezat resep dari ibu siti itupun disantap oleh semua para tamu.
Malam ini, keluarga Farid menginap di rumah mertuanya Afifa, ada 4 kamar besar dirumah itu, sehingga cukup untuk menampung 7 orang tamu.
Sedangkan Fauzi dan Afifa memilih untuk pulang ke rumahnya, meski hari sudah menunjukan pukul 9 malam.
*********************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hmmm..., sepertinya kali ini Farid harus lebih berusaha meyakinkan hati Nadia...🤔
Fauzi...Fauzi..., setiap ada kesempatan sedikit saja...hmmmm...😄😄😄✌
Tetap like,vote dan komentar.
__ADS_1
I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul