Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Kecelakaan...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Setelah dirasa cukup tenang, Wulan berpamitan untuk pulang, tak lupa Mama membekali Wulan dengan berbagai makanan dan buah-buahan yang sengaja dia beli waktu di pasar pagi tadi untuk Thalita.


Dari pembicaraan itu, akhirnya disepakati, bahwa, Thalita akan terus tinggal bersama Wulan dan setiap akhir pekan akan dijemput oleh Fauzi seperti yang sudah berlangsung selama satu tahun terakhir ini. Urusan Ayahnya, Wulan berjanji akan menyelesaikan semuanya.


Satu hari berlalu, Wulan sedang mengupas buah apel fuji pemberian Mertua Afifa diruang keluarga, dia sengaja menyiapkannya sebagai kudapan untuk putrinya yang sedang tidur siang. "Thalita pasti seneng makan ini, sebentar lagi dia akan bangun", gumamnya sambil tersenyum.


Suara langkah kaki menghampirinya, "Wulan...!", panggil orang itu, suaranya lantang agak serak membuat Wulan menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang pisau.


Wulan mengangkat kepalanya, nampak Ayahnya sedang berdiri didepannya sambil menatapnya tajam.


"Eh...Ayah...? Ayah mau apel?", tanya Wulan sambil tersenyum yang agak dipaksakan. diapun meletakan pisau itu diatas piring.


"Mana janji mereka? sudah beberapa hari, kenapa mereka belum juga memberi keputusan?", masih dengan suara lantangnya.


Sejenak Wulan terdiam, lalu menarik ujung bibirnya untuk tersenyum lagi, dia melangkahkan kaki menghampiri Ayahnya. "Ayah...", panggilnya pelan sambil memegang lengan ayahnya, "Ayah duduk dulu yuk!" menarik lengan Ayahnya hendak duduk diatas sofa. Tapi Ayah Wulan menepis pegangannya.


"Ayolah Ayah..." bujuk Wulan lagi, "Wulan akan ceritakan semuanya kepada Ayah, tapi Ayah duduk dulu", kembali menarik lengan Ayahnya. Ayahnya pun menurut, meski tetap dengan tatapan tajamnya.


"Katakan!!!" ucap Ayahnya sambil memalingkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Wulan menarik nafas dalam, berfikir sejenak untuk mencari kata-kata yang tepat untuk mulai bicara. "Ayah...", Wulan memulai pembicaraan, "Wulan mohon Ayah tenang dan jangan marah-marah terus, nanti akan berpengaruh terhadap kesehatan Ayah".


"Sudah! katakan saja apa keputusan mereka!", ucap Ayahnya kembali menatap Wulan dengan tajam.


"Jadi begini Ayah, sebenarnya Wulanlah yang salah dalam kejadian itu", Wulan berhenti sejenak sambil menelan salivanya.


"Apa maksudmu?" tanya Ayahnya kembali menatap Wulan meminta penjelasan.


"Semua kejadian itu, Wulanlah penyebabnya. Wulan yang salah karena terlalu mencintainya, Wulan tidak berfikir panjang, yang ada dalam fikiran Wulan hanya ingin memiliki cinta Fauzi seutuhnya, dan waktu itu, tiba-tiba terlintas fikiran konyol dalam benak Wulan, berbekal obat pemberian dari teman Wulan yang entah dari mana dia mendapatkannya, dengan sengaja Wulan mencampurkan obat itu kedalam minumannya saat mengantar Wulan ke tempat kost, sehingga kecelakaan itupun terjadi", Wulan tertunduk tanpa memperhatikan sorot mata Ayahnya yang sedang menatap dirinya dengan pandangan mematikan.


"Dasar perempuan ******...!!!" bentak Ayah Wulan sambil berdiri, membuat Wulan terperanjat dan mengangkat kepalanya. Wulan langsung berdiri saat sadar dengan perubahan yang terjadi pada diri Ayahnya, sorot mata menakutkan 10 tahun lalu yang pernah dilihat Wulan kembali terpancar dari wajah bengis Ayahnya. Wulan mundur beberapa langkah membuat kakinya terbentur ke ujung sofa.


"Jadi kau lah penyebab kehancuran hidupku!!!" ucapnya lantang dan entah kapan dia mengambilnya, tiba-tiba pisau yang tadi sempat digunakan Wulan untuk mengupas apel sudah ada dalam genggamannya.


"Anak durhaka!!! *******!!! pembunuh!!!" teriaknya semakin menjadi-jadi sambil melangkah mendekati Wulan.


Wulan mundur ke belakang Sofa, "Ayah...sadarlah Ayah...!!!" teriak Wulan, tapi Ayah Wulan terus mendekatinya, "Ayah...! jangan Ayah...! Wulan mohon sadarlah Ayah...! aku putrimu Ayah...!", Wulan terus mundur, tapi Ayahnya semakin mendekatinya dan mengarahkan pisau dalam genggamannya ke arah Wulan, "Ayaaaaah...!" teriak Wulan segera menghindar dan berlari kebelakang sofa yang lainnya, tapi Ayahnya tidak juga menghentikan langkahnya.


Teriakan Wulan membuat Thalita terbangun, anak itu segera turun dari tempat tidur dan menyembulkan kepalanya dibalik pintu yang terbuka, matanya terbelalak menyaksikan peristiwa yang mengerikan didepan matanya.


Wulan terus berlari dan berteriak-teriak meminta pertolongan, suaranya terdengar oleh para pegawainya yang ada di lantai bawah, membuat mereka ikut terperanjat sambil memastikan pendengarannya. Saat mereka hendak naik ke lantai atas, tiba-tiba Wulan turun sambil berlari ketakutan, Ayahnya terus mengikutinya dengan pisau yang masih setia dalam genggamannya, para pegawai yang tidak mengerti asal masalahnya hanya bengong sekaligus panik melihat peristiwa kejar-kejaran itu. Wulan terus berlari keluar dari butik, dan tanpa alas kaki dia menghampiri jalanan didepan rumahnya, tanpa menyadari sebuah kendaraan sedang melintas dan melaju cepat, tepat membentur tubuhnya.

__ADS_1


"Gubrak...!!!!!!!!!!!!"... "Cekiiiiiiiiit...." Suara benturan dan rem mendadak dari mobil itu terdengar begitu keras. membuat semua orang berteriak dan berlari menghampiri tempat kejadian. tubuh Wulan terpelanting beberapa meter dari tempatnya berdiri, dia terkapar dengan aliran darah terus keluar dari beberapa bagian tubuhnya. para pegawai Wulan yang terdiri dari 3 orang perempuan berteriak meminta tolong membuat orang-orang yang sedang bekerja pada proyek rumah baru Wulan ikut berlarian menghampirinya, begitupun dengan orang-orang disekitarnya.


Thalita yang masih berada dikamarnya terduduk dilantai sambil menangis tersedu-sedu, anak itu tidak mengerti dengan semua yang terjadi, dia hanya ketakutan melihat tingkah beringas dari Kakeknya. sampai Thalita mendengar suara benturan keras dari depan rumahnya, dia berlari menuju jendela dan mendongakan kepalanya keluar, dia berteriak histeris melihat ibunya tergeletak bersimbah darah di jalanan.


Rina, salah satu pegawai Wulan yang paling dekat dengan Thalita mendengar teriakannya, dia segera berlari naik kelantai dua, dilihatnya anak kecil itu sedang duduk bersimpuh dengan tubuh gemetar dibawah jendela sambil menatap kosong dengan mata sembab berlinang air mata. "Thalita...?" Rina segera menghampirinya dan memeluknya dengan erat. "Thalita gak papa kan?", tanyanya lagi masih memeluk anak itu, thalita tidak bereaksi, hanya lelehan air mata yang tetus keluar menganak sungai dikedua pipinya. "Thalita...!, Thalita...!" Rina sedikit mengguncang tubuh Thalita yang hanya terdiam.


Thalita mengerjapkan matanya, lalu memandang Rina dengan mata basahnya. "Bun...hik...Bunda...hik...Bunda Fifa...", ucapnya pelan disela isak tangisnya, saat ini anak itu tidak tahu harus berkata apa, hanya Bunda Fifanya lah yang terlintas dalam fikirannya untuk berlindung dari semua kekacauan yang baru saja terjadi didepan matanya.


"Iya...Thalita mau telphon Bunda Fifa?" tanya Rina. Thalita mengangguk, Rina berdiri celingukan mencari sesuatu yang dapat menghubungi orang-orang terdekat dari majikannya. dia segera berlari menuju meja disamping televisi, saat melihat sebuah ponsel tergeletak disana. Rina mencari nomor Afifa dan dia menemukannya, dan langsung memberi tahu kejadian yang barusaja terjadi dirumah itu.


************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hahhhhhhh... 😢😢😢


tetap like, vote dan komentar saja ya Readers... Author tak tau harus bilang apa... 😔


I LOVE YOU ALL...❤❤❤⚘⚘⚘

__ADS_1


By : Rahma Husnul


__ADS_2