
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Waktu terus berlalu, meninggalkan hari-hari penuh kebahagian yang di lalui Afifa dan orang-orang di sekelilingnya. Namun, setiap kehidupan tentunya tak selalu berjalan mulus sesuai dengan yang kita inginkan, kehidupan sudah di atur atas dasar Qodarulloh, di mana Sang Pengatur dan Pemilik segalanya lebih faham dengan situasi dan sesuatu yang terbaik untuk hambanya.
Hari ini hari Kamis tanggal 22 Oktober, Seperti biasa alarm alami dalam jiwa Afifa selalu membangunkannya sebelum kebanyakan orang terjaga dari tidur pulasnya. Afifa memicingkan matanya ke arah jam dinding utuk memperjelas penglihatannya. "Pukul 3.30" gumamnya, diapun menggeliat merasakan tangan kekar suaminya yang selalu melingkar di pinggangnya di setiap tidurnya. Afifa menggeser perlahan tangan suaminya dan turun dari tempat tidur, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengambil air wudlu. Tak lama dia kembali keluar dan membangunkan suaminya.
Fauzi terbangun, lalu segera masuk ke kamar mandi untuk mengambil air Wudlu, merekapun melaksanakan Sholat tahajud bersama, bersimpuh pada sang pencipta, memohon ampun atas segala dosa dan bersyukur atas setiap karunia yang di anugerahkan kepadanya.
Adzan Subuh berkumandang, Fauzi segera berangkat menuju mesjid untuk melaksanakan Sholat Subuh berjamaah. Sepulang dari Mesjid, Fauzi duduk di sofa ruang tengah sambil mengirimkan pesan kepada seseorang. Saking asyiknya dengan ponsel di tangannya sampai-sampai dia tidak sadar kalau istrinya sedang memperhatikan raut wajahnya yang terkadang berkerut, menggeleng, bahkan tersenyum sendiri tanpa mengalihkan pandangannya dari layar benda pipih itu.
Afifa berdiri cukup lama di samping sofa memperhatikan suaminya. Karena merasa tak di pedulikan, Diapun melangkah dan mendudukan dirinya di samping suaminya, lantas menyenderkan kepalanya ke bahu Fauzi sambil menatap layar ponsel di tangannya.
"Asyik banget, chatan sama siapa sih?" tanya Afifa.
Tapi Fauzi segera menutup layar ponselnya, lalu menjauhkannya dari jangkauan Afifa, "Eh..., enggak, bukan siapa-siapa," Jawab Fauzi sedikit kaget, Dia pun tersenyum garing yang nampak di paksakan.
"Hmmm..., begitu ya?" Afifa sedikit cemberut, entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan suaminya saat ini. "Jadi..., Fifa gak boleh tau?" Afifa menegakkan duduknya.
"Enggak, bukan begitu, Dek! mmm... Sudahlah! ini sama sekali gak penting," kilah Fauzi sambil melingkarkan tangannya di bahu Afifa, sedangkan tangan kirinya mematikan ponsel dan menyembunyikan ponsel di balik bantal sofa. "Kita bikin sarapan, Yuk!" Ajak Fauzi untuk mengalihkan pembicaraan.
Afifa hanya mengangguk tanpa bicara, lalu dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur di ikuti Suaminya.
Keduanya berkutat dengan pekerjaan rumah, Afifa memasak sedangkan Fauzi melakukan pekerjaan lainnya.
Setelah sarapan, seperti biasa Afifa berangkat ke sekolah diantar oleh Fauzi sebelum beraktivitas di tokonya. Setelah memastikan istrinya sampai dengan selamat di tempat yang di tuju, Fauzi kembali pulang ke tokonya.
Seharian beraktivitas di sekolah, membuat Afifa cukup lelah, apa lagi saat ini setatusnya sudah bukan guru honorer lagi, tanggung jawabnya lebih besar terhadap pekerjaannya. Perut Afifa yang semakin hari semakin membesar membuatnya agak kesulitan untuk bergerak, Dia pun menyandarkan tubuhnya di kursi pribadinya di dalam kantor sambil mencoba melakukan panggilan kepada suaminya agar segera menjemputnya.
Afifa menatap layar ponselnya, merasa heran karena ternyata nomor suaminya tidak aktif. Dia pun segera mengirimkan pesan, namun pesan itu tak juga di baca Fauzi. Afifa menunggu beberapa saat dan melakukan panggilan lagi, namun hasilnya sama, Dia semakin gelisah memikirkan sesuatu hal buruk yang menimpa suaminya. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menelephon nomor toko suaminya.
Tak lama suara seseorang terdengar.
Assalamualaikum, selamat siang. Ucap seseorang di sebrang sana. Afifa terdiam sejenak merasa heran karena yang menjawab ternyata bukan suaminya, tetapi pegawainya.
"Waalaikum salam, Mang! Apa Pak Fauzi ada di toko?" tanya Afifa.
__ADS_1
Oh, Neng Fifa? maaf Neng, Pak Fauzi tidak ada di toko, tadi pagi Beliau bilang mau menemui Kliennya ke Bandung Barat. Kenapa gak telephon ponselnya aja, Neng?
"Nomornya gak aktif, Mang!"
Lo? kok tumben Pak Fauzi gak aktifin ponselnya?
"Iya, sudah beberapa kali Fifa telephon, tapi gak aktif juga, Mang!" Jawab Afifa lemas.
Neng Fifa nunggu jemputan? Biar Mamang yang jemput ya.
"Gak usah, Mang! Fifa bisa naik agkot," jawab Afifa yang memang tidak mau merepotkan Mang Ujang pegawainya.
Ish..., Jangan, Neng! Mamang Khawatir kalau Neng Fifa harus naik angkot. Neng Fifa tunggu dulu sebentar ya, Mamang jemput pake mobil Pickup.
"Gak usah, Mang!"
Eh! pokoknya tunggu dulu! jangan pulang sebelum Mamang datang! Mamang berangkat sekarang.
"Trup!" Suara telephon di tutup, membuat Afifa tak bisa lagi melarang Mang Ujang untuk menjemputnya. Afifa hanya menghela nafas dalam. Kini tak ada lagi yang bisa dia lakukan, selain duduk di ruang kantor yang mulai sepi itu sambil menunggu Mang Ujang datang menjemputnya.
Afifa kembali membuka layar ponselnya, barangkali saja suaminya sudah membalas pesannya, namun Afifa hanya menarik nafas panjang saat tak menemukan apa yang dia harapkan.
Fikiran Afifa kembali melayang, beberapa spekulasi buruk sempat terlintas di kepalanya. Namun, dia segera menepisnya dan kembali berfikir positif tentang suaminya, "Mungkin batereinya low, atau tidak ada sinyal di daerah yang di tuju Kak Aji? tapi...kenapa Kak Aji tidak memberi kabar sebelumnya kalau akan pergi ke satu tempat? tumben?" gumam Afifa, "Ah..., sudah lah, semoga Kak Aji baik-baik saja," ucapnya kemudian.
Beberapa menit berlalu, Afifa beranjak dari tempat duduknya dan memutuskan untuk menunggu Mang Ujang di depan gerbang. Tak lama, Mobil pickup yang dibawa Mang Ujang pun muncul di sana, Afifa segera naik dan mobil itu pun melaju menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Afifa membersihkan dirinya dan mengganti seragamnya dengan pakaian rumahan.
Waktu terus berlalu sampai waktu di mana kebiasaan jam pulang suaminya tiba, Namun Fauzi masih belum pulang. Afifa kembali menelephon Mang Ujang, juga Pak Surya, orang kepercayaan Suaminya untuk mengurus toko yang di Cililin. Namun, hasilnya masih sama. Tak ada kabar sama sekali.
Afifa semakin gelisah, dia terus mondar-mandir, dari kamar menuju ruang tengah lalu kembali lagi ke kamar bahkan sampai ke dapur sambil terus mengetuk-ngetukan ponselnya ke telapak tangannya, sampai adzan Maghrib pun tiba.
Afifa segera mengambil air Wudlu dan melakukan Sholat maghrib di mushola rumahnya, tak lupa dia berdo'a untuk keselamatan Suaminya. Selesai dengan amalan Maghribnya dia pun pergi ke dapur, memasak makanan untuk makan malam. Beberapa kali Afifa menatap jam dinding yang terus berdetak, menunjukan pukul 8 malam. Namun, suaminya tak kunjung pulang.
Afifa menyalakan televisi untuk menghilangkan rasa sepinya sekaligus melihat berita, kalau-kalau ada satu berita tentang beberapa kejadian di sekitar Bandung Barat. "Ah...Ya Alloh, apa yang terjadi dengan Suamiku?" gumam Afifa sambil duduk sendirian di atas sofa, televisi yang menyala sama sekali tak di tontonya. "Ya Alloh..., hamba mohon selamatkan suami hamba di manapun dia berada," Munajat Afifa pada Sang Pencipta. Dia pun kembali berdiri dan berjalan menuju pintu depan, dan menyibakan sedikit gorden rumahnya, menatap ke arah pintu gerbang yang masih tertutup tak ada siapapun di sana.
__ADS_1
Afifa semakin gelisah, dan berkali-kali mencoba memghubungi suaminya kembali. Namun, hasinya tetap sama.
"Kriiing...! Kriiing...!" Ponsel yang sejak tadi di pegang Afifa tiba-tiba betbunyi, "Nadia?" gumam Afifa, dia pun segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Nad!" Sapa Afifa.
Waalaikum salam, Anti...! Nadia mohon, Anti jangan panik, Anti sekarang siap-siap, Nadia akan jemput Anti ke sana ya, dalam 10 menit, Nadia sampai. Cerocos Nadia terdengar ngosngosan di telinga Afifa.
"Eh...tunggu, Nad! maksud kamu apa?"
Pamaaaan..., Anti...! Pokoknya Anti cepat siap-siap! Kita akan temui Paman. Ucapnya lagi dengan nada yang sama.
"Tapi, ada apa dengan Pamanmu, Nad?" tanya Afifa panik.
Aduh! Sudah, Anti! nanti Nadia ceritakan semuanya, Anti bersiap saja, Nadia berangkat sekarang.
"Trup!" Suara telephon di tutup di sebrang sana, membuat Afifa hanya memandang dengan heran ponsel di tangannya yang kini nampak bergetar.
"Deg! Deg!" jantung Afifa berdegup kencang setelah mengingat ucapan Nadia di telephon barusan, spekulasi buruk yang sejak siang tadi ia fikirkan kembali bermunculan, "Ada apa denganmu, Kak?" gumam Afifa sambil meletakan ponsel di dadanya yang kini terus berdetak semakin kencang.
Afifa segera masuk kamar, mengganti pakaiannya dengan gamis sederhana dan kerudung instan, lalu memakai jaket dan memasukan ponsel serta dompet ke dalam tas nya. Selama bersiap dan menunggu kedatangan Nadia, fikiran Afifa terus berkecamuk memikirkan kemungkinan buruk yang telah terjadi dengan suaminya, sampai tak terasa air matanya perlahan keluar dari tempatnya.
"Ya Alloh Ya Robb, hamba hanya bisa berdo'a pada mu, jauhkan lah segala musibah yang akan menimpa Suami hamba, Engkau yang Maha memiliki segalanya, mengatur segalanya, tak ada lagi tempat hamba memohon perlindungan kecuali padaMu,"
Afifa mengusap pelan air mata di pipinya, dia pun tersentak saat suara klakson mobil berbunyi cukup kencang di depan gerbang rumahnya.
***********************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Apa yang terjadi dengan Fauzi? akan kah ada masalah lagi dalam rumah tangga mereka?
Tetap like, vote dan komen ya Readers...
__ADS_1
I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul.