
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Suasana sore di rumah orang tua Fauzi,,,
Karpet permadani besar sudah di gelar di ruang tamu, beberapa kudapan ringan dan air mineral nampak tertata rapi disana untuk menyambut kedatangan tamu istimewa malam nanti.
Mama bersama pembantunya juga Ibu Siti istri dari Pak Surya sengaja dipanggil oleh Mama dari Cililin agar membantu Mama memasak, mengingat beliau memang ahli dalam memasak. Beberapa makanan khas sunda mereka buat, ikan mas yang siap di bakar, ungkeb ayam kampung serta sambel dan lalapan, tak lupa dengan kerupuknya.
Mereka nampak semangat dan saling bercanda dengan terus mengucapkan selamat kepada Ibu Hj. Ramadhan, karena kebahagiaan yang kini dia rasakan. Mulai dari Kehamilan istri Putra bungsunya, dan kali ini, cucu pertamanya yang selalu ia khawatirkan akan segera di khitbah seseorang.
Nadia sudah gelisah menunggu di dalam kamarnya, sesekali ia membuka lemari pakaiannya untuk melihat pakaian gamis syar'i berwarna kuning lemon berbahan sifon ceruti yang baru saja dia beli kemarin di SS Colection, spesial untuk malam ini.
Jam dinding yang tergantung di kamarnya terus berdetak menandakan waktu yang terus berjalan menuju sore hari, namun Paman dan Antinya belum juga datang. Dia pun mengambil ponsel dan menelepon Afifa. Tak lama Afifa mengangkat teleponnya, Nadia langsung merengek meminta Afifa segera datang. Namun Afifa bilang dia masih menunggu suaminya yang belum juga pulang dari Cililin.
Nadia terus saja merengek, berharap Afifa akan datang lebih dulu meskipun tidak bersama Pamannya. Bukan apa-apa, Nadia hanya ingin menenangkan hatinya, sekedar berbagi pengalaman dengan Afifa dan ingin banyak bertanya, apa yang harus dia lakukan ketika dia ditanya saat proses khitbahnya nanti. Akhirnya dengan bujukan Nadia Afifa berjanji akan segera datang, namun akan memberitahukan suaminya terlebih dahulu.
Setelah mengakhiri panggilannya dengan Nadia, Afifa segera melakukan panggilan kepada Suaminya, hari sudah menunjukan pukul 4.30 sore, tapi Fauzi masih berada di Cililin, di toko keduanya yang kini sedang dihandel oleh Pak Surya dan istrinya. Fauzi ternyata belum bisa pulang karena sedang menunggu kliennya yang sedang dalam perjalanan untuk menandatangani surat perjanian kerjasama dengan perusahaannya.
Akhirnya Afifa meminta izin untuk berangkat lebih dulu ke rumah mertuanya dengan angkot.
Afifa segera bersiap, menggunakan setelan gamis syar'i berwarna moca serta kerudung dengan warna yang sama, tak lupa tas kecil yang selalu ia bawa untuk menyimpan dompet dan ponselnya.
Setelah mengunci pintu rumahnya, dia segera keluar dari pintu gerbang dan menyetop angkot yang lewat. Angkot itu pun melaju membawa Afifa menuju ke rumah Mertuanya.
Pukul 5.10 sore, angkot itu berhenti tepat didepan gerbang rumah mertuanya. Afifa segera memberikan ongkos, lalu turun dan berjalan menuju pintu gerbang. Angkot itupun kembali melaju meninggalkan Afifa disana. Tangan Afifa sudah memegang besi pintu gerbang saat dua buah mobil berhenti tepat di depannya. Suara klakson berbunyi membuat Afifa menoleh ke arah mobil itu. Afifa hanya terdiam sampai dia melihat seorang pria keluar dari balik kemudi menghampirinya.
"Assalamualaikum Afifa," Ucap Pria itu menyapanya dengan ramah. Pakaian kemeja panjang berwarna putih gading dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam membungkus tubuh tegap tingginya.
"Waalaikum salam, Kak Farid, " Ucap Afifa sambil mengangguk dan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
Terjadi perbincangan kecil diantara mereka, yang intinya memberitahu kedatangannya yang langsung dari Semarang tanpa hambatan dan bisa datang kemari sebelum malam tiba.
Orang-orang yang berada di dalam mobil saling berbisik melihat perbincangan mereka yang suaranya sama sekali tidak bisa mereka dengar, meskipun lelah seharian di perjalanan, namun wajah mereka nampak bahagia dan tersenyum melihat mereka berdua. Entah apa yang ada dalam fikiran mereka saat ini.
Afifa mengangguk dan segera membuka pintu gerbang lebar-lebar agar kedua mobil itu bisa masuk ke pekarangan rumah mertuanya.
Rombongan keluarga Farid yang terdiri dari kedua orang tua Farid, adiknya, Pak Lek dan Bu Leknya, serta Meme keponakannya turun dari mobil dengan membawa bingkisan sekedar oleh-oleh khas Semarang. Sedangkan Farid masih berada di dalam mobil untuk menyiapkan cincin yang sudah ia beli sebagai bukti pengikatnya kepada Nadia nanti. Dia membuka kotak perhiasan yang di bawanya, memandanginya sesaat, lalu tersenyum.
Seorang gadis manis dengan pakaian gamis panjang yang tak lain adalah Zia adiknya Farid segera menghampiri Afifa yang sedang berjalan dari pintu gerbang setelah menutupnya kembali.
"Assalamualaikum, Mbak Yu!" sapanya ramah sambil memegang lengan Afifa.
"Wa...akaikum salam," ucap Afifa agak kaget di buatnya.
"Mbak Yu cantik, kenalkan saya Zia adiknya Mas Farid," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Oh Iya, saya..."
__ADS_1
"Saya sudah tau, Mbak Yu," Ucapnya sambil menarik tangan Afifa menuju ibunya. Afifa yang tak siap hanya terheran-heran dan mengikuti langkah Zia. "Mbak Yu, Ini Umi Wafa dan ini Abi Khoir, ini Bu Lek Faiq, Pak Lek Khais dan ini..., si manis Meme," Ucap Zia dengan gaya akrabnya tak lepas dari senyuman.
"Assalamualaikum," ucap Afifa, sambil mengangguk dan menyalami Ibunya Farid dan yang lainnya.
"Waalaikum salam," jawab semua orang dengan tersenyum.
"Ayo...! mari..., mari silahkan masuk!" Ucap Afifa sambil merentangkan tangan ke arah pintu dengan ramah. Lantas dia masuk lebih dulu untuk melihat situasi di dalam rumah, yang ternyata ruang tamu sudah rapi, namun tak ada seorang pun di sana.
"Silahkan duduk dulu, Pak! Buk! dan semuanya! disambi minumannya! saya permisi dulu, mau panggil Mama di belakang," pamit Afifa, dan segera melangkahkan kakinya ke dapur, karena terdengar suara orang-orang di dapur.
"Ma...! tamunya sudah datang," Ucap Afifa sedikit gugup, karena ternyata di dapur masih belum siap.
"Eh, Fifa? sudah datang, kenapa?" tanya Mama memastikan.
Afifa segera mengahampiri Ibu mertuanya, "Ma..., Tamu dari semarangnya sudah datang." jelas Afifa setengah berbisik.
"Apa?" tanya Mama kaget, "Waduh... gimana ini, Papa juga belum pulang dari toko, Mama belum siap lagi," Mama tiba-tiba salah tingkah. "Eh, Fa! Nadia...Nadia mana?" tanya Mama lagi.
Afifa hanya menggeleng, lalu teringat dengan Nadia, "Fifa akan lihat dia di kamarnya, Ma!" ucap Afifa dan langsung berbalik.
"Tunggu, Fa! Fauzi mana?" tanya Mama masih dengan kegugupannya. Bagai mana tidak, penyambutan tamu yang di persiapkan nanti malam, ternyata mereka sudah datang sesore ini. Persiapannya masih belum selesai, makanan pun belum mateng semuanya.
"Kak Aji juga masih di toko, Ma! lebih baik Mama temui mereka dulu!" ucap Afifa sedikit menenangkan ibu mertuanya.
"Iya, kamu telphon Papa dan Fauzi agar segera kemari ya, Fa!" ucap Mama sambil membetulkan jilbab instan dan pakaian gamis yang di pakainya.
"Ceklek!" Suara pintu yang dibuka Nadia dari dalam kamarnya. Nampak Nadia sudah menggunakan gamis berwarna kuning lemon, namun belum mengenakan hijabnya. Wajahnya tertunduk dengan sedikit memerah, sepertinya dia sudah mengetahui kedatangan rombongan keluarga Farid.
"Nad!" Ucap Afifa sambil tersenyum sedikit menggoda, Lalu masuk ke kamar Nadia dan menutup pintu kamar. Afifa memegang pundak Nadia yang masih tersipu, "Ayo! siap-siap," ajak Afifa.
Nadia mengangguk dan duduk di pinggir tempat tidur.
"Bajunya bagus, Nad!" ucap Afifa, "pas sekali di warna kulitmu, anggun," Tersenyum manis dan mengangkat jempolnya tanda memuji.
"Tinggal pakein hijabnya, Anti!" ucap Nadia.
"Ya udah, nanti Anti pakein hijabnya, sebentar ya, Anti mau telepon Papa dan Kak Aji dulu." ucap Afifa sambil mengeluarkan ponsel dan segera melakulan panggilan kepada keduanya.
"Mereka akan segera datang," Ucap Afifa kemudian sambil tersenyum ke arah Nadia. Nadia hanya mengangguk.
Tangan Afifa meraih hijab di tangan Nadia, lalu dengan cekatan memakaikan hijab ke kepala Nadia, seperti yang biasa dilakukannya. Dengan hati-hati Afifa menata hijab itu hingga Nadia nampak cantik, anggun dan elegan. Tak lupa, ia menyematkan bros cantik berbentuk bunga di bahu sebelah kiri Nadia. "Sempurna," Ucap Afifa begitu selesai menyematkan bros itu.
Afifa memegang bahu Nadia dan mengajaknya berdiri di depan cermin. "Hmmm..., Bagai mana Mas Arimu tidak terpesona dengan keponakan Anti yang cantik ini," Ucap Afifa sambil membalikan Nadia ke arah cermin, memegegang bahunya dan berdiri di samping Nadia, sehingga keduanya dapat melihat bayangan mereka disana, bak dua orang gadis kembar dengan gaya pakaian yang sama, namun wajahnya yang berbeda.
"Yuk! keluar," Ajak Afifa sambil memegang tangan Nadia yang dingin.
"Tunggu, Anti!" Nadia terpaku dan tertunduk.
__ADS_1
"Kenapa, Nad?" tanya Afifa.
"Apa yang harus Nadia katakan nanti, An?"
"Hmmm..., gugup ya?" goda Afifa, "Kamu, gak perlu mengatakan apapun, cukup menjawab apa yang mereka tanyakan dengan ramah sesuai isi hatimu," Afifa mengangkat dagu mencos Nadia yang sedang tertunduk. "Kamu percaya kan sama Anti?" ucap Afifa kemudian, dan dijawab dengan anggukan Nadia.
Afifa tersenyum, tangannya masih digenggam Nadia dengan erat, Afifa membuka pintu kamar, lalu keduanya keluar menuju ruang tamu.
Obrolan yang sedang berlangsung di ruang tamu itu berhenti seketika, saat Afifa dan Nadia datang ke sana. Berbagai pasang mata memandangi mereka berdua, seakan mengagumi keduanya. Farid yang sedang duduk bersila dengan sama gugupnya menatap sekilas ke arah mereka berdua, lalu kembali tertunduk dan tersenyum, karena sejak tadi, dia terus saja di goda oleh adik dan keluarganya.
Afifa dan Nadia duduk berdampingan di atas karpet yang sengaja di gelar. Terjadi perbincangan basa-basi di antara mereka yang intinya memuji kecantikan keduanya.
Tak lama Papa dan Fauzi datang hampir bersamaan, mereka langsung bergabung dengan para tamu, saling menyapa, dan memperkenalkan diri.
Acara khitbah akan tetap di lakukan nanti malam, sambil menunggu pa Ustad yang memang sudah di undang untuk memimpin acara.
Sore ini mereka hanya berbincang menanyakan hal remeh temeh tentang keluarga atau pun ciri khas daerah masing-masing, perbincangan akhirnya mengarah pada maksud kedatangan keluarga Farid ke tempat ini.
Tiba-tiba Umi Wafa, Ibunya Farid mendekat ke arah Afifa dan Nadia, lalu berkata, "Nak...! Umi senang sekali saat Farid mengatakan kalau dia akan membawa kami kepada keluarga dari gadis pilihannya. dan kebahagiaan kami bertambah saat kami melihatmu benar-benar berada didepan mata kami saat ini. Umi berharap, kalian tetap istiqomah menjalani proses taaruf ini sampai saat pernikahan nanti." Umi Wafa tersenyum ke arah Afifa.
Afifa ikut tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Nadia yang masih tertunduk dan tersipu, dan kembali menatap Umi Wafa.
Tiba-tiba tangan Umi Wafa terangkat dan meraih wajah Afifa lalu memeluknya. Afifa kaget bukan main, dia menatap semua orang dihadapannya dibalik pelukan Umi Wafa, Keluarga Farid nampak tersenyum, lain halnya dengan Farid, Fauzi serta kedua mertuanya yang menatapnya dengan heran. Wajah Afifa langsung pucat karena kaget dan malu, mata Afifa langsung tertuju pada wajah suaminya yang ternyata sedang menatapnya penuh tanya.
Umi Wafa melepas pelukannya, Afifa segera menatap Nadia di sampingnya yang juga menatapnya penuh tanya. Afifa segera menggenggam tangan Nadia yang kini semakin dingin. Lalu dia kembali menatap Umi Wafa. "Ma...maaf Umi, Sa...saya Afifa," ucap Afifa terbata-bata.
"Afifa? bukannya namamu Nadia?" tanya Umi Wafa heran.
"Bu...bukan Umi, Saya Afifa, dan ini Nadia," jelas Afifa sambil memegang bahu Nadia yang terlihat pucat dan tertunduk.
Keluarga Farid nampak kaget mendengar Ucapan Afifa, seketika pandangan mereka tertuju ke arah Farid dengan sorot mata penuh tanya seolah meminta penjelasan darinya.
*************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Nah kan...Nah kan... Deuuuuh... Farid...Farid..., kenapa masih nyimpen foto mantan yang udah jadi istri orang siiii..., 🤔
Tetap like, vote dan koment... selalu...selalu saya tunggu.
Terimakasih untuk semua dukungannya, serta motivasinya dari kalian semua 🙏.
Dan terimakasih yang tak terhingga juga untuk semua Readers yang sudah mengirim sesuatu untuk saya sebagai bukti rasa cinta Readers terhadap karya-karya saya 🙏
I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘
__ADS_1
By : Rahma Husnul