
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Pagi-pagi sekali Mama mengajak Afifa pergi ke pasar yang berjarak sekitar 500 meter saja dari rumah Afifa, tak sampai 5 menit dari rumah Afifa jika ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Afifa membeli sayuran dan buah-buahan segar, juga beberapa lauk untuk cadangan 3 hari kedepan. Mama sengaja meminta Afifa untuk membeli buah-buahan lebih banyak dari biasanya, sekalian untuk dibawa ke rumah Wulan siang nanti. Sepertinya Mama sangat perhatian pada cucu barunya ini, sehingga dia terus bertanya, makanan kesukaan Thalita, buah kesukaan Thalita dan banyak lagi hal-hal sepele untuk diberikan kepada cucunya itu.
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan dipasar merekapun kembali kerumah dan mulai meracik berbagai masakan untuk sarapan.
"O ya, Fa! apa Wulan sudah diberi tahu kalau hari ini kita akan datang kerumahnya?" tanya Mama disela menggoreng ikan bandeng diatas wajan, sedangkan Afifa sedang memotong sayuran.
"Belum, Ma!, nanti saya telphon Mbak Wulan". Jawab Afifa.
"Ya sudah, kamu telphon dulu gih, biar Mana yang lanjutin, takutnya nanti Wulan gak ada dirumahnya". Pinta Mama, lalu mengambil alih pisau dari tangan Afifa.
"Iya, Ma!", jawab Afifa, lalu mencuci tangannya di washtapel dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Afifa mulai melakukan panggilan ke nomor Wulan, Namun ternyata...Wulan menolak mereka datang, dengan alasan dia tidak mau Fauzi bertemu dengan Ayahnya terlebih dahulu sebelum adanya kesepakatan antara dirinya dengan keluarga Fauzi. Akhirnya Wulan memilih untuk datang sendiri ke rumah Afifa siang nanti setelah Afifa pulang mengajar.
Waktu terus bergulir, saat itupun tiba. Wulan datang sendiri kerumah Afifa. Seperti biasa Afifa selalu menyambut dengan baik siapapun tamu yang datang ke rumahnya. Dia mempersilahkan Wulan duduk diruang tamu. Minuman dan beberapa kudapan sudah tersedia disana.
Kini semua orang sudah berkumpul disana, kecuali Nadhia. Dia baru pulang dari kampus, dan memilih untuk duduk dikamar Thalita sambil mengerjakan beberapa tugas kuliahnya.
Kursi diruang tamu hampir semua terisi, Mama dan Papa duduk berdampingan, begitupun dengan Fauzi dan Afifa. Wulan duduk sendiri sambil tertunduk ibarat seorang tersangka yang sedang di interogasi.
"Silahkan dicicipi hidangannya, Mbak!" ucap Afifa memecah keheningan.
Wulan menoleh ke arah Afifa, "O iya terimakasih Fa", ucapnya sambil tersenyum.
"Mohon maaf sebelumnya Nak Wulan, ini adalah kedua kalinya saya meminta Nak Wulan untuk bertemu dan berbicara secara langsung. Pertemuan kita sebelumnya terlanjur terpotong dengan kejadian itu. Padahal masih banyak sekali yang ingin saya bicarakan dengan Nak Wulan", Papa memulai pembicaraan dengan tenang.
"Oh...iya, Paman! Saya juga mohon maaf atas apa yang dilakukan oleh Ayah saya kemarin", jawab Wulan dengan sopan. Lalu pandangannya beralih ke arah Fauzi yang masih bertengger kain kasa di kepalanya.
"Ya sudah kita lupakan kejadian itu, sekarang kita akan membicarakan tentang masa depan cucu saya Thalita". ucap Papa lagi.
Wulan mengangkat kepalanya, menatap ke arah Pak H. Ramadhan, dia tidak berkata apapun, hanya serius mendengarkan dan menunggu kelanjutan kata-kata yang ingin diucapkan Beliau.
"Saya sudah bicara dengan Fauzi tentang permintaan Ayahmu, saya mohon maaf karena tidak bisa membujuk anak saya untuk memenuhi permintaannya".
__ADS_1
Wajah Wulan tampak mulai menegang, dia tertunduk, lalu perlahan kembali mengangkat wajahnya, "Saya...saya juga tidak berharap lebih Paman, Maafkan semua ucapan Ayah saya, Paman tidak perlu menghiraukan permintaannya", ucapnya pelan dan kembali tertunduk.
Afifa memperhatikan raut wajah Wulan yang berubah, nampak sekali kesedihan dari wajahnya. Afifa tak angkat bicara, dia hanya mengikuti alurnya mendengarkan semua ucapan orang-orang dihadapannya.
"Dan saya juga mohon pengertian darimu, sebuah pernikahan itu tidak bisa dipaksakan, dan ini hanya akan menyakiti semuanya", timpal Fauzi.
"Kamu tenang aja, Zi!, aku juga tidak akan memaksakan diri yang justru akan membuatku semakin terhina, Aku tau dimana posisiku saat ini", Ucap Wulan kemudian.
"Lalu bagai mana dengan Ayahmu?" tanya Papa.
"Paman tenang saja, saya akan bicara dengan beliau dan berusaha untuk menjelaskannya".
"Oh, Syukurlah, semoga beliau mengerti". Ucap Papa kemudian. Semua orang mengangguk.
"Thalita Pah...", timpal Mama sambil menepuk punggung tangan suaminya. Papa menoleh ke arah istrinya, lalu kembali menatap Wulan.
"Dan satu lagi Nak Wulan", Papa menarik nafas panjang, Wulan mengangkat wajahnya. "Ini soal Thalita".
"Kenapa dengan Thalita?" tanya Wulan.
"Maksudmu?" tanya Wulan sambil mengalihkan pandangannya kepada Fauzi.
"Kami khawatir, jika permintaan Ayahmu tidak terpenuhi dia akan melampiaskan kemarahannya kepada Thalita dan akan membahayakannya baik secara fisik maupun fsikis karena berbagai ucapannya yang tidak terkontrol dan akan selalu didengar Thalita setiap harinya", Fauzi menarik nafas berat, "Jadi...bolehkah Thalita tinggal disini bersamaku?" tanya Fauzi.
Wajah Wulan langsung pucat dari sebelumnya, dia nampak begitu kaget, tidak menyangka Fauzi akan mengucapkan hal itu. "Mmm...maksudmu...Kamu... akan mengambil Thalita dariku?", tanya Wulan dengan ekspresi tak percaya.
Fauzi memandang Afifa dan orang tuanya, seolah mencari dukungan, tapi Afifa hanya terdiam, dia merasa iba melihat Wulan dalam posisi seperti ini.
"Ini demi kebaikan Thalita Nak Wulan", Mama menimpali. Dan itu membuat Wulan semakin menundukan kepalanya, nampak sekali kesedihan yang sengaja ia sembunyikan dibalik tunduknya, dan terlihat ada beberapa kristal kecil diujung matanya.
"Thalita...Thalita adalah harta yang paling berharga untuk saya, dia tujuan hidup saya, dia adalah hidup dan mati saya, tanpa dia, hidup saya tidak akan ada artinya lagi dan hidup saya akan hancur tanpanya", Satu tetes kristal terjatuh dari kedua mata Wulan, dia segera menepisnya dengan tangan kanannya.
"Nak Wulan, Maafkan ucapan kami, kami tidak akan memaksamu jika seandainya kamu tidak mengizinkan Thalita dirawat oleh kami". Ucap Papa.
__ADS_1
"Tapi Fauzi juga Ayahnya kan, Pa! Fauzi juga punya hak untuk merawat Thalita" timpal Fauzi.
"Tapi Wulan lebih berhak, Zi!, dia yang sudah mengandung, melahirkan dan merawatnya hingga sekarang ini, tak mudah bagi seorang ibu untuk berpisah dengan putri satu-satunya". jawab Papa.
Ucapan Fauzi semakin membuat Wulan lebih terisak lg dari sebelumnya. "Saya mohon, Jangan ambil Thalita dari saya, saya tidak bisa hidup tanpanya", tangis Wulanpun pecah, membuat Afifa segera menghampirinya dan duduk disebelahnya, diusapnya punggung Wulan yang terguncang menahan tangis dipelukan Afifa.
"Mbak...Mbak...sudah! jangan menangis lagi. Mbak Wulan tenang saja, semuanya akan baik-baik saja", ucap Afifa.
Wulan tidak menjawab, dia terus terisak dalam pelukan Afifa. membuat Fauzi, Mama maupun Papa saling pandang karena merasa bersalah.
*********
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ah Readerd... 😢
Author makin galau 😢😢😢
Tetap like, Vote dan komentarnya ditunggu, biar lebih semangat lagi nulisnya 😉
*******
Eh iya... PENGUMUMAN....⚘⚘⚘
Author udah punya karya Baru berjudul
CAHAYA CINTA NAURA
baru satu episode si...😉
mampir juga ya. dan tetap like, vote dan komentar disana, semoga kalian suka juga seperti karya saya sebelumnya 😊
__ADS_1
terimakasih 🙏
By : Rahma Husnul