
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Pagi berganti siang, siang berganti sore, Hari ini Wulan benar-benar tidak bisa Fokus dengan gambar designenya, selain memikirkan sikap putrinya semalam, dan ada hal lain tentunya yang terus mengganggu fikirannya saat ini. Menunggu..., menunggu waktunya tiba, dimana masa depannya akan di tentukan sore ini. Masa depan dirinya, keluarganya, kehidupannya, dan kisah cinta dirinya bersama Faqih tentunya.
Pukul 3.40 sore, mobil silver Faqih sudah terparkir di depan rumah Wulan. setelan kemeja berwarna gading yang dia gulung setengah lengan dipadukan dengan celana panjang bahan dengan warna senada menambah kharisma bijak yang sudah tertanam dalam dirinya.
Wulan yang sudah mendapat chat dari Faqih untuk bersiap, masih saja terdiam di depan meja riasnya, bukan untuk lama-lama berdandan, melainkan memandang dirinya dicermin, sekedar menekuri seberapa pantas kah dirinya untuk seorang Faqih?
Dia sadar dengan status yang disandangnya saat ini, dia hanya seorang wanita yang sudah terjerumus karena kebodohannya sendiri, penyebab kehancuran keluarganya, masa depannya, bahkan sempat terjatuh pada titik terendah di bawah hinaan orang. Sedangkan Faqih, Dia adalah sosok pria idaman hampir setiap wanita juga sosok seorang menantu idaman bagi setiap ibu. Bagai mana tidak, wajahnya yang tampan dengan tubuh proporsional, baik, cerdas dan mapan. Seakan tak ditemukan sedikitpun cela darinya.
"Tok tok tok," suara ketukan pintu kamar Wulan yang di ketuk seseorang dari luar.
"Sebentar...!" ucap Wulan. Lantas berdiri dan melangkah menuju pintu kamarnya, "Iya Rin?" tanya Wulan saat melihat pegawainya di luar pintu kamar.
"Tamunya sudah datang, Bu! beliau menunggu di bawah," ucap Rina.
"O iya, baiklah, bilang padanya untuk tunggu sebentar, saya akan segera turun," ucap Wulan. Lantas kembali masuk ke kamarnya, mengambil tas dan kembali berdiri di depan cermin. Setelan rok plisket kopi susu yang dipadukan dengan kemeja pendek lengan panjang berwarna coklat serta kerudung pasmina salur berwarna senada sudah ia kenakan, menambah anggun dirinya. "Bismillahirrohmanirrohim...," ucapnya di depan cermin sambil berusaha menyunggingkan senyum disana. lalu dia membalikan badannya dan melangkah keluar menuju tamu yang sudah menuggunya.
"Sudah siap, Lan?" tanya Faqih saat melihat sosok wanita yang ditunggunya turun dari tangga, senyuman mengembang dari bibirnya dengan tak melepas pandangannya dari wajah Wanita yang sejak lama dicintainya ini.
"Oh...i... iya, sudah," jawab Wulan gugup mendapat tatapan intens dari Faqih. "Ayo!" ajaknya, agar Faqih berhenti memandang dirinya.
Faqih mengangguk lalu berjalan menuju mobilnya, diikuti oleh Wulan. Dia segera membukakan pintu untuk Wulan, "Silahkan, Lan!" ucapnya sambil tersenyum.
"Iya," jawab Wulan, lalu masuk ke dalam mobil, Faqih menutup kembali pintu mobilnya, lalu dia berputar ke sisi lain, membuka pintu mobil dan duduk di balakang kemudi. Faqih menyalakan mesin mobil, lalu menoleh sebentar ke arah Wulan yang sedang tertunduk menampakan ketegangannya. Faqih tersenyum, lalu berkata. "Kenapa, Lan?" tanyanya.
Wulan nampak kaget dan mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Faqih, "Ah..., tidak apa-apa, Tam! aku...aku hanya merasa tidak yakin saja." Ucapnya dan kembali tertunduk.
Faqih menggeser duduknya, lalu mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Wulan. "Jangan takut! aku akan meyakinkan orang tuaku agar menerimamu sebagai pendamping hidupku." Ucap Faqih sambil tersenyum.
Wulan menoleh ke arah Faqih, mata keduanya bertemu, Wulan terdiam, sejenak merasakan satu kedamaian saat menatap netra hitam milik Faqih yang memandangnya penuh cinta dan harapan tanpa ada kebohongan sedikit pun untuknya. Seulas senyum terukir dari bibir Wulan. Jujur saja, seandainya saat ini dia tidak mengingat siapa dirinya, tentunya hatinya sedang berbunga-bunga, jantungnya berdetak kencang seolah bersorak mengiringi kebahagiaan hatinya kini. Namun, Wulan kembali tertunduk saat kesadarannya terkumpul, dia kembali teringat dengan tujuan dirinya dan Faqih saat ini, yakni untuk meminta restu dari orang tua pria yang berada disampingnya kini.
30 menit berlalu, didalam perjalanan Wulan tak banyak bicara, hanya sesekali Faqih bertanya dan hanya di jawab seperlunya saja oleh Wulan. Mobil silver itu berhenti dan berbelok masuk ke pekarangan luas dari rumah besar berlantai satu dengan gaya klasik. Lalu mobilnya berhenti di bawah pohon besar yang rindang yang memayungi halaman rumah besar itu.
__ADS_1
"Ayo turun,Lan! kita sudah sampai. Ini rumahku," ajak Faqih.
Wulan tak menjawab, dia hanya memutar pandangannya menatap setiap penjuru dari halaman depan rumah itu. Kini jantungnya semakin berdegup kencang. Wulan menarik nafas panjang, sekedar mengisi paru-parunya yang terasa kosong karena sesak dan gelisah. Lantas dia mengangguk pelan.
Keduanya turun dari mobil, lalu berjalan beriringan menuju pintu rumah yang sedang terbuka.
"Assalamualaikum," ucap Faqih pada semua orang di dalam ruang tamu, yang ternyata sudah menunggu kedatangan mereka.
"Waalaikum salam...," jawab semua orang dengan ramah.
Di sana sudah ada kedua orang tua Faqih, Kakak laki-laki Faqih beserta istrinya, juga Kakak perempuan Faqih beserta suaminya. Faqih adakah anak bungsu dari tiga bersodara. Orang tuanya nampak sudah berumur, Ayahnya seorang pensiunan PNS pegawai pemerintah.
Faqih tersenyum melihat orang-orang terkasihnya sudah berkumpul di sana, dia merasa bahwa niatnya kali ini benar-benar di sambut oleh keluarganya. Tentu saja, Faqih sebagai anak bungsu yang usianya sudah tak muda lagi, dan pernikahannya sangat dinantikan oleh semua keluarga besarnya, semalam mengutarakan niatnya untuk memperkenalkan calon istrinya sore ini. Kedua orang tuanya sangat bahagia dan ingin segera bertemu dengan wanita pilihan putra bungsunya ini.
Lain halnya dengan Wulan. Dia semakin gugup dan gelisah menyaksikan banyak orang sudah berkumpul disana. Dia hanya bisa tertunduk sambil berusaha menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Ayo, silahkan duduk, Nak!" Ucap Ibunya Faqih kepada Wulan.
"Terimakasih, Bu!" jawab Wulan sambil mengangguk, lantas duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya. Ini benar-benar moment menegangkan untuknya, meskipun dia pernah menikah bahkan punya anak, tapi baru kali ini dia merasa seperti seorang gadis yang gugup ketika sedang diperkenalkan dengan calon mertuanya. Namun, tentunya bukan hanya gugup karena hal itu, melainkan ada hal lain yang jauh lebih sulit bagi Wulan saat ini.
"Mangga, Cep!" jawab Wanita itu sambil mengangguk sopan, mungkin wanita itu adalah seorang pembantu di rumah besar ini.
"Mangga diminum dulu, Neng geulis!" Ucap ibunya Faqih sambil tersenyum.
"Hatur nuhun, Bu!" Jawab Wulan, dia meraih gelas berisi minuman di hadapannya, lalu meneguknya sedikit untuk menghargai pemilik rumah, dan meletakan gelas itu kembali di atas meja. begitupun dengan yang lainnya.
"Faqih, jadi ini calon istrimu?" tanya Ayahnya Faqih dengan suara basnya yang berwibawa, wajahnya nampak tegas namun tetap ramah.
"Iya Ayah, namanya Wulan Mulyani, Faqih sudah kenal lama dengannya, dia teman Faqih waktu SMU," jelas Faqih kepada Ayahnya. Semua orang yang ada di sana manggut-manggut. Wulan hanya mengangguk pelan.
"Hmmm..., Jadi kalian sudah kenal sejak dulu ya?" tanya Ayahnya lagi kepada Wulan.
"Iya, Pak!" jawab Wulan masih tertunduk, tak berani mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Apa orang tuamu masih ada, Nak?" tanyanya lagi.
"Ayah saya masih ada, tapi ibu saya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu." jawab Wulan.
"Oh..., saya turut prihatin. Sebenarnya saya ingin bicara juga dengan orang tuamu, tapi ya sudah nanti saja, yang penting sekarang saya sudah melihat gadis pilihan putra saya." Ayahnya Faqih kembalu mengambil minumannya dan menyeruputnya satu tegukan.
Wulan masih terdiam menunggu pertanyaan selanjutnya. Sekilas dia menatap Faqih yang duduk bersebelahan dengan kursi yang terpisah. Faqih tersenyum, lalu mengangguk.
"O ya, Neng Wulan, Ibu ini kan hanya tinggal berdua di rumah ini, Ibu ingin kalau kalian sudah menikah nanti, kalian tinggal disini bersama kami," ucap ibunya Wulan memecah keheningan.
"Oh..., kalau soal itu, sepertinya saya...,"
"Tidak bisa begitu dong, bu! Wulan ini kan sudah punya rumah sendiri, dia juga harus menjaga Ayah serta Putrinya." jelas Faqih.
"Putrinya???" tanya Ibunya Faqih heran, begitupun dengan yang lainnya, berpasang mata langsung menatap dirinya, seolah meminta penjelasan dengan apa yang baru saja di ucapkan Faqih.
Wulan terdiam, dan semakin tertunduk, dia merasa inilah saatnya, dia harus berperang melawan gejolak hati dan fikirannya, benar-benar meraba diri akan situasi dan statusnya saat ini.
*************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Apakah orang tua Faqih akan merestui hubungan mereka setelah tahu kalau Wulan sudah punya anak? 🤔🤔🤔
tunggu di part selanjutnya.
mohon maaf hanya sedikit tulisannya, berhubung waktunya sudah subuh 🙏
tetap like, vote dan komentar 🙏😊
I LOVE YOU ALL ...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
__ADS_1
By : Rahma Husnul.