
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Siang itu berlalu, rasa sesak didada Afifa masih saja setia bersemayam dihati dan fikirannya. Setelah menunaikan kewajiban Sholat Isya', Afifa bersujud kepada sang maha pemilik diri dan seluruh alam ini, memohon petunjuk atas segala kegundahannya selama ini.
Fauzi kembali dari mesjid setelah Isya', Afifa segera menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, selama dimeja makan Afifa tak banyak bicara, dia hanya mengaduk-aduk makanan dengan sendok dan garfu yang masih setia ditangannya.
"Kok makannya diaduk terus Dek?" tanya Fauzi saat melihat Afifa makan dengan malas nampak tak berselera, "Ini enak lo", sambil kembali memasukan satu sendok nasi ke mulutnya.
"Oh...iya, Fifa tadi sudah makan camilan, jadi masih agak kenyang", kilah Afifa.
"Hmmm...begitu ya? tapi kamu baik-baik saja kan?".
"Iya, Fifa baik kok".
Fauzi mengambil gelas berisi air putih disampingnya, meneguk isinya sampai habis setengahnya, "Apa terjadi sesuatu disekolah tadi?".
"Oh...tidak, semuanya baik-baik saja", Afifa menyunggingkan senyum.
Fauzi berdiri dari duduknya setelah makanan dipiringnya habis, "Syukurlah, kalau begitu habiskan makanannya, apa mau aku suapin?", Goda Fauzi kembali menatap Afifa.
"Ah...gak usah...Fifa akan habiskan".
Fauzi tersenyum, "Ya sudah, aku kedepan ya".
"Iya...", jawab Afifa sambil memasukan satu sendok nasi ke mulutnya.
Fauzi berjalan menuju sofa diruang keluarga, mendudukan dirinya disana dan mengambil ponsel yang tergeletak diatas meja.
Setelah makanannya sudah tak sanggup lagi ia masukan kedalam perutnya, Afifa membereskan sisa makanan dan mencuci piring bekas makannya.
Pekerjaan dapur sudah selesai, Afifa berjalan menuju ruang keluarga, kali ini dia bermaksud membicarakan kejadian tadi siang kepada suaminya, meski Wulan sempat memohon untuk tidak mengatakannya terlebih dahulu dengan Fauzi, tapi rasanya Afifa tidak sanggup jika harus memendamnya sendiri, bagaimanapun Fauzi harus tau kebenarannya.
Afifa menghentikan langkahnya saat melihat suaminya sedang duduk disofa, fokus dengan layar ponselnya, sampai tak menghiraukan kedatangannya. Cukup lama Afifa berdiri, namun Fauzi tak juga menoleh kearahnya, dia malah terlihat senyum-senyum sendiri dan mengetikan beberapa huruf diatas layar ponselnya, Afifa pun duduk disamping suaminya.
"Hei sayang...sudah selesai?" Fauzi menoleh sekilas ke arah Afifa, dan kembali menatap layar ponselnya.
"Sudah", jawab Afifa singkat, Afifa terdiam memperhatikan suaminya yang semakin larut dalam chatingannya dengan seseorang.
__ADS_1
"Kak...", panggil Afifa, mencoba memulai pembicaraan.
"Iya sayang?", tanpa mengalihkan pandangannya, "Ha ha ha...", tiba-tiba Fauzi tertawa.
"Kenapa?" tanya Afifa heran.
"Lihat deh sayang..., aku lagi godain Farid", ucap Fauzi kemudian, sambil tertawa dan memperlihatkan layar ponselnya ke arah Afifa.
Afifa mengernyitkan dahinya, menatap layar ponsel, namun tak berkata apapun.
"Farid minta nomor Nadia", jelas Fauzi.
"Untuk apa?" tanya Afifa.
"Jadi ternyata, dulu mereka pernah dekat".
"O...begitu ya?", Afifa sedikit tersentak, sempat tersungging senyuman garing dari bibirnya.
"Katanya sih dia mau minta maaf atas sikapnya kepada Nadia dua tahun yang lalu".
"Entahlah, sepertinya sangat serius, sekalian aja aku godain dia untuk datang saja sendiri ke kampusnya", Fauzi kembali tertawa.
"Bukankah sebaiknya tanya Nadia dulu Kak, siapa tau dia tidak mengizinkan nomornya diberikan kepada orang lain".
"Iya juga sih... tapi aku percaya kok sama Farid, dia pemuda yang baik, tidak mungkin berbuat macam-macam, kalau mereka mau, akan aku jodohkan malahan", Fauzi kembali tertawa, dia nampak bahagia, namun lain halnya dengan Afifa, dia merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya saat suaminya membicarakan perjodohan Nadia dengan Farid. Bukan karena dia masih menyimpan rasa untuk orang yang pernah singgah dihatinya itu, toh kini Afifa tidak pernah kekurangan kasih sayang sedikitpun dari pria yang kini menjadi suaminya, namun, jika saja mereka benar-benar berjodoh, tentunya mereka akan sering bertemu dan akan timbul sedikit kecanggungan diantara mereka, dan hal itu sama sekali tidak diharapkan Afifa. Afifa berusaha menunjukan ekspresi sebiasa mungkin, dia tidak mau suaminya akan salah faham terhadap sikapnya.
"Gimana? kamu setuju kan Dek?" tanya Fauzi membuyarkan lamunannya.
"Apanya?" tanya Afifa sedikit kaget.
"Kita jodohkan mereka", jelas Fauzi lagi.
"Oh...iya, terserah mereka aja", akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut Afifa.
Afifa kembali sadar dengan tujuan utamanya untuk membicarakan masalah tadi siang, diapun mencoba untuk memulai pembicaraan. "Kak...", panggil Afifa pelan.
"Ya? kenapa?" Fauzi menatap istrinya yang ternyata sedang gelisah.
__ADS_1
"Aku...aku...", Afifa tertunduk ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Hmmm...apa kamu tidak setuju?" potong Fauzi.
"Eh bukan...bukan itu, aku...".
"Apa kamu takut, aku cemburu dan khawatir kalau Farid akan dekat denganmu nantinya?"
"Eh...tidak...Kak, bukan begitu".
Fauzi meletakan ponselnya, "Sayang..., aku percaya padamu, pada cinta kita, pada ikatan suci pernikahan kita", tangan Fauzi meraih tangan Afifa, menggenggamnya erat lalu memeluknya. Mata Afifa berkaca-kaca dibalik pelukan suaminya, mengingat begitu besar cinta suaminya untuk dirinya, begitupun dengan rasa cintanya untuk suaminya yang semakin hari semakin tumbuh bersemi, rasanya tak sanggup jika dia harus berpisah dengannya atau bahkan membagi cintanya dengan orang lain...
Afifa mengingat kembali wajah Wulan yang memelas dan memohon untuk tidak mengatakan semuanya terlebih dahulu kepada Fauzi, dia juga mengingat semua pengorbanannya Wulan selama ini, rasanya tidak adil untuknya jika dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri.
Fikiran Afifa terus melayang sampai satu bisikan terdengar ditelinganya, "Bobok yuk...! aku ingin mengqodonya sesudah berpuasa satu bulan ini".
Afifa kembali ke alam sadarnya, jika sudah begini, maka tidak ada lagi kesempatan untuk mengatakan semuanya.
*************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum Readers....Saya mengucapkan terimakasih banyak untuk kalian yang masih setia menunggu serta mengikuti cerita ini, karena sesungguhnya tanpa dukungan dari kalian, karya saya ini bukan apa-apa.
Saya juga mohon maaf, jika cerita ini terasa banyak yang kurang dihati kalian, karena saya bukanlah seorang penulis, ataupun pujangga yang lihai merangkai kata 😀. saya hanya pembelajar yang senang menulis dan sedang belajar menulis 😊.
Sebenarnya saya sempat berfikir untuk berhenti menulis karena keterbatasan pengetahuan dan waktu saya, tapi melihat antusias kalian dengan komentar-komentar yang membangkitkan semangat saya, sepertinya saya akan mengecewakan kalian kalau saya berhenti sampai disini.
saya hanya dapat mengucapkan terimakasih untuk kalian semua. dan mohon maaf jika ceritanya tidak berkenan dihati kalian.
Tetap beri masukan dengan komentar2 kalian, agar karya saya ini jauh lebih baik untuk kedepannya. thanks you so much...😙😙😙
LOVE YOU READERS...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘
By: @Rahma Husnul#
__ADS_1