
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Malam berganti pagi, lagi-lagi Afifa mengeluarkan isi perutnya dikamar mandi, Fauzi selalu hadir disampingnya, sekedar memijit lehernya ataupun memberi air minum hangat kepadanya.
"Makasih, Kak!" ucap Afifa saat Fauzi memberikan segelas air putih hangat kepadanya di kamar mandi, wajahnya nampak memerah, nafasnya tersengal dengan cairan diujung matanya menandakan dia sedang menahan rasa ketidak nyamanannya.
"Sudah? Ayo duduk dulu!" Fauzi membimbing Afifa menuju sofa. membiarkannya duduk disana, dia hendak berdiri, namun Afifa menahan tangannya dan menariknya agar duduk kembali disampingnya, Fauzi pun duduk kembali. Afifa beringsut membaringkan tubuhnya di sofa dengan pangkuan Fauzi sebagai penopang kepalanya, lalu matanya terpejam nampak begitu nyaman.
Fauzi merasa ada yng aneh dengan istrinya, diapun bertanya. "Sayang..., kamu kenapa?" tanyanya sambil membelai rambut Afifa yang masih setengah basah.
"Gak papa, hanya ingin seperti ini saja," jawab Afifa dengan tetap memejamkan matanya.
Fauzi tersenyum sambil menikmati kelembutan rambut istrinya dengan belaian tangannya. "Hmmm...? tumben? bisanya gak mau deket-deket?"
"Hmmm...," hanya suara itu yang keluar dari mulut Afifa, lalu membalikan tubuhnya sehingga wajahnya menghadap tepat di perut Fauzi, Afifa menyusupkan tangannya ke pinggang Fauzi, lalu memeluk pinggangnya dengan erat.
Senyum Fauzi semakin lebar, dia membiarkan semua yang dilakukan Afifa, tangannnya terus membelai rambut istrinya, menikmati pemandangan indah didepan matanya, setiap lekuk wajah istrinya yang tak pernah bosan dipandangnya. Lalu dia bersandar di sofa dan ikut memejamkan matanya, sampai kembali terlelap karena kenyamanan yang ia rasakan saat ini.
"Tok tok tok...!" Suara ketukan pintu dari luar kamar mereka. "Zi...!" Suara Mama memanggil.
Fauzi terperanjat membuka matanya, lalu menepuk pelan pipi istrinya. "Sayang..., ada Mama diluar," bisik Fauzi.
Afifa membuka matanya, "Mama?" tanyanya sedikit kaget, dia sampai lupa kalau Ibu Mertuanya sedang berada dirumahnya. Afifa mengangkat kepalanya dari pangkuan Suaminya, lalu duduk dan hendak berdiri. Tapi, Fauzi mencegahnya.
"Tidur saja! biar Aku yang lihat Mama," ucapnya, kembali membelai kepala istrinya. Afifa mengangguk dan kembali duduk.
"Ceklek!" Fauzi membuka pintu. "Ada apa, Ma?" tanyanya.
"Ini sudah siang lo, sudah jam 7, kok kalian masih dikamar aja? itu Mama udah bikin sarapan, ayo sarapan dulu! sekalian ajak Istrimu." Ucap Mama sambil menyembulkan kepalanya sedikit ke dalam kamar.
"Oh iya, nanti Aji keluar sama Afifa, Ma" Fauzi mengusap rambut basahnya yang mengkilat.
Mama tersenyum, seolah mengerti dengan apa yang sudah dilakukan putranya, dia pun menutup kembali pintu kamar Fauzi.
"Ayo makan dulu, Dek!, Mama udah masak," Fauzi menghampiri Afifa yang masih duduk malas di sofa.
Afifa hanya terdiam. dengan susah payah Fauzi membujuknya, sampai akhirnya Afifa mau beranjak dari tempat duduknya.
Itulah keseharian Fauzi yang cukup dibuat repot oleh kehamilan Afifa, terkadang dia harus rela seharian di rumah, karena Afifa tidak mau ditinggal sebentar saja. Dengan sabarnya Fauzi menghadapi keinginan Afifa yang moodnya terus berubah-rubah.
*******
Siang ini kesehatan Wulan sudah membaik, Thalita masih di rumah Fauzi, ini adalah kesempatan Wulan untuk menjenguk Ayahnya di Rumah Sakit, fikirnnya. Wulan pun berangkat menuju Rumah Sakit membawa mobil sendiri.
Setelah waktu Dzuhur, Wulan sampai di RSJ tempat Ayahnya dirawat. Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran RSJ, dia segera berjalan menuju ruang informasi. Ada satu rasa waswas didalam hatinya, takut kalau Ayahnya akan bersikap sama seperti satu bulan yang lalu. Seorang perawat menghampirinya dan bertanya tentang identitas Ayahnya. Perawat itu mengangguk dan meminta Wulan untuk mengikutinya ke suatu tempat.
"Silahkan, Bu!" Ucap perawat itu, sambil menunjuk pada seorang pria paruh baya yang sedang duduk di mushola berhadapan dengan seseorang yang menggunakan seragam dokter yang hanya terlihat punggungnya saja.
__ADS_1
"Terimakasih," jawab Wulan, mengangguk sebagai tanda terimakasih kepada perawat yang mengantarnya. Lalu dia mengalihkan pandangannya kembali kepada Ayahnya. Wulan menatap wajah Ayahnya yang sedang asyik mengobrol dari luar mushola, Wajah Ayahnya terlihat begitu tenang dan berseri-seri, ini adalah pemandangan yang jauh berbeda dengan Wajah Ayahnya yang biasa dia lihat dulu. Wulan pun tersenyum dan ada kelegaan tersendiri di dalam hatinya, Kekhawatirannya berangsur hilang.
Perlahan Wulan menghampiri mereka, senyuman terus tersungging dari bibirnya. "Assalamualaikum Ayah," Sapa Wulan.
"Waalaikum salam," jawan keduanya, mereka menoleh ke arah Wulan. Pa Herman menatap putrinya dengan intens.
"Ayah...," panggil Wulan sambil duduk bersimpuh dihadapan Ayahnya, Pria yang berseragam dokter tadi beringsut menggeser duduknya untuk memberi ruang kepada Wulan. "Ayah apa kabar? Maaf Wulan baru bisa kemari jenguk Ayah," Ucapnya sambil meraih tangan Ayahnya, lalu menciumnya, Wulan nampak merasa begitu bersalah.
"Lan... Wulan?" Jawab Ayahnya, Dia menatap putrinya, lalu mengusap pipi Wulan dengan kedua tangannya, "Kamu baik-baik saja, Nak?" Mata Pak Herman mulai berkaca-kaca, kedua tangan Pak Herman terus menyentuh wajah dan lengan Wulan, untuk memastikan kalau putrinya baik-baik saja setelah kecelakaan itu.
"Iya Ayah, Alhamdulillah Wulan baik-baik saja," Wulan tersenyum meyakinkan.
"Alhamdulillah Ya Alloh..., padahal Ayah sudah berfikiran buruk tentangmu Nak, mengingat kejadian waktu itu, Maafkan Ayah...," Air mata Pak Herman sudah tak terbendung lagi, dia pun menangis tersedu-sedu menyesali semua yang telah diperbuatnya waktu itu.
"Ayah...," Wulan pun ikut menangis, lalu merangkul Ayahnya, mereka berpelukan disela deraian air mata yang mengharukan.
Setelah merasa tenang, Wulan merenggangkan pelukannya. "Wulan senang sekali melihat Ayah sudah sehat sekarang," Wulan menatap wajah Ayahnya dengan senyum meski matanya masih basah karna air mata.
"Alhamdulillah, ini semua berkat ketelatenan Nak Faqih, yang dengan sabarnya merawat Ayah," jawab Pak Herman, jari jempolnya diangkat dan ditunjukan ke arah pria di belakang punggung Wulan.
Wulan terdiam sejenak, dia baru sadar, kalau ada orang lain disana selain dia dan Ayahnya. Dia pun menoleh ke arah pria itu, yang ternyata sedang menatapnya. Sekejap mata mereka bertemu, seulas senyum tersungging dari bibir pria itu, membuat Wulan sedikit kaget dan mengerjapkan matanya.
"Apa kabar Wulan?" tanya Faqih, tetap dengan senyumnya.
"Oh...Iya..., baik," jawab Wulan saat baru sadar kalau Pria di hadapannya adalah pria yang pernah dikenalnya, "Maaf..., tadi saya kurang memperhatikan Anda dokter...Faqih...Adhitama," Wulan sedikit tertunduk merasa malu dan bersalah.
"Terimakasih Dok, atas semua waktu, tenaga dan fikirannya untuk merawat Ayah saya," Wulan menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Pak Herman sambil menatap keduanya bergantian.
"Iya Ayah, beliau adalah teman satu kelas Wulan waktu SMU." jawab Wulan.
"Oh, Syukurlah, kalian bisa silaturahmi kembali di sini," ucap Pak Herman sambil tersenyum. "Kenapa Nak Faqih tidak pernah cerita kalau Nak Faqih ini mengenal putri saya? Saya kan selalu cerita tentang Putri saya, meskipun tidak memperlihatkan fotonya."
"Takutnya saya salah orang, Pak! meskipun besar dugaan saya kalau Putri Bapak adalah orang yang pernah saya kenal, mengingat nama dan karakter yang Bapak ceritakan kepada saya sama persis," Jawab Faqih sambil tersenyum.
"Hmmm? memangnya Ayah cerita apa aja tentang Wulan, Yah?" Wulan memicingkan matanya ke arah Pak Herman.
"Semuanya, karena kata dokter, jika ingin benar-benar sembuh, Ayah harus menceritakan semua sumber masalah yang menyebabkan Ayah sakit, jadi tidak ada satu pun yang Ayah tutupi dari Nak Faqih ini," jawab Pak Herman.
"Tenang saja Wulan, itu semuanya demi penyembuhan dari Pak Herman, tidak ada maksud lain, dan semuanya akan tersimpan menjadi rahasia antara pasien dengan dokternya." jelas Dokter Faqih.
"Terimakasih Tama," jawab Wulan.
"Faqih..., namanya Dokter Faqih," tegas Pak Herman. dan di ikuti dengan anggukan Dokter Faqih.
"Oh..., iya Maaf Dokter Faqih, saya...,"
__ADS_1
"Panggil Faqih saja, Lan!" potong Faqih.
Wulan tersenyum, dan mengangguk-angguk, "Baiklah Faqih," ucapnya kemudian, "Maaf, bolehkah saya mengetahui secara lebih detail perkembangan kesehatan Ayah saya, Dok?" tanya Wulan lagi, membuat Faqih menggeleng karena panggilan terakhirnya. Wulan pun tersenyum dan kembali meminta maaf.
Fokter Faqih mengajak Wulan ke ruangannya, dia menunjukan data perkembangan Pak Herman selama satu bulan ini, yang menurutnya ini adalah perkembangan yang luar biasa, apalagi jika disokong dengan dukungan keluarga dan kehidupan yang tenang tanpa beban masalah, karena bukan hal yang mustahil kalau kejiwaannya akan terganggu kembali.
Tiga puluh menit sudah Dokter Fakih menceritakan dan menunjukkan data perkembangan Pak Herman, sampai akhirnya perbincangan mereka merambat ke masalah pribadi Wulan.
"Saya turut prihatin dengan semua yang terjadi padamu, Lan," Ucap Faqih.
Wulan tersenyum, "Mungkin itu taqdir saya Tam," Wulan tertunduk.
"O ya, berapa tahun usia putrimu?" tanya Faqih.
"Sembilan tahun, dia lahir setelah satu tahun kelulusan kita waktu itu," Wulan masih tertunduk.
"hmmm..., Lalu bagai mana dengan Fauzi?"
"Dia tetap bertanggung jawab terhadap putriku Tam..., dia sudah berkeluarga, dan Alhamdulillah istrinya juga begitu baik kepada putriku,"
"Tidak kah kau meminta pertanggung jawaban dia untuk menikahimu, Lan?"
"Tidak, dalam hal ini dia tidak bersalah sama sekali, aku lah yang salah, karna ide bodoh dari Johan waktu itu, aku nekat berbuat hal yang dapat menghancurkan seluruh hidupku dan keluargaku hingga saat ini."
"Johan?" tanya Faqih, mencoba mengingat pemilik nama yang disebutkan Wulan.
"Iya, Johan teman satu kelas kita, teman Fauzi juga, aku sempat curhat padanya karena Fauzi sama sekali tidak pernah tertarik padaku, meski status kami berpacaran waktu itu, dia terus membujukku agar aku mau melakukan hal konyol itu disaat malam kelulusan kita, dan aku yang masih labil dan gelap mata mau saja menerima saran darinya, dan mengambil obat yang dia berikan untuk menjebak Fauzi. Aku dan Si Johan membuat rencana, dan malam petaka itu pun terjadi, aku tidak menyangka kalau kejadiannya akan berakhir seperti ini," Wulan menarik nafas panjang, fikirannya kembali ke masa-masa kelamnya dulu. "Tapi sudah lah semuanya sudah berakhir sekarang, aku tidak mau terus nenyesali semua hal yang sudah terjadi, saat ini aku hanya ingin terus menata kehidupanku demi masa depan putriku," Wulan kembali menyunggingkan senyum, meskipun senyuman itu terasa getir di mata Faqih.
"Apa kau tidak berniat untuk menjalin kembali satu ikatan dengan pria lain?" tanya Faqih.
Wulan mengangkat kepalanya menatap pria dihadapannya. "Maksudmu?"
Faqih menarik nafas panjang untuk mengatur kata-katanya, "Tawaranku tetap sama seperti dulu, Lan...."
"Deg...!" Dada Wulan tersentak mendengar ucapan terakhir teman lamanya itu. Jujur saja, saat ini dia tidak pernah berfikir sejauh itu, apalagi setelah orang-orang tau latar belakang yang suram tentang dirinya. yang ada dalam fikirannya kini hanya putri dan Ayahnya, meski dulu Adhitama pernah menyatakan cinta kepada dirinya yang berakhir dengan penolakan, karena hatinya sudah terlanjur terpaut dengan pria lain yaitu Fauzi. Tapi untuk saat ini, apa mungkin Adhitama akan menerima dirinya apa adanya?
**************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hmmm... Si Johan emang somplak ya...😏
Yuk... tetap vote, komen dan komentar, tetap ikuti dengan setia ya Readers...😘😘😘
I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘
__ADS_1
By : Rahma Husnul