
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Waktu menunjukan pukul 4 sore, Fauzi sudah dipindahkan ke kamar rawat, Afifa meminta Ibu dan Ayah mertuanya untuk pulang agar mereka bisa beristirahat.
Namun saat mereka sedang bersiap, terdengar suara panggilan di ponsel Afifa, dia segera mengangkatnya saat tertera nomor Nadia disana, lalu menekan loudspeaker supaya semua orang bisa mendengar pembicaraannya.
Afifa kaget saat mendengar suara tangisan Thalita disebrang sana.
"Hallo... Assalamualaikum, Nad? Thalita kenapa nangis?", tanya Afifa khawatir.
Waalaikum salam Anti, Thalita mau lihat Ayahnya dan ketemu Bunda Fifa katanya.
"Lo...? lalu Mbak Wulan?"
Dia sudah pulang An, Thalita tidak mau diajak olehnya, dia malah nangis.
"Pulang?"
Iya, tadi ada yang telphpon dia, dan buru-buru pergi karena orang itu sudah menunggu dirumahnya.
"Oh...ya sudah, kamu kesini aja ajak Thalita, minta anter Mang Ujang, pake mobil Paman ya!"
Iya An, Assalamualaikum.
"Waalaikum salam.
Setelah tau kalau Cucunya akan ke Rumah sakit, kedua orang tua Fauzi mengurungkan niatnya untuk pulang.
Setengah jam kemudian Nadia datang bersama Thalita. Setelah dia melihat kondisi pamannya dan menceritakan semua hal yang terjadi dirumahnya, diapun keluar kamar dan bergabung bersama Kakek dan Neneknya. Sedangkan Thalita masih setia dipangkuan Afifa yang duduk diatas kursi disamping tempat tidur pasien.
Mereka bertiga bercengkrama layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia, terkadang tawa kecil menghiasi percakapan mereka saat mendengar celoteh Thalita yang terus digoda Fauzi dan Afifa karena tangisannya, sampai satu pertanyaan terlontar dari mulut mungil anak itu. "Bunda..., apa bener Thalita itu anak haram?" tanyanya sambil menatap mata Afifa.
Jantung Afifa berhenti sejenak mendengar pertanyaan polos seorang anak yang tak berdosa dihadapannya ini, bibirnya kelu tak dapat mengeluarkan kata-kata. Afifa menggigit bibir bawahnya dan menatap suaminya yang ternyata sama kegetnya dengan dirinya.
Fauzi membetulkan posisi duduknya, sehingga tegak menghadap istri dan putrinya. "Kemarilah sayang!" ucap Fauzi sambil menepuk tempat tidur kosong disampingnya.
Thalita turun dari pangkuan Afifa, lalu naik ketempat tidur dan duduk disamping Ayahnya. Fauzi memeluknya erat dari arah samping putrinya. "Thalita itu anak Ayah, bukan anak haram".
"Tapi Kakek bilang, Thalita anak haram?" tanyanya lagi sambil mendongakan kepalanya menatap Fauzi dalam pelukannya.
__ADS_1
Fauzi kembali menatap Afifa yang masih terdiam dihadapannya, lalu menarik nafas panjang menyayangkan semua yang sudah didengar anak itu. "Dengar Ayah ya sayang!, Mungkin Kakek salah bicara, Thalita itu anak Ayah dan Bunda, bukan anak haram".
Thalita nampak berfikir sejenak, lalu kembali bicara, "Tapi Ayah, temen-temen deket rumahku juga ada yang bilang gitu, katanya Thalita itu anak haram karena..."
"Ssssssst..., sudah..., jangan dengarkan apa kata orang", Fauzi menyimpan jari telunjuknya dibibir mungil Thalita, membuat Thalita menghentikan ucapannya. "Yang penting sekarang Thalita tau, kalau Thalita punya Ayah dan Bunda Fifa yang sayang sama Thalita". Fauzi menyunggingkan senyum ke arah putrinya, lalu kembali memeluknya, tapi Thalita masih nampak bingung dan tidak bergerak.
"Lalu Bunda Wulan?", tanya Thalita lagi, masih dengan wajah kebingungannya. "Apa Ayah pernah menikah dengan Bunda Wulan?", ucapnya polos, membuat Fauzi dan Afifa kembali tak berkutik dan hanya saling pandang. Diusianya yang ke sembilan, sedikitnya Thalita sudah mengerti dengan semua hubungan antara dirinya, ibunya, Ayahnya serta Bunda Afifanya. Namun saat belum menemukan titik tetang dan benang merah yang menghubungkan hubungan keempatnya, otaknya yang cerdas akan terus mencari jawaban yang belum juga ditemukannya.
Afifa menarik nafas panjang, hatinya terasa tercubit mendengar kata-kata polos yang diucapkan Thalita, dia hanyalah seorang anak yang menjadi korban, dan tidak sepantasnya dia mengetahui perbuatan kotor dari masa lalu kedua orang tuanya. mungkin saat ini tidak, tapi..., bukankah semakin lama Thalita akan semakin beranjak dewasa? yang tentunya berbagai pertanyaan itu akan terus muncul dari benaknya tatkala dia tak juga menemukan jawabannya.
Afifa mengangkat kepalanya memandang Thalita yang nampak masih penuh tanya, "Sayang..., Ayah pernah menikah dengan Bunda Wulan", Entah dari mana datangnya fikiran Afifa sehingga tiba-tiba mengucapkan hal itu dari mulutnya, membuat Fauzi membulatkan matanya tajam ke arah Afifa. Tapi Afifa tidak menghiraukannya, dia menatap suaminya sekilas lalu kembali menatap Thalita dan mengulas senyum ke arah anak itu.
Afifa menurunkan Thalita dari tempat tidur, "Sayang..., Bunda mau bicara dulu dengan Ayah, Thalita tunggu diluar sebentar bersama Kak Nadia ya!", ucap Afifa sambil menggandeng tangan Thalita keluar kamar. Tak lama dia kembali menghampiri Fauzi yang masih menatap heran ke arahnya.
"Kenapa kamu berbohong padanya?" tanya Fauzi saat Afifa sampai dihadapannya.
"Aku hanya tidak mau, dia berfikir negatif tentang kedua orang tuanya", jawab Afifa.
"Tapi apa harus mengatakan kalau aku pernah menikahi ibunya?"
"Memangnya apalagi yang bisa kukatakan untuk menghilangkan rasa keingintahuannya yang terus akan tersimpan dibenaknya sampai dia dewasa nanti? apa aku harus mengatakan kalau dia terlahir atas ketidak sengajaan dan perbuatan dosa orang tuanya?"
"Tapi, apakah dengan mengatakan itu, juga akan menghilangkan semua masalah?"
"Lalu bagaimana dengan nanti? saat dia sudah mengerti, dan tau kalau kita sudah berbohong padanya?"
"Hal itu tidak akan jadi kebohongan, kalau sekarang Kak Aji bersedia menikah dengan ibunya", Kata-kata Afifa terlontar begitu saja membuat Fauzi semakin membulatkan matanya, menatap tajam dan tak percaya dengan apa yang didengar dari mulut wanita yang selama ini sangat dicintainya dan sudah hidup selama lebih dari 2 tahun bersamanya, membangun bahtera rumah tangga, melewati setiap ujian yang datang silih berganti atas dasar saling percaya dan cinta suci keduanya.
"Apa maksudmu?" tanya Fauzi dengan suara datar dan tegas memandang istrinya.
Afifa terdiam, lalu tertunduk mengatur setiap nafas sesak yang keluar masuk rongga parunya.
"Apa kamu berfikir, memintaku untuk menikahi Wulan?" Fauzi menatap selidik wajah Afifa, berharap istrinya akan menarik kembali kata-katanya, Namun Afifa hanya terdiam.
"Permisi...!" Ucap seorang perawat yang datang kekamar perawatan, "dengan pasien atas nama Bapak Fauzi Rahman Ramadhan?" tanyanya sambil berjalan membawa data pribadi pasien diatas papan jalan yang dibawanya.
Fauzi dan Afifa menoleh ke arah perawat, "Iya betul, Sus!", Jawab Afifa sambil mengangguk.
"Mohon maaf mengganggu, Bu! Saya adalah perawat yang akan bertugas merawat pasien hari ini", ucap perawat itu sambil menggoreskan bolpoint yang dibawanya diatas kertas yang disanggah papan jalan.
__ADS_1
Afifa mengangguk, matanya tertuju pada papan nama didada kiri perawat itu yang bertuliskan Rima Amalia. Afifa memperhatikan gerak-gerik perawat yang mengukur suhu tubuh dan tekanan darah suaminya. Setelah pekerjaannya selesai, perawat itu pun berpamitan keluar kamar, Afifa mengantarnya sampai pintu, saat pintu terbuka, Thalita memanggilnya.
"Bunda...!"
"Hai sayang...!", sapa Afifa sambil meraih tangan Thalita yang terulur kearahnya.
"Ayah masih lama gak sakitnya?" tanya Thalita.
"Thalita berdo'a saja ya, biar Ayah cepet sembuh", jawab Afifa sambil mengulas senyum. "Kalau Thalita bosen disini, Thalita ikut pulang ke rumah bareng Mak Eyang, Pak Eyang dan Kak Nadia ya", bujuk Afifa.
Thalita nampak cemberut, karena masih ingin bersamanya.
"Thalita dengerin Bunda", Afifa membungkuk memegang pundak anak itu, "disini tuh banyak orang sakit, tidak baik kalau anak-anak berlama-lama berada di Rumah sakit, karena daya tahan tubuh anak seusia kamu itu masih rentan dan mudah terpapar penyakit," Jelasnya panjang lebar. "Memangnya Thalita mau sakit kayak Ayah dan pasien-pasien disini?"
Thalita menggelengkan kepalanya, "Ya sudah sekarang Thalita pulang ya, yuk pamitan sama Ayah!", Afifa menggandeng tangan Thalita mendekati Fauzi. Setelah Thalita dan semuanya pamit, merekapun pergi meninggalkan Afifa dan Fauzi berdua di Rumah sakit.
Waktu terus berputar, entah mengapa, sejak Afifa mengatakan kalau Fauzi harus menikahi Wulan, kecanggungan terjadi diantara mereka, sedikit sekali mereka bicara, hanya beberapa kata saja yang berhubungan dengan kesembuhan Fauzi yang mereka bicarakan.
Kali ini, hanya dua hari saja Afifa menemani Fauzi dirumah sakit, namun rasanya sudah begitu sangat lama. tak ada kehangatan diantara mereka, keduanya hanya saling diam larut dalam fikirannya masing-masing. Afifa belum mau melanjutkan pembicaraannya tentang rencananya, dia tidak mau hal itu akan berpengaruh terhadap proses pemulihannya, biarlah semua akan dia bicarakan kembali saat suaminya sudah benar-benar sembuh nanti.
Begitupun dengan Fauzi, saat ini kepalanya masih terlalu berat untuk berfikir ke arah sana, dia takut otaknya tidak akan berfikir jernih dan hanya akan mengucapkan sesuatu yang salah, yang justru akan menghancurkan kehidupan rumah tangganya dan menyakiti hati wanita yang dicintainya.
***************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum...Readers...
Apa yang akan terjadi dengan rumah tangga mereka kedepannya?
Haruskah Afifa menerima ibu dari putri suaminya untuk menjadi madunya?
Ataukah memilih untuk mundur dari kehidupan rumah tangga yang sudah susah payah ia bangun bersama Suaminya?
Ah..., problematika kehidupan yang sulit.
Tapi meski sulit, Author tetap menunggu Vote, like dan komentarnya ya...🙏
__ADS_1
Terimakasih 🙏😘
By : Rahma Husnul