
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Afifa terperanjat, dia langsung mendorong tubuh Fauzi yang sedang memeluknya diatas sofa. wajahnya memerah karena malu, seakan ketahuan sedang mencuri. Lain halnya dengan Fauzi, dia nampak santai saat keponakannya yang datang tiba-tiba masuk dengan wajah berseri-seri dan memergoki perbuatannya.
"Iya..., kenapa, Nad?" tanya Afifa gelagapan sambil membetulkan pakaiannya dan menyambar kerudung instan yang terjuntai dipinggir sofa, lalu memakainya.
"Eh hehe... maaf, gak sengaja Anti," Ucap Nadia sambil menutup mulutnya cengengesan.
"Gak papa, Nad..., Sini!" panggil Afifa yang melihat Nadia masih berdiri di dekat pintu.
"Paman..., Sorry ya haha...," goda Nadia.
"Apaan si Imut, ganggu aja!" jawab Fauzi kesal.
"Hehe... Maaf, seneng-senengnya dilanjut nanti ya, sekarang Nadia mau pinjem Anti sebentar, boleh ya?" bujuk Nadia masih cengengesan.
"Gak boleh! dasar pengganggu!" Jawab Fauzi kecut.
"Widih! pelit amat si, cuma bentaran doang," Bibir Nadia manyun.
"Sudah, Kak Aji pergi aja gih ke toko!" Ucap Afifa.
"Lo...? katanya tadi gak boleh ke toko? kok sekarang..." protes Fauzi.
"Iya, itu kan tadi, sekarang Kak Aji pergi aja, sana!" Usir Afifa sambil berjalan menghampiri Nadia dan menarik tangannya untuk duduk di atas tempat tidur.
"Ah...! gara-gara kamu si, Muth!" Fauzi kesal dan melemparkan bantal sofa ke arah Nadia.
"Eh..., Gak kena...gak kena ha ha ha...," Ucap Nadia saat berhasil menghindar.
"Awas ya...!" Fauzi berdiri dan berjalan menghampiri keponakannya hendak mencubitnya.
"A...Ampuuuuun, Anti...! lindungi keponakanmu dari Paman yang kejam ini," Nadia berlindung di punggung Afifa.
"Ih..., Ck ck ck...Kalian ini kok gak pernah bisa akur ya?" Afifa melipat kedua tangan di perutnya.
Fauzi berhenti, lalu berbalik ke arah Afifa, "Hmmm...Jadi Aku boleh ke toko ni hari ini?" tanyanya kepada Afifa.
"Hmmm, kan udah dibilangin tadi," jawab Afifa santai.
"Beneran gak akan kangen tiba-tiba gitu?" Fauzi menggoda istrinya.
"Enggak, kangen apaan?" Afifa mendelik.
"Oke, tapi Aku mau ke Cililin lo, sekalian nganter pegawai kita yang baru, mereka mau tinggal di toko baru kita yang ada di Cililin." jelas Fauzi.
"Emang siapa mereka?"
"Itu...namanya Pak Surya sama istrinya Ibu Siti, mereka masih sodara Bi Yati, seminggu yang lalu, aku minta Mang Ujang untuk mencari orang yang bisa mengurus toko kita yang di Cililin, juga mengatur kebutuhan para pegawai disana, termasuk mempersiapkan makan siang mereka,"
"Oh..." jawab Afifa.
"Mang Ujang bilang, mereka orang baik dan bisa dipercaya, Istrinya juga pinter masak, karena beliau pernah buka catering juga, tapi sekarang cateringnya sepi, jadi mereka cari pekerjaan lain."
__ADS_1
"Oh...ya sudah, Kak Aji pergi aja," ucap Afifa. Fauzi mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Nadia yang masih cekikikan di belakang punggung Afifa.
"Hei Imut! urusan kita belum selesai ya!" Ucap Fauzi kepada keponakannya.
"Widiiiiih... galak amat!" ucapnya asal.
Fauzi tidak memperdulikannya, dia mengambil kunci mobil yang tergantung di atas paku dan mengulurkan tangannya ke arah Afifa. Afifa meraihnya dan menciumnya. Satu kecupan mendarat di kening Afifa. "Aku pergi dulu ya, Dek! baik-baik dirumah, kamu juga ya sayang," Fauzi mengusap perut Afifa, "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Afifa dan Nadia bersamaan.
Fauzi pun melangkah keluar dari kamarnya, berpamitan kepada Ibunya juga putrinya yang sedang bermain di taman belakang.
"Ada apa, Nad?" tanya Afifa setelah memastikan Suaminya sudah pergi.
Nadia tersipu sambil memperlihatkan pesan yang dikirim seseorang di ponselnya yang sama sekali belum dijawabnya.
"Apa ini?" tanya Afifa, "dari Mas Ari?" tanyanya saat melihat nama kontak di atasnya. Perlahan Afifa membaca pesan yang dikirim Farid untuk Nadia, yang intinya adalah ajakan makan siang hari ini di suatu tempat.
"Gimana, Antiii?" rengek Nadia.
"Gimana apanya?"
"Jawabnya."
"Kamu sendiri? mau apa enggak?"
"Ya mau bingiiiit...., Anti!"
"Terus kenapa belum dijawab?"
"MasyaAlloh..., jangan keterlaluan mencintai seseorang, Nad! apalagi dia belum halal untukmu."
"Iya, Nadia tau kok,An! Nadia juga pengennya bersikap biasa aja, tapi tetep gak bisa."
"Ya sudah, sekarang jawab dulu, mungkin dia menunggu jawabanmu, siapa tahu ini adalah awal yang baik dari hubungan kalian. Ayo...!" Afifa menyerahkan kembali ponsel Nadia ke arahnya.
Nadia mangambilnya, namun tangannya ragu-ragu untuk bergerak di atas layar, lalu perlahan mengetik beberapa huruf dengan sangat hati-hati, I Y A, hanya tiga huruf itu yang bisa dia tulis, tangannya kembali diam, "Kirim ya Anti?" tanyanya kembali dengan memperlihatkan layar ke hadapan Afifa.
"Kok cuman Iya doang?" tanya Afifa.
"Terus..., Nadia harus tulis apa lagi?" tanya Nadia prustasi, "Ini..., Anti aja yang ketik," ucapnya sambil menyerahkan ponselnya kembali ke tangan Afifa.
Afifa hanya menggelengkan kepalanya, lalu mengambil ponsel, dan mengetik diatasnya beberapa kata, lalu segera mengirimnya. "Nah..., sudah," ucap Afifa dan memperlihatkan isi pesan yang ternyata sudah terkirim.
Nadia tersenyum, lalu memeluk Afifa dari samping, "Makasih Antiiii....," Ucapnya dengan wajah berseri-seri. Setelah cukup lama tiba-tiba Nadia melepas pelukannya, "Ya ampuuuun Anti...," wajahnya nampak kaget.
"Kenapa?" tanya Afifa.
"Aku kan gak bawa baju lagi selain ini dan yang kemarin aku pake, masa ia aku pake baju yang kemaren lagi, dia kan udah lihat," Bibir Nadia manyun beberapa centi.
"Pake baju Anti, Mau?" tanya Afifa.
"Enggak Ah, masa kencan pertama pinjem baju Anti, entar dia kira kalau Nadia ini Anti lagi," Nadia berfikir sejenak, Afifa hanya memperhatikan ekspresi wajahnya yang nampak lucu, matanya yang bulat berputar-putar, kadang dipicingkan, kadang dibuka lebar, pipi cabynya yang putih terlihat gembil membuat Afifa ingin mencubitnya, "O ya, Anti..., Apa di deket sini ada butik atau toko pakaian mislim yang bagus-bagus gitu An? yang kira-kira cocok buat Nadia?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Ada, disebrang jalan sekitar 50 meter dari sini, ada toko pakaian langganan Anti, nama tokonya, SS collection,"
"Apa itu SS Collection?"
"Itu singkatan dari Shifa-Shofi Collection, diambil dari nama kedua putri Bunda Sri Murni, pemilik toko itu. Pakaiannya bagus-bagus, enak di pake, beliau merancangnya sendiri. Coba deh beli di sana, harganya juga tidak terlalu mahal," jelas Afifa.
"Wah..., cocok banget kayaknya, Ya udah, Nadia pergi kesana dulu deh, Anti mau ikut?"
"Kayaknya Anti dirumah aja deh, masih lemes mau keluar. Bilang aja, kalau kamu keponakan Anti, pasti Beliau sudah tau" ucap Afifa.
"Oh...Ya udah, Nadia pergi dulu ya, An!" ucap Nadia, lalu berdiri dengan semangat dan melangkah keluar kamar Afifa.
Nadia berjalan menuju sebrang rumah Afifa dan mencari toko yang dimaksud sesuai dengan perunjuk dari Afifa, tak butuh waktu lama, diapun menemukannya. Nadia masuk ke dalam toko dan bertemu langsung dengan Bunda Sri Murni pemilik toko itu. Benar saja, Beliau begitu ramah, selalu tersenyum dengan memperlihatkan lesung pipitnya saat melayani setiap pelanggannya. Satu setelan gamis Syar'i berwarna Navy dengan beberapa setrip berwarna abu terang di tangan dan saku samping pinggangnya, serta kerudung panjang dengan warna Abu juga, sudah ia pilih. "Terimakasih, Bun...," ucap Nadia setelah kantong plastik belanjaannya sudah di tangan dan menyerahkan uang kepada pemilik toko.
"Sama-sama, Neng..., titip salam buat Afifa ya, semoga kandungannya selalu sehat sampai waktunya melahirkan nanti," ucap Bunda Sri.
"Iya Bun, akan saya sampaikan, terimakasih do'anya. Assalamualaikum," Nadia undur diri.
"Waalaikum salam."
Nadia kembali ke rumah Afifa dengan wajah berseri-seri dengan menjinjing kantong plastik belanjaannya. Dia segera memperlihatkannya kepada Afifa dan langsung mencobanya di kamar Afifa. tubuhnya berlenggak-lenggok di depan cermin rias Afifa, "Gimana, An?" tanyanya, masih di depan cermin.
"Cantik, Pas sekali di badanmu," puji Afifa.
Nadia semakin sumringah, dia melihat jam dinding yang terus berdetak di dinding kamar Afifa. "Masih ada waktu," ucapnya saat melihat jam menunjukan pukul 10 pagi.
Afifa hanya tersenyum melihat Nadia yang salah tingkah menunggu waktu datangnya jam makan siang.
Waktu dzuhur tiba, Nadia sudah bersiap dengan mengenakan pakaian yang baru saja dia beli. Setelah Sholat, Nadia berpamitan kepada Afifa dan Neneknya, dia pun berangkat dengan motor menuju alamat yang dikirimkan Farid pagi tadi.
*******
Fauzi tiba di Toko barunya pukul sepuluh pagi, Selain Pak Surya dan Bu Siti, Mang Ujang dan istrinya juga ikut serta, agar mereka bisa menunjukan tugas mereka di toko ini. Toko baru Fauzi tidak jauh berbeda dengan toko yang berada di samping rumahnya, lantai bawah dipenuhi dengan barang-barang mebelair dan bahan-bahan bangunan, sedangkan lantai atas dijadikan rumah tempat pegawainya tinggal 24 jam disana.
"Nah...ini tokonya, Pak Surya dan Bu Siti, Silahkan!" ucap Fauzi, sambil berjalan menuju tokonya yang sudah buka sejak pagi tadi.
"Iya, terimakasih, Nak Fauzi," Ucap Pak Surya dan Bu Siti, keduanya berjalan beriringan dengan Fauzi dengan membawa kantong besar berisi pakaian mereka, Mang Ujang dan Bi Yati mengikutinya.
Mereka sangat antusias mendengarkan setiap penjelasan dari Fauzi, Mang Ujang maupun Bi Yati, setelah mengerti dengan semua yang harus mereka lakukan, Mang ujang menyerahkan semua kunci toko kepada Pak Surya.
***********
Bersambung... ❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hmmm....Bagai mana acara makan siang Nadia-Farid ya? 🤔
Tetap jadi pembaca setia Author ya Readers...😊. jangan lupa like, vote dan komentar....
Sungguh, komentar kalian membuat saya tambah semangat. 🤗
I LOVE YOU ALL...❤❤❤⚘⚘⚘😘😘😘
__ADS_1
By : Rahma Husnul