Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Kecemburuan Menutup Mata Hati...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Senin sore di rumah Fauzi...


Pukul 5 sore Fauzi pulang dari toko, dia segera membersihkan dirinya, lalu bersiap dengan mengenakan baju koko berwarna krem yang dipadukan dengan celana panjang bahan berwarna hitam, tak lupa ia memasukan kain sarung dan peci ke dalam sling bagnya.


Fauzi mengeluarkan mobil dari garasi setelah memastikan semua pintu dan jendela rumahnya terkunci, mobilnya melesat menuju tempat dimana dia bisa menenangkan hati dan fikirannya.


Selama satu minggu terakhir ini, Fauzi selalu datang ke pesantren setiap malam, untuk mengikuti tausiah yang disampaikan Aang Cecep adik dari Apa Kiyai yang ditugaskan untuk menggantikan Beliau selama kesehatannya belum pulih.


Dua malam kemarin, Fauzi tidak datang ke pesantren karena kehadiran Thalita dirumahnya, dan hari ini dia kembali ke tempat itu. Dia bersyukur saat melihat Apa Kiyai yang memberikan tausiah malam ini, itu artinya dia sudah bisa menemui Beliau.


Selepas mengikuti pengajian dan berjamaah Sholat Isya, Fauzi menemui Apa Kiyai di rumahnya, dia mengucapkan salam sambil mencium tangan gurunya, senyuman Apa Kiyai mengembang saat melihat murid kesayangannya datang.


"Apa kabar, Zi?" tanya Apa Kiyai.


"Alhamdulillah baik, Apa".


"Kamu datang sendiri? Istrimu tidak ikut bersamamu?"


"Tidak Apa..., dia sedang berada dirumah Uminya".


"Lalu...kenapa kamu tidak ikut kesana?"


"Tidak Apa..., Saya ingin menemui Apa, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Apa".


"Tentang apa?" tanya Apa Kiyai.


"Tentang... masalah rumah tangga Kami lagi", ucap Fauzi sambil tertunduk.


"Hmmm... ada apa lagi, Zi?"


"Apa...", ucap Fauzi pada gurunya, agak ragu untuk memulai ucapannya. "Ternyata saya salah karena telah menikahi Afifa".


"Lo? kenapa? tidak ada yang salah dengan jodoh Zi, jodoh itu adalah taqdir muqoddam yang sudah ada ketentuannya sejak zaman Azali, dan ketentuan itu tidak bisa dirubah dengan sekuat apapun usaha manusia".


"Tapi sekarang, Afifa tidak bahagia bersama saya Apa, saya fikir... setelah kami bertemu dengan Wulan dan mendapatkan maaf darinya, maka kebahagiaan kami akan terus menghiasi hari-hari kami, tapi ... ternyata sekarang masalahnya malah semakin rumit setelah Wulan jujur kalau Thalita adalah darah daging saya". Fauzi menatap sekilas wajah teduh dihadapannya yang sedang manggut-manggut konsentrasi mendengarkan semua ucapannya. Fauzi pun menceritakan semua permasalahan yang terjadi pada rumah tangganya.


"Lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" tanya Apa Kiyai.


"Saya sangat mencintai Afifa, Apa...! saya bahkan rela melepaskan ikatan suci kami untuk melihatnya bahagia bersama orang lain yang akan mampu membahagiakannya".


Apa Kiyai menepuk pundak Fauzi, "Hmmm...Derajat tertinggi dalam mencintai seseorang itu adalah ikhlas melepasnya untuk bahagia dengan orang lain, itu memang benar Zi..." Ucap Apa Kiyai, "Tapi itu hanya berlaku bagi pasangan yang belum terikat dalam ikatan suci pernikahan", paparnya.


"Maksud Apa?" tanya Fauzi.


"Ingat, Zi! meski perceraian itu dihalalkan, tapi itu adalah perbuatan halal yang sangat dibenci oleh Alloh, apa kamu mau melakukan sesuatu yang sangat dibenci Alloh?".

__ADS_1


"Tentu tidak Apa, cukuplah masa laluku yang kelam itu saja yang jauh dari Agama. Kali ini saya saya benar-benar ingin mendekatkan diri kepadaNya".


"Syukurlah, kalau begitu...jangan lepaskan dia!", ucap Apa Kiyai.


"Tapi Bagai mana kalau Afifa terus saja meminta saya untuk menikahi Wulan, Apa?"


"Memangnya kamu sanggup?" tanya Apa kiyai.


"Tentu saja tidak, Apa. Saya Fikir, hal itu hanya akan menyakiti kami semua".


Apa Kiyai manggut-manggut, lalu kembali mengusap punggung Fauzi. "Zi...jangan main-main dengan poligami, walaupun itu syariat Allah, tapi harus berhati-hati dengan hukum Allah. Terdapat beberapa kesalahan orang-orang zaman sekarang yang melakukan poligami, Kesalahan pertama, sebagai imam seorang suami belum jadi teladan bagi keluarganya, Kedua, kebanyakan dari kaum pria hanya maunya pada sunnah poligami saja, sementara sunnah-sunnah yang lain belum ditegakkan, seperti tahajjud, (shalat) berjamaah di masjid, selalu jaga wudhu, dan seterusnya,” paparnya. "Kesalahan berikutnya adalah fisik yang kurang mumpuni, juga rizki yang belum mapan. Dan Kesalahan yang paling fatal adalah seorang suami tidak mampu berbuat adil terhadap salah satu istri-istrinya, dan asal kamu tahu, Nabi menikahi istri-istrinya bukan karena nafsu semata, tapi untuk menaikan derajat mereka".


Fauzi mengangguk-angguk memperhatikan penuturan dari Gurunya.


"Baik lah, sekarang...bicaralah baik-baik denga istrimu, jemput dia, jangan sampai kesalah fahaman ini terus berlarut-larut". Ucap Apa kiyai lagi.


Fauzi masih terdiam, rupanya egonya belum juga hilang.


"Kenapa lagi, Zi?" Apa Kiyai kembali bertanya sambil memperhatikan raut wajah Fauzi.


"Saya takut kalau Afifa akan menolak untuk saya ajak pulang, Apa".


"Kamu tidak akan tahu sebelum kamu mencobanya".


"Baiklah Apa, Besok saya akan coba menjemputnya", ucap Fauzi.


Setelah mendapatkan tausiah panjang lebar dari gurunya, Fauzi pamit, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam.


**********


Suara panitia terdengar dari pengeras suara yang terpasang di setiap ruangan tes, meminta seluruh peserta menyalakan komputer. Dalam hitungan ketiga, Operator mengajikan soal secara serentak pada layar komputer masing-masing peserta. Dengan ucapan bismillah, Afifa memulai pekerjaannya untuk mengisi setiap soal kecakapan yang tersaji dilayar, tak lupa Afifa selalu berdo'a disetiap so'al yang dikerjakannya agar jari-jarinya dapat menekan pilihan yang tepat.


120 menit sudah berlalu, sepertinya Afifa tidak mengalami kesulitan berarti dalam pengerjaan beberapa soal dihadapannya, hal itu terbukti dengan senyuman manis yang terukir dari bibirnya saat Opetator memberi peringatan bahwa waktu akan segera berakhir, sedangkan peserta lain terlihat sangat tegang. Afifa menekan tombol Enter, lalu menengadahkan tangannya kepada sang kholiq untuk bertawakal atas semua ikhtiar yang sudah dilakukannya.


Peringatan berakhirnya waktu sudah berbunyi, Afifa menarik nafas lega, lalu berdiri dari duduknya yang kini sudah terasa panas, karena tidak bergerak selama dua jam. Dia mencoba meluruskan pinggangnya, namun pandangan dihadapannya terasa berkunang-kunang. Perlahan...dia melangkahkan kakinya memegangi ujung meja komputer, rasa mual itu kembali datang. "Ya Alloh...apa yang terjadi padaku? hamba mohon kuatkanlah hamba, untuk menghadapi satu hari lagi besok", gumamnya. Mata Afifa berkeliling mencari kantin, dia ingin membeli minuman segar atau sekedar permen untuk mengurangi rasa mualnya. Setelah cukup lama berjalan, dia pun menemukan tempat yang dia cari. Satu minuman dingin rasa jeruk dan beberapa permen ia beli di kantin itu, lalu dia kembali ke penginapan untuk beristirahat sambil menunggu hari esok.


*********


Dengan langkah ragu, Fauzi keluar dari mobilnya saat sudah sampai di pekarangan rumah Umi. Dia menghampiri pintu yang tertutup rapat, rumah ini nampak sepi, padahal hari sudah sore, seharusnya Afifa sudah ada dirumah, fikirnya.


"Assalamualaikum", ucapnya sambil mengetuk pintu.


"Waalaikum salam warohmatulloh", jawab seorang ibu dari dalam rumah dengan langkah pincang hampir menyeret kaki kirinya. Umi membuka pintu, dan wajahnya langsung cerah saat melihat menantunya yang datang. "Nak Fauzi? Ayo...ayo masuk", ucapnya sumringah.


"Terimakasih Umi", jawabnya, pandangannya tertuju pada perban yang masih menempel di kaki Umi, dan memperhatikan cara berjalan Umi. "Umi kenapa?" tanya nya terlihat khawatir, lalu berdiri untuk membantu Umi duduk diatas kursi.


"Oh ini...Satu minggu yang lalu, Umi jatuh di kamar mandi dan menginjak keramik tajam yang rusak, kaki Umi sobek cukup lebar dan harus dijahit", papar Umi, "memangnya Afifa tidak cerita?" tanya Umi heran.

__ADS_1


Fauzi menghela nafas dalam, menyadari kesalahannya, dia telah berprasangka jelek terhadap istrinya, bagaimana Afifa mau cerita sedangkan saat dia mau menceritakan semuanya, Fauzi sudah memotongnya karena sempat terbakar api cemburu. "Oh...itu, maaf Umi..., Aji... baru menjenguk Umi sekarang", ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Sudah...tidak Apa-apa", ucap Umi, "Sebentar..., Umi ambilkan minum dulu".


"Gak Usah Umi! nanti Aji ambil sendiri", cegah Fauzi, Umi pun duduk kembali.


"Abi kemana Umi? Nisa dan Rizqi juga tidak ada dirumah?". tanya Fauzi.


"Mereka sedang menghadiri acara di mesjid", ucap Umi.


"Afifa juga?" tanya Fauzi lagi membuat Umi tercengang, bagaimana menantunya ini bisa tidak tahu dengan kegiatan penting istrinya hari ini?


Umi mengerutkan keningnya. "Jadi kamu belum tahu Afifa kemana?" tanya Umi.


"Euuu... memangnya Afifa kemana Umi?" tanya Fauzi sedikit ragu.


"Jadi kalian tidak pernah saling meberi kabar selama Afifa disini?" tanya Umi lagi heran.


Fauzi hanya menggeleng dan mengakui kesalahannya.


"Hari ini adalah hari dimana istrimu sedang berjuang mengikuti tes CPNS di gedung Walikota, selama disini dia selalu menyibukan dirinya dengan belajar tanpa mengenal lelah, tekadnya sangat kuat agar dia bisa lolos tes ini".


Fauzi semakin tertunduk dan jatuh pada titik penyesalan yang paling dalam, kenapa dia bisa lupa dengan moment terpenting dari istrinya, padahal Abi sudah mengatakannya saat beliau menelphonnya waktu itu. Ah...hanya karena kecemburuan yang tak beralasan itu, sehingga menutup mata hatinya untuk mengetahui keadaan istrinya. "Berapa hari Afifa disana Umi?" tanya Fauzi setelah cukup lama berperang dengan perasaannya.


"Dua hari, mungkin besok dia pulang", ucap Umi.


Fauzi kembali menghela nafas, "Aji akan menjemputnya besok Umi". ucap Fauzi.


Umi tersenyum, "Baiklah, Afifa pasti senang, selama disini dia sering menyendiri dikamar, Umi fikir...dia juga sangat merindukanmu, Zi!" ucapan Umi mampu membuat hati Fauzi merasa tersentil sekaligus senang mendengarnya. Dia pun tersenyum membayangkan wajah manis istrinya yang sedang tersenyum dihadapannya untuk meluapkan rasa rindunya.


Fauzi kembali pamit kepada Umi, dia bergegas pulang kerumahnya, setelah sampai dirumah, Fauzi membereskan rumahnya yang hampir tak terurus itu untuk menyambut kepulangan istri tercintanya besok.


"Sayang...Aku tidak sabar menunggu hari esok datang", Ucapnya sambil tersenyum-senyum sendiri menyandarkan dirinya di sofa setelah lelah membersihkan rumah dengan semangat sampai waktu maghrib hampir tiba. Penampilannya sangat lucu, dengan bercucuran peluh, sebuah kemoceng masih setia dalam genggamannya dan sebuah serbet masih terkalung diatas pundaknya.


**************************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamualaikum Readers...


Akankah setelah ini mereka kembali bersatu? ataukah justru ada hambatan lain yang kembali membuat jarak diantara mereka?


Nantikan di part selanjutnya...😉


Tetap Like, Vote dan Komentarnya selalu Author tunggu...🤗.

__ADS_1


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul.


__ADS_2