Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Dukunganmu...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Pukul 4 sore Afifa sampai dirumah, dia bergegas membersihkan dirinya, membasuh seluruh tubuh dengan air keran dingin, seakan ingin menghilangkan semua sesak didada setelah pertemuannya dengan Wulan. Dia mengambil air wudhu dan segera menunaikan kewajiban sholat Ashar yang sedikit terlambat.


Afifa terduduk didepan cermin meja rias dikamarnya, menatap bayangan diri yang terpantul disana, fikirannya kembali berputar, mengingat kembali semua kata-kata Wulan terhadapnya siang tadi. Entah mengapa? ada sedikit rasa tak percaya di lubuk hati terdalamnya, mengingat Wulan pernah menceritakan kebohongan dimasa lalu dengan begitu apiknya, tapi saat dia mengingat kembali semua kebetulan yang terjadi 2 bulan terakhir ini, mulai dari wajah Talita yang mirip dengan mertuanya, pakaian bayi yang dipinjamkan Wulan, dan ucapan ayah Wulan yang menyebut nama tengah suaminya saat ulang tahun Talita, Ah...apa semua itu hanya kebetulan?? teriak batin Afifa.


Afifa menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menundukan kepalanya ke atas meja rias, membuat rambutnya yang tergerai panjang dan setengan basah, terburai menutupi seluruh tubuhnya.


"Kak Aji...", Gumamnya, tak terasa air matanya menetes jatuh membasahi kedua tangannya yang berlipat untuk menopang kepalanya.


"Tak...tak...tak...", detakan jam dinding yang tergantung didalam kamarnya terdengar jelas karena suasana hening didalam rumahnya, Afifa menoleh ke arah jam dinding, pukul setengah 5 sore, mengapa waktu terasa begitu lambat? kak Aji belum pulang juga. gumamnya, Afifa bangkit dari duduknya dan mengambil benda pipih didalam tasnya, keinginannya untuk segera membetitahu suaminya mendorongnya untuk menelphon suaminya. Tak butuh waktu lama, Afifa langsung mendengar suara suaminya disebrang sana.


Assalamualaikum Dek...


"Waalaikum salam".


Ada apa sayang? tumben menelphon sore-sore begini?


"Hmmmm...Apa kerjaannya sudah selesai Kak?"


Sebentar lagi, ini tanggung pembukuannya, Hmmmm...kenapa? kangen ya? haha...


"Oh...ya udah, aku tunggu dirumah saja".


Jadi beneran kangen ni? ... jangan menggodaku, aku masih kerja. goda Fauzi


"Eh...enggak, siapa yang kangen?" Mulut Afifa maju beberapa centi mendengar candaan suaminya.


Terus kalau bukan kangen apa namanya? haha...


"Udah ah...nanti saja dirumah", ucap Afifa sedikit kesal namun terdengar manja ditelinga Fauzi.


Hmmm... awas ya kalau sudah sampai rumah.


"Mau ngapain?"


Mau ngapain aja....bebas, haha...


"Yeeeey...udah ah...Assalamualaikum".


Waalaikum salam, hahaha... terdengar tawa Fauzi disebrang sana.


Afifa memutuskan panggilannya, sempat terukir senyum dari bibirnya mendengar semua ucapan suaminya, namun senyumnya kembali pudar saat fikirannya kembali pada kenyataan pahit yang mungkin akan dihadapinya.


Akhirnya Afifa tetap menuggu dirumah sambil menyiapkan bahan masakan untuk makan malam.


******


Malam hari setelah selesai makan malam, Fauzi duduk bersandar di sofa, secangkir teh hangat berada ditangannya. Afifa menatap suaminya dari celah pintu dapur yang terbuka. Beberapa kali dia menarik nafas panjang seolah mengatur kata-kata yang ingin diucapkannya. Dia berjalan menghampiri suaminya, lalu mendudukan dirinya disofa panjang tepat disamping suaminya.


"Minum dek?" Fauzi memberikan cangkir ditangannya kehadapan Afifa.


Afifa mengulas senyum, mengambil cangkir teh dan menyeruputnya satu tegukan, lalu kembali memberikan cangkir itu kepada suaminya.


"Kak...," panggil Afifa.


"Hmmm?", Fauzi yang sedang menyeruput teh menoleh kearah istrinya.


"Ternyata...selama ini Mbak Wulan telah menutupi kebenaran dari kita".

__ADS_1


"Maksudnya?", Fauzi kembali menatap Afifa, dan menyeruput kembali tehnya.


"Dia bilang, Talita itu memang darah daging Kak Aji".


"Ukhuk...ukhuk...", Fauzi tersedak, matanya terbelalak menatap istrinya, cangkir teh ditangannya hampir saja jatuh menimbulkan cipratan kecil yang membasahi kain sarungnya. Fauzi menyimpan cangkir teh diatas meja.


"Apa? Talita?", tanya Fauzi.


"Iya".


"Sebentar...aku...aku belum mengerti", Fauzi membalikan badannya ke arah Afifa, "Apa Wulan mengatakannya sendiri padamu?"


"Iya, tadi siang aku bertemu dengannya".


"Lalu, kisah yang dia ceritakan waktu di resto mall itu?, apa itu hanya karangan dia saja?", Fauzi mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.


"Jadi...sebenarnya, sudah lama aku mencurigainya", pandangan Afifa menerawang ke arah televisi, "saat Talita ulang tahun waktu itu, aku melihat beberapa kejanggalan dirumahnya, mulai dari foto Mbak Wulan saat menggendong bayi yang baru lahir, peralatan bayi yang dia pinjamkan, dan Ayahnya Mbak Wulan yang musterius. Dan satu lagi, saat aku bertanya tentang ayah dari Talita, mbak Wulan menyebut nama Rahman", Afifa menatap suaminya yang masih setia mendengarkannya.


Fauzi menarik nafas panjang, keningnya semakin berkerut, "Apa kamu sendiri yang bertanya padanya?".


"Iya, waktu aku mengembalikan perlengkapan bayi kerumahnya kemarin, aku kembali melihat Ayahnya, aku sempat menyapanya, tapi... dia tiba-tiba marah saat aku bertanya tentang Talita, bahkan dia menyebutnya... anak haram".


"hahhh?", Fauzi masih berfikir.


Afifa mengangguk, "Aku semakin penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya kepada Mbak Wulan".


"Apa katanya?"


"Dia masih berusaha menutupinya waktu itu, dan kedatangan Talita mengakhiri perbincangan kami".


"Jadi itu penyebab kegelisahanmu kemarin malam?".


Fauzi masih terdiam, entah apa yang ada dalam fikirannya.


"Kak...", panggil Afifa sambil menggenggam tangan suaminya diatas pangkuannya.


Fauzi mengangkat wajahnya yang memerah, entah karena marah, kecewa terhadap Wulan yang telah menutupi semua kebenaran, atau karena rasa malu terhadap istrinya, karena secara tidak langsung dia mengingat kembali dosa dan kebodohannya dimasa lalu.


"Ternyata Talita itu benar putrimu", ucap Afifa pelan.


Fauzi tetap diam, dia menarik tangannya dari genggaman Afifa, lalu mengepalkan tangan dengan kuat diatas pangkuannya. kepalanya tertunduk.


"Kak..., kenapa hanya diam saja? apa yang akan kita lakukan setelah tahu semua ini?"


"Aku akan kerumahnya sekarang juga", Fauzi bangkit dari duduknya.


"Tunggu Kak...!, jangan tergesa-gesa".


"Aku hanya ingin tau, apa maksud dia menutupi semuanya dariku?", Suara Fauzi meninggi.


"Sabar dulu Kak...!", Afifa menarik tangan Fauzi.


"Talita itu anakku...!, tidak seharusnya dia berbohong dengan membuat cerita konyol seperti itu...!", Fauzi membentak Afifa, dia menepis tangan Afifa dan dengan cepat berjalan menuju kamarnya, mengambil celana panjang untuk mengganti kain sarungnya.


"Kak...!", setengah berlari Afifa mengikuti Fauzi masuk kamar, namun Fauzi tidak memperdulikannya.


"Kak...dengarkan dulu penjelasanku!", Afifa kembali memegang tangan Fauzi.


"Apalagi yang harus dijelaskan?", Suara Fauzi terus meninggi, menepiskan kembali tangan Afifa, "jelas-jelas dia sudah berbohong tentang putriku, darah dagingku, apa dia tidak berfikir bagaimana masa depannya? perasaannya? kehidupan....".

__ADS_1


"Kak...!", Akhirnya Afifa meinggikan suaranya, membuat Fauzi yang sedang tersulut emosi menghentikan ucapannya. "Apa Kak Aji ingin tau alasannya?", Ucap Afifa, pelan namun menekankan, dia berdiri dihadapan suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca menatap suaminya.


"Apa lagi alasannya?", Fauzi hendak berbalik mengambil jaket yang tergantung di dinding kamarnya.


"Karena dia sangat mencintaimu", ucap Afifa pelan.


"Apa???", Fauzi memutar badannya ke arah Afifa.


Afifa mengangguk pelan, kepalanya tertunduk menahan air mata yang sudah penuh sesak di kedua kelopak matanya.


"Tunggu aku tidak mengerti", Fauzi meletakan kembali jaketnya, lalu memegang kedua lengan Afifa dan membimbingnya duduk diatas tempat tidur.


Air mata Afifa mulai jatuh tepat dipunggung tangan Fauzi yang sedang membimbingnya duduk, membuat Fauzi terperanjat dan merasa bersalah.


"Sayang..., maafkan aku, aku tidak bermaksud marah padamu", Tangan Fauzi meraih dagu Afifa, lalu mengangkat wajahnya yang tertunduk dan mulai terisak, "Sayang...", panggilnya lagi, namun Afifa hanya terus terisak. Fauzi menggeser tubuhnya mendekati Afifa, mendekapnya dan meletakan kepala istrinya didadanya, membiarkan istrinya menangis meluapkan semua rasa sesak yang sudah dia tahan sejak siang tadi.


Cukup lama mereka terdiam dalam posisi yang sama, sampai suara isakan Afifa tak terdengar lagi.


"Sayang...", panggil Fauzi, tangannya mengusap kepala Afifa yang masih bersandar didadanya.


Afifa mengangkat kepalanya, lalu duduk dengan tegak disamping suaminya.


"Maaf...", Fauzi menggenggam tangan Afifa yang dingin bertumpuk dipangkuannya. Afifa mengangguk.


"Apa yang sebenarnya terjadi?", tanya Fauzi lagi.


Akhirnya Afifa menceritakan semua yang telah diucapkan Wulan padanya tadi siang, termasuk penyakit Ayah Wulan dan kemungkinan yang akan terjadi seandainya dia bertemu dengan Fauzi.


"Aku harus mengambil Talita darinya, aku tidak mau Ayahnya Wulan menyakitinya", Ucap Fauzi kemudian.


"Tapi tidak sekarang, dan tidak dirumah Mbak Wulan. Kita akan atur pertemuan diluar saja, atau kita minta Mbak Wulan untuk datang kerumah kita".


Fauzi manggut-manggut, tanda mengerti apa yang harus dia lakukan. Dia kembali menatap istrinya yang terdiam menatap kosong ke arah pintu kamar.


"Dek...", panggilnya, "Maafkan semua kesalahanku, masa laluku sungguh telah membuatmu menderita selama hidup berumah tangga denganku", Fauzi tertunduk.


Afifa menoleh ke arah suaminya, "Kak Aji bilang apa si?, Fifa bahagia hidup bersamamu Kak...".


"Tapi... aku selalu membuatmu menangis".


Afifa tersenyum, lalu menggenggam tangan suaminya. "Ujian dalam rumah tangga itu selalu datang silih berganti, dan hal itu akan melatih kedewasaan kita dalam menyikapi semua yang terjadi. selama Kak Aji mencintaiku dan mendukungku dalam setiap masalah yang kita hadapi selama ini, insyaAlloh Fifa kuat dan akan selalu mencintaimu Kak..."


Fauzi mengangkat kepalanya, menatap lekat wajah Afifa, seketika... perasaan sesaknya hilang saat melihat istrinya tersenyum manis ke arahnya, "Terimakasih sayang...", mencium kening Afifa dan kembali mendekapnya dengan erat.


************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamualaikum Readers... Alhamdulillah hari ini saya bisa kembali Up setelah 2 hari kemarin tidak ada kesempatan untuk menulis...😊


Tetap Like, Vote dan beri komentar positif untuk karyaku ini ya Readers...beri masukan untuk acuan part-part selanjutnya agar lebih baik lagi 😊


jangan lupa, masuk GC Author dan Follow akun Author...agar kita bisa lebih mengenal dan bisa silaturahmi meski lewat dunia maya...😊


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘


By: @Rahma Husnul

__ADS_1


__ADS_2