
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Farid menghentikan langkah Wulan yang hendak menuju dapur untuk mengambil air minum, "Mbak!, apa aku tidak salah dengar?" tanya Farid.
Wulan terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Farid. "Oh...itu, gak papa, lupakan saja!", ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Tapi... tadi pa Herman bilang..."
"Nanti saya ceritakan ya!", ucap Wulan sambil berlalu menuju dapur. "Eh...! bukannya kamu mau sholat?" teriaknya dari arah dapur.
"Oh...iya, Mbak!" Jawab Farid, tersadar dengan niatnya. Dia bergegas masuk ke kamar mandi, mengambil air Wudlu dan melaksanakan kewajibannya di mushola kecil rumah Wulan.
Afifa tak mau lama-lama berada dirumah Wulan, apalagi harus mendengar ucapan Ayahnya Wulan yang mulai tidak terkontrol, diapun pamit setelah mendapat persetujuan dari Thalita tentunya, meski harus derama berderai air mata terlebih dahulu.
Ditengah melajukan motornya, sekuat tenaga Afifa berusaha tidak menghiraukan ucapan Ayah Wulan, tapi ternyata, tidak semudah itu, ucapannya tetap saja terngiang di telinga Afifa.
Menjelang waktu ashar Afifa sampai dirumahnya, Ibu dan Ayah mertuanya masih ada dirumah menunggui Fauzi yang belum benar-benar pulih. Saat datang, Afifa langsung menyalami kedua mertuanya, juga suaminya yang sedang berkumpul diruang keluarga. Sepertinya tengah terjadi pembicaraan serius diantara mereka. Afifa tidak ikut bergabung bersama mereka, Dia memilih untuk masuk ke kamarnya. Tapi saat dia berbalik, Mama memanggilnya.
"Fa...!".
Afifa berbalik, "Iya, Ma?".
"Duduk dulu disini sebentar!", pintanya.
"Oh... iya". Jawab Afifa sambil melangkah dan mendudukan diri disamping suaminya.
"Thalita gak papa setelah diantar kerumahnya?", tanya Mama lagi.
"Hmmm...tadi...dia sempet merengek mau ikut Fifa lagi karena takut sama Kakeknya". Jawab Afifa.
"Terus?"
"Fifa dan Mbak Wulan terus membujuknya, sampai dia membiarkan Fifa pergi meskipun sempat menangis". Afifa tertunduk sedih.
"Tuh...Kan, Pa!, Mama bilang juga apa", Mama mengalihkan pandangannya kepada suaminya, "kasian Thalita, kita harus segera mengambilnya".
__ADS_1
"Ya tidak semudah itu, Ma!, kita juga harus memikirkan perasaan Wulan, Apa dia akan menyerahkan Thalita begitu saja?" jawab Papa.
Untuk beberapa saat semuanya terdiam, sampai Fauzi angkat bicara. "Sayang..., Pak herman tidak bikin ulah kan sama kamu?", memegang tangan Afifa yang sudah mulai dingin.
Afifa menatap suaminya sekilas, lalu tertunduk. "Dia... dia bertanya...Kapan Kak Aji... menikahi Mbak Wulan", ucapnya pelan.
Fauzi menarik nafas berat dan semakin erat menggenggam tangan Afifa. "Lalu kamu jawab apa?".
Afifa hanya menggeleng sambil tertunduk menatap genggaman tangan Fauzi dipangkuannya, karena memang dia tak mengatakan apapun kepada Ayah Wulan.
"Nak Fifa...sebenarnya itulah yang sedang kita bicarakan sekarang, seperti yang Papa ceritakan di Rumah sakit waktu itu, Papa sedang bertanya kepada Fauzi tentang permintaan Pak Herman, tapi Fauzi tetap menolaknya", Jelas Papa panjang lebar.
"Sudah lah, Pa! jangan meminta Aji untuk melakukan hal yang tidak mungkin bisa Aji lakukan, sampai kapanpun, Aji tidak akan menikahi Wulan!" suara Fauzi mulai meninggi.
"Tapi bagaimana kalau dia berbuat nekad lagi seperti kemarin, Zi?". tanya Papa lagi.
"Aji bukan anak kecil, Pa! Aji bisa membela diri, kejadian kemarin bisa terjadi karena Aji tidak tau kalau dia itu Ayahnya Wulan, dan Aji diserang begitu saja tanpa diberi kesempatan untuk bertanya, apalagi melawan".
"Tapi bagaimana dengan Thalita, Kak?", Afifa menimpali dengan suara pelan dan memelas, "Fifa takut, kalau dia melampiaskan kemarahannya pada Thalita, Thalita begitu ketakutan melihat Kakeknya".
"Bukan masalah Fisik, tapi fikirkan juga Fsikisnya Thalita, setiap hari anak itu akan terus mendengar ucapan Kakeknya yang tidak sepantasnya ia dengar, dan itu akan berpengaruh terhadap pemikiran dan masa depannya". Papar Afifa, membuat semuanya kembali terdiam.
"Ah...kasian Cucuku", Ucap Mama sambil menghembuskan nafas berat.
"Aku akan membawa Thalita kemari dan bicara dengan Wulan, pasti dia akan mengerti situasinya". Ucap Fauzi penuh keyakinan.
"Kalau begitu, besok kita bersama-sama kerumah Wulan", Timpal Papa.
Semuanya mengangguk, dan kembali terdiam, tenggelam dalam Fikirannya masing-masing.
********
Saat Farid keluar dari mushola, dia celingukan mencari sosok Afifa yang tidak ditemukannya. "Mbak...!", panggil Farid saat melihat Wulan melintas menggandeng tangan Thalita yang berlinang air mata hendak menuju kamarnya, "Apa Afifa sudah pulang?".
Wulan menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Farid, "Sudah, baru saja".
__ADS_1
"Oh...", Farid hanya bisa ber oh ria dengan menunjukan wajah kecewa.
"Sebentar ya, Mbak temani Thalita tidur siang dulu, nanti Mbak bicara sama kamu", ucap Wulan, "Duduklah dulu disana! ada minuman dingin dan sedikit makanan untukmu", menunjuk kearah kursi tamu diruang tengah.
Farid mengangguk dan berjalan menuju tempat yang ditunjukan Wulan. dia mendudukan dirinya di kursi, lalu mengambil minuman yang berada didepannya dan meminumnya beberapa tegukan, rasa sejuk memenuhi kerongkongannya yang memang sejak tadi terasa kering. Farid mengambil ponsel dari tas kecil yang dibawanya, lalu membuka layar dan memainkan jari diatasnya. Namun dia menghentikan kegiatannya saat mengingat kata-kata yang diucapkan Ayah Wulan, dia memandang dengan tatapan kosong, sambil menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Wajah kaku Afifa terlintas difikirannya saat mendengar ucapan Ayah Wulan padanya tadi, membuat memorinya kembali berputar pada masa-masa indah bersamanya dulu. Ah..., kenapa bayanganmu sulit sekali hilang dalam fikiranku, Fa! Aku tahu, aku sudah tidak mungkin lagi memilikimu, Aku juga tahu, ini adalah satu kesalahan dan perbuatan dosa karena memiliki rasa ini untuk orang yang bukan mahramku, sekuat tenaga aku berusaha untuk menghilangkan rasa yang ada dalam hatiku, dan perlahan rasa itu mulai hilang, tapi...saat aku kembali melihatmu menangis, kenapa hatiku merasakan sakitnya juga?. Gumam Farid dalam benaknya.
Cukup lama dia larut dalam fikirannya, sampai Wulan kembali datang menghampirinya. "Maaf ya Rid, nunggu lama", ucapnya sambil tersenyum, lalu duduk di atas kursi disisi lain Farid.
"Gak papa, Mbak!", ucapnya dengan mengulas senyum khasnya. "Pak Herman kemana?" tanyanya lagi.
"Dikamarnya, mungkin sedang tidur", jawab Wulan.
"Oh...", Farid manggut-manggut, lalu kembali memandang Wulan dengan tatapan penuh tanya. "Tadi..."
"Oh...itu", Wulan segera memotong ucapan Farid ketika dia sadar dengan ekspresi wajah Farid yang meminta penjelasan dengan kejadian tadi. "Jadi...emmm... begini Rid", Wulan membetulkan posisi duduknya, wajahnya berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya. "Sebenarnya Thalita memang bla...bla...bla...", Wulan menceritakan semua identitas Thalita dan hubungannya dengan Fauzi, termasuk kejadian mengenaskan yang menimpa Fauzi hari minggu kemarin karena ulah Ayahnya sendiri.
Farid mendengarkan dengan serius, dia hanya bisa menghela nafas panjang, mengingat bagaimana nasib masa depan Wanita yang pernah singgah dihatinya itu, dan kini rasa itu kembali datang, saat tahu, dia benar-benar tidak bahagia saat ini.
*********
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Readers...
Haruskah Afifa menerima kehadiran Wulan dalam rumahtangganya?
Atau lebih baik melepaskan semuanya dan kembali kepada masa lalunya agar tak satupun yang merasa tersakiti nantinya?
Ah... dilema...😢
Author tetap menunggu **Like, Vote dan Komentarnya.
I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘**
__ADS_1
By : Rahma Husnul