Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Melahirkan...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Mang Ujang membelokan Mobil Fauzi ke parkiran klinik bersalin, Afifa yang sudah tak berdaya dengan keringat yang terus bercucuran bersandar lemas di kursi mobil sambil melafalkan beberapa Ayat Al-qur'an dan menarik nafas dalam-dalam lantas membuangnya perlahan.


"Ayo Sayang sudah sampai," Bisik Fauzi sambil mengusap peluh di kening Afifa dengan tissue. Fauzi membuka pintu dan keluar dari mobil, lalu berputar ke sisi lain untuk membuka pintu di samping Afifa. "Pelan-pelan ya...," bisik Fauzi lagi di telinga Afifa saat tangannya sudah siap menggendong tubuh istrinya.


Afifa melingkarkan lengannya ke bahu Fauzi, lalu menatap netra hitam suaminya dengan mata yang mulai berair karena menahan rasa sakit. Dengan sigap Fauzi membawa tubuh Afifa masuk ke dalam klinik, di ikuti oleh Bi Yati yang sedikit berlari membawa tas besar di belakangnya.


Kedatangan mereka langsung di sambut perawat, dan mempersilahkan Fauzi untuk membawa Afifa ke dalam ruangan. Perlahan Fauzi membaringkan istrinya, lalu kembali mengusap peluh di dahi Afifa seraya mengecupnya. "Sabar ya sayang, sebentar lagi jagoan kita akan hadir di tengah-tengah kita," Ucap Fauzi yang memang sudah mengetahui jenis kelamin dari calon buah hatinya dari hasil pemeriksaan USG satu bulan yang lalu, dia tersenyum menatap lekat mata Afifa dan menggenggam erat tangannya. "Aku yakin kamu bisa, Dek! Jika kamu merasakan sakit yang luar biasa, Serahkan semuanya kepada Sang Pencipta pemilik segalanya, ini adalah sarana ibadah untukmu, jihad Fi Sabilillah. Aku akan selalu ada disini menemanimu, tidak akan ku biarkan sesuatu terjadi padamu, Aku sangat mencintaimu," Fauzi kembali mengecup kening istrinya.


Afifa menyunggingkan senyum sambil menatap mata suaminya, rasa sakit yang ia rasakan seakan hilang sesaat mengingat betapa besar cinta dari Suaminya untuk dirinya, Dia bertekad akan berjuang melewati masa-masa sulit ini demi menyongsong kebahagiaan yang akan menyambut mereka berdua.


"Kakak Telephon Umi dan Mama dulu ya," Ucap Fauzi. Afifa hanya mengangguk pelan. Fauzi pun mengambil ponsel di saku celananya dan melakukan panggilan kepada kedua orang tua mereka. Fauzi nampak tenang saat melakukan panggilan, dia tidak mau membuat kedua orang tuanya panik.


Tak lama seorang dokter perempuan dan seorang suster dengan pakaian yang sudah lengkap untuk menangani persalinan masuk ke dalam ruangan, Fauzi segera menghampirinya dan berbicara sebentar tentang kondisi istrinya. Dokter itu mengangguk tanda mengerti, lantas memeriksa kondisi Afifa.


"Ini sudah waktunya, Pak! apakah anda akan menunggu di sini atau di luar saja?" tanya Dokter kepada Fauzi.


"Saya akan terus menemani istri saya, Dok!" Jawab Fauzi.


"Baiklah! Silahkan duduk di samping istri Bapak dan beri dukungan untuknya!"


Fauzi mengangguk dan duduk di kursi yang sudah di sediakan Dokter, Dia kembali menggenggam tangan Afifa sambil menciumnya. "Sayang, kita mulai ya, jangan memikirkan apapun, fokus saja pada persalinanmu, tatap mataku, dan lakukan apa yang ingin kamu lakukan terhadapku," Bisik Fauzi di telinga Afifa. Fauzi tersenyum dengan tenang, meskipun di dalam hatinya terus melafalkan ayat-ayat yang sudah di hafalnya sejak bangun tidur pagi tadi.


Umi dan Abi datang dan bertanya kepada Bi Yati dan Mang Ujang yang sedang duduk di ruang tunggu dengan gelisah tentang kondisi putrinya. Bi Yati menjelaskan semuanya, lantas keduanya menghampiri suster untuk meminta izin menemui putrinya. Suster itu masuk ke dalam ruangan dan tak lama kembali dan mempersilahkan Umi dan Abi masuk.


Mata Afifa berbinar saat melihat kedua orang tuanya datang. Dengan berlinang air mata Umi dan Abi bergantian mencium kening putrinya. Mereka melafalkan beberapa do'a dan mengusapkannya ke wajah Afifa. Keduanya tersenyum sambil memberikan semangat. "Teteh semangat ya, ini adalah ibadah terbesar bagi seorang ibu, tetap berusaha dan memohon kepada Sang Pemilik segalanya. Umi dan Abi akan menunggu di luar," Ucap Umi kembali mencium kening Afifa, lalu mengalihkan pandangannya ke arah menantunya. "Terus temani dia," ucapnya sambil mengangguk. Abi mengusap punggung Fauzi, lantas keduanya kembali ke luar ruangan.

__ADS_1


Dokter mulai melakukan pekerjaannya, dia memberikan beberapa intruksi kepada Afifa. Afifa mengikuti semua ucapan Dokter sambil terus berdo'a didampingi Suaminya. Satu jam berlalu, kontraksi di seluruh bagian perut Afifa terasa semakin hebat, rasa sakit itu seakan berputar memenuhi seluruh rahimnya sehingga dengan tak sadar, Afifa merintih, tangannya mencengkram kuat punggung suaminya dan mungkin saja menyisakan goresan di sana. Tapi Fauzi hanya tersenyum meskipun punggungnya sedikit perih.


Wajah putih Afifa semakin pucat, dengan peluh yang bercucuran bercampur air mata yang tak sengaja mengalir dari ujung matanya karena menahan sakit.


Fauzi semakin tak tega melihatnya, diapun membuka kerudung instan yang dikenakan Afifa, menampakan anak rambutnya yang berjejer rapi di ujung keningnya yang basah karena keringat. Fauzi kembali mengusap kening Afifa dengan tissue dan mengecupnya, seraya membisikan sesuatu. "Sayang..., Kamu pasti bisa, berjuanglah, Aku mencintaimu," Ucapnya dengan mata yang mulai berair karena rasa iba terhadap istrinya.


Mendapat ucapan cinta yang begitu tulus dari suaminya, Afifa seakan mendapat kekuatan yang luar biasa, dia pun kembali menarik nafas panjang dan mengejan.


"Bagus, Bu! Ayo lakukan lagi! tarik nafas panjang dan lakukan!" Ucap Dokter memberi semangat.


"Ayo sayang, kamu pasti bisa," Fauzi ikut menyemangati.


Afifa kembali menarik nafas panjang, lalu mengejan sekuat tenaga sambil mencengkram kuat tangan Fauzi dengan kuku-kukunya. Sekilas Fauzi nampak meringis, namun dia kembali fokus pada istrinya.


"Kepalanya sudah terlihat, Bu! Tahan sebentar, tahaaaaaan... dan...lakukan...,"


"Oweeee...Oweeee..," Suara tangisan bayi terdengar menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Fauzi yang sedang fokus memandang wajah Afifa terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Dokter. Fauzi terkesima beberapa saat memandang bayi yang bergerak-gerak dengan darah yang masih tersisa di punggungnya sedang tengkurap di tangan Dokter. Tanpa terasa air matanya meleleh membasahi kedua pipinya, seraya mengucapkan Hamdalah, dia pun berdiri, lalu melakukan Sujud Syukur tepat di samping tempat tidur Afifa.


Fauzi kembali berdiri, dan secepat kilat merangkul tubuh Afifa yang masih berbaring, tak lama Fauzi merenggangkan pelukannya, lalu tersenyum sambil menatap lekat mata Afifa, lantas menciumi seluruh wajah istrinya. "Terimakasih Sayang, terimakasih sudah berjuang untuk buah hati kita."


Afifa tersenyum dan mengangguk lemah.


Dokter membawa bayi yang sedang menangis dan masih terpejam itu ke hadapan Fauzi dan Afifa. Lalu meletakkannya di atas dada Afifa. Seketika tangisnya mereda merasakan hangatnya tubuh Afifa, mulut kecilnya bergerak-gerak mencari sesuatu. "Selamat Buk! Pak! Putra kalian sangat tampan dan sehat," ucap Dokter.


Air mata Afifa dan Fauzi mengalir melihat bayi dihadapan mereka, Afifa segera memeluk bayinya sedangkan Fauzi memegangnya perlahan. Senyum bahagia terus tersungging dari bibir keduanya.


Dokter itu menyerahkan bayi Afifa ke tangan suster untuk segera di bersihkan, sedangkan dirinya kembali membantu Afifa untuk mengeluarkan plasenta yang masih berada di dalam rahim Afifa. Setelah beberapa proses di lakukan Dokter, Afifa kembali di bersihkan.

__ADS_1


Fauzi berjalan menghampiri Suster yang sedang sibuk membungkus bayinya, matanya Fokus pada wajah buah hatinya, bibirnya terus tersenyum meski linangan air mata masih nampak di sana.


"Silahkan, Pak!" Suster menyerahkan bayi itu ke tangan Fauzi.


Dengan sangat hati-hati, Fauzi mengambil alih bayi itu ke tangannya. Dia mulai mengumandangkan kalimah Adzan di telinga kanan bayinya, lalu Iqamah di telinga kirinya dengan suara yang gemetar dan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.


Baginya menggendong bayi untuk pertamakali adalah momen paling emosional yang dia rasakan. Bahkan Fauzi tak mampu berkata apapun, lidahnya seakan terasa kelu dan gemetar merasakan kebahagiaan yang luar biasa sekaligus tanggung jawab dirinya yang kini akan bertambah sebagai seorang Ayah.


********************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamualaikum Readers...


Mohon maaf, beribu maaf jika kalian menunggu lama lanjutan dari cerita ini. Sungguh saya tidak bermaksud untuk membuat kalian menunggu. Hanya saja 3 hari kemarin saya benar-benar tidak bisa menulis karena sedang ada acara keluarga. InsyaAlloh kali ini saya akan terus berusaha untuk Up tiap hari 🤗.


Namun bolehkah saya meminta pendapat kalian tentang hikmah dari membaca cerita ini?


Silahkan lalian kirim pendapat kalian lewat chat Pribadi, grup Chat, Grup WA atau WA pribadi saya bagi yang sudah punya nomor saya.


Saya tunggu hingga jam 12 siang nanti 🤗.


InsyaAlloh semua pendapat Readers tentang hikmah dari membaca cerita ini, akan Saya masukan pada part khusus pendapat Readers, dan akan saya kasih nama masing-masing 🤗.


Tetap like, vote dan komentar.

__ADS_1


I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘


By: Rahma Husnul.


__ADS_2