Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Rasa Penasaran...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Mobil Wulan terus melaju, Namun dia menyempatkan mampir di sebuah warung makan cukup besar milik Mbak Tria, mobil merahnya berhenti tepat dibawah plang bertuliskan CAMILYA KEISYA RM.


"Kok berenti di sini Bunda?" tanya Thalita.


"Sebentar ya Sayang, kita mau bawa makanan ke Rumah Sakit, untuk Kakek dan teman-temannya, pasti mereka seneng." Jawab Wulan sambil mengusap kepala putrinya di balik kerudung instan berwarna merah muda. Lantas dia membuka pintu mobil dan keluar menuju warung makan itu. Sedangkan Thalita menunggunya di dalam mobil.


"Assalamualaikum, Mbak Tria!" Sapa Wulan kepada pemilik Warung makan yang sedang sibuk mengintruksikan para pegawainya.


"Waalaikum salam," jawabnya ramah, "Eh, Ibu Wulan? Ayo mari silahkan!," Beliau mempersilahkan Wulan untuk duduk di kursi pelanggan, "Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanyanya lagi.


"Saya mau beli 10 porsi nasi Ayam goreng serta lalapan dan sambel, dibungkus ya Mbak!" Ucap Wulan.


"Baiklah, sebentar ya! silahlan duduk dulu, Bu!" Mbak Tria menunjukan kursi ysng kosong dengan isyarat tangannya. Wulan pun duduk di sana sambil membuka ponselnya.


Terdapat beberapa pesan masuk dan matanya tertuju pada sebuah pesan dari seseorang dengan nama kontak Dr. Faqih Adhitama.


Assalamualaikum, Lan! Aku sudah menyiapkan semuanya untuk kepulangan Ayahmu. Jangan lupa, aku masih setia menunggu jawaban darimu.


"Deg...!" Entah kenapa Jantung Wulan berdetak lebih kencang dari sebelumnya, saat membaca kata terakhirnya. Ada rasa senang di dalam hatinya, sehingga tanpa sadar bibirnya tertarik ke samping dan memunculkan lengkungan manis di sana. Tapi tiba-tiba bibirnya kembali pada posisi semula, saat dia menyadari siapa dirinya saat ini. Dia pun menarik nafas panjang.


"Ini pesanannya, Bu!" Ucap Mbak Tria, pemilik warung makan di hadapannya, membuyarkan lamunan Wulan.


"Oh, Iya terimakasih, Mbak! Jadi berapa semuanya?" tanya Wulan sambil mengeluarkan dompet dari dalam tasnya.


"Semuanya Dua ratus ribu, Bu!"


"Oh Iya, Terimakasih, Mbak Tria! Assalamualaikum," Ucap Wulan setelah memberikan uang dua lembar seratus ribuan.


"Sama-sama, Waalaikum salam," Jawab Mbak Tria.


Wulan membalikan badannya hendak keluar dari Warung dengan menjinjing kantong kresek besar berisi makanan yang dibelinya, Namun tiba-tiba, tubuh tinggi krempeng seseorang yang hendak masuk ke warung sudah ada dihadapannya dan hampir saja menubruk badannya.


"Eh..., Maaf!" ucap pria itu.


Wulan mengangkat kepalanya memandang wajah orang itu, matanya menyipit mengingat-ingat wajah pria dihadapannya yang sepertinya tidak asing baginya, dan ingatannya semakin jelas saat pria itu tersenyum ke arahnya dan menyapanya layaknya seseorang yang sudah sangat mengenalnya.


"Wulan??? kamu Wulan kan?" Sapanya sambil tersenyum lebar seolah tak percaya.


"Eh..., Iya, Johan ya?" tanya Wulan meyakinkan.


"Iya, Lan... Gue Johan, masa Lo lupa sama orang yang paling ganteng di SMU Permata? ha ha ha..." Ucapnya Narsis.


"Ih...dasar lu!" Ucap Wulan sambil tertawa.


"Kamu apa kabar, Lan?"


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri?"


"Badannya si baik, tapi hatinya lagi sakit."


"Lo? Kenapa?" tanya Wulan heran.

__ADS_1


"Efek jones kali, Lan! ha ha ha...," Johan kembali tertawa.


"Ah..., ada-ada saja kamu, Jo!" Wulan menggelengkan kepalanya, itu lah Johan sejak dulu, memang selalu membuat Wulan tertawa, meskipun dia sempat tergoda dengan ideu gilanya yang membuat tawanya hilang selama bertahun-tahun.


"Ayo ngobrol dulu sebentar di dalam sambil makan, Lan!" ajak Johan.


"Lain kali saja ya, Jo! Aku harus ke Rumah Sakit sekarang."


"Siapa yang sakit?" tanya Johan.


"Ayahku," ucap Wulan.


"Ayahmu sakit apa?" tanya Johan kepo.


Wulan hanya mengulas senyum.


"Eh...Rumah Sakit mana? biar Aku tengok."


"Gak usah, Ayahku akan pulang sekarang."


"Rumah sakit mana?" tanya Johan lagi.


"RSJ Sejuta Harapan," jawab Wulan.


"Eh..., tunggu! bukannya Adhitama juga tugasnya di sana?" tanya Johan. dan di jawab dengan anggukan dari Wulan.


"Bunda...! Ayo cepetan...!" teriak Thalita dari dalam mobil sambil menyembulkan kepalanya keluar jendela.


Wulan dan Johan menoleh. "Iya Sayang...! sebentar...!" tetiak Wulan. lalu membalikan badannya ke arah Johan untuk berpamitan.


Wulan tidak menjawabnya dan hanya mengikutinya.


Kening Johan nampak berkerut. "Lan..., Apa kalian benar-benar melakukannya?" Tanya Johan sedikit berbisik.


Wulan hanya tertunduk dengan wajah yang memerah. Sungguh! rasanya sakit sekali mendengar pertanyaannya, memorinya kembali ke masa itu, rasanya ingin sekali dia marah pada orang dihadapannya, tapi dia kembali sadar, bahwa semua itu tidak akan terjadi seandainya dia tidak mengikuti saran konyol dari pria ini.


"Lan!" Ucap Johan kemudian. "Aku kira kamu tidak akan melakukannya? aku hanya bercanda waktu itu, tapi... kamu...?"


"Sudah! Cukup, Jo! aku memang begitu bodoh telah mengikuti saranmu!" Mata Wulan sudah berkaca-kaca, dia langsung menepisnya, mengingat Thalita juga ada dihadapannya. Wulan langsung berbalik dan melangkah menuju pintu mobil.


"Eh...tunggu, Lan!" Johan mengikutinya. Tapi Wulan tidak menghiraukannya, dia langsung menstater mobilnya dan melaju meninggalkan Johan yang masih bengong di penuhi dengan rasa penasarannya.


Johan segera berlari menuju mobilnya, dia mengikuti kemana arah mobil Wulan berjalan dengan rasa penasarannya yang kini semakin memuncak, tanpa sepengetahuan Wulan tentunya.


Mobil Wulan berhenti di halaman Rumah sakit, mereka berdua turun dan langsung memasuki ruangan Dokter Faqih. Wulan mengucapkan salam saat melihat orang yang di maksud sudah menunggu dirinya di ruangannya, dan salamnya di jawab dengan sumringah oleh Dokter Faqih.


"Mari silahkan masuk, Lan!" ucap Faqih. Lalu tatapannya tertuju pada seorang gadis kecil di samping Wulan. "Halo Sayang..., Siapa namamu?" tanya Faqih sambil menjongkokan tubuh tungginya agar sejajar dengan Thalita.


"Thalita Paman," jawab Thalita sambil meraih tangan Faqih yang sudah terulur dan mencium punggung tangannya.


"Nama yang indah, Ayo Thalita duduk dulu!" ucapnya sambil menuntun tangan Thalita menuju kursi, Thalita mengangguk.


Terjadi perbincangan hangat di antara mereka, sepertinya Faqih sangat pandai menarik hati Thalita, sehingga kecanggungan itu sirna di antara keduanya. Satu jam berlalu, Akhirnya Wulan pun pamit untuk membawa Ayahnya pulang. Makanan yang dibawanya ia bagikan kepada Ayahnya dan teman-temannya disana.

__ADS_1


*****


Dua minggu sudah berlalu semenjak tes CPNS Afifa. dan kini saatnya dia mengikuti tes selanjutnya mengenai SKB (Seleksi Kompetensi Bidang). Selama seminggu terakhir, Afifa kembali sibuk dengan berbagai contoh soal ujian SKB yang sudah di jadwalkan, karena memang Afifa termasuk yang memiliki nilai tiga besar passing grade melalui penilaian Sistem Computer Assited Test (CAT) pada saat ujian SKD dua minggu yang lalu.


Untuk Ujian kali ini, Fauzi benar-benar mendampingi istrinya, mengantarnya kemanapun dia pergi, juga ikut mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhksn Afifa untuk persiapan testnya. Dia tidak mau kalau istrinya kelelahan dan akan mengganggu kesehatan dirinya juga bayi yang ada dalam kandungannya.


Test kali ini Afifa benar-benar bersemangat, bukan hanya karena satu langkah lagi dia bisa lulus, tapi juga karena motivasi dari orang yang sangat dicintainya dan selalu ada kapan pun dan di manapun dia membutuhkannya, atau hanya sekedar menyandarkan tubuhnya dari lelah yang ia rasakan saat ini.


"Sayaaang...!" Panggil Fauzi sambil melambaikan tangannya ke arah kerumunan orang berseragam hitam putih yang baru saja keluar dari gedung tempat test SKB. dari sekian banyak orang dengan pakaian yang sama, pandangan Fauzi sangat tajam menemukan tubuh istrinya yang mungil di antara puluhan orang-orang. dia berdiri disamping mobilnya menunggu Afifa keluar sejak satu jam yang lalu, seakan dia tidak mau moment penting ini terlewatkan seperti yang sudah terjadi dua minggu yang lalu.


Afifa menoleh, senyumnya mengembang saat dia melihat sosok yang diharapkannya sudah menunggu dirinya, Afifa setengah berlari menghampiri Fauzi, "Kak...!" Wajah Afifa sumringah meraih tangan Fauzi dan menggenggamnya.


"Gimana? lancar?" tanyanya penuh harapan saat melihat istrinya tersenyum riang.


Afifa mengangguk beberapa kali meyakinkan suaminya sambil tersenyum.


"Kamu lolos Dek?" tanya Fauzi tak percaya namun bahagia.


"Hmmm...80% lah, karena masih harus ada pemberkasan setelah ini. Kalau berkasnya kumplit, baru di nyatakan lulus," Ucap Afifa sambil tersenyum lebar.


Fauzi merentangkan tangannya lebar-lebar, dan Afifa pun berhambur ke pelukannya. "Selamat ya sayang...," Ucap Fauzi dalam dekapannya, satu kecupan mendarat di keningnya.


"Terimakasih Kak...," jawab Afifa, sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya, "Sudah lepaskan dulu! malu di lihat orang-orang," bisik Afifa.


Fauzi melepaskan pelukannya, "Oh..., iya..., lupa," Ucapnya cengengesan, "Nanti lanjutkan di rumah ya,"


Mata Afifa melotot menatap Fauzi sambil tersenyum, lalu tangannya mencubit pelan pinggang suaminya.


"Aduh, sakit sayang," ucapnya merengek manja.


"Sudah! ayo pulang!" ajak Afifa, Keduanya hendak masuk ke dalam mobil, namun langkah Afifa terhenti saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya.


"Afifa...!" panggil orang itu. Afifa menoleh, lalu senyumnya mengembang saat melihat sosok teman seperjuangannya yang kebetulan satu kamar dengannya selama test disini, dia menghampirinya bersama suami serta anak laki-lakinya.


"Hei Mbak Rika Novitasari, sudah mau pulang?" tanya Afifa, lalu pandangannya tertuju pada putranya yang sangat tampan betusia 6 tahun sedang di tuntun oleh Ayahnya. "Wah, siapa anak ganteng ini?" tanya Afifa sambil mengusap kepala anak itu.


"kenalkan ini putraku Alwi, dan ini Suamiku Mas Didik," ucap mbak Rika Novi yang memang keturunan dari Jawa Timur itu.


"Oh, Iya, Salam kenal Mas dan juga Dek Alwi yang ganteng ... hmmm... gemezzz deh," Afifa menjawel dagu Alwi. "Eh iya, Mbak Novi, Mas Didik, perkenalkan ini suami saya, Kak Fauzi," Afifa menunjuk suaminya dengan jempolnya. Keduanya bersalaman, lalu ngobrol sebentar tentang test yang baru saja mereka lalui sambil diselingi tawa ringan yang menghangatkan suasana, dan berakhir dengan saling tukar nomor telepon dan juga alamat rumah masing-masing.


**********************


Bersambung....❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Akankah Wulan menetima cinta Faqih?


Hmmmm.... semoga saja Johan tidak mengacaukan semuanya.


Yuk...terus ikuti ceritanya, tetap like, vote dan komen ya Reades... 😉


I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘

__ADS_1


By : Rahma Husnul.


__ADS_2