Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Ekstra Part...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Saat Kebahagiaan terus menyelimuti hidup ini, maka waktu seakan berlari, menandakan betapa kerasannya kita hidup di dunia fana ini, seakan kita merasa akan hidup selamanya. Namun, sebagai seorang muslim, Fauzi selalu mengingatkan istri dan keluarganya agar tidak terlalu terlena dengan keindahan dunia.


Hidup ini harus seimbang, tatkala kita sedang berusaha untuk meraih urusan dunia, maka berfikirlah kalau kita akan hidup selamanya. Agar apa yang kita lakukan saat ini, terus kita jalani penuh semangat, dengan harapan kesuksesan akan menyongsong kita di di masa depan. Namun, sebaliknya, ketika kita sedang berusaha meraih urusan Akhirat, maka berfikirlah bahwa kita akan mati esok hari. Niscaya kita akan bersungguh-sungguh beribadah dan berserah diri kepada Sang Pemilik segalanya.


Lima tahun sudah berlalu. Kini Rumah tangga Fauzi dan Afifa selalu di hiasi dengan kebahagiaan. Meski tak dapat di pungkiri, kerikil-kerikil yang membentur bahtera rumah tangga mereka tetaplah ada, dan itu dianggap sebagai bumbu penyedap, agar kehidupan rumah tangganya menjadi lebih berwarna.


Karena sesungguhnya Rumah tangga yang baik itu bukanlah rumah tangga yang tak pernah di rundung masalah. Tetapi, rumah tangga dimana didalamnya di penuhi dengan perilaku yang sesuai dengan syari'at dan orang yang menjalaninya mampu menghadapi setiap masalah yang datang dengan bijak yang justru akan membuat dirinya semakin dewasa.


Pagi itu, Afifa sudah bersiap dengan pakaian dinasnya, Dia duduk di depan meja rias sambil menyematkan bros kecil di dada kirinya.


Fauzi baru saja selesai mandi, dia sedang memakai pakaian yang disiapkan Afifa. "Bund! hari ini pulang ngajar gak kemana-mana lagi kan?" tanya Fauzi sambil memasukan lengan kemejanya.


Afifa berbalik ke arah suaminya, lalu berdiri dan menghampiri Fauzi. "Tidak, kalaupun ada acara lagi, tentunya Bunda bilang dari kemarin dong, Yah...!" Jawab Afifa sambil tersenyum, tangannya dengan cekatan memasukan kancing-kancing di kemeja suaminya, "Memangnya kenapa, Yah?" tanya Afifa lagi setelah selesai dengan kancing terakhirnya, lalu mengusap pundak suaminya yang tegap.


Fauzi tersenyum, "Hmmm..., Aku ingin makan siang di luar bersamamu dan Aa, kamu mau kan?" tangan Fauzi terulur ke wajah Afifa.


"Tentu saja , Yah! Aa juga pasti suka," Jawab Afifa sambil tersenyum menyebut nama putranya yang biasa mereka panggil Aa.


Mereka berdiri berhadapan dan saling melemparkan senyum.


"Sayang..., tak terasa sudah 9 tahun kita menikah, hari ini adalah tanggal dimana aku menghalalhanmu 9 tahun yang lalu, terimakasih atas semua cinta yang kamu berikan untukku," Ucap Fauzi.


Afifa tersenyum, lalu membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Fifa juga berterimakasih sama Kak Aji, selama ini sudah berjuang untuk keluarga kita. Fifa minta maaf, jika selama ini Fifa sering lalai dengan tugas Fifa sebagai seorang Istri, karena sering terbentur dengan tugas-tugas sekolah, bahkan tak jarang menimbulkan pertengkaran kecil diantara kita, Fifa minta maaf," Afifa mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Iya, Sayang! Aku pun tak luput dari kesalahan, kita akan terus berusaha untuk memperbaiki diri kita masing-masing, kita akan menjalani bahtera rumah tangga ini dengan saling percaya dan terbuka," Fauzi mengecup pucuk kepala Afifa sangat lama, lalu merenggangkan pelukannya, mereka berhadapan saling menatap, tangan Fauzi terulur ke wajah Afifa dan melangkahkan kakinya ke arah Afifa, membuat Afifa mundur beberapa langkah hingga mentok ke sisi dinding kamar. "Happy Anniversary Istriku, Aku mencintaimu," Bisik Fauzi sambil mendaratkan bibirnya di atas bibir istrinya, lalu menyesapnya cukup lama, Afifa membalasnya, hingga bibir keduanya nampak memerah.


"Bruk...!" suara pintu kamar dibuka seseorang dengan tiba-tiba, "Ayaaah...! Bunda...! Ayo berangkat!" Suara seorang anak kecil yang tak lain adalah putranya yang kini sudah berusia 5 tahun. Anak itu begitu tampan dan gagah dengan seragam sekolahnya. Kemeja kotak-kotak kecil perpaduan warna putih dan oranye dilapisi dengan rompi berwarna oranye pula, serta celana panjang lengkap dengan tas yang sudah nemplok di punggungnya.


"Aa?" Afifa dan Fauzi menoleh ke arah pintu, keduanya langsung melepaskan pegangan masing-masing, Afifa membetulkan posisi jilbabnya yang agak berantakan karena ulah suaminya.


"Wah..., Jagoan Ayah gagah sekali, Sudah siap berangkat?" Fauzi membungkukan badannya sambil meraih tubuh kecil putranya, "Sini! peluk Ayah dulu!"


"Udah dong Ayah," Jawab anak itu setelah lepas dari pelukan Ayahnya. "Aa kan mau cekulah. Bunda bilang, anak baik itu halus lajin cekulah, bial pintel dan jadi olang hebat," Celoteh putranya yang masih cadel terdengar sangat lucu di telinga Fauzi. Fauzi pun tersenyum lebar.


"Wah..., Jagoan Ayah memang pinter, benar kan, Bund?" Fauzi menoleh ke arah Afifa.


Afifa menghampiri keduanya, lalu membungkuk mensejajari tinggi putranya. "Benar sekali Ayah, Aa jagoan Ayah dan Bunda meeeemaang pinter," Afifa mencium kedua pipi putranya. "Ayo, kita berangkat, Sayang!" Ajak Afifa sambil berdiri dan menuntun putranya.


"Oke, Ayah keluarin mobilnya dulu ya," Fauzi mengambil kunci mobil di atas nakas. Lantas ketiganya keluar dari kamar.


"Mom...! Mom Yuni...!" panggil Afifa kepada Baby sitter putranya yang sudah bekerja dengannya sejak 5 tahun yang lalu untuk membantunya menjaga Putranya selama Afifa bekerja.


"Iya, Bund...!" Sautnya dari dalam kamar, dia pun segera keluar dengan membawa tas bekal untuk Fauzan yang sudah dia anggap seperti putranya sendiri. Wanita berusia 35 tahun itu sangat menyayangi Fauzan, dia sudah mengasuhnya sejak Anak itu masih merah, hingga sekarang ini, makanya dia selalu ingin di panggil Mom, baik oleh Fauzan maupun semua keluarga Afifa. Sikapnya yang ceria, perhatian dan mudah berbaur dengan anak-anak membuat Fauzan nyaman bersamanya. Afifa juga sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri.


"Tidid...tidid...!" Suara klakson mobil terdengar di luar rumah.


"Nah, Ayah sudah menunggu, Ayo berangkat, Sayang!" Ajak Afifa sambil menuntun putranya keluar rumah. "Mom! tidak ada yang ketinggalan bukan?" Afifa kembali menoleh ke arah Mom Yuni.


"Semua sudah siap, Bund!" Jawab Mom Yuni sambil tersenyum dan mengangkat satu tangannya berlaga bersikap hormat, layaknya seorang prajurit kepada atasannya, membuat Afifa tertawa dengan sikapnya.

__ADS_1


"Ya Sudah, ayo berangkat, jangan lupa kunci semua pintu rumah!"


"Asyiaaaap, Bunda...!" ucapnya lagi, dan lagi-lagi membuat Afifa terkekeh.


Setelah Mom Yuni mengunci semua pintu dan memastikan semuanya aman, mereka pun masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke tempat mulia, yakni suatu tempat yang penuh dengan keberkahan karena setiap harinya selalu di terangi dengan cahaya ilmu yang terus digali dan di sharingkan oleh orang-orang yang selama ini mendapat julukan sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa beserta para siswanya.


Setiap harinya, Fauzi dan Afifa akan mengantar Putra semata wayangnya itu untuk mencari keberkahan dari setiap ilmu yang diberikan guru-gurunya, baik dengan cara bermain di lembaga PAUD maupun belajar di sebuah surau bersama guru mengajinya.


Bagi Afifa dan Fauzi, hidup ini haruslah seimbang antara urusan Dunia dan Akhirat, begitupun yang di tanamkan dalam diri Putra semata wayangna ini. Karena Akhirat adalah tujuan hidup kita, sedangkan dunia adalah fasilitas untuk mencapai akhirat itu sendiri.


Sebagaimana yang tercantum dalam sebuah hadits:


...لَيْسَ بِخَيْرِ كُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لِاخِرَتِهِ وَلاَ اخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ حَتّى يُصِيْبُ مِنْهُمَاجَمِيْعًا...


...فَاِنَّ الدَّنْيَا بَلَاغٌ اِلَى اْلاخِرَةِ وَلَاتَكُوْنُوْا كَلًّ عَلَى النَّاسِ ( رواه ابن عسا كرعن انس )...


...Artinya:...


...“B**ukankah orang yang paling baik diantara kamu orang yang meninggalkan kepentingan dunia untuk mengejar akhirat atau meninggalkan akhirat untuk mengejar dunia sehingga dapat memadukan keduanya. Sesungguhnya kehidupan dunia mengantarkan kamu menuju kehidupan akhirat. Janganlah kamu menjadi beban orang lain**”...


...⚘⚘⚘...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


By: Rahma Husnul 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2