
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Afifa masih berdiri dengan kedua kaki yang gemetar, dia mengusap wajahnya dengan kerudung sambil menarik nafas panjang untuk mengurangi rasa sesak didadanya, air matanya terus saja merembes meski sekuat tenaga ia tahan agar tidak jatuh lagi saat hendak melangkah menghampiri mertuanya.
"Keluarga pasien atas nama Bapak Fauzi...!", panggil seorang perawat berseragam putih-putih yang berdiri tepat di pintu kamar tindakan sambil membaca daftar nama pasien UGD.
Afifa terperanjat mendengar nama suaminya disebut, dia segera berlari menghampiri suster itu, namun setelah benerapa meter, dia menghentikan langkahnya dan kembali berlari menuju toilet untuk mencuci wajahnya agar lebih segar, dia tidak mau wajahnya terlihat kacau didepan suaminya nanti.
Setelah cukup segar, Afifa kembali dengan tergesa-gesa ke arah pintu masuk ruang tindakan, tapi pintu sudah tertutup, hanya ada Ayah mertuanya yang sedang berdiri disana. Afifa menghampirinya, "Pah...Kak Aji?", tanyanya, menatap pintu yang sudah tertutup, sambil meremas-remas jarinya untuk menutupi kehkawatirannya.
"Mama sedang didalam, hanya satu orang yang boleh masuk", jelas Papa, "Kerudungmu basah, lebih baik ganti dulu baju dan kerudungmu! Papa sudah membawakan baju ganti untukmu, itu di tas!", Tunjuk papa pada tas besar yang tergeletak di atas kursi tunggu.
Afifa mengangguk, lalu melangkah gontai menyambar tas dan berjalan kembali menuju toilet. Tak butuh waktu lama, Afifa sudah kembali keluar dengan baju yang bersih dan kering, lalu kembali menyimpan tas besar itu ditempat semula.
"Ini tas kamu!", Papa menghampirinya sambil menyerahkan tas kecil milik Afifa, dia mengambilnya dan memeriksa isi dari tasnya, rupanya barang-barang pribadi Afifa sudah berada disana semua, dompet, ponsel dan peralatan lain yang selalu dibawa Afifa kemanapun. "Nadia yang menyiapkan semuanya", ucapnya lagi saat melihat menantunya agak heran namun nampak lega, lalu mendudukan dirinya disamping menantunya.
"Terimakasih, Pah!", ucap Afifa.
Papa mengangguk, lalu menarik nafas panjang. "Fa...!", panggilnya.
"Iya Pah?" Afifa menoleh ke arah Ayah mertuanya.
"Papa minta maaf", ucap Papa pelan.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Untuk semua penderitaan yang telah kamu lalui selama berumah tangga dengan Fauzi".
"Tidak, Pah!, Papa tidak perlu minta maaf, Fifa bahagia kok bersama Kak Aji, dan Fifa juga sangat mencintai Kak Aji".
"Justru itu yang membuat Papa semakin merasa bersalah padamu".
Afifa terdiam dan hanya memandang wajah mertuanya yang memandang kosong kearah pohon yang melambai-lambai didepannya karena tertiup angin ditengah teriknya matahari yang akan segera tergelincir dengan tatapan penuh tanya.
"Papa sudah bicara dengan Ayahnya Wulan, dan dia...dia ingin status Thalita jelas".
"Maksudnya?", Afifa kembali bertanya, meskipun sebenarnya dia sudah bisa menebak arah dari pembicaraan Ayah mertuanya.
"Ayah harus memintamu untuk merelakan Fauzi menikah lagi dengan ibunya Thalita", Papa menatap wajah Afifa yang tertunduk menahan sesak yang kini terasa semakin memuncak. "Papa sangat mengerti perasaanmu, Nak!, Tapi Papa tidak tahu harus berbuat apa lagi, Papa sudah sangat berusaha utuk membujuk Ayahnya Wulan untuk tidak meminta hal itu, tapi dia sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Papa", jelas Papa panjang lebar, nampak ada sedikit cairan di ujung matanya. "Dan...Papa...", menghentikan ucapannya sejenak dan menarik nafas dalam, "Papa juga tidak mau kalau Cucu Papa disebut sebagai anak haram". ucapnya kemudian dengan suara lebih pelan.
"Afifa... Masuklah!, Fauzi membutuhkanmu", Ucap Mama sambil memegang tangan Afifa yang dingin dan gemetar.
Afifa mengangguk, lalu berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ruang tindakan.
Afifa menatap Suaminya yang masih terpejam dan terbaring lemah sambil mengurut kening dengan tangan kanannya. tiang infus berisi satu labu darah yang sudah kosong setengahnya bertengger disampingnya, perban putih menempel di kepala bagian kiri karena robek terkena besi pintu gerbang didepan rumahnya, beberapa luka memar diwajahnya nampak jelas, bahkan mata kanannya terlihat bengkak karena benturan keras dari kepalan tangan Ayah Wulan yang mendarat di pelipisnya.
Afifa berjalan perlahan menghampiri suaminya, tangannya gemetar terulur menggenggam tangan Fauzi, "Kak...", panggilnya pelan.
Fauzi membuka matanya, dia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya yang masih terasa sakit, setelah beberapa saat barulah tatapannya bisa dengan jelas memandang wajah istrinya yang memandangnya lekat sambil menahan tangis dihadapannya. "Sayang...", panggilnya pelan, "kemarilah!".
Afifa tak menjawab, tubuhnya semakin mendekat, air matanya tak dapat dibendung lagi. Dia menghambur ke pelukan suaminya sambil menangis tersedu-sedu meluapkan semua rasa sesak yang tertahan cukup lama, kali ini bukan hanya rasa takut akan kehilangan nyawa suaminya karena peristiwa pemukulan pagi tadi, tapi juga rasa takut akan kehilangan cinta suaminya yang kemungkinan terpaksa harus terbagi dengan wanita lain. Tubuh Afifa terus berguncang diatas dada Fauzi, sampai Fauzi mengelus pucuk kepalanya.
__ADS_1
"Sayang..., sudah! jangan menangis lagi! aku tidak apa-apa", ucap Fauzi menenangkan istrinya.
Tapi Afifa tidak juga bergerak, malah semakin mempererat pelukannya.
"Hei...sayang, lihat aku!, aku baik-baik saja", Fauzi meraba pundak Afifa dan menepuknya pelan. Afifa mengangkat kepalanya dari dada Fauzi, dia tertunduk dan membetulkan posisi kerudungnya. "Senyumlah!, aku merindukan senyumanmu", Fauzi berusaha menggoda istrinya.
Afifa menyunggingkan senyumnya disela air matanya yang berlinang, tangannya meraba wajah suaminya yang penuh memar, satu kecupan mendarat di kening Fauzi. Rasa cinta dan takut akan kehilangan kini semakin menjadi-jadi bergejolak dalam hati Afifa. Seandainya saja dia diberi satu kesempatan untuk lari dari kenyataan, ingin sekali ia berlari membawa serta suaminya ke suatu tempat dimana tak ada satu orangpun yang dapat mengganggu kebahagiaannya 😢
***************************************
Bersambung....❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum Readers...
Sebenarnya, saya selalu membaca dan memperhatikan setiap kata-kata Readers dikolom komentar, karna jujur saja, terkadang inspirasi itu datang dari salah satu komentar kalian.
Untuk itu, coba tulis pendapat kalian dikolom komentar, Apa yang harus Author tulis di part selanjutnya agar kata polygami itu tidak terjadi tanpa harus keluar dari Alur yang sewajarnya...
jujur, Author juga serba salah ini... kasian Afifa ... 😢😢😢
ditunggu, jangan lupa Like, dan Vote nya juga 🙏
By :Rahma Husnul
__ADS_1