Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Memupuk Rasa dalam Ibadah Panjang...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Fauzi dan Afifa berjalan menuju pintu yang sudah terbuka, "Assalamualaikum...!" ucap keduanya.


"Waalaikum salam...!" Jawab semua orang yang ada di dalam ruang tamu. Nampak Farid sedang duduk di kursi berhadapan dengan Orang Tua Fauzi juga Nadia yang setia dengan tunduknya.


"Nah..., ini mereka sudah datang," ucap Papa. "Sini, Zi! Fa!" Papa melambaikan tangannya dan meminta Putra serta Menantunya duduk di kursi kosong di depannya.


"Iya, Pa!" Jawab Fauzi sambil melangkah.


"Bentar, Kak! Fifa mau ke belakang dulu," ucap Afifa sedikit berbisik kepada Fauzi seperti menahan sesuatu, karena memang belum ke kamar kecil sejak tadi pagi.


"O ya udah, Kakak anter," ucap Fauzi berbalik ke arah Afifa.


"Ih..., gak usah! kaya anak kecil aja!" ucap Afifa sambil menatap berkeliling kepada semua orang yang memperhatikan tingkah mereka yang saling berbisik.


Tapi Fauzi tidak memperdulikan ucapan Afifa dan tatapan semua orang, dia malah menghampiri istrinya dan melingkarkan lengannya dipundak Afifa, lalu membawa Afifa ke belakang.


Afifa yang tak enak hati, kembali menoleh ke arah mertuanya, "Fifa..., permisi ke belakang dulu, Ma! Pa!" ucapnya, "Kak Aji juga," teriaknya, karena Wajahnya sudah tertutup dengan badan Fauzi.


"Kak Aji ngapain si, pake dianter segala? malu sama Mama dan Papa kan?" ucap Afifa sesudah berada di ruang dapur.


"Ya gak papa, di anter juga sama suaminya ini. Emang kenapa?"


"Kaya anak kecil aja,"


"Lo? yang di dalam sini kan jauh lebih kecil dari anak kecil?" Fauzi mengusap perut Afifa dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya melingkar di pinggang Afifa, "Iya kan sayang?" tanyanya lagi sambil menatap perut Afifa.


"Ih, lepas dulu, Fifa kebelet ni," AFifa melepaskan tangan Suaminya yang melingkar semakin erat di pinggangnya. Fauzi terkekeh sambil merenggangkan pelukannya.


Sesudah selesai dengan hajatnya, Afifa kembali keluar, suaminya masih menunggunya di sana. "Sudah?" ucap Fauzi sambi tersenyum.


Afifa mengangguk. "Yuk! ke depan lagi, gak enak sama yang lain," ajak Afifa.


"Ayo," Fauzi kembali melingkarkan tagannya di pundak Afifa. Lalu keduanya berjalan menuju ruang tamu.


Setelah sampai disana, keduanya duduk dan ikut bergabung dengan obrolan mereka yang kini semakin serius.


"Kamu yakin acaranya akan di laksanakan tanggal 1 november nanti? itu kan hanya tinggal 20 hari lagi dari sekarang," tanya Papa kepada Farid.


"InsyaAlloh saya yakin Pak Haji," jawab Farid mantap.


"Apa orang tuamu sudah tau?" tanya Mama.


"Sudah, saya sudah bicara dengan mereka, dan kalau pihak keluarga disini setuju, Abi akan segera datang kemari," jawab Farid.


"Bagai mana, Nad? apa kamu sudah siap?" tanya Papa kepada Cucunya.


Nadia mulai mengangkat kepalanya dan menatap Kakeknya, lalu mengangguk pelan.


"Lalu kuliahmu? Kamu kan lagi nyusun sekarang?" tanya Mama.


"Mama tenang aja," potong Fauzi. "Farid ini mahasiswa terbaik di kampusnya dulu, dia bisa bantu Nadia malah. Iya kan, Nad?" Fauzi memandang Nadia sambil menaikan alisnya dan tersenyum menggoda keponakannya.


Nadia hanya membelalakan matanya ke arah Pamannya, membuat Fauzi tertawa geli.


Farid hanya terdiam menunggu jawaban Nadia.


Nadia mengalihkan pandangannya ke arah Farid yang juga menatapnya, tatapan mereka bertemu, Farid mengangguk memberikan isyarat, keduanya tersenyum. "InsyaAlloh, Nadia siap, Pak Eyang! jangan khawatir dengan skripsi Nadia, pasti akan selesai pada waktu yang tepat," Nadia tersenyum ke arah Kakek dan Neneknya.


"Baiklah, tapi... bolehkah Mak Eyang meminta satu permintaan kepada Nak Farid?" ucap Mama.


"Silahkan Bu Hajah," jawab Farid.


"Jangan panggil Bu Hajah, panggil Mak Eyang dan Pak Eyang aja, sama seperti Nadia," ucap Mama.


"Oh... iya, Mak Eyang," Ucap Farid agak ragu, membuat Mama tersenyum.


"Kalau kalian sudah menikah nanti, maukah kalian tinggal di rumah ini?" pinta Mama.


Farid terdiam, dia kembali menatap Nadia yang juga terdiam. Sesungguhnya Farid berencana untuk membawa Nadia ke Semarang setelah kuliahnya lulus nanti. Bukan apa-apa, sebenarnya itu adalah permintaan Abi dan Uminya agar ada yang meneruskan mengurus pesantren di sana. Jika di Semarang Farid bisa bekerja sambil mengurus pesantren juga, kalau disini tentu saja hal itu mustahil.


Fauzi yang melihat gelagat Farid angkat bicara. "Mama ya gak boleh gitu dong, Ma! bagai mana pun mereka ini kan punya impian, mungkin Farid sudah punya rencana lain. Iya kan, Rid?" Fauzi menoleh ke arah Farid.


Farid menarik nafas dalam. "Sebenarnya, Saya berencana akan membawa Nadia ke Semarang setelah kuliahnya lulus nanti. Disana saya bisa bekerja sambil mengurus pesantren juga, itu Amanah dari Abi," ucap Farid hati-hati.

__ADS_1


"Oh..., begitu ya, terus Mak Eyang sama Pak Eyang kesepian lagi dong disini," Ucap Mama sambil terduduk lemas. Meskipun Nadia adalah Cucunya, tapi semenjak Ibunya Nadia meninggal dan Nadia tinggal dirumahnya selama setahun terakhir ini, dia merasa kalau Nadia itu adalah putri bungsunya yang selalu ia khawatirkan tentang masa depannya, kehidupannya juga kebahagiaaannya.


"Mama jangan khawatir, kan ada Aji dan Afifa disini, dan calon cucu Mama juga," Ucap Fauzi sambil mengelus perut Afifa yang sudah mengeras.


"Iya, tapi kan kamu juga tinggal di rumahmu, Zi,"


"Rumah kita kan tidak terlalu jauh, Ma! kita seminggu sekali pasti nginap di sini, atau Mama yang ke rumah Aji. Iya kan sayang?" Fauzi menoleh ke arah Afifa.


Afifa tersenyum. "Benar, Ma. Mama gak perlu khawatir, kita akan sering kemari. Lagi pula hanya tinggal 5 bulan lagi, cucu Mama lahir," Ucap Afifa.


"O iya, sekarang sudah 4 bulan ya?" Mama kembali tersenyum.


"Iya, Ma! satu minggu lagi, usia kandungan Fifa tepat 4 bulan sepuluh hari, kita ingin mengadakan tasyakuran tepat di hari Alloh memberikan ruh kepada anak kami," ucap Afifa.


"Iya betul, Ma! Aji juga ingin mengundang Apa Kiyai dan Ceceu dalam acara tasyakuran nanti." ucap Fauzi.


"Alhamdulillah, semoga beliau bisa datang ya," ucap mama.


"Aamiin," jawab semua orang.


"Fifa juga mau mengundang lebih dari 40 orang agar do'a yang kita panjatkan bisa mustajab untuk keselamatan anak kami. Nanti Fifa ingin dibacakan suroh maryam dan Yusuf agar berkahnya ayat-ayat Al-Quran itu menjadikan Anak kami soleh seperti mereka," Ucap Afifa sambil tersenyum.


"Baiklah, itu bagus sekali, Nak! Kalian jaga calon buah hati kalian ya," ucap Mama.


"Nadia minta maaf Anty," ucap Nadia tiba-tiba sambil tertunduk, sontak membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Minta maaf untuk apa?" tanya Afifa.


"Gara-gara Nadia, Anti sampai kehilangan anak pertama Anti dan Paman," ucap Nadia masih tertunduk.


"Maksud kamu?" tanya Fauzi heran.


"Paman ingat kan malam itu? saat Nadia datang ke rumah Paman malam-malam sambil basah kuyup? tetesan air dari pakaian Nadialah yang membuat Anti kepeleset di lantai dan membuat Anti melahirkan bukan pada waktunya," Nada bicara Nadia penuh penyesalan.


"Jadi..." ucap Fauzi.


"Sudahlah, jangan bahas itu lagi, Kak!" Afifa memotong ucapan Fauzi. "Kamu juga Nad, jangan diingat terus. Anti udah ikhlas kok."


"Tapi sayang, aku gak tau lo kalau..."


"Sudah! kita kan udah dapat gantinya, Kak!" Afifa tersenyum untuk menenangkan suaminya.


"O ya Nak Farid," Mama kembali kepada bahasan semula. "Sebelumnya, Mak Eyang mau minta maaf, berhubung Nadia ini bukanlah lulusan pesantren seperti Nak Farid. Tentunya, banyak sekali kekurangan dalam diri Nadia terutama masalah agama, Nak Farid tau sendiri kan? sejak kecil Nadia hidup di kota besar, dan kurang perhatian dari kedua orang tuanya. Jadi akan banyak sekali tugas Nak Farid untuk membimbingnya."


Farid tersenyum, "Saya mengerti Bu, dan itu adalah tugas seorang suami untuk selalu membimbing istrinya. Saya pun manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa, nanti kami akan saling mengingatkan tentunya. Ia kan, Nad?" Farid menoleh ke arah Nadia.


"Oh..., iya, tentu saja, Mak Eyang," jawab Nadia agak kaget mendapat pertanyaan dari Farid, dia pun tersenyum garing menampakan titik manis di kedua pipinya.


"Assalamualaikum," Ucap seorang pria yang masih mengenakan helm dari luar pintu yang terbuka. Kedua tangannya menjingjing kardus mie instan yang terbungkus rapi dengan di ikat tali plastik.


"Waalaikum salam," jawab semua orang.


"Apa betul ini rumahnya Bapak Haji Ramadhan?" tanya orang itu.


Mama langsung berdiri dan menghampiri orang itu. "Iya betul, ada perlu apa ya?" tanya Mama.


"Oh..., Bu Haji! maaf, ini ada titipan makanan dari Ibu Wulan untuk keluarga Bapak Haji Ramadhan dan Pak Fauzi," ucap Pria itu sambil mengacungkan kedua tangannya yang nampak berat menjinjing dua kardus sekaligus.


"Oh..., makanan apa ya?" tanya Mama.


"Saya kurang tau, Bu! saya hanya disuruh Ibu. silahkan ini titipannya," ucap Pria itu sambil menyerahkan satu persatu kardus di tangannya.


Fauzi segera berdiri dan menghampiri ibunya untuk membantu membawa kardus itu. "Eh, Mang Salim?" sapa Fauzi saat melihat wajah pria itu yang sering berada di rumah Wulan dan terkadang sering di suruh membetulkan ini itu di rumahnya.


"Iya, Pak Fauzi juga ada disini? tadi saya sempet ke rumah, tapi gerbangnya di gembok dari luar, jadi saya langsung kesini," ucap Mang Salim.


"Iya, Mang! saya langsung kemari setelah dari sana tadi," jawab Fauzi, "Mari masuk dulu, Mang!" ajak Fauzi.


"Terimakasih, Pak! saya langsung kembali saja, masih banyak pekerjaan yang belum selesai di rumah Ibu, Saya permisi, Assalamualaikum," Ucapnya dengan ramah, dan langsung berjalan menunu pintu gerbang dan melajukan kembali motornya.


"Waalaikum salam," Jawab Fauzi dan Mama.


"Makanan apa ini? kok banyak banget?" tanya mama sambil berjongkok memperhatikan dua kardus dihadapannya.


"Buka aja, Ma! Aji bawa ke belakang ya!" Fauzi segera menjinjing dua kardus itu dan meletakannya di atas meja makan. "Ayo, Dek!" ajak Fauzi kepada istrinya.

__ADS_1


Afifa mengangguk dan berdiri mengikuti langkah Suami dan Mertuanya. Setelah membuka tali plastik, Fauzi kembali ke ruang tamu.


"Wah, banyak sekali makanannya, Fa!" ucap Mama, kepada menantunya yang sedang membuka bungkusan kardus di sampingnya, "Bi...!" panggil Mama kepada pembantunya.


"Iya, Bu...!" Jawab pembantunya setengah berlari menghampiri majikannya.


"Sore ini, Bibi gak usah masak, tuh lihat banyak banget makanannya."


"Dari mana makanan sebanyak ini, Bu?" tanya Bibi.


"Di kirim dari Wulan, ibunya Thalita," Jawab Mama.


"Oh, ya udah, biar saya angetin aja ya, Bu!"


"Iya, sekalian punya Aji, terus nanti masukin rantang," perintah Mama.


"Baik, Bu!" ucap Bibi sambil tersenyum lalu dengan cekatan membereskan semua makanan yang ada di meja.


"Fifa jadi ngerepotin ya, Ma!" ucap Afifa.


"Gak papa, biar kamu gak cape lagi buat angetinnya kalau sudah sampai rumah nanti," ucap Mama sambil mengelus punggung menantunya.


"Makasih, Ma!" ucap Afifa.


"Iya sayang, yuk kedepan lagi!".


Afifa mengangguk dan berjalan mengikuti Ibu mertuanya. Mereka kembali membahas tentang pernikahan Nadia dan Farid, sampai tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Fauzi pun pamit untuk pulang.


Mama meminta Farid untuk makan malam terlebih dahulu di rumahnya, mengingat makanan yang begitu banyak hari ini.


**********


Waktu maghrib hampir tiba saat Fauzi menghentikan mobilnya di depan gerbang rumahnya sendiri. "Alhamdulillah, Sudah sampai, sebentar ya, Dek!" ucap Fauzi sambil membuka pintu mobil untuk membuka gerbang, lalu kembali untuk memasukan mobilnya ke dalam garasi rumahnya. Keduanya turun dari mobil, Afifa menjinjing rantang berisi makanan yang masih hangat.


Afifa membuka pintu rumahnya, sementara Fauzi menutup gerbang kembali.


Afifa meletakan rantang di dapur dan masuk ke kamarnya. Dia duduk di atas meja riasnya untuk membuka jilbab yang sejak pagi dikenakannya.


Tak lama Fauzi datang ke kamarnya. "Capek ya, Dek?" tanyanya dengan tangan bertumpu di atas meja rias Afifa.


"Lumayan," jawab Afifa sambil tersenyum dan membetulkan ikatan rambutnya.


Fauzi terdiam sambil menatap wajah Afifa.


"Kak Aji, kenapa liatin Fifa terus?" tanya Afifa yang menyadari tatapan suaminya di balik cermin.


"Kenapa kamu gak pernah bilang, kalau jatuhmu waktu itu karena air yang tercecer dari pakaian Nadia?" tanya Fauzi dengan tatapan tak lepas dari wajah istrinya.


Afifa menghentikan gerakan tangannya, lalu berdiri menghadap suaminya, "Untuk apa? untuk mencari kambing hitam atas terjadinya musibah itu?" tanya Afifa.


"Bukan begitu, Dek! kamu tau? waktu itu aku sempat menyalahkanmu karena tidak hati-hati dalam menjaga anak kita, sungguh! kali ini aku benar-benar merasa bersalah padamu."


"Kak..., sudah ya, jangan menyalahkan Nadia, dan jangan mengingatkan Fifa lagi ke masa itu, nanti Fifa jadi sedih lagi." ucap Afifa manja.


"Iya sayang, maafkan Aku," tangan Fauzi menangkup pipi mulus Afifa, dan mengelusnya.


Afifa tersenyum, lalu mengangguk pelan sambil memandang netra hitam milik suaminya.


Perlahan Fauzi mendekatkan tubuhnya, mencium kening Afifa, dan meletakan kepala Afifa ke dada bidangnya, lalu mendekapnya dengan erat. "Maafkan aku karena sempat berfikiran buruk terhadapmu, aku berjanji, akan terus menjagamu dan anak kita sampai akhir hidupku nanti," Ucap Fauzi di tengah dekapannya.


"Iya, Kak! terimakasih atas rasa cinta yang begitu besar untuk Fifa, Fifa akan selalu menjaganya dan memupuknya agar cinta kita tidak akan pernah luntur terkikis waktu dalam proses ibadah yang sangat lama ini. Fifa mencintaimu, Kak!" Bisik Afifa dalam dekapan suaminya.


Cukup lama mereka terbuai dalam kenyamanan itu, sampai adzan maghrib mengingatkan mereka agar tidak terlalu larut dakam kesenangan dunia. Fauzi merenggangkan pelukannya, "Astaghfirulloh..., sudah adzan sayang, Kakak Wudlu aja dulu ya, takut ketinggalan jamaah di mesjid," Ucap Fauzi.


"Iya, nanti Fifa siapkan air hangat untuk mandi Kak Aji ya," Ucap Afifa sambil berjalan ke arah lemari untuk menyiapkan baju koko, kain sarung dan peci milik suaminya, sementara Fauzi masuk ke kamar mandi untuk mengambil air Wudlu.


******************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘😊😊😊


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Readers... mohon maaf ya, kemarin tidak bisa Up. Semoga part ini bisa mengobati rasa rindu kalian terhadap Afifa 😊


tetap like, vote dan komen 😘😘😘

__ADS_1


I LOVE YOU ALL... 😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul


__ADS_2