Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Menjelang Persalinan...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Hari-hari terus berganti, seakan menjadi saksi kebahagiaan sepasang suami istri yang sudah tiga tahun lebih hidup bersama. Namun, kemesraan mereka tak kalah dengan dua pasang pengantin baru yang hanya beberapa bulan lalu baru menikah. Apalagi kini kandungan Afifa sudah semakin membesar.


Sembilan bulan sudah usia kandungan Afifa, menurut perkiraan dokter, Afifa akan melahirkan sekitar satu minggu lagi. Semua perlengkapan bayi sudah di persiapkan, mulai dari tempat tidur bayi, pakaian bayi sampai peralatan mandi lengkap dengan sabun dan wewangian khas bayi yang sengaja mereka simpan di kamarnya sendiri. Sebuah tas besar sudah Afifa isi dengan perlengkapan persalinan yang ia simpan di samping lemari pakaiannya.


Afifa selalu tersenyum saat melihat keranjang bayi yang sudah bertengger di samping tempat tidurnya sambil mengusap-usap benda itu dan memegang perutnya yang sudah besar. Rasanya sudah tak sabar menunggu bayi mungil yang akan menempatinya.


Kini Afifa sudah mengambil cuti, begitupun dengan Fauzi, hanya 3 jam saja dia berada di toko, dari pukul 9 sampai waktu dzuhur tiba, sisa waktunya ia habiskan di rumah saja, sekedar menemani istrinya melakukan senam hamil bersama instruktur onlinenya di rumah atau berjalan-jalan setiap pagi dan sore di sekitar komplek agar otot-otot Afifa tidak kaku dan terus bergerak demi kesehatan kandungannya.


Malam ini Afifa terbangun pukul 2.30, ada sesuatu yang ia rasakan di sekitar perut bagian bawahnya. Afifa menggeliat dan perlahan menyingkirkan lengan Fauzi yang melingkar di tubuhnya. Dia pun turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi untuk melakukan hajatnya. Namun sudah sekian lama berada di kamar mandi hajatnya tak juga keluar bahkan rasa sakit di perutnya tidak berkurang, dia pun kembali keluar dan mengambil air wudhu.


Afifa segera melakukan sholat tahajud tanpa membangunkan suaminya, Dia pun teringat dengan ucapan dokter bahwa jika ingin persalinannya nanti berjalan lancar, maka dia harus sering melakukan gerakan sujud dengan merapatkan dadanya ke lantai. Cukup lama Afifa melakukan gerakan itu dengan membolak balikan posisinya, tindakan ini cukup membuat rasa mulasnya berkurang.


Afifa teringat dengan sabda nabi muhammad yang diriwayatkan oleh Sayyidatina Fathimah RA saat Beliau hendak melahirkan. Dia pun menyalakan lampu kamarnya, lantas mengambil Al-qur'an dan membaca suroh Al-Falaq dan An-Nas di lanjutkan dengan suroh Al-A‘raf ayat 54.


...Artinya, “ Sungguh, Tuhanmu adalah Allah, yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutup malam dengan siang yang mengiringinya dengan segera. Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang yang tunduk di bawah perintah-Nya. Ingatlah, hanya milik Allah segala penciptaan dan segala urusan. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam,” (QS Al-A‘raf ayat 54)....


Afifa menyimpan Al-Qur'an di pangkuannya saat perutnya kembali kontraksi, dia menarik nafas panjang sambil tertunduk memegang erat sajadah yang di dudukinya. Saat kontraksi itu perlahan menghilang, dia menunduk menatap perutnya yang besar sambil mengelusnya pelan. "Apakah ini saatnya Bunda bertemu denganmu, Nak?" ucapnya pelan. Senyuman terukir dari bibirnya, membayangkan saat yang selalu di tunggunya selama sembilan bulan ini. Dia pun kembali membuka Alqur'an untuk melanjutkan bacaannya.


Pukul 3.30 Fauzi terbangun, dia mengucek matanya saat melihat lampu kamar sudah menyala dan Afifa sedang duduk bersimpuh di atas sajadah. "Sayang...! Sudah bangun?" Ucap Fauzi dengan suara seraknya, "Kenapa tidak bangunin Kakak?" tanya nya.


Afifa menoleh ke arah suaminya, lalu tersenyum," Fifa gak tega bangunin Kak Aji, tidurnya pulas sekali," Jawab Afifa.


"Lo, kok gitu? Kakak juga mau dong dapat keutamaan fajar," Ucap Fauzi sambil mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur.


"Ya sudah, masih ada waktu, Kak Aji segera ambil Wudhu sana!" Jawab Afifa sambil tersenyum berusaha menyembunyikan rasa sakit di perut bagian bawahnya.


"Oke sayang," Fauzi berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


Tak lama Fauzi keluar kembali dengan wajah yang sudah berkilauan dengan sisa air wudhu, dia terperanjat melihat Afifa yang nampak meringis sambil tertunduk dengan tangan meremas kuat ke atas sajadah.


Secepat kilat Fauzi merangkul tubuh Afifa di balik mukenanya, "Sayang! kamu kenapa?" tanyanya panik.


Tapi Afifa segera mengangkat kepalanya, lantas menoleh ke arah Fauzi dengan tersenyum seraya berkata. "Gak papa, aku baik-baik saja," jawabnya dengan tenang.


"Tapi kamu yakin, Dek?" Fauzi menatap istrinya dengan selidik.


Afifa mengangguk sambil tersenyum. "Sudah, gak papa, Kak Aji Sholat aja dulu!"


"Baiklah kalau gitu, Kakak Sholat dulu ya!" Fauzi kembali berdiri setelah mendapat anggukan dari Afifa. Diapun segera melaksanakan tahajud, witir dan dzikir nya.


Setelah beberapa saat Afifa merasakan kembali kontraksi di perutnya, dia kembali meringis membuat Fauzi menoleh ke arahnya.


"Dek? kenapa? apa perutmu sakit? apa ini sudah waktunya? apa...apa kita pergi ke dokter sekarang? aku...aku akan siapkan mobil, kamu tunggu dulu disini! kamu...kamu tenang ya!" Fauzi memegang pundak Afifa, sok sokan menenangkan istrinya, padahal justru dirinya sendirilah yang panik.

__ADS_1


Afifa tersenyum, lantas menahan tangan Fauzi yang hendak berdiri. "Tenang dulu, Kak! ini masih lama, durasinya juga masih panjang-panjang, paling baru bukaan satu"


"Maksudnya?" Tanya Fauzi tak mengerti.


"Jadi kontraksi dalam perut ibu hamil itu ada durasinya, nanti kalau waktunya sudah semakin dekat, maka durasi kontraksinya pun akan lebih sering, dan bukaannya akan bertambah."


"Tapi, kamu sudah kesakitan gitu," Fauzi mengelus perut Afifa.


"Gak papa, ini sudah biasa terjadi pada ibu hamil ketika hendak melahirkan, Kak Aji tenang saja! Fifa masih bisa menahannya." Afifa meletakan tangannya di atas tangan Fauzi yang masih menempel di atas perutnya.


"Aku gak mau kamu kesakitan, Dek!" Fauzi mengecup kening Afifa.


"Fifa tau, Kak! tapi rasa sakit ini tidak ada apa-apanya di banding rasa bahagia Fifa saat berfikir dia akan segera hadir di tengah-tengah kita," Afifa menangkup wajah Fauzi dengan tangannya.


"Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk mengurangi rasa sakitmu, Dek?" tangannya kembali mengelus perut Afifa.


"Kita baca do'a saja, bacakan suroh Al-Falaq, Annas, Arro'du ayat 8, Annahl ayat 78 dan Al-'Arof ayat 54, serta do'a-do'a yang lainnya."


Fauzi mengangguk, lalu berdiri dan berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air Wudhu kembali. Tak lama dia pun keluar dan mengambil Al-qur'an pribadinya di atas meja, lantas membuka dan membaca ayat-ayat yang di sebutkan Afifa. Dia terus mengulang ayat-ayat itu sampai menghafalnya di luar kepala.


...وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ...


..."Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur."...


..."Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya."...


Fauzi mulai tenang setelah membaca ayat-ayat tersebut. Sedangkan kontraksi yang dirasakan Afifa semakin sering frekuensinya. Wajah Afifa nampak pucat karena menahan rasa sakit, keringat pun mulai keluar dari keningnya.


Fauzi menutup Al-Qur'an tanpa menghentikan bacaannya, lantas menggeser duduknya mendekati Afifa, lalu mengusap-usap pelan perut Afifa.


Afifa merasakan kenyamanan yang luar biasa saat tangan suaminya terus mengelus perutnya, dia pun menggeser duduknya dan menyenderkan kepalanya ke dada Fauzi. "Terimakasih, Kak! sepertinya anak kita nyaman sekali mendapat belaian dari tanganmu."


"Alhamdulillah, apa sakitnya berkurang, Dek?" tanya Fauzi sambil mencium kening Afifa. Lalu menggenggam tangan Afifa, "Tanganmu dingin sekali? wajahmu pun pucat," ucap Fauzi setelah menyadari perubahan dalam wajah istrinya, "kita ke dokter sekarang ya! Apa yang harus di bawa? biar aku siapkan."


"Semuanya sudah siap, Kak Aji tinggal bawa tas besar itu saja!" tangan Afifa menunjuk ke samping lemari pakaian, dimana sebuah tas besar berisi peralatan persalinan sudah bertengger di sana.


"Oh, ya sudah, Kakak keluarin mobil sekarang."


"Nanti saja setelah Sholat Subuh, hanya tinggal beberapa menit saja, lebih baik Kak Aji telephon Bi Yati agar kemari bersama Mang Ujang setelah sholat nanti, Beliau biasanya sudah bangun jam segini."


"O iya, sebentar!" Fauzi berdiri dan mengambil ponselnya yang masih terpasang kabel charger. Dia segera melakukan panggilan dan Bi Yati langsung mengangkatnya.


Tak lama Adzan Subuh berkumandang, Fauzi dan Afifa mengambil air Wudhu kembali, dan segera melaksanakan kewajiban Sholat Subuh berjamaah. Selesai dengan Sholatnya, Fauzi menuju ke garasi untuk mengeluarkan mobil.


Afifa masih menahan rasa sakitnya di dalam kamar, dia hendak mengganti pakaiannya, namun dia merasa ada sesuatu yang keluar dari bagian intimnya. Dengan langkah yang sedikit di seret, dia masuk ke kamar mandi untuk memeriksanya, ternyata terdapat bercak darah segar di sana. Dan tiba-tiba Afifa merasakan kontraksi yang luar biasa di dalam kamar mandi, dia meringis dan tak terasa sampai mengeluarkan suara erangan, "Aaaaaaaawwww...". Afifa merasa sulit sekali melangkahkan kakinya, "Kaaaaak...!" panggil Afifa dengan nafas yang tersengal.

__ADS_1


Fauzi yang sedang berjalan menuju kamarnya, secepat kilat berlari saat mendengar rintihan dan panggilan istrinya. "Dek...???" Tangannya membuka cepat pintu kamar mandi. Fauzi terperanjat saat melihat Afifa sedang mencengkram erat wastafel dengan peluh yang bercucuran. "Apa yang terjadi?" Tanya Fauzi sambil merangkul bahu Afifa, Tapi Afifa diam saja sambil tertunduk menahan sakit.


"Dek...! Sayang...! Sayang, lihat aku!" Fauzi mengangkat wajah Afifa yang kini mulai mengeluarkan air mata. Secepat kilat Fauzi mengangkat tubuh Afifa dan membawanya keluar dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Assalamualaikum," Ucap seseorang dari luar pintu depan.


"Se...sebentar sayang!" Fauzi berlari menuju pintu depan dan mempersilahkan Mang Ujang dan Bi Yati masuk.


"Bi! A... Afifa... Su...sudah..." Ucap Fauzi panik dan tidak menyelesaikan ucapannya. Dia berlari kembali menuju kamar, diikuti oleh Bi Yati dan Mang Ujang yang juga ikut panik.


"Neng Fifa..., Apa sudah sering mulasnya?" tanya Bi Yati sambil mengusap punggung Afifa yang sedang tidur menyamping sambil memegangi perut menahan rasa sakitnya.


"Sudah keluar darah, Bi!" jawab Afifa pelan sambil meringis.


"Ayo kita berangkat sekarang, Nak Aji!" Bi Yati menoleh ke arah Fauzi.


"I...Iya," Jawab Fauzi masih salah tingkah.


"Mana kunci mobilnya, Nak Aji? biar Mamang yang bawa," ucap Mang Ujang.


"Ini, Mang!" Fauzi menyerahkan kunci kepada Mang Ujang. Mang Ujang segera berlari menuju mobil dan menghidupkannya.


Fauzi menggendong tubuh Afifa, sedangkan Bi Yati menjinjing tas besar berisi perlengkapan persalinan.


Dengan sigap Fauzi membawa tubuh Afifa masuk ke dalam mobil yang sudah bertengger di depan gerbang, Lantas mendudukkannya di kursi penumpang bersama dirinya. Setelah Bi Yati mengunci semua pintu rumah dan gerbang, Mobil itupun melesat menuju klinik bersalin.


Selama di perjalanan Afifa terus melafalkan do'a-do'a sambil sesekali merintih pelan menahan rasa sakit di perutnya. Begitu pun dengan Fauzi, bibirnya tak lepas dari ayat-ayat yang sejak tadi di bacanya, tangan kirinya terus menggenggam erat tangan Afifa, sedangkan tangan kanannya merangkulnya sambil mengusap peluh yang bercucuran di wajah Afifa.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai," ucap Fauzi sambil mengecup kening Afifa.


Afifa tak banyak bicara, ia hanya mengangguk sambil terus menarik nafas dalam-dalam untuk menekan rasa sakit yang kini semakin menjadi-jadi. Tapi rasa sakit ini tak sebanding dengan kebahagiaannya, Persalinan kali ini, Suaminya selalu berada di sampingnya, menjaganya, memotivasinya dan mendukung setiap apa yang di rasakannya, di tambah lagi bayangan akan tangisan si kecil yang akan segera hadir dalam pangkuannya. Bibir Afifa pun tersenyum di tengah rasa sakitnya.


**********************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Semoga semuanya lancar ya Afifa 🤗


Tetap like, vote dan komentar. 😉


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul

__ADS_1


__ADS_2