Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Bersyukur...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Sore hari, pukul 3 lewat 5 menit, Afifa terbangun bertepatan dengan berkumandangnya Adzan Ashar. Saat dia membuka matanya, dia baru sadar, kalau dia masih tertidur di atas pangkuan Suaminya.


Perlahan Afifa bangkit, dan melihat suaminya yang masih terlelap, bersandar di sandaran sofa. Afifa tersenyum, sesaat menikmati pemandangan indah di hadapannya, wajah polos suaminya yang dipenuhi bulir-bulir keringat di keningnya. Afifa mengambil tisyu di hadapannya, lalu perlahan mengelap bulir keringat di kening suaminya.


Fauzi terbangun dan langsung memegang tangan Afifa di depan wajahnya. "Sayaaaang..., dah bangun?" tanya suara serak Fauzi sambil menyipitkan mata sayunya memandang Afifa.


Afifa tersenyum, "Iya, Kak Aji pasti pegel dari tadi tidur dengan posisi seperti ini," Afifa mengusap-usap rambut suaminya.


"Hmmm...," Fauzi kembali memejamkan matanya, lalu beringsut dan meletakan kepalanya di pangkuan Afifa.


"Lo? mau tidur lagi?" tanya Afifa dengan tetap mengelus kepala suaminya yang kini sudah berada di atas pangkuannya.


"Sebentar saja," Ucap Fauzi tanpa membuka matanya.


Afifa tersenyum, "Baiklah, hanya sepuluh menit saja ya, sudah Ashar, kita juga harus bersiap untuk mengantar seragam ke rumah Mbak Wulan."


Fauzi mengangguk, lalu kembali terlelap manja di pangkuan istrinya. Afifa hanya tersenyum melihat kemanjaan suaminya.


Sepuluh menit berlalu, Afifa menepuk pelan pundak Fauzi. "Kak...,Ayo bangun...!" bisik Afifa di telinga Fauzi.


"Hmmm...," jawab Fauzi masih terpejam.


"Sudah sore, Ayo!" Tangan Afifa mengelus pipi Fauzi. Tapi Fauzi masih tak bergerak. "Sayang..., bangun!" Ucap Afifa kemudian.


Fauzi mengangkat tangannya, lalu menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya, "Disini dulu!" ucapnya dengan serak.


"Apa?" tanya Afifa sambil tersenyum.


"Hmmm...,Ayolah Sayang...," rengek Fauzi.


Afifa mengerti, diapun membungkukan badannya dan mengecup pipi kanan Suaminya.


Fauzi tersenyum, lalu membalikan kepalanya hingga berhadapan dengan Afifa. Jarinya kembali menunjuk bibirnya. "Ini juga," ucapnya sambil tersenyum namun tetap belum membuka matanya.


"Iiih...apaan si?" ucap Afifa.


"Ayoooo..., biar aku semangat," rengek Fauzi lagi.


Afifa kembali membungkukan badannya, dan menempelkan bibirnya diatas bibir suaminya, secepat kilat tangan Fauzi menahan tengkuk Afifa, dan ciuman panjangpun terjadi disana.


Fauzi melepaskan pelukannya setelah menyesap bibir istrinya. Dia membuka matanya, lalu tersenyum, "Makasih hadiahnya," ucapnya, lalu bangkit dan mendudukan dirinya disamping Afifa.


Afifa tersipu, "Fifa mau mandi dulu ya, Kak!" ucap Afifa sambil berdiri dan berjalan menuju kamar setelah mendapatkan anggukan dari suaminya. Fauzi tersenyum penuh kemenangan.


Setelah keduanya melaksanakan Sholat Ashar, mereka kembali bersiap untuk berangkat ke rumah Wulan, sebuah kantong plastik besar berisi pakaian seragam yang sempat ia ambil setelah pulang dari kondangan tadi siang dari SS Collection tak lupa mereka bawa serta.


Pukul 4.30 mobil Fauzi berhenti di depan butik Wulan yang nampak tutup. Keduanya menoleh ke arah rumah besar yang berdiri kokoh dengan jarak beberapa meter disamping butik. Masih tercium aroma cat, menandakan rumah itu baru saja selesai di bangun. Nampak beberapa orang di depan rumah itu yang sibuk memasangkan beberapa tenda dan dekorasi khas pernikahan.


Afifa dan Fauzi berjalan menghampiri rumah itu, nampak sebuah plang didepan rumah dengan tulisan Yuyun Wedding Organizer, menunjukan nama dari pemilik WO yang menangani dekorasi pada acara pernikahan Wulan ini.


Afifa melihat ke sekitar rumah, tak nampak Wulan ataupun Thalita disana, Mereka hanya melihat seorang wanita muda yang sedang sibuk memberi intruksi kepada para pegawainya yang sedang mendekorasi rumah ini dengan hiasan kain serba putih dan bunga-bunga asli yang membuat harum seisi ruangan.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Afifa dan Fauzi saat sudah di depan pintu.


Wanita muda itu menoleh, "Waalaikum salam," jawabnya sambil menghampiri Fauzi dan Afifa, "Eh ada tamu," ucapnya dengan ramah dan menyalami keduanya, "Silahkan! Teh Mul nya ada di belakang," ucapnya.


"Iya terimakasih, Teh!" ucap Afifa.


"Panggil Teh Yuyun aja, Saya temannya Teh Mul, yang bertanggung jawab mengatur dekorasi dan riasan pengantin untuk acara besok," ucapnya sambil tersenyum.


"O iya Teh Yuyun, Saya Afifa dan ini Suami saya Kak Fauzi," Afifa memperkenalkan diri.


"Iya, Saya sudah tau. Teh Mul sering cerita tentang kalian," Ucapnya lagi masih dengan senyum manisnya, membuat Afifa mengangkat kedua alisnya untuk meyakinkan pendengarannya. Teh Yuyun kembali mengangguk untuk meyakinkan keduanya, "Ayo! masuk lah! Thalita juga ada di kamarnya, Saya tinggal lagi untuk melanjutkan pekerjaan saya ya," pamitnya.


wanita muda cantik bertubuh mungil dan berkulit putih itu pun kembali pada pekerjaannya setelah mendapat anggukan dari Afifa dan Fauzi.


Afifa berjalan ke ruang belakang di ikuti Fauzi yang menjinjing kantong kresek putih. "Hei...! kalian sudah datang," Ucap Wulan, yang baru saja keluar dari kamarnya. Dia segera menghampiri keduanya.


"Assalamualaikum, Mbak!" sapa Afifa.


"Waalaikum salam," jawab Wulan sambil tersenyum senang, "Ayo sini Fa...! Duduk dulu, Zi!" Ucapnya lagi, sambil memegang lengan Afifa dan membimbingnya untuk duduk di sofa ruang tengah.


Rumah besar ini masih nampak lenggang, karena belum banyak perabotan yang masuk di dalamnya, hanya beberapa perabotan penting saja yang sudah di pindahkan dari rumah lama Wulan. Selain belum sempat, Wulan juga sengaja tidak memindahkan semuanya terlebih dahulu agar rumah ini cukup luas untuk menampung semua tamu yang di undang pada acara pernikahannya besok.


"Makasih ya, Fa! Maaf, udah ngerepotin kamu dan Fauzi," Wulan memegang tangan Afifa.


"Enggak kok, Mbak! Fifa seneng malah bisa bantu Mbak Wulan," Afifa menoleh ke arah kantong kresek di samping Fauzi. "Ini seragamnya di lihat dulu, Mbak! semuanya ada 11 potong, dan ini catatan ukurannya sudah benar kan?" Afifa mengeluarkan buku catatan yang diberikan Ibu Sri Murni kepadanya siang tadi. "Ini untuk Mbak Emilya, Mbak Rosidah dan Mbak Masroin sepupunya mbak Wulan yang dari Jawa timur itu," Afifa mentata catatannya sambil mengeluarkan satu persatu seragam dari dalam kantong kresek yang sudah di beri nama.


"Thalita mana?" tanya Fauzi.


"Ada di kamarnya, masuk aja! tuh pintunya yang ada gambar bonekanya," tangan Wulan menunjuk ke arah pintu kamar.


"Sodara Mbak Wulan semuanya tinggal di Jawa Timur ya?" tanya Afifa setelah suaminya tak terlihat lagi di hadapannya.


"Iya, mereka sepupu saya dari Ibu. Ibu kan orang Jawa timur. Setelah menikah, ibu di boyong Ayah yang memang asli Bandung, tapi Ayah anak tunggal dan tidak punya banyak sodara." ucap Wulan.


"O begitu, pantesan gak ada sodara dekat Mbak Wulan disini,"


"Iya, tapi Alhamdulillah, setelah saya kasih tau tentang rencana pernikahan saya seminggu yang lalu, mereka bersedia untuk menyempatkan datang pada acara besok," Wulan tersenyum, fikirannya menerawang ke masa kecilnya, "Waktu kecil kami sering bermain bersama di kampung halaman kami di Banyuwangi. Hanya saja setelah menikah, mereka dibawa oleh suaminya masing-masing, Mbak Emilia tinggal di Surabaya, Mbak Rosi di Boyolali dan Mbak Masroin di Blitar."


"Wah..., seneng sekali bisa kumpul kembali ya, Mbak!" ucap Afifa.


"Iya, saya sudah tidak sabar mau bertemu mereka, mungkin sebentar lagi datang, Ashar tadi mereka telephon sudah masuk tol Cipularang katanya, saya juga sudah Sharelok ke mereka," Wulan tersenyum.


"Alhamdulillah, semoga perjalanan mereka lancar ya, saya juga bisa silaturahmi dengan mereka," Ucap Afifa.


"Aamiin...," Wulan menangkupkan kedua tangan ke wajahnya.


"Ini juga seragam untuk yang lainnya sudah ada namanya," ucap Afifa lagi.


"Iya makasih ya, Fa! Kalau kamu tidak memperkenalkan aku dengan Ibu Sri, gak tau deh gimana seragamnya," ucap Wulan.


"Iya, sama2, Mbak!" Jawab Afifa.


Suara deru mobil terdengar berhenti di depan rumah. Keduanya terdiam sesaat untuk memperjelas pendengarannya. "Mungkin itu mereka datang," ucap Wulan sambil berdiri. "Ayo kita lihat Fa!" ajaknya.

__ADS_1


Afifa mengikuti langkah Wulan menuju pintu depan. Dan ternyata benar saja, satu rombongan keluarga turun dari mobil.


"Assalamualaikum...!" Ucap mereka saat sudah menginjakan kakinya di teras rumah.


"Waalaikum salam, Mbak Rosi! Mbak Emil! Mbak Mas! Saya senang sekali kalian bisa datang," Ucap Wulan sambil merangkul ketiganya, tak terasa air mata Wulan keluar begitu saja, karena senangnya bisa bertemu kembali dengan sodara-sodaranya setelah hampir 15 tahun tidak bertemu.


"Alhamdulillah, kami baik-baik saja, Lan! Kamu gimana kabarnya? kenapa gak pernah telephon kami? nomormu di ganti pula, jadi kami tidak bisa menghubungimu," Ucap seorang Wanita yang Wulan panggil dengan Mbak Rosi, beliau adalah putri dari Kakak tertua ibunya Wulan.


"Maaf, Mbak! banyak sekali yang sudah terjadi yang panjang sekali kalau di ceritakan. Tapi Alhamdulillah silaturahmi kita bisa tersambung lagi ya Mbak, meskipun awalnya lewat Media sosial." ucap Wulan.


"Iya, Alloh masih mengizinkan kita untuk bertemu kembali." ucap Mbak Masroin.


"Iya, Ayo mari semuanya masuk!" ajak Wulan, lalu pandangannya beralih kepada anak-anak lucu yang berada di belakang mereka bersama para suami mereka, "hei anak-anak cantik dan ganteng, siapa namanya?" tanya Wulan lagi.


"Ini Anakku, Lan! namanya Keyla," ucap mbak Rosi.


"Ini anakku, Naura," kata Mbak Emilya


"Dan ini anakku, Nawal." Sambung mbak Masroin.


"MasyaAlloh, lucu-lucu banget si kalian," Ucap Afifa menimpali, rasa sayangnya kepada anak-anak selalu tak bisa ia tutupi saat melihat mereka.


"E iya, kenalkan ini teman saya, Afifa," Ucap Wulan sambil memegang pundak Afifa.


"Assalamualaikum," Ucap Afifa tersenyum ramah.


"Waalaikum salam," jawab ketiganya tak kalah ramah. Afifa menyalami ketiganya.


"Ayo, mari masuk!" ucap Wulan.


Rombongam itu pun masuk ke dalam rumah, Wulan segera memanggil Thalita dari dalam kamarnya, dan memperkenalkan putrinya itu kepada sodara-sodaranya, juga memperkenalkan Fauzi sebagai suami dari Afifa. Pak Herman juga nampak senang karena bisa bertemu dengan keluarga dari Al marhum istrinya.


Semua orang berkumpul di ruang keluarga, saling berbagi pengalaman di selingi tawa ringan dan menyantap hidangan yang sudah di sediakan. Sampai mereka mencoba seragam yang diberikan oleh Wulan.


Semuanya tertawa bahagia, terlebih Wulan, kini dia merasa kebahagiaan itu datang bertubi-tubi padanya. Cintanya yang telah mendapatkan restu dari orang tua calon suaminya, rumahnya yang baru saja selesai, juga keluarganya yang kini bisa berkumpul di hari bahagianya esok hari.


Rasa syukur terus ia panjatkan atas semua anugrah yang ia terima kali ini, semoga kebahagiaan ini akan terus menyelimuti kehidupannya sehingga dia lupa dengan semua kepedihan dan perjuangannya selama 10 tahun ini.


****************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hanya beberapa part lagi menuju end ya Readers... Semoga kalian selalu setia membaca cerita ini sampai end.


Setelah cerita ini end, saya akan fokus dengan karya terbaru saya yang sempat terbengkalai "Cahaya Cinta Naura".


(Maaf ya Olla sayang, Bunda menelantarkan dirimu 😢😢😢)


Ikuti juga ceritanya ya 😉


Tetap like, vote dan komen.

__ADS_1


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😚😚😚⚘⚘⚘


By : Rahma Husnul


__ADS_2