Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Posisiku ...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


"Bruk...!", tiba-tiba saja Nadia menubruk tubuh tinggi seseorang, "Eh...maaf", Ucapnya sambil mendongakan kepalanya. Seketika dia terdiam, Mata Nadia tak berkedip saat kedua bola matanya bertemu dengan mata hitam pria dihadapannya yang juga sedang menatapnya.


"Muthiya?", ucap Pria itu sambil menahan pundak Nadia dengan kedua tangannya karena hampir terjatuh.


"Eh...ma...maaf Mas... Ari", ucap Nadia terbata-bata, segera melepaskan tubuhnya dari pegangan tangan Farid, lalu tangannya sibuk merapikan gamis yang sempat tersingkap sampai lututnya, juga merapikan kerudung yang sudah mencong kesana kemari tak beraturan menutupi wajah putihnya yang bulat, nampak beberapa helai rambut yang seolah berlomba keluar dari balik kerudungnya.


"Kenapa lari?, ada apa?", tanya Farid.


"Ah...tidak..., tadi hanya...hanya...anu...", Nadia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Haduuuuh...Nadia...kenapa harus bertemu dalam situasi seperti ini si... gerutunya mengutuki dirinya sendiri. Nadia tertunduk, namun matanya sempat mencuri pandang ke arah wajah Farid yang ternyata sedang menahan tawa. Nadia semakin salah tingkah tak bisa melanjutkan ucapannya.


"Ya sudah lupakan saja", ucap Farid sambil tersenyum.


"Mmmm...Mas Ari kenapa kesini?" tanya Nadia memberanikan diri bertanya.


"Oh iya...tadi aku menelphonmu, tapi tidak aktif...makanya aku minta izin satpam untuk mencarimu didalam", jelas Farid.


"Oh...maaf..., Ponselku mati, habis batrei he he...", jawab Nadia cengengesan.


"Oh ya sudah, yuk kedepan!", Ajak Farid.


Nadia hanya mengangguk, lalu mengekor sambil tertunduk dibelakang Farid yang mulai berjalan menuju pintu gerbang melewati koridor kampus.


"Bruk...", lagi-lagi Nadia menubruk punggung Farid yang tiba-tiba berhenti dihadapannya. "Awwww...", ucapnya perlahan sambil memegang keningnya yang terasa sakit.


"Muth?...kenapa?" tanya Farid membalikan badannya.


"Eh...enggak...gak papa hehe...", Nadia cengengesan untuk menutupi rasa malunya karena berjalan sambil melamun.


"Ayo kamu duluan!", Ucap Farid.


"Ah...tidak, Mas Ari duluan saja", jawab Nadia lagi, tentu saja dia tidak ingin berada dihadapan pria ini, karena mungkin dia akan semakin salah tingkah.


"Nad...!", panggil seseorang dengan suara cempreng Khas sahabatnya.


Nadia menoleh ke sumber suara, nampak Pratiwi sedang melambaikan tangannya, sedangkan Aldi hanya memangku kedua tangannya sambil memperhatikan dirinya sejak tadi tanpa senyuman sedikitpun. Pratiwi berlari menghampirinya.


"Ah...curang lo Nad, punya gebetan ganteng gak bilang-bilang", bisiknya ditelinga Nadia yang terus berjalan, lebih tepatnya bukan bisikan karena Farid dapat mendengarnya dengan jelas.


"Dukkk...!", Nadia menginjak sepatu Pratiwi dengan sepatu sportnya.


"Awwww...", Jerit Pratiwi, "Sakit tau".


"Ngomong sembarangan lo..., sana!", usir Nadia.


"Si Aldi cemburu tu haha...", bisiknya lagi.


"Isssst...!", Nadia tidak menghiraukan ucapan Pratiwi, dia terus berjalan ke arah gerbang mengikuti Farid. Pratiwi pun menyerah, dia kembali menghampiri Aldi yang masih terdiam dengan wajah ditekuk.


Farid dan Nadia sampai dicaffe depan kampus, mereka duduk dibangku kosong yang hanya menyisakan 2 meja saja, setelah memesan makanan, Farid mulai bicara.


"Bagaimana kabarmu Muth?"


"Alhamdulillah baik", jawab Nadia.


"O ya...aku turut prihatin dengan kepergian orang tuamu", ucap Farid.


"Makasih", jawab Nadia singkat.


"Sekarang kamu tinggal bersama siapa?"


"Bersama Nenek dan Kakekku, kadang aku juga berkunjung ketempat Paman dan Anti".

__ADS_1


"Anti?", tanya Farid.


"Iya, Aunty Afifa.


"Oh..." mereka terdiam sejenak, pesanan merekapun datang. "Ayo makan dulu Muth!". Ajak Farid yang dijawab dengan anggukan kepala Nadia.


"Muth...", panggil Farid setelah makanannya habis.


"Ya?", Nadia mendongakan kepalanya.


"Aku...minta maaf", Ucap Farid agak ragu.


"Untuk apa?", tanya Nadia.


"Untuk semua ucapanku waktu itu, tidak seharusnya aku bicara kasar padamu dan menyakitimu dengan semua ucapanku, waktu itu aku begitu emosi dan tidak bisa mengontrol semua kata-kata yang keluar dari mulutku".


"Oh...itu, gak papa, lupakan saja Mas, semua ucapanmu benar kok, aku memang sama sekali tidak pantas untukmu bahkan hanya sekedar berharap padamu pun aku tak pantas", Jawab Nadia begitu lancar mengatakan semuanya, bayangannya kembali mengingat kemasa itu, dimana ia terpaksa harus kembali pulang ke Jakarta, karena rasa sakit dan kecewa yang begitu dalam ketika cintanya bertepuk sebelah tangan. Sebenarnya bukan hanya itu, tapi ucapan orang yang sangat dia cintai, membuatnya sadar dengan posisinya, dan siapa dirinya. Baginya Farid adalah bulan yang bercahaya diatas sana, sedangkan dirinya tak layaknya pungguk yang merindukannya. Sakit memang mengingat hal itu, tapi Nadia sadar, ketika dia yang jadi pilihan hatinya ternyata tak juga memilihnya, maka dirinya tak perlu memaksakan kehendak, karena dia punya hak penuh atas pilihannya itu.


"Tapi aku tetap salah Muth, dan sayangnya aku menyadari kesalahanku setelah kamu pergi dari semarang dan sudah kembali pindah ke Jakarta, saat itu aku semakin merasa bersalah dan berusaha mencarimu, aku tidak menyangka kalau kita bertemu lagi disini".


Nadia tersenyum, "Sudah lah Mas, tak perlu diperpanjang lagi, aku juga yang sudah keterlaluan waktu itu".


"Jadi kamu mau memaafkanku?", tanya Farid penuh harap.


Nadia mengangguk sambil mengulas senyum.


"Alhamdulillah, kalau begitu... kita masih bisa berteman seperti dulu kan?" Tanya Farid


"Hmmm...gimana ya?", Nadia pura-pura berfikir sambil memutar mata bulatnya. jari telunjuknya mengetuk ngetuk meja dihadapannya, "oke deh...", jawabnya, sambil mengangkat tangan membentuk huruf O, membuat Farid tersenyum melihat tingkahnya.


Keduanya tertawa, Nadia yang memang pandai bergaul dan banyak bicara tak butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan Farid, meski dia sering tersipu karena keceplosan bicara somplak dihadapan Farid.


Setelah cukup lama bicara Akhirnya mereka berpisah dan pulang dengan motor masing-masing.


*********


"Sepertinya Mbak Wulan sudah didalam", ucap Afifa.


Fauzi mengangguk lalu menggandeng tangan Afifa dengan erat dan mengajaknya masuk ke dalam restoran, Afifa mengikuti langkah suaminya.


Mereka menyusuri satu persatu saung-saung kecil disepanjang restoran, sampai mata Afifa tertuju pada sosok wanita yang sedang duduk sendiri memainkan ponselnya di saung paling pojok. "Sepertinya itu Mbak Wulan Kak", tunjuk Afifa dengan jarinya.


Fauzi mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Afifa, seketika dia menghentikan langkahnya dan semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan Afifa saat matanya tertuju pada sosok Wulan.


Afifa ikut menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Suaminya dan menatap matanya, ada sesuatu yang aneh tergambar disana, sebenarnya Afifa juga belum bisa mengartikan maksud dari perubahan ekspresi Fauzi, tapi dari cara suaminya menggenggam erat tangannya, akhirnya Afifa menganggukan kepala dan ternyata berhasil membuat suaminya kembali melangkahkan kaki.


Keduanya berjalan menghampiri Wulan. "Assalamualaikum Mbak..., maaf menunggu lama", sapa Afifa.


"Waalaikum salam", Seketika Wulan menoleh dan menjawab salam, dia menghentikan gerakan tangannya yang sedang menari diatas benda pipih yang dipegangnya. "Eh...kalian sudah datang?", tanyanya basa basi, lalu pandangannya tertuju pada genggaman tangan pasangan suami istri dihadapannya.


Afifa yang sadar dengan tatapan Wulan, segera melepaskan genggaman tangan suaminya, lalu duduk lesehan di hadapan Wulan yang terhalang dengan meja pendek persegi empat didepannya, Fauzi juga ikut duduk disamping Afifa.


"Mbak Wulan sudah lama menunggu?", tanya Afifa.


"Ah tidak juga, baru sekitar 5 menit yang lalu", ucapnya sambil mengulas senyum manis diwajah cantiknya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Fauzi yang hanya terdiam. "Apakabar Zi?" tanyanya.


"Baik, mana Talita?", Jawab Fauzi langsung kepada intinya.


"Oh...dia sedang diajak ke swalayan didekat sini sama Rina, pengen jajan eskrim katanya", kembali mengulas senyum.


"Apa maksudmu menutupi semuanya dariku?", tanya Fauzi lagi dengan suara datar tanpa senyum sedikitpun.


Afifa yang melihat hal itu segera memegang tangan dingin Fauzi dibalik meja persegi empat itu, membuat Fauzi menoleh ke arahnya dan sedikit membuatnya tenang.

__ADS_1


"Oh...apa Afifa belum menceritakan semuanya?", Wulan bertanya balik sambil menatap Afifa.


"Permisi..., mau pesan Apa Pak, Bu?", tanya seorang pramusaji yang tiba-tiba datang menghampiri mereka, kemudian menyerahkan daftar menu kehadapan ketiganya.


Mereka mengambil daftar menu, dan melihat satu persatu daftar makanan yang ada disana, setelah mendapat pilihan makanan masing-masing, mereka kembali menyerahkan daftar menu dan menunjukan menu pilihan mereka.


Pramusaji itu mengangguk dan kembali ke tempatnya semula.


"O ya...Afifa sudah menceritakan semuanya kan padamu Zi?", tanya Wulan kembali.


"Sudah, karena tidak ada satupun yang dirahasiakan diantara kami", jawab Fauzi masih datar, diringi dengan anggukan kepala istrinya, Afifa memang sudah mengatakan semuanya kepada Fauzi, kecuali cara licik Wulan saat menjebak Fauzi waktu itu. "Tapi aku masih belum mengerti maksudmu yang sebenarnya, kalau memang Talita itu darah dagingku, untuk apa kamu mengarang cerita konyol untuk menutupi semuanya dariku?".


"Aku kan sudah bilang pada Afifa, ini demi keutuhan rumah tangga kalian", jawab Wulan cepat.


"Sampai mengorbankan masa depan Talita?", tanya Fauzi tak percaya.


"Mungkin...mungkin bukan hanya itu, aku...aku hanya tidak ingin terjadi pertumpahan darah", ucap Wulan sambil mengangkat tangannya untuk menenangkan Fauzi, dia nampak bingung untuk menjelaskan.


"Apa maksudmu?", tanya Fauzi lagi semakin penasaran.


"Afifa...", Wulan menatap Afifa. "Kamu sudah pernah bertemu dengan ayahku bukan?", tanyanya, Afifa mengangguk. "Kamu sudah lihat bagaimana kondisi ayahku bukan?", Wulan kembali mengalihkan pandangan ke arah Fauzi. "Dia sudah melihat fotomu, dan penyakit kejiwaannya akan kembali saat melihatmu, dia bisa melakukan apapun terhadapmu, mencelakaimu bahkan bisa membahayakan nyawamu, aku tidak mau hal itu terjadi padamu, apalagi kalau dia tau kamu kini sudah menikah dengan orang lain".


"Tapi tidak seharusnya kamu menyembunyikan identitas Talita dariku, aku ayah kandungnya, aku berhak atas dirinya", Suara Fauzi meninggi.


"O ya...???, heh...mudah sekali kamu mengatakan itu Zi, selama 8 tahun aku menderita, menanggung malu dan cemoohan orang-orang disekitarku, lalu sekarang? kau ingin mengambil Talita dariku?", wajah Wulan mulai memerah.


"Aku tidak bilang akan mengambil Talita darimu, setidaknya beri aku hak untuk ikut mengurusnya, memberi nafkah untuknya, atau sekedar membuatnya bahagia dengan memberitahunya kalau ayah kandungnya masih hidup dan sangat menyayanginya, bukankah itu tidak sulit?".


Wulan terdiam dan tertunduk, nampak cairan bening tertahan dikedua kelopak mata yang sengaja ia sembunyikan dari dua orang dihadapannya. Setelah dapat mengontrol emosinya, dia kembali mengangkat wajahnya, "Tapi apa yang harus kukatakan padanya? bagaimana kalau dia bertanya tentang masa lalu kelam ibunya? Ayah kandungnya yang tidak satu rumah dengannya? dan Ah...", Wulan menundukan kepalanya diatas meja, dia mulai menangis, "Banyak sekali yang aku fikirkan Zi...", ucapnya kemudian disela tangisannya.


"Deg!", Afifa merasa degupan jantungnya berhenti sejenak mendengar ucapan Wulan, dia menundukan kepalanya, Entah mengapa Afifa merasa kehadirannya hanya akan menghalangi kehidupan mereka berdua, perlahan Afifa bangkit hendak meninggalkan mereka berdua, tapi seketika tangan Fauzi menahannya dengan menggenggam tangan Afifa, diapun menoleh ke arah suaminya.


Fauzi menatap lekat mata Afifa, lalu dia mengangguk mengisyaratkan agar Afifa tidak beranjak dari tempatnya, Afifa terdiam sampai Fauzi menarik lengannya untuk kembali duduk.


Wulan mengangkat kembali kepalanya, "Maaf...aku...aku hanya terbawa emosi saja, mohon jangan memikirkan ucapanku", ucapnya kemudian dengan senyum yang dipaksakan.


Fauzi dan Afifa hanya saling memandang mendengar ucapan Wulan.


"Oke...begini saja, sekarang kalian sudah tau identitas Talita yang sebenarnya, jadi kalian bisa membawa Talita dan mengembalikannya padaku kapanpun kalian mau, tapi aku mohooon, jangan pernah perlihatkan dirimu dihadapan ayahku", Wulan menatap Fauzi sambil mengatupkan kedua tangan didepan dadanya.


"Baiklah", Jawab Fauzi, "Tapi tolong pertemukan aku dengan Talita sekarang".


"Sebentar...", Wulan mengambil ponselnya dan menelphon seseorang, "Kemarilah bawa Talita", ucapnya, lalu menyimpan kembali ponselnya, "dia akan segera kemari", ucapnya pada Fauzi.


Pesanan datang, merekapun menyantap makanan masing-masing dengan diam, tak ada satu patah katapun keluar diantara mereka, Afifa memandangi mereka berdua bergantian, keduanya sedang tertunduk fokus dengan makanan masing-masing dihadapannya, Entah apa yang ada dalam fikiran mereka, yang pasti kegelisahan terus menghantui fikiran Afifa, dia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan di posisinya saat ini....😢.


*******************


Bersambung....❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamualaikum Readers...


Mohon maaf saya tidak bisa Up setiap hari, mohon pengertiannya 🙏.


O ya...kalian boleh beri Author masukan di kolom komentar untuk part berikutnya ya...🙏


Apa yang harus Afifa lakukan???....


Yuk...tetap like, vote, komen... ditunggu...😉😘😘😘


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘

__ADS_1


By: @Rahma Husnul#


__ADS_2