
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Acara Resepsi pernikahan Wulan dan Faqih berjalan dengan lancar, karena tamu undangan tidak begitu banyak, pukul 12:30 siang para tamu sudah lenggang dan satu persatu mereka meninggalkan rumah Wulan.
Wulan menoleh ke aras Suaminya, "Makan dulu, A!" ajaknya.
"Boleh, Yuk!" jawab Faqih sambil tersenyum, lalu berdiri dan kembali mengulurkan tangannya ke arah Wulan.
Wulan menatapnya, lalu tersenyum sambil meletakan tangan kanannya di atas tangan Faqih, lalu berdiri dan berjalan bergandengan menuju meja prasmanan. Setelah mengambil makanannya, keduanya masuk ke dalam rumah.
Fauzi, Afifa dan Thalita yang sedang bercanda sambil memasangkan kembali jilbab Thalita setelah dibuka untuk Sholat dzuhur tadi, langsung menoleh saat melihat kedatangan mereka.
"Hei, Sayang! sudah makan?" tanya Wulan kepada Thalita sambil mendudukan dirinya di atas kapet tebal di ruang tamu.
"Sudah, Bunda! tadi bareng Bunda Fifa dan Ayah." jawab Thalita.
"Thalita mau makan lagi? sini sama Ayah!" Ucap Faqih sambil tersenyum ke arah anak itu.
Thalita terdiam kemudian menoleh ke arah Fauzi, seolah merasa aneh dengan ucapan Faqih yang menyebut dirinya dengan Ayah pula.
Fauzi tersenyum, "Sayang mulai sekarang, kamu panggil Paman Faqih dengan Ayah juga ya," Ucap Fauzi.
"Berarti, Thalita punya dua Ayah dan dua Bunda dong sekarang?" ucap Thalita.
"Iya, hebat kan?" jawab Fauzi sambil mengacungkan jempolnya.
"Baiklah Ayah," Thalita tersenyum ke arah Fauzi, lalu menatap Wulan dan Faqih bergantian.
"Sini, Sayang! Bunda suapin," ucap Wulan.
"Thalita masih kenyang, Bund!" ucap Thalita.
"Sudah, kalian makan saja, kami juga baru selesai makan," ucap Afifa kepada Wuan dan Faqih sambil tersenyum, "Ayo sini, Nak!Lanjutin pasang kerudungnya," tangan Afifa kembali meraih keeudung yang terjuntai di dada Thalita.
Wulan dan Faqih mengangguk dan melanjutkan makannya.
"Thalita malam ini pulang ke rumah Bunda Fifa ya!" ucap Afifa setelah selesai menyematkan bros di sisi kiri kepala Thalita.
"Jangan dulu, Fa! biarkan malam ini Thalita di sini dulu, mumpung keluarga kami yang dari Jawa Timur kumpul, agar mereka lebih dekat," ucap Wulan.
__ADS_1
"Iya betul, Ayah juga mau lebih dekat dengan Thalita, Iya kan, Sayang!" sambung Faqih sambil tersenyum menatap Thalita.
"Ehem..., memangnya gak akan ganggu?" bisik Fauzi kepada Faqih yang memang duduk bersebelahan.
"Haha..., santai aja bro, masih banyak waktu," ucap Faqih tak kalah berbisik.
Afifa dan Wulan saling pandang melihat tingkah suami mereka.
Selesai dengan makannya, Wulan masuk ke kamarnya, meminta Teh Yuyun untuk membuka aksesorisnya karena akan melaksanakan Sholat dzuhur, begitupun dengan Faqih.
Tak lama Fauzi pun pamit untuk pulang karena akan langsung ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Sebelum Farid pulang tadi, dia mengatakan ingin bertemu dengan seluruh keluarga Nadia untuk membicarakan hal penting tentang rencana baiknya. Mereka berdua pun berangkat setelah pamitan kepada seluruh keluarga Wulan serta Thalita.
Selama di perjalanan Afifa nampak lelah, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang dibuat agak landai ke belakang.
"Capek ya, Dek?" tanya Fauzi sambil menoleh ke arah Afifa di tengah mengendalikan mobilnya.
"Lumayan," Ucap Afifa sambil tersenyum ke arah suaminya.
"Apa kita langsung pulang saja? aku takut kamu kecapean nanti," Fauzi nampak khawatir.
"Gak usah, kita ke rumah Mama aja dulu, lagian Fifa juga gak ngapa-ngapain disana, di mobil juga cuman duduk aja kan?" Afifa meyakinkan suaminya.
"Enggak dong sayang, aku baik-baik saja, kamu juga kan, Sayang?" Afifa mengelus perutnya. "Fifa cuman ngantuk aja, Kak!" Ucapnya sambil meletakan tangannya di atas tangan suaminya.
"Ya sudah, kamu tidur aja, Dek! Lumayan setengah jam di jalan."
Afifa tersenyum lalu mengangguk. Fauzi kembali Fokus ke jalanan.
Afifa terdiam fokus ke arah jalanan didepannya, perlahan matanya mulai berat, berat dan akhirnya benar-benar terlelap.
Tiga puluh menit berlalu, Fauzi membelokan mobilnya ke pekarangan rumah orang tuanya, mobil Farid sudah terparkir disana. Dia pun menghentikan mobilnya tepat disamping mobil Farid. Fauzi menoleh ke arah istrinya, Dia hanya tersenyum melihat Afifa yang masih terlalap dalam tidurnya, rasanya tak tega kalau harus membangunkannya.
Cukup lama Fauzi memandang wajah polos istrinya, dia membuka sabuk pengaman dan beringsut mendekati Afifa. "Cup!" satu kecupan mendarat di kening Afifa, membuat Afifa terbangun dan membuka matanya perlahan. Dia cukup kaget saat melihat wajah suaminya yang sedang tersenyum tepat di depan wajahnya.
"Kak!" ucap Afifa sambil mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya, "Sudah sampai?" tanyanya lagi dengan meletakan tangannya ke pundak suaminya dan sedikit mendorongnya agar dia dapat melihat sekelilingnya.
"hmmm..., sudah dari tadi," jawab Fauzi sambil tersenyum.
"Kenapa gak bangunin Fifa?" tanya Afifa.
__ADS_1
"Tidurmu nyenyak sekali, aku gak tega banguninnya."
"Ih, Sayang..., Nanti orang-orang yang ada di dalam rumah heran, kenapa kita gak turun-turun."
"Biarin aja, paling mereka nyusul kemari." Fauzi tersenyum.
"Ih, Dasar!" Afifa mencubit pinggang Suaminya.
"Aw...sakit!" ucap Fauzi sambil memegang tangan Afifa, "Hmmm, harus di bales ini," Ucap Fauzi dengan seringai jahil sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Afifa sehingga Afifa mundur dan terpojok ke kursi mobil.
"Eh..., mau ngapain?" tanya Afifa kaget sambil menahan tubuh Fauzi.
"Cup!" satu kecupan singkat mendarat di bibir Afifa, membuat mata Afifa terbelalak dan mendorong tubuh Fauzi.
"Kak Aji apa-apaan? kalau ada yang liat gimana?" ucap Afifa.
"Biarin aja, gak kan ada yang bakal laporin ke RT kan?" jawab Fauzi santai.
"Iiih, Kak Aji...," ucap Afifa manja sambil tersipu.
"Udah, Yuk turun!" Ajak Fauzi sambil membuka sabuk pengaman yang masih melingkar di pinggang istrinya, lalu membuka pintu mobil.
Afifa mengangguk dan mengikuti langkah suaminya, keduanya masuk beriringan ke dalam rumah orang tuanya.
Itulah Fauzi dan Afifa, yang selalu menghangatkan suasana dalam setiap detik yang mereka lalui di usia pernikahannya yang kini hampir menginjak tiga tahun.
Sungguh! Pernikahan itu adalah ibadah yang paling indah dan paling lama waktunya, jika bukan kita yang menghangatkan suasana pernikahan kita, maka jangan salahkan jika suatu saat akan ada kuman-kuman atau bakteri yang datang menggerogoti ikatan pernikahan yang terlanjur basi karena pemilik ikatan itu tidak rajin menghangatkannya. 😊😊😊
********************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sedikit, namun tetap hangat... 🤗
I LOVE YOU ALL... ❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul
__ADS_1