Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Jangan Tutup Hatimu...


__ADS_3

HAPPY READING... ⚘⚘⚘


Wulan masih terdiam di depan meja kerja Dokter Faqih, "Biarkan saya berfikir terlebih dahulu," hanya itu yang dia katakan saat Faqih menyatakan kembali perasaan yang sama seperti 10 tahun yang lalu kepadanya. karena sesunggunya banyak hal yang harus dia pertimbangkan, mungkin kali ini bukan lagi masalah cinta ataupun perasaan terhadap seseorang, mengingat dirinya yang sudah tak lagi sendiri.


Menjadi seorang ibu dan menyandang status janda dengan luka-liku pahitnya kehidupan yang pernah ia jalani selama ini akibat dari kebodohannya sendiri sungguh begitu berat baginya, bukan hanya ketulusan cinta seseorang, tapi akankah keluarga dari pria yang siap menerimanya kini juga akan menerima dirinya?, rasa takut itu datang lagi, tatkala dia mengingat 7 tahun yang lalu, dimana istri dan keluarga dari Mas Kadar mantan suami sirihnya menghinanya, sampai ia benar-benar jatuh ke dasar lembah keterpurukan, dan tak ada satu pun orang yang menjadi penopang dirinya untuk sekedar bersandar. Hanya putrinya saja yang saat itu mampu membuatnya bangkit kembali. Dengan jatuh bangun Dia harus menjadi ibu dan sosok ayah sekaligus, mencari nafkah dengan berbekal kemampuannya hingga menjadi seperti sekarang ini.


"Baiklah, Aku akan selalu setia menunggu keputusanmu," ucap Faqih, mencoba mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Wulan yang tersimpan diatas mejanya, Namun Wulan dengan segera menarik tangannya sambil tertunduk. "Maaf...," Ucap Faqih kemudian.


Wulan mengangkat kepalanya, menatap mata Faqih yang terus memperhatikan dirinya, nampak genangan jernih di kedua kelopak matanya, membiat Faqih merasa terenyuh memandangnya.


"Maafkan aku..., karena telah lancang menyatakan kembali perasaanku, seharusnya aku tau, sejak dulu hatimu tidak akan pernah terbuka untukku, begitu pun dengan saat ini, jika kau tidak menginginkan hal itu, aku tidak akan memaksamu," ucap Faqih dengan helaan nafas di kalimat terakhirnya.


"Tidak! Bukan begitu maksudku, Aku hanya meraba pada diriku sendiri, rasanya aku tidak pantas mendapatkan cinta tulus darimu, mengingat penolakanku dulu padamu, juga karena lika-liku kehidupanku yang mungkin tidak akan diterima dengan mudah oleh keluargamu, apalagi saat ini aku sudah tidak sendiri lagi." Setitik air lolos dari kedua matanya.


"Kamu cantik, kamu pantas untuk dicintai, memiliki anak ataupun tidak, kamu tetap anggun menawan dan akan selamanya cantik. Tidak perlu mengutuk diri dengan nasib buruk, masa lalu kelam atau pun pernikahan yang gagal, hingga kau berpikir tak akan ada yang mau mencintaimu. Itu salah.


Kamu masih dikelilingi orang-orang yang menyayangimu. Keluarga, anak, sahabat yang selalu ada untukmu. Tebarkan senyuman, kebaikan, isilah hari-harimu dengan kegiatan yang positif. Tidak ada hasil yang menghianati usaha, Tuhan telah menyiapkan kejutan baik dibalik itu semua. Percayalah.


Tak perlu risau dengan omongan tetangga tentang statusmu, masa lalumu, pekerjaanmu, juga tentang pernikahan sirimu. Hak mereka untuk mengomentari hidupmu, namun kewajibanmu adalah melanjutkan kehidupan yang lebih baik dari hari kemarin.


Jangan tutup hatimu untuk menerima cinta dari orang baru, kau pantas untuk dicintai, kau pantas untuk bahagia, karena sejujurnya, rasa cinta tulusku padamu tidak pernah berkurang sedikitpun, sama seperti sepuluh tahun yang lalu," Faqih menguraiksn kata-kata panjang lebarnya, sesuai dengan peofesinya saat ini, yang kata-kata quotenya selalu menjadi motivasi bagi para pasiennya yang notabene memiliki masalah rumit yang tak mampu mereka pecahkan hingga berakhir dengan terganggunya mental seseorang.

__ADS_1


Wulan menatap kembali mata bijak Faqih dihadapannya, masih dengan mata basahnya, seulas senyum mulai tersungging dari bibirnya.


Faqih mengangguk meyakinkan lalu berkata, "Kamu tidak perlu menjawab permintaanku saat ini, fikirkanlah semua yang baru saja aku katakan, jika kau sudah siap, maka datanglah kembali padaku." Ucapnya, membuat Wulan benar-benar tersenyum kali ini.


Adzan ashar berkumandang, semua pasien berkumpul di mushola untuk melaksanakan ibadah sholat Ashar berjamaah, termasuk Ayahnya Wulan. Itu sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Di sini, penyembuhan jiwa seseorang bukan hanya secara teori saja, tapi lebih pada bagaimana mereka dapat lebih mengenal Tuhannya melalui ritual keagamaan yang disisipkan setiap waktu.


"Ya Sudah, Aku mau ke mushola bersama yang lainnya, Apa kamu mau Sholat disini?"


"Oh...tidak terima kasih, kebetulan hari ini aku sedang tidak sholat, Terimakasih atas semua yang telah kamu lakukan untuk Ayahku, dan terimakasih juga, karena masih tetap menyimpan rasa itu untukku," Ucap Wulan membuat Faqih tersenyum dengan ucapan terakhir Wulan, yang menandakan peluang untuk harapannya kini semakin besar.


"O ya..., kapan Ayahku bisa pulang?" tanya Wulan.


"Beliau sudah hampir sehat seratus persen, InsyaAlloh bisa segera pulang, Aku akan urus berkas-berkasnya, agar minggu depan, kamu sudah bisa menjemput Ayahmu."


"Waalaikum salam," Jawab Faqih.


Wulan menyempatkan diri untuk menemui Ayahnya terlebih dahulu di depan mushola Rumah Sakit, setelah berpamitan kepada beliau dia pun kembali pulang.


*********


Playsback 10 tahun yang lalu...

__ADS_1


Adhitama, begitu teman-temannya memanggilnya, dia adalah seorang anggota OSIS di sekolahnya yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, pantas saja kalau dia selalu dipanggil si jenius Adhitama, saat masuk kelas sebelas dia satu kelas dengan Wulan, mereka sangat dekat, hingga menjadi sahabat.


Ketika mereka naik ke kelas dua belas, terjadi crossing class, dan Fauzi serta Johan berada satu kelas dengan Wulan dan Adhitama. mereka berempat sama-sama menjalin persahabatan, meski ada cinta segitiga diantara mereka, Fauzi yang kadang slengean dan pandai bergaul dengan semua orang, namun tak pernah berhubungan dengan satu orang wanitapun disekolahnya membuat Wulan tertarik dan mengenyampingkan rasa yang sudah lama dimiliki Adhitama untuknya. sehingga pada saat Adhitama menyatakan cintanya, dengan tegas Wulan menolaknya dan memilih untuk mengejar cinta Fauzi.


Sedangkan Johan yang berlatar belakang keluarga berada namun kurang perhatian dari kedua orang tuanya dan kadang bergaul dengan anak-anak jalanan sedikit banyak telah mempengaruhi pola fikir dan gaya hidup Fauzi, dia pun terjerumus kepada hal-hal negatif yang menyebabkan mereka berdua di cap sebagai anak nakal, dan pada saat itu, Adhitama lah yang selalu datang untuk membela keduanya, begitupun pada setiap kesulitan mereka di dalam pelajarannya.


Playsback off...


************


"Antiiii...!" panggil Nadia sambil berlari menuju kamar Afifa dengan membawa ponsel di tangannya hendak ditunjukan kepada Afifa, dan tanpa permisi langsung saja membuka pintu kamar Afifa yang memang tidak terkunci.


Afifa terperanjat, dia langsung mendorong tubuh Fauzi yang sedang memeluknya diatas sofa. wajahnya memerah karena malu, seakan ketahuan sedang mencuri. Lain halnya dengan Fauzi, dia nampak santai saat keponakannya yang datang tiba-tiba masuk dengan wajah berseri-seri dan memergoki perbuatannya.


***********


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hmmmm....🤔

__ADS_1


I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘


__ADS_2