Seikhlas Cinta Afifa 2

Seikhlas Cinta Afifa 2
Ungkapan Hati Thalita...


__ADS_3

HAPPY READING...⚘⚘⚘


Afifa yang merasa heran, segera merangkul tubuh kecil itu. "Sayang..., kamu kenapa?" tanyanya, masih tak lepas dari rasa herannya. Thalita tak menjawab malah semakin mempererat pelukan tangannya, sampai Fauzi datang kehadapannya diikuti dengan Wulan dan Faqih dibelakannya.


"Afifa...," panggil Wulan pelan, "Maaf kami datang malam-malam kemari mengganggu istirahat kalian."


"Iya, gak papa ,Mbak! tapi ada apa dengan Thalita?" tanya Afifa.


"Kita bicara di dalam saja," Ucap Fauzi menimpali tanpa memperhatikan pria yang mengantar Wulan dan putrinya.


Wulan mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arah Faqih, "Ayo Tam!" ajaknya.


Afifa segera membawa Thalita masuk ke rumah, sedangkan Fauzi menoleh ke arah pria itu, sejurus matanya menatap, wajahnya berkerut mengingat orang yang ada di hadapannya.


"Apa kabar, Zi?" tanya Faqih sambil mengulurkan tangan kanannya. Ragu-ragu Fauzi menerima uluran tangannya. "Ini aku, Adhitama," ucap Faqih.


Mata Fauzi langsung terbelalak saat memorinya terkumpul dan dapat mengingat dengan jelas sosok pria dihadapannya. Dia langsung menepukan telapak tangan Faqih dengan tangannya yang tadi sempat ragu untuk dia ulurkan. "Adhitama...??? Hah..., Si Jenius Adhitama..., Apa kabar kamu sekarang, Sob?" tanya Fauzi dengan mata berbinar karena bertemu dengan sahabat lamanya. Dia langsung merangkul tubuh tegap Dokter Faqih dihadapannya, Faqih membalas rangkulannya, tawa renyah keluar dari mulut keduanya. terjadi perbincangan ringan sebentar antara keduanya, sekedar bertanya kabar masing-masing.


Afifa mengajak masuk Thalita dan Wulan, mereka duduk di kursi tamu, Thalita masih saja tak mau beranjak dari memeluk pinggang Afifa. Afifa hanya menatap Wulan dan Thalita bergantian dengan penuh tanya.


Tak lama Fauzi dan Faqih muncul di balik pintu, Fauzi nampak merangkul bahu Faqih, senyuman kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya.


"Silahkan duduk, Tam!" ucap Fauzi.


"Makasih, Zi!" jawab Faqih.


"O iya, perkenalkan ini istriku Afifa," Fauzi menoleh ke arah Afifa, tiba-tiba senyum Fauzi memudar saat melihat putrinya yang masih tak mau melepaskan pelukannya. Dia segera mendekati Afifa dan putrinya, lalu berjongkok sambil memegang bahu Thalita, "Sayang..., putri Ayah kenapa?" Tanya nya agak hawatir, lalu menengadah menatap istrinya yang masih berdiri karena tertahan dengan pelukan Thalita. "Dek? Thalita kenapa?" tanyanya kepada Afifa.


Afifa hanya menggeleng, karena tidak tahu juga penyebabnya.


"Thalita sayang, sebentar ya, Bunda mau ambil minum dulu buat Bunda Wulan dan...,"Afifa menghentikan ucapannya namun mengandung tanya, karena dia memang belum mengenal nama pria dihadapannya.


"Adhitama," ucap Fauzi.


"panggil Faqih juga boleh," lanjut Faqih sambil tersenyum. "Perkenalkan saya sahabatnya Fauzi juga Wulan waktu SMU dulu," jelas Faqih lagi.


Afifa mengangguk dan menyunggingkan senyum ke arah Faqih.


Fauzi hendak mengambil alih Thalita dari pelukan Afifa, namun Thalita tidak mau melepaskan pelukannya, anak itu malah nampak terisak dalam pelukan Afifa.


"Hei sayang..., ada apa ini?" tanya Afifa, "Ya sudah, ayo kita ke dalam!" ucap Afifa lagi sambil memberikan isyarat kepada ketiganya. Afifa membawa Thalita masuk ke dalam kamar yang biasa di tempati Thalita, sedangkan Fauzi menuju dapur untuk mengambil minuman serta kudapan ringan utuk tamunya.


Afifa mencoba menenangkan Thalita dikamarnya, mereka mendudukan dirinya di atas tempat tidur. Dengan sabar Afifa mengelus-elus lengan Thalita sampai dia benar-banar mau bicara. "Apa Thalita menganggap Bunda sebagai teman?" Afifa memulai pembicaraannya, setelah melihat Thalita agak tenang dan berhenti dari isakannya.


Mata sayu Anak itu menatap lekat ke arah Afifa, cairan kembali merembes dari kedua kelopak matanya. "Bunda..., boleh kah Thalita tinggal disini bersama Bunda untuk beberapa hari saja?" tanya Thalita.


"Tentu saja boleh, Sayang..., ini kan rumah kamu juga," ucap Afifa.


Thalita mulai tersenyum.


"Apakah sekarang Thalita mau cerita sama Bunda?" tanya Afifa pelan dan hati-hati.


"Thalita hanya sedih saja Bund," ucap Thalita.


"Hmmm...tentu ada penyebabnya kan?" tanya Afifa lagi sambil memeluk kembali tubuh mungil Thalita. Dan Thalita hanya mengangguk pelan. "Kalau begitu, coba cerita sama Bunda, siapa tahu, nanti sedihnya berkurang." Afifa menyunggingkan senyum termanisnya ke arah Thalita.


"Thalita..., Thalita sering sekali mendengar ucapan orang-orang yang mengatakan sesuatu yang tidak baik tentang Bunda Wulan dan Thalita juga, dan selama ini Thalita tidak pernah peduli dengan ucapan mereka, tapi..., tadi... Thalita baru tahu dan mendengar sendiri, kalau apa yang mereka katakan itu benar, dan Thalita juga baru tahu, bahwa kehadiran Thalita memang satu kesalahan," Thalita terdiam dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Afifa yang mendengar hal itu, tidak bisa berkata apapun, dia hanya merangkul kembali tubuh anak itu, dan menciumi kening dan pipinya, lalu membiarkan Thalita meletakan kepalanya di pangkuan Afifa. Cukup lama Afifa mengelus-elus kepala dan pundak anak itu. Sejujurnya, ada rasa sakit dilubuk hati Afifa yang paling dalam, saat tahu anak tak berdosa ini, harus ikut mengalami hal buruk akibat dari perbuatan orang tuanya di masa lalu. Namun Afifa tak bisa terus terlarut dengan kesedihan dan rasa ibanya saja, dia harus membangkitkan kembali semangat dan kepercayaan diri anak ini.


"Sayang...," panggil Afifa, sambil menepuk-nepuk pelan bahu Thalita di pangkuannya. "Manusia itu adalah makhluk Alloh yang penciptaannya diiringi dengan akal dan nafsu, dimana terkadang, nafsu lebih dominan dibanding akalnya, sehingga banyak manusia yang terjerumus dalam satu kesalahan. Tapi tahu kah kamu, Sayang..., bahwa Alloh itu maha pengampun? Alloh akan mengampuni setiap dosa yang sudah dilakukan hambanya selama ia bertaubat dengan sungguh-sungguh dan tulus. Itu pula yang terjadi dengan Bundamu dan Ayahmu, mereka memang telah melakukan kesalahan, tapi mereka sudah benar-benar menyesali perbuatannya dan bertaubat dengan sungguh-sungguh. Apakah Thalita tidak mau memaafkan mereka? sedangkan Alloh saja maha pengampun." Nasehat Afifa.


Thalita bangkit dari tidurannya, lalu menatap mata Afifa. "Thalita gak tau, Bun. Thalita hanya ingin seperti teman-teman yang lain di sekolah, mereka tidak pernah punya masalah dengan kedua orang tua mereka." ucap Thalita lirih.


"Bunda tahu, dan sangat mengerti dengan apa yang Thalita rasakan saat ini. Kita memang tidak bisa menghakimi dan mengubah pandangan seseorang terhadap diri kita, tapi..., seiring berjalannya waktu dan usaha kita untuk memperbaiki diri, insyaAlloh, pelan tapi pasti, pandangan mereka akan berubah. Dan satu hal yang harus Thalita ingat, Alloh itu tidak melihat betapa besarnya kesalahan kita di masa lalu, tapi... Alloh akan melihat bagaimana usaha kita agar menjadikan hari ini lebih baik dari hari sebelumnya, dan hari esok lebih baik dari hari ini. jadi...perbaikilah diri kita sendiri, maka pandangan orang terhadap kita pun akan membaik nantinya." Ucap Afifa panjang lebar.


Thalita mulai tersenyum dan kembali memeluk Afifa.


"Kamu sudah makan sayang?" tanya Afifa lagi.


"Thalita gak laper Bunda," jawab Thalita.


"Gak laper, bukan berarti kamu melewatkan makan malammu hari ini kan?" Afifa memegang dagu Thalita, "Ayo anak baik kita makan dulu! ada sop ayam kampung buatan Ayahmu, ennnnak banget," Ajak Afifa sambil tersenyum dan berdiri dengan memegang tangan Thalita.


Afifa sempat menengok ke ruang tamu, dimana mereka tengah berbicara serius sepertinya, dia sempat menawari Wulan dan Faqih makan malam, namun keduanya menolak karena baru saja makan dirumahnya, kecuali Thalita.


Afifa pun kembali ke dapur untuk memberi Thalita makan. dengan bujukannya akhirnya Thalita mau makan meski hanya beberapa suap saja.


Saat Thalita selesai makan, Wulan dan Faqih pamit untuk pulang, karena malam sudah semakin larut, dan Wulan tak henti-hentinya meminta maaf dan menitipkan Thalita kepada Afifa.


Mobil silver yang dikemudikan Faqih pun melesat meninggalkan pekarangan rumah Fauzi dan Afifa. Setelah mobil itu benar-benar hilang dari pandangan mereka, mereka bertiga kembali masuk rumah. Afifa meminta Thalita untuk bersih-bersih sebelum tidur, lalu menemaninya sebentar di kamar, sampai Thalita benar-benar terlelap.


Fauzi memperhatikan perlakuan manis istrinya kepada putrinya tepat di bawah pintu kamar Thalita sambil melipatkan kedua tangan di atas perutnya. Sekali lagi, dia benar-benar bersyukur mendapat istri yang dapat menerima dirinya dengan segala kekurangan serta kelebihannya, termasuk putri kandungnya.


Afifa menoleh ke arah pintu, dilihatnya suaminya yang sedang tersenyum ke arahnya, Afifa membalas senyumannya, Fauzi menghampirinya, "Sudah tidur, Dek?" tanya Fauzi sambil menatap sekilas ke arah putrinya yang sudah terlelap dengan damai.


"Sudah," jawab Afifa singkat.


Fauzi memutar bahu Afifa, kini mereka berdiri berhadapan, dipandangnya dengan lekat wajah istrinya yang masih tersenyum. "Dek...," panggilnya.


"Terimakasih," ucapnya lirih.


"Untuk apa?" tanya Afifa.


"Untuk semua yang sudah kamu lakukan, ketulusanmu, keikhlasanmu, dan seluruh cintamu untukku dan putriku,"


"Sayang..., jangan berterimakasih terus, Fifa melakukan semua ini, karena memang Fifa sayang sama Thalita," ucap Afifa sambil melingkarkan lengannya di bahu suaminya. Bibir tipisnya selalu menyunggingkan senyum.


"Aku bersyukur memilikimu dalam hidupku," Fauzi mengusap-usap pipi mulus Afifa yang masih berbalut kerudung instannya, lalu mengacup pucuk kepala Afifa dan menarik tubuh istrinya dalam dekapannya.


"Ayo! kamu juga istirahat ya," ucap Fauzi sambil merangkul bahu Afifa. Afifa mengangguk dan tersenyum. Keduanya berjalan menuju kamar mereka sendiri.


Tiba di kamarnya, Afifa membuka kerudung instannya dan duduk di kursi rias untuk menyisir rambutnya. Tiba-tiba dia tetinhat dengan pria yang bersama Wulan tadi, rasa penasarannya muncul mengingat dia begitu akrab dengan suaminya juga Wulan.


"Kak...," panggil Afifa kepada suaminya yang tengah membaringkan tubuhnya di tempat tidur memperhatikan dirinya dibalik cermin.


"Hmmm?" jawab Fauzi.


"Orang yang tadi bersama Wulan itu siapa si? sepertinya kalian sangat akrab." tanya Afifa.


"Dia itu Adhitama, tepatnya namanya Dokter Fazar Faqih Adhitama, dia yang merawat Pak Herman saat di tempat rehabilitasi, dan dia juga sahabat kami waktu SMU dulu." ucap Fauzi, lalu dia bangun dari baringannya dan menghampiri Afifa. "Dan ada satu kabar gembira lagi," ucap Fauzi setelah tepat berada di belakang Afifa yang masih duduk di kursi riasnya.


"Apa?" tanya Afifa melirik wajah suaminya di balik cermin.


"Dia berniat baik dengan Wulan," ucap Fauzi sambil tersenyum, lalu membungkuk mengecup pucuk kepala Afifa, dan mengapit tubuh kecil Afifa dengan meletakan kedua tangan panjangnya ke meja rias.

__ADS_1


"Maksudnya? dokter Faqih mau..."


"Dia ingin menikahi Wulan," Ucap Fauzi sambil tersenyum, Afifa setia mendengarkan. "Sejak dulu dia memang sangat mencintai Wulan, tapi..., Wulan malah memilihku hehe...," ucap Fauzi.


"Hmmm..., dan Kak Aji juga mencintainya, Bukan?" Afifa membalikan badannya.


"Kalau itu..., Memang dia yang ngejar-ngejar Kakak..., Ha ha ha...," Fauzi tertawa.


"Oke deh percaya, pria idaman kampuuuus...," ucap Afifa kesal agak cemberut mendengar ucapan suaminya, tangannya reflek mencubit pinggang suaminya.


"Awwww..., sakit sayang...," rintih Fauzi, sambil sedikit menghindar, tapi Afifa mengejarnya, Fauzi terus menghindar, sampai dia terpojok dan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, Afifa terus memburu ke arahnya, hingga dia terjatuh di atas dada suaminya. Afifa terdiam. "hei..., Cemburu ya?" tanya Fauzi sambil tersenyum.


"Ih..., cemburu apaan, kaya Abege aja," Afifa menepuk pelan dada suaminya.


"La terus kenapa tadi cemberut," goda Fauzi.


"Kesel aja, geli sama kenarsisannya," ucap Afifa dengan masih menyandarkan kepalanya di dada Fauzi.


"Wahahaha..., itu bukan narsis, memang kenyataannya seperti itu, Tahu kan betapa tampannya suamimu ini?" goda Fauzi lagi.


"Widih..., lebay!" ucap Afifa sambil menegakan duduknya, merasa sebal dengan ucapan suaminya, lalu dia menjatuhkan kepalanya di atas batal dengan wajah di tekuk.


Fauzi tersenyum, merasa lucu dengan tingkah istrinya, dia pun memindahkan posisi tidurnya ke atas bantal, dan memeluk istrinya dari belakang. "Kamu tau sayang? aku senang sekali melihatmu cemburu, itu artinya, istriku sangat mencintaiku," Fauzi memutar tubuh Afifa sehingga menghadapnya, "Selamat tidur sayang...," Ucapnya sambil mendaratkan satu kecupan di bibir istrinya. Keduanya tersenyum dan saling memeluk erat untuk melewati malam ini dengan kenyamanan dan kehangatan pelukan pasangan halalnya.


***********


Di perjalanan, Wulan tak banyak bicara, dia hanya memandang tepian jalan yang dihiasi kerlap-ketlip lampu malam. Fikirannya melayang, khawatir dengan keadaan putrinya. Dia takut, kalau semua ini akan mengganggu terhadap perkembangan fsikis putrinya saat ini yang akan berakibat pada masa depan dia nantinya. Dan satu lagi yang sangat dia takutkan, dia takut, kalau putrinya akan membencinya karena kebodohan dirinya di masa lalu.


Sesekali Faqih mencuri pandang ke arahnya, Faqih sangat mengerti dengan perasaan Wulan saat ini, dia pun mulai bicara untuk mencairkan suasana. "Lan...," panggilnya.


"Ya?" jawab Wulan.


"Aku mengerti dengan apa yang kamu fikirkan, cobalah untuk berfikir positif, Thalita sudah mulai mengerti, kita harus bersyukur, Thalita tidak mengetahui semua ini dari orang lain, Aku yakin, melihat perilaku dari istrinya Fauzi yang sangat menyayangi putrimu, akan mampu menenangkan dan meluluhkan hatinya." ucap Faqih.


"Tapi...,bagai mana kalau dia membenciku, Tam?" tanya Wulan sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Tidak akan, kulihat ada begitu banyak cinta untukmu di mata Thalita, saat ini, dia hanya butuh perlindungan untuk sekedar menenangkan hatinya."


Wulan mengagguk. "Semoga saja semuanya baik-baik saja," ucap Wulan.


"Lan...," panggil Faqih lagi. "Jujur saja aku ingin segera mengkhitbahmu, agar tidak ada pandangan miring lagi terhadapmu juga hubungan kita, tapi sebelumnya, aku ingin mengajakmu menemui orang tuaku. Apa kamu ada waktu besok?" tanya Faqih.


"Besok?" Tanya Wulan kaget. Sepertinya ini terlalu terburu-buru fikirnya. Tapi..., memangnya apa lagi yang dia tunggu. Ayahnya sudah merestuinya, adapun Thalita, sepertinya anak itu juga tidak keberatan dengan hubungan ini.


"Iya, Lan! besok aku akan menjemputmu selepas sholat Ashar. Jadi bersiaplah, kita akan menemui mereka dan meminta restu darinya." Ucap Faqih lagi.


Wulan terdiam, haruskah hari ini dia merasa bahagia? cemas? takut? atau entahlah..., perasaan itu kini terus berkecamuk di dalam dadanya. Meski sejujurnya terbersit satu perasaan takut dihatinya, takut bahwa semua penghinaan itu akan terulang kembali padanya nanti.


*************


Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Like, vote dan komentarnya tetap di tunghu ya 😉


I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘

__ADS_1


By : Rahma Husnul.


__ADS_2