
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Rumah Wulan ~~
Malam ini rombongan keluarga Wulan yang dari Jawa Timur sudah bersiap untuk kembali pulang. Wulan, Faqih serta Pak Herman mengantar mereka sampai teras depan.
Wulan melepas kepergian mereka dengan deraian air mata, mengingat mereka akan kembali terpisahkan jarak dan waktu yang lama untuk bisa bercengkrama kembali. Wulan melambailan tangannya dan menatap kepergian mobil yang membawa rombongan itu keluar dari halaman rumahnya. Dia masih berdiri disana sampai mobil itu benar-benar hilang dari pandangannya.
"Kalian istirahatlah!" Ucap Pak Herman kepada keduanya, sambil melangkahlan kakinya masuk ke dalam rumah.
Wulan dan Faqih mengangguk. "Terimakasih, Pak!" Jawab Faqih, lantas pandangannya beralih ke arah Wulan yang masih berdiri mematung menatap ke arah jalanan. "Hei..., sudah jangan sedih lagi, ayo masuk! sudah malam," ajak Faqih sambil meraih tangan Wulan yang dingin.
Wulan mengangguk, lalu mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam rumah dan menutup serta mengunci pintu rumahnya. Suasana rumah kembali sepi, Faqih masuk ke kamar Wulan yang kini sudah menjadi kamarnya juga, sedangkan Wulan meminta izin untuk melihat putrinya terlebih dahulu. Dia berjalan menuju kamar Thalita, dan membuka pintu kamar dengan perlahan, nampak anak itu sudah terlelap, mungkin karena kelelahan seharian ini bermain dengan sodara-sodaranya.
Wulan menghampiri anak itu, bibirnya tersenyum, lalu mencium kening putrinya. Dia pun kembali melangkah keluar dan perlahan menutup pintu kamar putrinya.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar yang tertutup, ada rasa ragu di hatinya, mengingat malam ini adalah malam pertama kebersamaannya bersama suaminya. Suami yang benar-benar dia cintai dan mencintai dirinya sepenuh hati apa adanya. Terlintas sedikit rasa takut, kalau dirinya akan mengecewakan suaminya, dia pun tertunduk dan setengah menyeret kakinya yang terasa berat menuju kamar itu.
Tangan Wulan memutar handel pintu dan mendorongnya perlahan. Pintu terbuka, nampak Faqih sedang mengganti pakaian dengan piyama tidurnya, Wulan pun berjalan menghampirinya. "Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan, Kak Tama?" tanya Wulan.
Faqih menoleh, lalu tersenyum, "Tentu saja," ucapnya singkat.
__ADS_1
"Apa itu? biar aku ambilkan?" Jawab Wulan.
"Tidak perlu, yang aku butuhkan sudah berada di hadapanku," Jawab Faqih sambil menatap lekat ke arah Wulan, membuat Wulan tersentak dan tertunduk semakin dalam.
Faqih melangkah lebih dekat ke arah Wulan, "Lan! kenapa diam saja?" tanyanya sambil meraih tangan Wulan dan membimbingnya untuk duduk di sisi tempat tidur.
"Maafkan aku, Kak Tama! Kemarin, aku terlalu sibuk dengan keluargaku juga Thalita," ucap Wulan penuh rasa bersalah dan masih setia dengan tunduknya.
"Tak apa, kita masih punya banyak waktu," Faqih mengangkat wajah Wulan.
Wulan menatap netra hitam milik suaminya, memandangnya dengan lekat. Namun malah bias bias cairan bening yang memenuhi kedua matanya, mengingat betapa beruntungnya ia mendapatkan Pria sebaik ini, yang kini berada di hadapannya dan sudah syah menjadi suaminya.
"Hei..., kenapa air ini ada disini?" tanya Faqih sambil mengusapkan jarinya untuk mengambil setitik air yang terlanjur jatuh di pipi Wulan. Faqih mengangkat jari yang terdapat setitik air mata itu ke hadapan Wulan, "Jangan ada lagi air mata di sini," ucapnya, lantas menyentil air mata itu dengan jari jempolnya ke arah lain, agar air mata itu jatuh terbuang.
Faqih beringsut mendekati Wulan, lantas menggenggam tangan istrinya, "Dengar sayang! Tidak ada lagi ucapan terimakasih! Tidak ada lagi ucapan maaf! Tidak ada lagi air mata!" Faqih melingkarkan tangannya di bahu Wulan, lalu berbisik tepat didepan telinga Wulan "Aku sangat mencintaimu, sejak dulu, sekarang dan sampai kapanpun, aku tak peduli dengan apa kata orang tentang dirimu, aku mencintaimu apa adanya, dengan semua kekurangan dan kelebihan yang kamu miliki saat ini."
"Brrrr..." Seluruh bulu kuduk Wulan serasa berdiri mendengar ucapan suaminya dengan hembusan nafas hangat menerpa daun telinga di balik hijab pasmina yang melilit di kepalanya.
Wulan terdiam saat tangan suaminya perlahan membuka lilitan hijabnya, nampaklah rambut hitam berkilau milik Wulan yang diikat ke atas menampakan leher putih jenjangnya.
"Cantik," gumam Faqih tiba-tiba. Membuat Wulan mengangkat kepalanya menatap suaminya yang tersenyum ke arahnya. Faqih mengangkupkan kedua tangannya di pipi Wulan, cukup lama mereka saling memandang, hingga tatapan keduanya terkunci semakin dalam, membuat wajah keduanya mendekat dan tak menyisakan jarak, "Cup!" satu kecupan singkat mendarat di bibir Wulan, keduanya tersenyum, Wulan tertunduk semakin dalam dibalik senyumnya.
__ADS_1
Sungguh! meski ini bukan yang pertama baginya, tapi kali ini Wulan benar-benar merasakan satu kebahagiaan yang luar biasa, perasaan mencintai dan dicintai yang kini memenuhi seluruh ruang di hatinya membuat seluruh tubuhnya bergetar seakan melambungkan seluruh jiwa dan raganya.
Faqih naik ke atas tempat tidur sambil duduk bersila. Lalu membentangkan tangannya sambil tersenyum, "Kemarilah!" ucapnya.
Wulan menatap ke arah dada bidang milik suaminya yang terbuka seakan mengambut dirinya untuk membenamkan kepala dengan nyaman disana, senyuman tersungging dari bibirnya. Wulan beringsut dan perlahan menyandarkan tubuhnya ke arah suaminya.
Faqih menyambutnya, mendekapnya dengan erat, lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi di kening dan seluruh wajah istrinya. Keduanya tersenyum dan larut dalam kebahagiaan dengan meluapkan seluruh perasa cinta dan kasih sayang yang kini sudah halal di mata Agama.
****************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum..., mohon maaf Readers semua, dua hari kemarin tidak bisa Up, berhubung ada masalah dengan ponsel saya 🙏.
Semoga part ini bisa mengobati kerinduan kalian dengan cerita ini 😊.
Tetap like, vote dan komentar 🤗
I LOVE YOU ALL...😙😙😙❤❤❤⚘⚘⚘
__ADS_1
By : Rahma Husnul