
"Sayang...bangun sayang...", Sayup-sayup Afifa mendengar suara seseorang memanggilnya, aroma minyak gosok terasa menusuk hidungnya, tangan seseorang terasa begitu dingin menepuk-nepuk pipi kirinya. Ingin sekali dia membuka matanya, tapi kelopak matanya sangat berat dan kepalanya serasa berputar.
"Sayang...bangunlah...!, aku mohon bangunlah!, jangan tinggalkan aku, aku tidak akan sanggup menghadapi semua ini", Suara itu kembali terdengar disela isakan seseorang yang kini semakin jelas ditelinga Afifa.
Afifa replek memegang kepala dengan tangan kanannya, diapun perlahan membuka matanya, samar-samar nampak wajah seseorang tepat dihadapannya, sedang memangku kepalanya dan menatapnya lembut dengan mata yang berair, diapun berkedip memperjelas tatapannya, "Kaaak...", panggilnya pelan.
"Sayang..., akhirnya kamu bangun juga", Fauzi menciumi wajah Afifa lalu menarik kepala istrinya ke dadanya, mendekapnya dengan erat dan menangis tersedu-sedu.
Sejenak Afifa terbuai dengan kenyamanan itu, dia membiarkan suaminya melakukan semua yang diinginkannya, rasanya sungguh menyenangkan, bisa kembali berada didalam pelukan orang yang sempat dikira tak menghiraukannya. Akal sehat Afifa kembali, fikirannya teringat dengan kondisi bayinya, dia tersentak dan seketika membuka matanya dibalik pelukan suaminya, "Kak...bayi kita? mana dia?" ucapnya seperti orang yang barusaja kembali pada kesadarannya.
Fauzi melonggarkan pelukannya, memegang kedua pipi istrinya dengan kedua tangannya, kedua mata sayunya yang basah menatap lekat istrinya, "Sayang..., dengarkan aku, ternyata Alloh lebih menyayanginya, dia diambil kembali olehNya", Fauzi menarik nafas sejenak, lalu kembali bicara saat mendapati wajah istrinya mulai berubah kemerahan, "Tapi kamu jangan khawatir, Alloh akan segera menggantinya dan memberi kepercayaan lagi pada kita",
Afifa tak sanggup lagi menahan air matanya, tangisnyapun pecah dipelukan suaminya, "Ini salahku Kak...maafkan aku, aku bukan ibu yang baik, aku tidak bisa menjaganya, aku begitu ceroboh, maafkan aku..." Ucapnya sambil menangis.
"Hei...sayang..., sudah jangan menyalahkan diri sendiri, anak itu titipan, kita sudah berusaha menjaganya, tapi apa boleh buat, jika Alloh berkehendak untuk kembali mengambilnya".
"Mana dia Kak?" Afifa mengedarkan pandangannya, seluruh keluarganya sudah berkumpul disana, "Aku ingin melihatnya".
"Tapi kamu yang kuat ya", Fauzi kembali memegang pipi istrinya, Afifa mengangguk, diapun memberikan kode pada seseorang dengan tangannya, "Mang Jana...!" panggilnya pada seorang pria paruh baya yang sedang menggendong bayi yang terbungkus kain bercorak batik.
__ADS_1
Pria itu segera menghampirinya, lalu membungkuk dan memperlihatkan bayi itu kehadapan Afifa.
Air mata Afifa semakin deras mengalir dikedua pipinya saat matanya tertuju pada wajah bayi mungil yang seukuran dengan kepalan tangannya saja, wajahnya begitu putih dan tampan mirip dengan suaminya, seketika tangan Afifa terulur untuk menggendongnya, "Lihat bayi kita Kak..., bukankah dia sangat tampan?, dia hanya tertidur, dan sebentar lagi dia akan terbangun dan menangis meminta air susuku", bibir Afifa tersenyum memandang lekat wajah bayinya diatas pangkuannya, meski airmatanya terus saja keluar dari kedua matanya.
Fauzi tak tega melihat istrinya, dia kembali mendekap kepala istrinya, "Sayang..., dia sudah tiada", ucapnya pelan.
"Kak Aji ngomong apa si? dia hanya tidur," Ucap Afifa sambil menyikut dada suaminya, lalu kembali menatap bayinya, "benar kan sayang? ayo bukalah matamu Nak... agar ayahmu tau kalau kau hanya tertidur sebentar saja".
"Sayang..., ayo berikan bayi itu kembali kepada Mang Jana!, agar segera dimandikan"
"Kak Aji bilang apa si? kasian malam-malam begini kok dimandiin, biar besok saja aku yang akan mandiin dia", mata Afifa mendelik, tangannya semakin mendekap erat tubuh bayi yang kini sudah tak bernyawa itu.
Afifa menatap suaminya dan bayi yang ada dipangkuannya bergantian, tangannya meraba wajah bayi mungil itu, "Sayang..., bangunlah, lihat ini bunda dan ayah, ayo bangunlah! buka matamu!, sayang...bangunlah...banguun...!" Tangan Afifa menggerak-gerakan tubuh bayi itu dipangkuannya, "Ayoooo...Bunda mohooon...bangunlah...!" tangis Afifa pecah saat menyadari bayinya tak juga bergerak.
Fauzi memeluknya dan memberi kode kepada Mang Jana untuk mengambil kembali bayi itu dari dekapan Afifa.
"Jangan bawa dia...! jangaaaaan...!" teriak Afifa saat sadar bayinya sudah tidak ada dalam dekapannya.
Fauzi tak dapat berkata apapun, dia hanya mendekap erat tubuh istriya, berusaha menenangkannya, meski sesungguhnya dia merasakan kehilangan yang sama.
__ADS_1
Semua orang menatap kedua pasangan suami istri itu dengan iba, beberapa dari mereka ikut menitikan air mata.
Afifa kembali terkulai lemah, ingin rasanya dia berlari mengambil kembali buah hatinya dari tangan pria itu, namun tubuhnya begitu lemas, penglihatannya kembali suram hanya hiruk pikuk orang disekitarnya yang terdengar ditelinganya, ada yang bicara, berbisik, terisak, bahkan obrolan para tetangga yang sedang mempersiapkan pemandian jenazah bayinya.
Umi mendekati Fauzi, "Zi...biarlah Afifa bersama Umi, kamu mandikan jenazah putramu saja".
Fauzi mengangguk, "Baik Umi, Aji titip Afifa sebentar", Meletakan kepala Afifa ke bantal. Dia segera bangkit dan bergabung dengan Ustadz dan para tetangga untuk melakukan pemulasaraan jenazah putranya.
**********
Bersambung....😢😢😢
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tetap kasih dukungan buat Author ya Readers...🙏
LOVE YOU ALL...❤❤❤
By: @Rahma Husnul#
__ADS_1